Earth Jeslyn Marioline’s POV
Aku merasa tubuhku sangat lemah, bahkan aku merasa kalau aku tidak sanggup membuka mataku. Aku juga merasakan perih ditubuhku. Aku terus berusaha untuk membuka mataku, tetapi tetap saja mataku tidak kunjung terbuka.
Ketika aku masih berusaha membuka mataku, aku merasa ada sesuatu yang terasa dingin menyentuh lukaku sehingga tidak terasa perih lagi. Mataku akhirnya terbuka dan aku melihat wanita yang bermata hijau sedang merawat lukaku.
"Kau sudah siuman?" Tanya Evelyn padaku dengan suara lembut.
"Terima kasih, kau telah merawatku hingga siuman." Ucapku.
"Tentu saja, kau boleh kembali besok, sampai luka-lukamu benar-benar pulih." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak usah repot-repot, aku bisa pulang sekarang. Kau tidak perlu merawarku lagi." Ucapku merasa sungkan.
"Tetapi, tetap saja kau belum boleh pulang." Ucapnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Apa kau punya keluarga?" Tanyaku padanya.
"Tentu saja, kalau aku tidak punya orang tua tidak mungkin aku ada didunia itu." Tersirat diwajahnya bahwa wanita itu sedih akan pertanyaanku.
"Tolong maafkan aku, apa pertanyaanku menyakitimu?" Tanyaku.
"Oh tentu saja tidak Jeslyn. Apa kau sendiri punya keluarga?" Tanya Evelyn sambil tersenyum kecut.
"Tentu saja, hanya saja ibuku telah meninggalkanku sejak aku masih kecil." Jawabku.
"Maafkan aku Jeslyn, aku tidak bermaksud..." belum Evelyn selesai berkata, aku langsung memotongnya.
"Ah, tidak apa-apa, lagipula aku sudah bisa menerima kepergian ibuku." Ucapku.
"Maaf sekali lagi bertanya, apa penyebab ibumu meninggal?" Tanya Evelyn.
"Dia gugur di medan perang. Dia adalah prajurit wanita yang membanggakan kerajaan, bahkan ternyata ibuku adalah seorang ahli waris kerajaan." Jelasku padanya.
"Apa? Jadi kau keturunan kerajaan?" Tanya Evelyn kaget.
"Ya begitulah." Balasku singkat.
Lama kami bercakap-cakap hingga tidak sadar kalau hari mulai malam.
"Apa kau lapar?" Tanya Evelyn.
"Ya sebenarnya aku lapar." Jawabku lemas sambil tersenyum kikuk.
"Baiklah aku akan menyiapkan makan malam untuk kita." Ucap Evelyn sambil bangkit dari duduknya.
Wanita itu menyiapkan segalanya untukku, tetapi hanya satu yang tidak ia hidangkan untukku, yaitu daging. Ia hanya menghidangkan segala jenis buah dan sayur untukku.
"Apa kau tidak memasak daging?" Tanyaku pada Evelyn.
"Kau ini bagaimana! Hewan adalah teman-temanku. Tidak mungkin aku mengahabisi mereka karena hawa nafsuku." Kata Evelyn sambil tertawa kecil.
"Oh kau benar, mereka teman-temanmu. Aku lupa." Ucapku.
"Kau ini ada-ada saja." Ucapnya sambil terkekeh.
Sikapku memang seburuk itu, aku tidak bisa menilai seseorang dengan baik, asal berkata, dan hanya menebak-nebak dalam segala hal. Aku melihat lengan wanita itu terluka. Lantas aku bertanya padanya.
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanyaku sambil memegang lengannya.
"Abaikan saja, itu hanya luka kecil karena melawan laki-laki tadi." Jawabnya.
"Oh tidak, kecerobohanku terhadap pria itu telah membuat kau terluka." Ucapku menyesal.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah meletakkan daun obat dilukaku." Ucapnya.
Aku hanya mengangguk dengan penyesalan, kalau saja aku tidak mempercayai Barack seperti yang dikatakan Balerina dan Yakira. Mungkin ini tidak akan terjadi. Apa? Balerina dan Yakira? Ya, aku melupakan mereka pasti keduanya sedang mengkhawatirkanku.
"Bagaimana jika temanku khawatir padaku?" Tanyaku pada Evelyn.
"Tenang saja, tunggu sebentar aku akan memanggil temanku." Ucapnya.
Dia bersiul dan seekor burung merpati putih yang sangat indah menghampiri kami. Evelyn memintaku untuk menuliskan pesan untuk Balerina dan Yakira.
Segera wanita itu bersiul seperti sedang mengatakan sesuatu kepada merpati putih itu. Kemudian, seketika merpati itu terbang dengan membawa suratku dikakinya.
***
Ketika aku terbangun dipagi hari, aku melihat cahaya matahari yang menerobos masuk kedalam rumah pohon Evelyn. Aku merasa sangat nyaman saat berada dirumah pohonnya, tetapi aku harus kembali kesekolah, pasti Balerina dan Yakira mengkhawatirkanku.
"Selamat pagi Jeslyn!" Sapanya.
"Selamat pagi Evelyn! Evelyn aku harus kembali kesekolah." Ucapku.
"Oh kau benar, aku akan mengantarmu." Ucapnya.
"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri." Tolakku atas ajakannya.
"Baiklah kalau begitu." Ucapnya sambil mengangguk.
Aku segera pamit dengannya dan langsung berjalan menuju sekolah. Tetapi, tiba-tiba seseorang membekapku dari belakang, dan aku langsung tidak sadarkan diri.
***
Balerina's POV
Aku mulai kembali khawatir karena Jeslyn tidak kunjung kembali, aku terus menatap kearah gerbang sekolah sambil menunggu kedatangannya. Tetapi tidak ada hasilnya. Aku mulai mengutarakan rasa cemasku kepada Yakira.
"Yakira, aku cemas kenapa Jeslyn tidak kunjung pulang." Ucapku.
"Sudahlah tidak apa, bukankah kita sudah menerima surat darinya semalam." Ucap Yakira menenangkanku.
"Ya kau benar, tapi..." Kata-kataku langsung terpotong oleh ucapan Yakira.
"Tenanglah, kalau Jeslyn tidak kembali sampai nanti sore, baru kita akan mencarinya. Lagipula kita harus masuk kekelas dan belajar tentang sejarah, bukan?" Ucap Yakira.
"Ya baiklah, semoga saja tidak ada yang terjadi pada Jeslyn." Ucapku.
Kami berdua berjalan untuk masuk kekelas. Aku bahkan sulit berkonsentrasi karena rasa khawatirku. Entah mengapa? Aku membayangkan kalau Barack berbuat sesuatu pada Jeslyn.
***
Langit sudah berubah warna menjadi sedikit oranye, rasa khawatirku menjadi-jadi karena Jeslyn belum kembali.
"Yakira, kita harus mencarinya!" Ucapku panik.
"Tentu saja, aku baru saja ingin mengajakmu kehutan." Ucap Yakira.
"Baiklah, kalau begitu ayo cepatlah!"
Kami berdua setengah berlari kehutan, setelah lama berjalan kami akhirnya sampai ke bantaran sungai tempat Jeslyn dan Barack sering bertemu. Tetapi, kami tidak melihat keduanya disitu. Tiba-tiba...
Hei..
Seseorang menepuk bahuku dengan sedikit keras.
"Ahh! Siapa kau?!" Tanyaku sambil meringis.
"Kau temannya Jeslyn bukan?" Tanya wanita itu padaku.
"Ya. Dan siapa kau?" Balasku.
"Panggil saja aku Evelyn, kenapa kalian kemari?" Tanya Evelyn.
"Tentu saja kami mencari Jeslyn, dimana dia?" Ucapku.
"Aku juga bahkan tidak tahu, Jeslyn sudah pamit pulang sejak tadi pagi padaku." Jelas Evelyn.
"Tapi, Jeslyn sama sekali tidak kembali kesekolah. Bagaimana ini?" Cemasku.
"Kita harus segera menemukannya." Ucapnya.
"Kalau begitu harus kemana kita?"
"Barack menyerang Jeslyn, tapi berhasil kuselamatkan, berarti hilangnya Jeslyn ada sangkut pautnya dengan Barack." Jelas Evelyn.
"Istana raja Aresh!" Pekikku.
Kami bertiga berjalan menyusuri hutan sambil berfikir dimana istana raja Aresh terletak. Tetapi yang aku tahu, istananya berada jauh didalam hutan.
***
Earth Jeslyn Marioline's POV
Mataku memburam ketika aku sadar, apa yang baru saja terjadi padaku? Yang aku ingat aku hanya ingin kembali kesekolah, tetapi seseorang...
Flashback
"Lepas! Lepaskan aku!!!" Aku masih sempat melihat seorang pria berjubah hitam menyeret tubuhku kedalam hutan, tetapi aku tiba-tiba merasa seperti mati rasa dan semuanya gelap.
Flashback off
"Ya, pasti seseorang membawaku kemari. Tapi istana kerajaan mana ini? aku baru kali ini melihat istana ini." Ucapku.
"Hai princess kau sudah siuman?" Tanya seorang pria padaku.
"Siapa kau?" Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup oleh tudung kepala.
"Aku? Hahaha kau melupakanku begitu cepat." Ucap pria itu.
"Barack! Kau kah itu?!" Tanyaku.
"Menurutmu?" Tanyanya santai.
"Lepaskan aku, kau memang keturunan iblis! Lepaskan aku!" Aku berkata sambil terus mencoba melepaskan ikatan yang ada ditangan dan dikakiku.
"Bagaimana, apa dia sudah sadar?" Tanya seseorang yang berada dibelakang Barack, dengan suara seraknya.
"Baginda, ya dia sudah sadar." Jawab Barack sambil menundukan kepalanya.
"Baguslah, mari kita mulai permainannya." Ucap suara berat itu.
"Siapa kau?!" Teriakku.
"Aku adalah musuh bebuyutan ibumu!"
"Tapi siapa kau?"
"Aku raja Aresh, bodoh!"
"Mau apa kau?" Tanyaku.
"Kau bertanya apa mauku? Ibumu menghabisi anakku dimedan perang!" Ucapnya.
"Tapi apa hubungannya denganku?!" Suaraku mulai meninggi.
"Nyawa dibalas dengan nyawa!" Suaranya terdengar tajam.
Apa pria ini akan mengakhiri hidupku? Bagaimana jika tidak ada yang menolongku. Apa aku akan berakhir di istana pengap ini dengan cara seperti ini?
Tiba-tiba aku melihat sihir dikeluarkan dari tangannya dan berusaha menyerangku, apa yang akan terjadi padaku? Mungkinkah aku akan mati dengan sihirnya ini?
Brusshhh
Sesuatu terjadi.