Bab 4. I Love You

2481 Kata
Pagi itu Gavin sudah bersiap dengan setelan terbaiknya. Ia sibuk berkaca mematut wajah tampannya. Hari ini hari pertama ia melepas status jomblo. Ia harus tampil sempurna di depan Naya. “Widih, ganteng banget! Kakak mau kemana nih?” tanya Sandra yang tiba-tiba muncul dibelakang Gavin dan hanya dibalas senyuman oleh Gavin. “Kak, aku nebeng ke kampus ya?” rengek Sandra. “Gak bisa dek! Kakak ada urusan pagi ini, buru-buru. Maaf ya!” Gavin mengacak-acak rambut Sandra dan Sandra hanya bisa cemberut. Gavin belum ingin menceritakan ini kepada Sandra. Masih terlalu cepat. Lagipula ia harus memastikan dulu kalau Sandra tidak keberatan ia pacaran dengan teman sekampusnya. Tanpa sarapan Gavin pamit kepada kedua orangtuanya dan bergegas ke rumah Naya. Ia ingin mengajak Naya sarapan bersama! “Kemana sih anak itu buru-buru banget?” Jenny melihat punggung anak lelakinya dengan bingung. “Hari ini ada rapat penting dengan klien pi?” Jenny menatap suaminya yang sibuk menyeruput kopi dan Abian hanya membalas dengan mengendikkan bahu. Setengah jam kemudian Gavin sudah sampai di rumah Naya dan membunyikan bel. Asti datang membukakan pintu ia begitu terkejut melihat Gavin masih menjemput putrinya. “Loh Gavin, kamu masih mengantar jemput Naya? Naya kan sudah sembuh. Kamu boleh berhenti melakukan itu mulai dari hari ini.” Ucap Asti. “Kalau tante tidak keberatan bolehkah saya terus-terusan melakukannya untuk Naya?” tanya Gavin penuh harap dan itu membuat Asti menjadi penasaran. “Aneh kamu Vin! Dikasih senang malah mau repot!” gumam Asti. “Saya senang kalau direpotin pacar sendiri kok tante..” Gavin mengulum senyum malu. Ucapan Gavin itu sukses membuat mata Asti terbelalak. “Kamu.. pacaran sama Naya?” tanya Asti untuk memastikan. Gavin mengangguk. “Kalau gitu masuk! Kamu harus ikut sarapan bersama!” Asti menyeret tangan Gavin masuk ke rumah. Ia begitu senang akhirnya Naya mempunyai pacar yang normal, ganteng dan mapan lagi. Biasanya entah dari mana Naya menemukan makhluk-makhluk aneh yang dia bilang pacar itu. Naya nyaris tersedak nasi goreng saat melihat mamanya kembali bersama Gavin. Matanya melotot dan berusaha meminta penjelasan dari Gavin dengan kodean mata. “Ayo Vin duduk! Mulai hari ini panggil tante dengan sebutan mama! Biik.. tolong ambilkan satu piring lagi! Dan kamu mau minum apa Vin? Teh? Kopi? S*su?” Asti heboh sendiri. “Teh saja tante.. eh, ma.. ” ralat Gavin begitu melihat Asti mempelototinya. “Sekalian bikinkan teh hangat bik..” Naya melongo melihat pemandangan ini. Berkali-kali ia mengalihkan pandangan kepada Gavin dan Asti. “Mama.. ke-kenapa mengajak mas Gavin kesini?” gagap Naya. “Lah masa iya pacarmu mama suruh tunggu di luar?” celetuk Asti sambil mengisi piring Gavin dengan nasi goreng. Mata Naya langsung membulat berusaha meminta penjelasan dari Gavin. Namun Gavin hanya tersenyum dan mulai menyuap nasi gorengnya. Sepanjang sarapan bahkan Naya tidak punya satu kesempatanpun untuk bertanya atau menyela. Mamanya terlalu sibuk ngobrol dan bertanya ini itu kepada Gavin dan Gavinpun tampak begitu senang dikepo-in. . . Naya tergolek lemas di meja buluk taman kampus. Matanya menatap nyalang kepada teman-temannya yang sedang dudukan lesehan di rumput, entah apa yang mereka bahas hingga mereka tertawa ngakak. Naya mencebik, merasa ia yang ditertawakan! Cila datang, ikut merebahkan kepalanya dan menghadap kepada Naya, “Kenapa lo? Patah hati?” gurau Cila. Naya hanya mengerang merespon gurauan Naya. “Strategi menggaet Gavin gagal total? Cinta lo ditolak? Bos muda tampan itu sadar kalau lo bukan levelnya? Lo punya saingan berat yang sulit dikalahkan?” Naya menggeprak ruang kosong yang berada diantara dirinya dan Cila. Cila tergelinjang kaget dan langsung bangun. Dengan gemas, disentilnya jidat sohib galaunya itu. Naya bergeming. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya yang berada di atas meja. Cila langsung melotot melihat sebuah cincin berlian melingkar di jari manis Naya. “Lo? Sejak kapan punya cincin beginian?” iler Cila langsung menetes saat mempelototi jari manis Naya. “Sejak Gavin menembak gue kemaren sore..” jawab Naya enteng. “WHAAT?” pekik Cila. Naya langsung mengangkat muka dan mengguncang-guncang bahu sahabatnya, “Gimana nih Cil?” raungnya. “Gimana gimana?” tanya Cila bingung. “Bukannya harusnya lo senang rencana lo berhasil?” “Tapi Cil, gue dihantui rasa bersalah. Dia serius banget sama gue! Lo lihat cincin ini? Kemaren bahkan dia sengaja menyewa satu kafe cuma buat nyatain perasaan doang! Trus tadi pagi dia juga udah ngasih tau nyokap gue. Dan nyokap bahagia banget karena akhirnya gue dapat pacar manusia beneran! Cilaaa... giimana ini?” ratap Naya. Cila menggaruk-garuk tengkuknya. Ternyata urusannya jadi seserius ini. Entah kenapa tiba-tiba Cila merasa ini akan sangat rumit. “Lo sih Nay.. Sejak awal kan udah gue bilangin, gak usah pakai cara ini! Jangan main-main sama orang dewasa! Lo nya tetap ngotot. Sekarang mau gimana lagi, maju kena mundur kena!” Naya malah makin frustasi mendengar ceramah Cila. “Terus solusinya apa Cil? Gue butuh solusi bukan omelan!” “Lo gak ada pilihan lain selain lanjut Nay. Siapa tau lo jatuh cinta beneran sama Gavin dan hidup bahagia selamanya.” Ujar Cila. “Itu saran terbaik lo? Hidup bahagia lo bilang? Lo lupa kalau adeknya musuh gue sekarang?” Cila menghela napas. Kenapa dia jadi ikutan pusing gara-gara ulah anak satu ini? “Gini aja deh Nay, tujuan lo macarin Gavin kan untuk ngasih Sandra pelajaran. Nah sekarang Gavin udah di tangan lo, tinggal lo ngasih pelajaran Sandra aja kan?” Naya mengangguk-angguk, “Lo bener Cil! Gue tinggal pamerin kemesraan gue sama Gavin ke Sandra. Kenapa gue harus musingin perasaan Gavin?” Sandra dan kedua dayang-dayang nya iseng main ke fakultas Naya. Dia dapat kabar kalau Naya sudah sembuh dan tidak pakai tongkat lagi. Kesal juga, cewek itu sembuh cepat. Padahal ia sangat menikmati melihat Naya berjalan terseok-seok sambil bertopang pada sebuah tongkat. Ia menyayangkan, kenapa orang yang menabrak Naya tanggung-tanggung? Setidaknya buatlah Naya kehilangan satu kakinya untuk selamanya! “Wah.. wah! Udah sembuh toh si cewek terkutuk..!” Sandra berjalan bersidekap tangan mendekati Naya dan Cila. Naya yang sedang malas bertengkar langsung berdiri dan menarik tangan Cila untuk pergi. “Gue lagi malas berantem sama lo! Lain kali aja ya!” balas Naya acuh. “Lain kali itu lo masih hidup gak tuh..?” sorak Sandra diiringi tawaan cemooh dari kedua temannya. Naya berbalik dan menatap sinis Sandra, “Ketawa aja puas-puas duluan San! Jagoan ketawanya belakangan!” balas Sandra sambil menyunggingkan bibirnya. . . Malam itu Naya dan Gavin makan malam bersama. Tentu saja izin pulang malam dari Asti sudah didapat. Mamanya itu bahkan lebih menyukai Gavin daripada Naya sendiri. Naya mengamati tangan Gavin yang begitu lihai memotong daging steak di piringnya menjadi potongan kecil-kecil. “Nih, udah. Kamu tinggal makan aja!” Gavin menyerahkan kembali piringnya ke Naya. Naya tersenyum tipis mendapatkan perlakuan semanis ini. “Makasih mas!” Mereka mulai memakan hidangan masing-masing sambil sesekali diselingi obrolan ringan. “Oh ya Nay, bulan depan anniversary perusahaan saya. Kamu datang jadi partner saya ya?” pinta Gavin. “Hah? Ma-mas Gavin serius ngajak aku?” Naya langsung pucat. “Iya! sekalian kenalin kamu sama keluarga saya!” Naya terbatuk-batuk mendengar penuturan Gavin. Gila! Bagaimana ini? “Minum dulu Nay!” Gavin menyerahkan segelas air putih. “Kenapa kaget gitu? Kamu gak suka?” tanya Gavin cemas. “Bu-bukan itu mas! Aku belum siap ketemu orangtua mas Gavin!” lirih Naya. Gavin tersenyum lega, “Orang tua saya gak galak kok Nay! Apa lagi mami, dia pasti suka gadis yang ceria seperti kamu. Mau ya?” pinta Gavin sambil memasang muka memelas. Naya mengangguk, “Oke deh mas..” Tidak ada cara lain, Naya harus menuntaskan semua ini sebelum sebulan! Sebelum jam 9 malam Gavin sudah mengantarkan Naya pulang sesuai dengan janjinya kepada Asti. Gavin mengantar Naya sampai pintu dan Asti sudah menyambut di sana. “Masuk dulu Vin!” tawar Asti. “Lain kali aja ma. Ini sudah terlalu malam.” “Nih ma, dibeliin mas Gavin buat mama!” Naya menyerahkan sebuah paperbag ke tangan Asti. “Apa ini?” Asti mengintip isinya dan langsung terbelalak begitu melihat sebuah kotak tas branded di dalamnya. Gavin sangat royal. Ia membelikan Naya dan Asti sebuah tas branded merk ternama. Walaupun Naya sudah menolak keras karena memang kurang suka memakai tas-tas seperti itu. Tapi Gavin bersikeras, ia beralasan suatu saat pasti Naya akan membutuhkan tas seperti itu untuk menghadiri momen-momen tertentu. “Loh Vin, kenapa mama dibelikan juga?” “Gak apa-apa ma. Sekalian beli buat Naya juga!” Asti tersenyum senang mendengar penuturan Gavin. Ia senang, sekali ini pacarnya Naya benar-benar waras! Selain tampan, mapan, royal juga! Ini baru mantu idaman mertua! *** “Gue udah gak sanggup Cil! Gini-gini gue juga punya hati! Gue merasa terbebani ngerjain cowok sebaik itu!” curhat Naya sambil mencomot bakso dari mangkok Cila. Cila menggerutu melihat kelakuan sahabatnya ini. Judulnya curhat, tapi malah menjarah makan siangnya. “Lo kalau kelaparan mending pesan semangkok lagi deh Nay!” sewot Cila ketika Naya kembali menggasak bakso nya. “Gak, gue lagi diet!” “Lihat deh Cil! Semalam gue dibeliin ini!” Naya memamerkan sebuah foto di ponselnya. Cila langsung tersedak bakso! Ia merebut ponsel Naya dan men-zoom gambar itu. “Gila Nay! Lo dapat sugar daddy! Jangan dilepas Nay! Pertahankan sampai titik darah penghabisan!” celetuk Cila. “Dih! Lo kira gue cewek matre! Gue gak bisa menungu lebih lama lagi Cil! Gue harus selesaiin minggu ini juga sebelum kamar gue penuh dengan barang-barang semacam ini!” gumam Naya membulatkan tekadnya. “Jangan dulu Nay! Tunggu sampai dia beliin lo mobil kaya yang dia pakai!” Naya menjitak jidat Cila yang lagi kumat setannya itu. Kemaren aja dia protes Naya main-main sama orang dewasa. Sekarang malah dengan entengnya menyarankan menguras harta orang! Benar-benar sohib yang unfaedah! Tau gini mending Naya sahabatan sama Juwi. Selain pintar dia juga sholeha. Dia pasti akan membimbing Naya ke jalan yang benar! *** Naya menunggu Gavin di gazebo depan rumahnya. Hari ini ia kuliah siang, dan Gavin ngotot ingin bertemu sebelum Naya pergi. Tumben, biasanya jam segini kan jam sibuknya Gavin. Naya penasaran, kira-kira apa maunya Gavin kali ini. Tak lama sebuah mobil maybach hitam metalik tampak memasuki halaman rumahnya. Naya melambaikan tangan ke Gavin dan Gavin menyusulnya ke gazebo. “Mas Gavin mau minum apa nih?” tawar Naya. “Gak usah Nay, saya gak lama kok! Kamu kan juga harus ke kampus!” tolak Gavin. “Saya kesini cuma ingin ketemu kamu sebelum pergi.” Naya mengangkat alis, kaget mendengar penuturan Gavin. “Pergi? Mas Gavin mau kemana?” “Saya ada urusan bisnis ke Jepang selama seminggu! Makanya sebelum pergi ingin melepas kangen dulu!” jawab Gavin dengan ekspresi sedih. Naya terdiam. Artinya selama seminggu dia tidak akan bertemu Gavin?Lalu rencananya harus dipending seminggu lagi? Naya tidak tahu harus lega atau sedih. “Nay, maaf kalau saya lancang. Tapi bolehkan saya mendapatkan sebuah pelukan sebelum pergi?” pinta Gavin penuh harap. Naya mengulum senyum. Ia begitu gemas melihat cowok yang kelewat sopan di depannya ini. Mereka kan pacaran, kalau cuma sekedar pelukan kenapa harus minta izin segala? Naya merentangkan tangannya, “Come to me..” Gavin tersenyum lebar. Ia langsung merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya. Selama hampir satu bulan mereka pacaran, ini pertama kalinya Gavin memeluk Naya. Selama ini ia hanya berani memegang dan mengecup tangan Naya, sesekali mengusap kepala Naya untuk menyalurkan rasa sayangnya. Ia memang sesopan itu. Apalagi Naya adalah orang yang dia cintai. Gavin tidak mau Naya merasa dilecehkan jika dia terlalu agresif. Gavin menyesap rambut Naya yang wangi. Selama ini ia hanya bisa mengelusnya, sekarang ia bisa mencium baunya. “Saya akan sering telpon kamu..” bisik Gavin di telinga Naya, dan itu sukses membuat Naya meremang. “Saya harus berangkat sekarang. Satu jam lagi pesawatnya take off. Kamu baik-baik ya!” Gavin kembali mengelus kepala Naya dan menatap dalam. Naya mengangguk sambil mengendalikan debar jantungnya yang tiba-tiba berkhianat. “Minggu depan bisa jemput saya di bandara?” “Bisa! Mas Gavin..” Naya menahan lengan Gavin yang sudah siap-siap hendak berdiri. “Hmm..?” Entah apa yang merasuki Naya, tiba-tiba ia menangkupkan kedua tangannya ke pipi Gavin dan mengecup bibir cowok itu. “Hati-hati ya..” lirihnya. Gavin sukses mematung dibuatnya. Muka Gavin langsung memanas dan memerah. Sementara Naya langsung melengos karena malu. “Na-naya.. boleh sekali lagi?” pinta Gavin tergagap. Naya melotot, tapi sedetik kemudian ia langsung tak berdaya melihat wajah memelas Gavin. Gadis itu mengulangi kecupannya, tapi kali ini tangan Gavin menahan tengkuk Naya. Mata Naya membulat saat Gavin menyesap bibirnya dengan lembut. Cukup lama hingga Naya ikut memejamkan mata. Jantung Naya serasa mau copot dibuatnya. “Saya cinta kamu Nay..” bisik Gavin sambil melepas ciumannya. Naya mengangguk, “Me too..” Gavin tersenyum penuh arti sebelum akhirnya turun dari gazebo. Naya mengantar Gavin sampai ke mobil dan melambaikan tangan melepas kepergian Gavin. “Huff.. apa yang barusan gue lakukan?” gumamnya sambil mengusap bibir. Gila! Bahkan Naya masih merasakan bibir Gavin yang lembut itu. Ia meragukan tindakannya, apa benar hanya untuk menggoda Gavin atau benar-benar dari hatinya. Naya menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Kurang dari satu jam Gavin menelpon Naya. “Nay, apa saya batalkan saja kunjungan bisnis ini?” suara Gavin terdengar di antara riuhnya bandara. “Kenapa memangnya mas?” “Saya tiba-tiba kangen kamu!” Naya tertekuk! Dia menyesal sudah memancing Gavin. Cowok bucin ini menjadi semakin bucin! *** Seminggu berlalu.. Hari ini hari kepulangan Gavin. Dan Naya sudah berjanji akan menjemputnya di bandara. Seminggu ini kalau dihitung-hitung mungkin sudah puluhan kali Gavin menelpon Naya. Entah itu untuk bertanya kabar, atau sekedar mengucapkan cinta saja. Cila saja bahkan sudah muak melihat Naya berkali-kali mengangkat telepon. Dan anehnya Naya sama sekali tidak merasa terganggu. Padahal dulu, ia putus dengan Dani pacarnya waktu SMA karena Dani terlalu nyinyir. Cowok itu bahkan menelpon Naya satu jam sekali. Sampai-sampai Asti begitu emosi dan membanting ponsel anaknya yang selalu berdering itu. Naya sudah menunggu di terminal 3 khusus penerbangan internasional. Satu persatu ia memperhatikan orang-orang yang keluar dari pintu. Ia akhirnya ia mengulas senyum saat melihat seorang cowok tampan setinggi 185 cm berjalan dengan gagahnya. Bak seorang model dengan kacamata hitam, ia tampak begitu keren saat menggeret kopernya. Naya melambaikan tangannya saat menyadari Gavin tengah celingukan mencari keberadaannya. Naya berjalan dengan cepat ke arah Gavin dan Gavin sudah menanti dengan tangan terentang. Ia begitu rindu gadisnya itu. Tidak ada waktu untuk meminta izin memeluk. Gavin langsung merengkuh tubuh Naya begitu gadis itu berada dalam jangkauannya. Memeluknya dengan erat dan mengangkat tubuh Naya yang jauh lebih pendek darinya. “I really miss you..” bisik Gavin. “I miss you too..” balas Naya sambil tersenyum lebar. Tidak tahan melihat wajah imut itu, Gavin reflek membungkuk dan menarik dagu Naya. “ KAK GAVIN..!” sebuah panggilan yang lebih mirip bentakan menghentikan aksi Gavin yang hampir saja mengecup Naya. Kedua orang ini sontak menoleh ke sumber suara dan langsung kaget begitu melihat Sandra sudah berdiri dengan mata melotot dan wajah penuh amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN