Bab 7. Cemburu di sela Benci

1620 Kata
Gavin mengusap mukanya dengan kasar. Ia benar-benar kecewa dan sakit hati. Gadis yang ia sayangi dengan sungguh-sungguh ternyata hanya mempermainkannya. Jadi selama ini segala bentuk perhatian dan ungkapan cinta ini hanya omong kosong? “Masih ada satu lagi yang harus kakak lihat!” Sandra membuka satu file lagi. sebuah rekaman CCTV di pelataran parkir basement. “Gila!” hanya satu kata itu yang sanggup Gavin gumamkan untuk menggambarkan keterkejutannya. “Dia psikopat kak!” Sandra menutup laptopnya dan meraih tangan Gavin yang tampak syok. “Naya nekat melukai dirinya sendiri hanya agar bisa mengikat kakak dan balas dendam padaku.” Sandra meracuni pikiran Gavin. Ia sengaja memasang tampang sedih agar lebih meyakinkan lagi. “Satu lagi yang harus kakak dengar, apa penyebab aku dan Naya musuhan. “ Dengan dibumbui drama air mata dan kebohongan Sandra mulai bercerita bagaimana cowok yang ia suka ternyata menyukai Naya. Dengan teganya Naya menantang Jimmy jika cintanya ingin diterima, Jimmy harus mengerjai Sandra. Entah apa yang Naya benci dari Sandra. Hingga akhirnya Jimmy menjadikan Sandra bahan taruhan dengan teman-temannya dan mempermalukan Sandra di diskotik malam itu. “Wajar kan kak kalau aku begitu marah dan membenci Naya? Wajar kan kak kalau aku mengucapkan sumpah serapah? Aku mengutuknya kak, semua yang menjadi pacarnya akan mati! Lalu ternyata pacar-pacarnya memang mati kak!” Sandra tampak begitu histeris dan syok di sela omongannya. “Lalu dengan jahatnya dia menuduhku yang membunuh mereka semua! Dia benar-benar gila kak! Gimana bisa aku membunuh mereka? Dia terkena karma atas perbuatannya tapi malah mengkambing hitamkanku. Dan sekarang dia sengaja memacari kakak hanya untuk membuktikan teorinya itu!” “Kak, tolong putusin dia! Dia gak baik buat kakak! Aku gak mau kakak dipermainkan kaya gini!” “Nggak dek!” Sandra langsung ternganga. Sudah sekuat ini bukti yang ia punya untuk menjatuh Naya, sudah sepiawai ini ia bersandiwara, tapi Gavin masih tidak mau memutuskan cewek sialan itu? Pelet apa yang dipakai Naya? “Nggak segampang itu! Kakak nggak akan melepaskan Naya segampang itu!” sambung Gavin. Sorot matanya yang berapi-api menatap tajam siluet kota di balik kaca besar jendela apartemennya. “Kakak akan membalas semua perbuatan Kanaya ini. Kakak akan membuatnya bertekuk lutut dan memohon, kakak akan membalas semua perbuatannya padamu, baru setelah itu kakak akan mencampakkannya. Tidak ada yang boleh main-main dengan keluarga kita, Sandra!” Sandra berhambur memeluk kakaknya. Seulas senyum kemenangan tercetak di wajah cantiknya. Ini yang dia mau! Ternyata Gavin lebih kejam dari dirinya. Menghancurkan Naya sampai ke tulang-tulangnya. *** “Permisi mbak, ini dompet lo bukan?” seorang cowok tiba-tiba menyerahkan sebuah dompet berwarna maroon kepada Naya. Naya yang tengah kerepotan membawa setumpuk komik di tangannya langsung gelagapan. Ia meraba kantong belakang tempatnya menyelipkan dompet. Tidak ada apa-apa disana! Naya langsung meletakkan komik-komik yang sedang dipangkunya ke lantai dan merebut dompet yang di pegang cowok itu. “Benar dompet gue..” gumamnya setelah mengecek isi dompet itu. “Kok bisa ada sama mas ya?” “Barusan gue lihat dompet itu jatoh dari kantong lo! Kalau lo mau borong banyak buku kenapa gak bawa kantong itu biar barang-barang lo gak tercecer?” cowok itu menunjuk kantong bening yang memang di sediakan pengelola toko untuk pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak. “Hehe.. tadinya cuma mau beli satu. Ternyata banyak komik baru yang bagus. Gue jadi khilaf. Btw, makasih ya mas!” ucap Naya sambil mengangkat dompetnya. Ia kembali menyelipkannya ke kantong belakang. “Ee.. jangan di taruh di sana, nanti jatoh lagi. Sini gue bawain barang-barang lo! Udah mau ke kasir kan?” tawar si cowok. “Gak papa nih?” Naya tampak sungkan. “Nyantai aja! Kita searah kok! Gue juga mau ke kasir.” Cowok itu langsung mengangkat tumpukan komik Naya yang tergeletak di lantai. “Sini, biar gue pegang sebagian!” Naya merebut sebagian komiknya dari tangan cowok itu. Sambil melempar senyum Naya bergegas berjalan menuju kasir. “Eh, komik gue tadi mana ya?” si cowok celingukan sambil menggaruk kepalanya. “Mas, mau kemana?” Naya bersorak kepada si cowok yang kembali masuk ke rak komik. “Ntar, kayanya komik gue jatoh deh!” si cowok balas bersorak. “Maas!” Naya bersorak dan mengeluarkan sesuatu dari kantong belanjanya. Ia mengangkat sebuah komik One Peace ke udara, “Ini punya lo kan?” Cowok itu berjalan ke arah Naya, “Kok bisa ada dibelanjaan lo?” tanyanya bingung sambil mengambil komik itu. “Tadi kecampur sama barang-barang gue.” Cowok itu mengangguk dan mengeluarkan dompetnya. Ia menarik selembar uang lima puluh ribuan dan menyerahkannya ke Naya. “Apa ini mas?” tanya Naya bingung. “Ganti duit lo! Udah lo bayar kan?” Naya mengibaskan tangannya, “Gak usah! Anggap aja ini tanda terima kasih karena lo udah nemuin dompet gue!” “Wah, gue jadi enak ini..” gurau si cowok. Naya menimpalinya dengan tawaan. “Tapi gue gak suka berhutang sama orang lain. Lo harus mau gue traktir sebagai ganti bayar komiknya!” cowok itu merebut kantong belanjaan Naya dan berjalan mundur sambil menunggu reaksi Naya. Naya hanya bisa pasrah. Sambil geleng-geleng kepala ia mengikuti kemana cowok itu berjalan. Cowok manis itu langsung mengulas senyum yang tak kalah manis dari wajahnya karena Naya menerima ajakannya. Sepuluh menit kemudian dua orang ini sudah duduk di suatu kafe yang beda satu lantai dari toko buku tempat mereka bertemu tadi. Dengan cepat mereka menjadi akrab seperti teman yang sudah kenal selama bertahun-tahun. Ternyata cowok itu bernama Kenzo, seorang ‘nakama’ sejati. Nakama adalah sebutan untuk penggemar komik One Peace garis keras. Ia mengoleksi komik tersebut mulai dari seri pertama sampai seri terbaru tanpa bolong satupun! Ia bahkan mengoleksi action figure semua karakter di komik One Peace. “Gue rasa sampai lo punya cucu tuh komik juga gak bakalan tamat deh Ken!” celetuk Naya saat Kenzo bercerita bahwa sudah membaca One Peace sejak SMP. Kenzo tertawa. Itu kalimat yang sering dilontarkan orang-orang untuk meledek komik yang tak kunjung tamat itu. “Nay, lo udah punya pacar belum?” tanya Kenzo frontal. Naya yang sedang menyeruput milk shakenya nyaris tersedak. Kenapa obrolan tentang hobi malah melenceng ke percintaan? “Hah? Kenapa tiba-tiba tanya itu? Jangan-jangan lo naksir gue ya?” tebak Naya usil. “Kok lo tau? Keliatan banget ya?” balas Kenzo serius. Naya langsung melongo melihat cowok unik di depannya ini. Baru sekali ini ia bertemu orang seterus terang ini. Tapi bukan Naya namanya jika gampang salah tingkah. Ia dengan santainya langsung menolak Kenzo bahkan sebelum ditembak. “Sorry Ken, lo telat! Gue udah punya cowok!” Kenzo langsung tertekuk, pura-pura sedih. Padahal ia sudah menduga, cewek seimut dan seasik ini mana mungkin jomblo. “Yah.. patah hati gue! Padahal tadinya gue berharap kalau lo adalah jodoh gue! Sesuai dengan angan-angan gue selama ini, ketemu sama cewek cantik sesama pencinta komik.” gumam Kenzo. Naya hanya tertawa menimpali angan-angan Kenzo itu. “Tapi kalau temenan masih mau kan?” Kenzo tak patah arang. “Mau dong! Masa karena udah punya cowok gue gak mau temenan sama lo!” “Yes! Siapa tau nanti ada peluang gue untuk masuk andai lo jadi jomblo lagi!” gurau Kenzo. Keduanya sama-sama tertawa dan meneruskan obrolan unfaedah mereka hingga satu jam ke depan. Tanpa Naya sadari kalau Gavin tengah memperhatikannya. Gavin sendiri baru saja meyelesaikan meeting sambil makan siang bersama relasi kerjanya di kafe lain dalam mall itu. Dan ketika akan turun ke eskalator tanpa sengaja ia melihat penampakan Naya yang sedang duduk dengan seorang cowok. Ia mengurungkan niatnya untuk turun dan memutuskan menguntit Naya. Kebencian dan rasa muak makin menjadi-jadi di hatinya saat melihat Naya tampak begitu akrab dengan cowok itu. “Benar kata Sandra. Kamu cuma main-main sama saya Naya! Tunggu saja, saya akan membalas kamu!” geram Gavin. Tak lama kemudian ia memutuskan untuk pergi karena hatinya makin panas. Tak bisa dipungkiri, walapun dalam semalam ia jadi membenci Naya, tapi rasa cinta itu masih ada di hatinya. *** Gavin terdiam di dalam mobilnya. Sudah lewat sepuluh menit ia tak kunjung pergi meninggalkan pelataran parkir mall. Hatinya tidak tenang melihat pemandangan yang memuakkan tadi. Ingin rasanya ia kembali ke atas dan melabrak Naya. Gavin tengah cemburu! Cemburu yang jauh lebih besar di banding rasa marah dan bencinya! “Saya harus menguji kejujurannya!” gumam Gavin. Ia mengambil ponselnya dan mencari nomor Naya. Tak lama kemudian panggilan itu tersambung. Naya bahkan langsung mengangkatnya di deringan pertama. “Halo mas..” suara Naya terdengar bersemangat di seberang sana. “Halo Naya, kamu lagi dimana?” Gavin menunggu jawaban Naya harap-harap cemas. “Aku lagi di mall mas.. Lagi makan sama teman.” Gavin terdiam, Naya tidak berbohong! “Mas..?” “Siapa Nay?” suara seorang cowok terdengar ikut menyela. “Cowok gue..” “Mas Gavin masih di sana?” Naya kembali bertanya. “E-eh iya! Kamu.. Sama Cila Nay?” Gavin gelagapan dengan kejujuran Naya. “Bukan mas! Cila lagi ada kuliah. Ini sama teman Naya yang lain.” “Cewek atau cowok?” “Cowok!” “Oh! Jangan terlalu akrab!” “Ciee.. ada yang lagi mode posesif nih..” Naya menggoda di seberang sana. “Tenang aja! Aku ini setia!” “Setiap tikungan ada..” cowok itu terdengar ikut menimpali. Gavin menjadi geram. Apalagi Naya terdengar tertawa merespon ucapan cowok itu. “Ya sudah! Mau saya jemput?” “Gak usah mas. Aku bawa mobil.” “Baiklah kalau begitu! Hati-hati ya Nay!” Gavin melempar ponselnya ke jok samping begitu pembicaraan selesai. Hatinya jadi dilema. Ia cemburu, ia marah, ia benci tapi entah kenapa ia juga kagum dengan kejujuran Naya. “Gak bisa begini! Saya harus mengikat cewek sebebas kamu Naya! Saya akan membuat kamu hanya akan menoleh kepada saya saja! Sampai kamu tidak akan punya waktu memikirkan orang lain!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN