" saya bukan orang yang mata duitan. Yang saya butuhkan tanggung jawab."
" aduh...."
Negosiasi ini berjalan dengan alot.
padahal Elrina sudah tidak punya waktu lagi. Dia harus segera pergi ke bandara
" bagaimana kalau saya panggil sopir saya. Biar nanti sopir saya yang akan membawa mobil bapak ke bengkel." ucap El
" kamu mau lari dari tanggung jawab? kamu yang membuat mobil saya penyok, orang lain yang harus bertanggung jawab." ucap pengendara
" bukan seperti itu pak. saya memang harus segera ke bandara. Dan sopir saya adalah orang yang dapat di percaya."
" saya tidak mau."
" terus saya harus bagaimana pak? saya harus cepat cepat sampai di sana."
" ok kamu bisa pergi. Tapi sebagai jaminan kamu tidak kabur, berikan KTP mu. Dan ini kartu nama saya. Saya tunggu iktikad baiknya."
" lhoh kok gitu?"
" atau kamu maunya saya bawa kamu Langsung ke bengkel?"
" ah nggak perlu pak. Baik ini KTP saya. Dan besok saya akan menemui bapak."
" saya tunggu saat jam kerja"
" AHN DIKA LIM, Seol up resto?"
" saya bekerja di sana."
" baik pak saya akan datang ke sana. Dan maaf, saya harus pergi dulu."
" silahkan."
Elrina kembali masuk ke mobil dan menuju ke bandara.
sampai di sana, El mulai mencari sosok kekasih nya. Karena dia tahu, Elrina terlambat datang.
Dia berlari menuju ruang tunggu.
' drtt..drrrt....'
hp nya bergetar
Dewa: kamu dimana? aku udah sampai 30 menit yang lalu.
Me : Aku sudah di bandara, maaf kamu nunggu lama. tadi ada sedikit insiden.
Dewa : ok nggak masalah. yang penting kamu sampai sini dengan selamat.
Me : kamu dimana?
Dewa : aku di ruang tunggu kedatangan.
Me : ok. tunggu aku kesana
Dewa : siap sayang.
melihat Dewa yang memanggilnya 'sayang', hati El samakin berdebar. Dia berjalan menuju ruang tunggu kedatangan sambil tersenyum riang.