Bab 6. Jebakan Sandra

1620 Kata
Sandra menyerahkan sebuah amplop coklat kepada petugas pengawas CCTV gedung. Sebagai gantinya, Sandra mendapatkan satu buah flashdisk yang berisi rekaman CCTV di parkiran basement tepat pada hari Naya tertabrak oleh Gavin. “Terima kasih ya pak Sam!” ujar Sandra. “Tapi mbak Sandra, saya nggak akan kena pecat gara-gara ini kan? Menyebarkan rekaman CCTV seperti ini tidak boleh sebenarnya mbak!” petugas yang bernama Sammy itu masih begitu khawatir walau yang tengah memerintahnya adalah anak bosnya sendiri. Ia tidak mau kehilangan pekerjaannya. “Enggak pak! Malah kak Gavin akan berterima kasih sama bapak! FYI nih pak, cewek yang nabrakin dirinya ke mobil kak Gavin ini sedang memeras kakak! Aku butuh rekaman ini untuk menghentikan kejahatan dia!” dusta Sandra. “Kalau begitu baiklah mbak Sandra, saya jadi lega! Saya permisi dulu.” Sammy mengantongi amplopnya kembali ke ruang kontrol dengan riang. Sandra menyeringai jahat sambil memain-mainkan flashdisk di tangannya. “Tinggal satu bukti lagi! Setelah itu, welcome to hell Naya..” . . Sandra menarik tangan Naya yang sedang melintas di depan kampusnya. “Ikut gue!” desisnya. Naya berusaha berontak, tapi ia tidak berdaya karena tangannya yang sedang dicekal Sandra adalah tangannya yang patah beberapa minggu lalu. Dan itu sesekali masih nyeri. “Ck! Apa sih San? Lepasin gue!” bentak Naya. “Gue cuma mau ngomong! Gak usah lebay deh lo!” balas Sandra. “Kalau mau ngomong di sini aja! Ngapain lo nyeret gue ke tempat sepi? Lo mau ngeroyok gue kan?” Sandra melepaskan tangan Naya dengan kesal. “Korban sinetron lo! Udah gue bilang, gue cuma mau ngomong!” “Ya udah, ngomong!” Sambil menata napasnya yang ngos-ngosan, Sandra menatap Naya dengan putus asa. “Nay, gue minta sama lo tolong putusin kak Gavin!” Naya tertawa remeh mendengar mendengar permintaan Sandra. “Lo nyeret gue jauh-jauh begini cuma untuk bilang ini?” “Buang-buang waktu gue lo San! Lo lihat sendiri kan, gue udah minta putus kemaren sama abang lo tapi dianya yang nggak mau!” Naya begitu menikmati wajah Sandra yang terlihat kesal dan putus asa. Ia sudah menunggu momen ini dari dulu. “Oke! Gue minta maaf atas semua kesalahan yang udah gue perbuat Nay. Gue mengaku kalah! Sekarang tolong lepasin kakak gue! Please.. jangan permainkan hati dia cuma karena lo benci sama gue..” mohon Sandra. “Gampang banget lo minta maaf atas semua kejahatan lo! Apa dengan maaf lo itu Raka dan Lian bisa hidup lagi?” “Naya! Berapa kali gue bilang gue gak ada sangkut pautnya dengan kematian cowok-cowok lo! Itu semua terjadi karena kutukan lo!” “Jangan ngomong bullsh*t Sandra! Gue punya bukti kejahatan lo walaupun gak kuat. Lo nyuruh orang buat menghabisi mereka! Sekarang mana buktinya kutukan itu? Kakak lo gak mati kan? Itu karena lo gak tega ngabisin dia!” Naya tertawa sumbang. Sandra mencekal kerah baju Naya dan memepetkan gadis itu ke dinding. “Jangan bilang lo sengaja macarin kakak gue cuma buat membuktikan teori omong kosong ini?” “Emang!” jawab Naya lantang. “Lo php-in dia cuma buat ngebalas gue?” Naya terdiam sesaat, “..Iya!” jawabnya sedikit ragu. “Tega lo Nay!” lirih Sandra. “Jangan-jangan untuk mendapatkan perhatian kak Gavin lo sengaja menabrakkan diri ke mobil dia?” “Iya! Kenapa emangnya?” Naya tersulut emosi. “Sakit jiwa lo Naya!” “Untuk menghadapi orang sakit jiwa kaya lo, gue terpaksa harus sakit jiwa juga! Ada lagi? Gue mau kuliah!” Sandra tersandar lesu di tembok. Ia tampak begitu syok. Naya mendelik melihat tampang menyedihkan Sandra. Sesaat kemudian ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Sandra terus memperhatikan punggung Naya yang menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya. Rauh wajah sedih yang ia tampakkan dari tadi berubah menjadi seringaian licik. Dayang-dayang Sandra, Nuri dan Inge keluar dari semak-semak tak jauh dari tempat Sandra berdiri. “Gimana? Kalian dapat rekamannya?” tanya Sandra. Kedua gadis itu tersenyum lebar sambil mengancungkan jempolnya, “Dapat dan jelas banget San! Lo tonton aja sendiri!” Inge menyerahkan ponselnya yang dipegangnya kepada Sandra. Sandra tertawa puas menonton rekaman itu. “Tamat riwayat lo Nay!” umpatnya penuh kemenangan. *** Ini sudah gaun yang kelima dicoba Naya. Sebuah cocktail dress di bawah lutut bewarna hitam. Sudah hampir satu jam ia bolak balik ruang ganti. Setengah kelelahan Naya berjalan gontai ke ruang tunggu dimana Gavin sudah duduk ganteng menunggunya dari tadi. “Ini gimana mas?” tanya Naya meminta pendapat Gavin. Gavin bangkit dan tampak tersenyum puas. Ia yang sudah ready dengan tuksedonya bersanding di samping Naya dan menghadap kaca. “Perfect!” gumamnya. “Tidak terlalu seksi dan tidak terlalu norak. Elegan!” “Kamu nyaman memakainya?” Gavin memeluk pinggang ramping Naya dari belakang. Naya mengangguk meng-iyakan pertanyaan Gavin. “Mbak, saya ambil ini!” Gavin melirik seorang pramuniaga yang berdiri tidak jauh darinya. Pramuniaga tersebut mengangguk dan mengambil kartu debit yang disodorkan Gavin kepadanya. “Selanjutnya kita mencari heelsnya!” tukas Gavin kemudian. “Mas Gaviin..” Naya merengek dan menghadap ke Gavin. “Aku gak mau pake heels! “ Naya ngeri membayangkan jika ia harus memakai sepatu yang tumitnya bahkan lebih kecil dari kelingkingnya itu. Naya bisa terjengkang kapan saja! “Aku pakai wedges aja! Dan jangan ajak aku beli yang baru karena wedgesku banyak di rumah! Aku capek..” Gavin pura-pura berpikir sejenak sambil menatap langit-langit. Naya melirik gemas pacarnya itu. “Baiklah!” ujar Gavin akhirnya. “Tapi.. cium dulu supaya saya tidak merampok waktumu lebih lama!” “Mas.. kita lagi di tempat umum..” bisik Naya malu. “Mana? Cuma ada kita berdua di sini..” Gavin membungkukkan badannya menyamakan tingginya dengan Naya. Ia menatap Naya , menanti ciuman yang ia tagih. Naya membalas tatapan Gavin dengan gemas. Gara-gara ia yang memulai mengecup Gavin waktu itu, cowok itu menjadi hobi mencium bibirnya. Seolah bibir Naya menjadi candu yang bisa membuat Gavin sakaw jika tidak mendapatkannya. Dan sialnya, Naya justru tidak pernah menolak dan selalu menikmati ciuman lembut itu. Naya mendekatkan bibirnya ke Gavin dan mengecup bibir pacarnya itu secepat kilat. Tak kalah sigapnya, Gavin menahan tengkuk Naya dan melumat bibir gadis itu dengan lembut. Mata Naya membulat sempurna karena serangan balasan itu. Ia melirik ke pintu dan berdoa semoga mbak pramuniaganya tidak masuk tiba-tiba. Naya mulai terbuai dengan emutan Gavin itu, nyaris gila mempertahankan kewarasannya. Ah, perset*n lah dengan pramuniaga atau siapapun lah itu! Naya menyerah, ia mengalungkan tangannya ke leher Gavin dan membuka sedikit mulutnya. Membiarkan Gavin menjelajah bibirnya dengan lebih leluasa. Jam 9 lewat mobil Gavin berhenti di depan rumah Naya. “Ayo saya antar masuk. Biar saya yang ngomong sama om Ray!” Gavin membujuk Naya yang tengah memandangi pintu rumahnya dengan takut-takut. Jam malam Naya hanya sampai pukul 9. Jika Naya pulang telat dari itu, Naya harus bersiap-siap menghadapi amukan Rayhan, papanya. “Bener ya? Mas Gavin harus berhasil membuat papa gak ngamuk!” pinta Naya sangsi. “Iya, percaya deh sama saya!” “Tapi..” Tuh kan ada tapinya. Naya langsung meringis memandang pacarnya yang licik ini. “Tapi?” “Tapi cium dulu buat upahnya!” pinta Gavin tanpa malu. “Mas Gavin..” rengek Naya, “Lihat nih bibir aku!” Naya mendekatkan bibir mungilnya, “Bibir aku makin tebal karena mas emutin terus!” “Saya gak peduli. Saya suka!” Gavin dengan sigap kembali menyambar bibir mungil yang sudah begitu dekat di depan matanya itu. Sayang sekali kesempatan emas disia-siakan! Naya hanya bisa pasrah sambil mencubit pelan lengan Gavin. “Maaf, om Ray! Saya terlambat mengantar Naya. Tadi kami cukup lama di butik. Saya harap om tidak marah.” Pinta Gavin kepada Rayhan yang sudah menyambut mereka di depan pintu. “Oh, tidak apa-apa Vin! Yang penting Naya pulang dengan selamat! Ayo masuk dulu!” Bukannya marah seperti yang dibayangkan Naya, Rayhan justru menawarkan Gavin untuk mampir. Naya memandang Gavin dengan takjub. Guna-guna apa yang sudah dipakai pacar ini? Apa ajian jaran goyang? Atau semar mesem? “Lain kali saja om! Ini sudah terlalu malam.” Gavin langsung pamit pulang dan berjalan kembali ke dalam mobilnya yang terparkir di depan pagar. Naya sempat khawatir begitu pintu tertutup papanya akan mengomeli seperti yang sudah-sudah. Dulu sewaktu Naya pernah pulang kemalaman dan meminta Cila untuk menamenginya, Rayhan tidak marah di depan Cila. Tapi ketika bocah itu pergi, Rayhan langsung menguliahi Naya 3 SKS! Ajaibnya kali ini Rahyan hanya tersenyum dan mengacak rambut putrinya, “Udah, mandi sana! Bau!”. Rayhan hanya melontarkan kalimat itu. Sambil menaiki tangga, Naya bertekad akan meminta Gavin mengajarinya ajian penakluk hati yang sangat manjur ini! *** Gavin melongo saat memasuki apartemennya melihat Sandra sudah duduk sambil bersidekap tangan di sana. “Kamu ngapain disini dek?” tanya Gavin sambil melepas jasnya. “Aku nungguin kakak! Ada sesuatu yang harus aku sampaiin!” jawab Sandra. “Apa begitu penting sampai kamu gak bisa menunggu sampai besok?” “Sangat penting kak! Ini tentang pacar kakak, Kanaya!” Gavin menghela napas. Ia capek jika harus ribut dengan Sandra malam-malam begini perkara Naya. Ia ingin segera mandi dan tidur. “Kalau kamu cuma mau ngomongin hal yang nggak penting dan konyol kaya kemaren mending gak usah deh! Kakak lagi capek!” sahut Gavin sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku gak akan ngomong macam-macam kak! Aku cuma mau kakak menonton ini!” Sandra meletakkan laptop yang berada di pangkuannya ke depan Gavin. Sekilas Gavin melirik Sandra yang tampak begitu tenang. Sandra menggeser kursor dan membuka sebuah file. Fokus Gavin mulai teralihkan ke layar laptop. Matanya yang tadi malas-malasan mulai membulat. Sandra menyunggingkan senyum saat melihat alias hitam lurus kakaknya itu mulai menukik. Sorot mata Gavin membara dan giginya gemeletuk menahan geram. “Jadi Naya hanya mempermainkan kakak?” tanya Gavin sambil meninju meja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN