Gavin melirik jam tangannya. Sudah jam 9 lewat, ia masih di kamar Kanaya. Gadis itu baru saja meminum obat penurun panasnya.
“Sekarang kamu istirahat, biar nanti siang panasnya turun.” Gavin memperbaiki posisi bantal Naya dan membantu gadis itu rebahan.
“Saya ke kantor dulu ya! Nanti sore saya kesini lagi.”
Gavin membereskan piring dan gelas lalu meletakkannya ke nampan. Lalu ia merapikan kemejanya yang berantakan karena terlalu bersemangat mencium Naya.
“Mas Gavin..” Naya meraih tangan Gavin dan meremasnya pelan.
“Terima kasih ya..”
Gavin mengangguk dan tersenyum tipis. Ia kembali berjongkok dan mengecup bibir Naya.
“Aku sayang mas Gavin..” bisik Kanaya dengan tatapan penuh cinta.
“Saya juga! Sekarang tidurlah..”
Gavin menarik selimut Naya hingga leher lalu pergi meninggalkan kamar kaNaya dengan nampan di tangannya.
Sambil menuruni tangga Gavin menyeringai dan menggigiti bibirnya yang tadi begitu buas melahap Kanaya.
‘Sekarang giliranmu yang tergila-gila sama saya, Kanaya!’ gumamnya dalam hati.
***
“Ih! Sebel aku kak! Gagal rencanaku buat ngerjain Naya karena gelasnya keburu pecah!” Sandra bersungut sambil menghentakkan kakinya.
“Memangnya kemaren kamu mau ngerjainnya gimana dek?” timpal Gavin sambil terus fokus ke laptopnya.
“Aku masukin obat perangsang dosis tinggi ke minuman yang dikasih pramusaji itu!”
Gavin langsung menutup laptopnya dan menatap sandra dengan tajam.
“Gila kamu dek! Kalau tiba-tiba dia hilang kontrol dan melucuti pakaiannya sendiri gimana?”
“Memang itu aku harapin kak! Aku ingin dia merasakan rasa malu yang sama seperti yang aku dapat saat dikerjai Jimmy!”
Gavin menghela napasnya, “Kamu nggak bisa melakukan itu di acara kantor kita! Kakak juga bisa ikut malu karena dia partner kakak.”
“Kalau kamu ingin dia mendapat malu yang seperti itu, kakak bisa melakukannya untuk kamu!”
“Kakak serius?”
Gavin mengangguk sambil mengulas senyum sinis, “Akhir pekan ini! Kamu cukup jadi penonton dari jauh!”
“Kakak ingin mengakhiri permainan secepat ini?”
“Kakak udah muak meladeni orang munafik. Kita akan akhiri dengan satu pembalasan telak!”
Sandra memeluk Gavin dengan erat. Ini yang ia suka dari Gavin! Gavin akan melakukan apapun untuknya.
Kenzo yang dari tadi tidak sengaja mencuri dengar dari balik pintu ruang kerja Gavin mengerutkan dahi. Sebenar apa yang tengah terjadi antara Gavin, Sandra dan Naya? Kenapa dua kakak adik ini begitu kompak ingin mengerjai Naya.
Kenzo buru-buru kabur ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Ia segera masuk lift dan memencet tombol basement. Niat untuk bertemu Gavin terpaksa ia urungkan.
Kenzo mengirim pesan kepada Gavin sebelum pergi meninggalkan parkiran.
[Sorry Vin. Hari ini gue gak bisa ke kantor lo. Gue sibuk banget! Kalau lo sempat nanti mampirlah ke showroom sekalian ngeliat barangnya!]
.
.
Sorenya Gavin benar-benar mampir ke showroom mobil Kenzo. Ya, Kenzo adalah pemilik showroom mobil mewah di Jakarta. Termasuk mobil yang dipakai Gavin, dari showroom Kenzo lah mobil itu berasal.
“Lo mau ganti mobil lagi nih Vin?” tanya Kenzo yang sedang menemani Gavin berkeliling.
“Padahal yang lo pake sekarang itu udah seri terbaik. Di indonesia aja cuma ada beberapa unit.”
“Bukan buat gue!” sahut Gavin.
“Gue mau kasih kejutan buat Sandra! Bentar lagi dia mau birthday. Mobilnya yang sekarang udah terlalu sering masuk bengkel.”
Kenzo hanya mangut-mangut pendengar penjelasan Gavin. Tiba-tiba Kenzo ingat tentang rencana Gavin akhir pekan ini.
“Vin! Sabtu main bowling yuk!” ajak Kenzo.
“Sorry Ken, Sabtu ini nggak bisa! Gue ada urusan.”
“Ups, gue lupa! Nge-date ya sama Naya?”
“Nah, itu lo tau..”
Kenzo kembali terdiam. Bagaimana caranya agar ia bisa tahu apa rencana Gavin weekend ini. Kemana Gavin akan membawa Naya?
Apa dia harus memberi tahu Naya tentang apa yang sudah ia dengar? Iya kalau Naya percaya, kalau enggak dan justru menganggapnya sok ikut campur gimana? Yang ada Naya malah akan menjauhi dan membencinya. Naya pasti akan lebih percaya Gavin ketimbang dirinya.
“..Ken? Kenzo?” Gavin menggeplak lengan Kenzo dengan kuat.
“Lo ngapain bengong sih?”
“So-sorry Vin! Gue lagi mikir kira-kira gue mau ngajak siapa lagi buat main bowling.” Kenzo langsung ngeles.
“Yang pasti jangan Aldo dan Zack!” gumam Gavin sok acuh.
“Kenapa?” Kenzo jadi curiga.
“Mereka ada urusan juga!”
“Darimana lo tau?”
Gavin terdiam, ia pura-pura sibuk mengamati sebuah mobil.
“..tau lah! Mereka kan juga punya cewek. Emang lo, jomblo..!” ucap Gavin akhirnya.
Tapi Kenzo keburu curiga. Dari sekian banyak teman-teman mereka kenapa Gavin menyinggung Aldo dan Zack? Pasti ada sesuatu antara mereka! Kenzo harus mencari tahu.
***
Malam minggupun tiba..
Naya sudah tampil cantik dengan dress selutut pemberian Gavin tempo hari. Tapi kali ini ia melapisi dengan blazer karena tidak mau masuk angin lagi seperti waktu itu. Apalagi potongan punggung dress ini cukup rendah. Tak lupa Naya memakai sneakers andalannya.
Karena ini hanya acara party teman Gavin, Naya tidak perlu harus memakai heels atau wedges yang bisa membuat ia terjengkang kapan saja.
“Ehem, Naya udah siap..” cicit Naya sambil tersenyum malu-malu.
Dan lagi-lagi Gavin dibuat terpana dengan Naya mode maksimal begini. Andai Naya sedang tidak bermain-main dengannya mungkin Gavin beneran tergila-gila kepada Naya.
“Kalau gitu, kami berangkat dulu om, mama..” Gavin berpamitan kepada kedua orang tua Naya.
Rayhan dan Asti mengantar dua sejoli itu sampai pintu dan melambaikan tangan saat Gavin mengklason mobil sebelum akhirnya meninggalkan rumah Naya.
“Kamu senang banget sama Gavin kayanya ma! Belum jadi mantumu aja sudah disuruh panggil mama..” ucap Rayhan sembil menutup pintu dan mengajak Asti duduk di sofa.
“Lah emang papa enggak? Biasanya nggak ada tuh teman-teman laki-laki Naya yang papa bolehin ke rumah. Apalagi papa kasih izin keluar malam.” balas Asti.
“Kalau Gavin kan beda dengan teman Naya yang lain ma..”
“Nah kan, yang ini laki-laki yang jelas! Baik, bisa dipercaya, ganteng juga dan mapan! Biasanya.. hahh.. entah dari mana Naya nemuin mereka semua!”
Asti bergidik membayangkan cowok-cowok yang pernah menjadi pacar anaknya. Ada yang tampilannya kaya gembel gak pernah mandi, ada juga yang saking gabutnya kerjaannya nelponin Naya tiap sejam sekali. Terus pas kuliah pacaran sama Raka yang saking rajinnya perawatan, Asti bingung sendiri sebenarnya yang cewek itu Naya atau Raka. Terakhir sama Lian yang bentukannya paling pas-pasan di banding yang lain, tapi pedenya kelewatan sampai bikin Asti eneg.
Dan semua dipacarin Naya atas dasar nyaman. Entah apa-apa selera anaknya itu. Sekalinya dapat yang kaya Gavin, masa iya Asti dan Rayhan menolak?
Beberapa sat kemudian Gavin dan Naya sudah sampai di villa Zack yang terletak di pingiran kota.
“Mas, pestanya di sini?” Naya mengikuti langkah Gavin dengan ragu-ragu.
“Iya, ini anniversarynya Zack dengan kekasihnya. Mereka mengadakan private party.” Gavin membimbing Naya menaiki tangga menuju villa yang posisinya lebih tinggi dari parkiran.
“Ta-tapi gak ada pesta alkohol ala-ala orang dewasa gitu kan mas? Jujur Naya belum pernah minum alkohol..”
“Saya gak bisa menjamin kalau gak ada alkohol, tapi Zack pasti juga menyiapkan menu lain. Tenang saja Naya, saya akan menjaga kamu!”
Naya menghela napas lega mendengar penuturan Gavin. Apa yang harus ia takutkan, toh ia kan bersama Gavin.
“Hai bro!” Zack merangkul Gavin begitu pria itu memasuki taman belakang dan kolam renang yang menjadi area pesta.
Pria itu membisikkan sesuatu yang membuat Gavin mengangguk-angguk dan tersenyum simpul.
“Halo, Kanaya ya?” Zack menyalami Naya yang membalasnya dengan senyuman ramah.
“Ayo! Silahkan enjoy the party..”
Zack mempersilahkan Gavin dan Kanaya bergabung di keramaian. Ada sekitar hampir lima puluh orang sebaya Gavin dan Zack di pesta itu.
Naya sibuk mengedarkan pandangan ke seantero tempat pesta. Naya berkesimpulan bahwa banyak cowok jomblo di sini. Karena yang ia lihat jumlah cowoknya lebih banyak dari jumlah cewek.
“Mas Gavin! Aku gak bisa minum alkohol..” Naya berbisik ke telinga Gavin saat seseorang memberinya gelas minuman.
“Itu bukan alkohol Nay! Itu minuman soda!“ ujar Gavin setelah memperhatikan gelas Naya.
“Alkohol itu baunya seperti ini!” Gavin mendekatkan segelas wine yang dipegangnya ke hidung Naya.
“Mas Gavin minum alkohol?” pekik Naya tertahan, “Gimana kita pulang nanti kalau mas Gavin mabuk?”
“Saya nggak akan mabuk kalau cuma minum beberapa gelas wine Naya!” ujar Gavin sambil memutar-mutar gelas wine dan meminumnya perlahan.
Seulas senyum yang sulit diartikan terpahat di bibir Gavin saat ia melihat Naya akhirnya ikut meminum minuman bersoda yang sejak tadi dipegangnya.
.
.
Semantara itu, Kenzo tengah memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Akhirnya ia berhasil mengetahui keberadaan Gavin dan Naya setelah tanpa sengaja melihat postingan status salah seorang temannya. Seharian ia sibuk mengorek info dari Aldo dan Zack. Tapi kedua orang itu malah sibuk ngeles dengan berbagai macam alasan.
Aneh sekali rasanya Zack tidak mengudangnya ke private party, padahal mereka berteman akrab. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi, dan Kenzo tidak boleh tahu!
“Sialan! Mudah-mudahan gue gak terlambat!”
“Buru woii!” Kenzo memencet klakson dengan tidak sabar saat mobil yang di depannya tak kunjung bergerak padahal lampu lalu lintas sudah hijau.
Saat giliran mobil Kenzo mau lewat lampu sudah keburu merah lagi. Kenzo tidak peduli, ia buru-buru menggas mobilnya. Bodo amatlah dengan tilang elektonik. Keselamatan Naya lebih penting!
Berkat ngebut dan hampir menabrak tukang bakso yang lagi menyebrang, akhirnya Kenzo sampai di villa Zack. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena halaman villa sudah penuh dengan belasan mobil.
Kenzo segera berlari ke dalam villa tanpa mempeduli sorakan seorang sekuriti yang berusaha menanyakan maksud kedatangannya.
“Kanaya! Gavin!” Kenzo berteriak lantang memanggil kedua temannya itu.
Dentuman musik yang keras dari taman belakang seolah menelan teriakan Kenzo. Kenzo setengah berlari ke sumber suara yang tampaknya sedang riuh. Puluhan orang sedang mengelilingi sesuatu sambil bersorak dan bertepuk tangan.
Kenzo berusaha menyibak keramaian. Dan saat sudah berada di depan, matanya langsung melotot saat melihat pemandangangan memuakkan di depannya.
Gavin duduk bersandar di sebuah sofa dengan Kanaya yang sedang menungganginya dengan pose vulg*r. Seperti orang mabuk, Kanaya sibuk berjoget sambil menggeliat-geliatkan badannya ke tubuh Gavin.
Blazer yang tadi di kenakan Naya sudah hilang entah kemana. Sekarang gadis itu sudah setengah bug*l. Gavin mengangkat dress Naya hingga ke pangkal paha lalu salah satu tali dressnya juga sudah jatuh melewati bahu. Hampir seluruh punggung Naya terekspos begitupun dengan pangkal payud*ranya.
Dan lebih gilanya lagi, Aldo sedang merekam semua adegan itu di belakang punggung Gavin!
“ANJ*NG LO VIN!!”
Dengan penuh amarah Kenzo menarik paksa tubuh Naya dari pelukan Gavin. Kanaya terhuyung dan terduduk ke lantai. Lalu tanpa ampun Kenzo langsung menghajar Gavin.