"Astaga..! Kecepatan gerak tangan nya hampir tak tertangkap kamera cctv.." teriak Novi, ia heran, dari mana Paman nya itu menemukan orang seperti Randi. Novi terus memantau cctv itu, namun tiba-tiba saja bau masakan memasuki indra penciuman nya hingga isi perut nya pun meronta-ronta.
"Ini serius bau masakan nya dia..?! Ga bisa di biarin, poko nya gua harus dapetin makanan itu, suruh siapa bikin perut gua protes kek gini,!" gumam Novi, padahal memang sudah waktu nya dia makan, karena biasa nya setiap pulang kerja langsung makan di rumah nya.
Novi segera meninggalkan ruang security dan berlari menuju dapur, jika sudah urusan dengan perut, ia tak bisa lagi untuk menjaga image.
"Tak...Tak...Tak..!" suara spatu Novi, ia berlari sekencang nya ke arah dapur.
"Awasss Nonaaaaaa...! Li ... " teriak Randi
"Braghhhh..!" "Sserrrtttttt"
"Aaaaaaaarghhh..!" teriak Novi
" ... Cin," lanjut Randi, ia ternganga melihat Novi yang datang sambil lari terus terpleset dan menabrak meja dapur.
"Aduuuhhhh...Kenapa sih ga ngomong-ngomong kalau baru saja di pel..!" histeris Novi sambil memegang jidat nya yang menabrak meja dapur yang terbuat dari kayu.
"Ya maaf Nona, ini kan sudah jam pulang, lagian biasa nya saya sendirian kalau jam segini, kenapa pula nona masih ada di kantor dan berlari ke sini, ini kan bukan wilayah kerja nona, ?" tanya Randi
"Banyak bicara ya, ! Suka-suka gua dong mau keliling kemana aja d dalam kantor ini, ! lagian gua pon ... " ucap Novi tertahan, karena ia hampir membuka identitas nya sendiri.
"Pon,?"
"Iya ! Tadi ada bunyi telepon di ruang security, dan gua pengen ke toilet, maka nya buru-buru..! puas Lo ..!" teriak Novi sambil duduk di meja makan yang sudah ada makanan hasil Randi memasak tadi.
"Perasaan ga ada bunyi telepon di atas sini nona.. Ahhh mungkin waktu saya memasak tadi, maka nya ga kedengeran," ucap Randi
"Ini masakan Lo,?" tanya Novi pura-pura tidak tahu
"Iya Nona, emang siapa lagi di sini yang masak,?"
"Ya bisa aja Lo bawa cewe lo kemari dan dia yang masak,!"
"Haduh nona ini apa-apaan sih, saya ga pernah bawa cewe ke sini bahkan saya ga punya kenalan cewe sama sekali, nona aja ga tau siapa nama nya walaupun tiap hari ketemu, " jawab Randi.
"Astaga...! Selama ini Lo gak kenal gua,?" tanya Novi
"Ok, anggap saja sekarang hari keberuntungan Lo, kenalin ... gua Novi..." sambung nya, sambil mengulurkan tangan pada Randi.
"Oh nama nya Bu Novi,? maafkan ketidak tahuan saya atas nama ibu, saya selama ini hanya ikut-ikutan orang manggil nya Nona," ucap Randi, membalas jabatan tangan Novi namun tidak sampai menyentuh kulit jemari nya.
"Apaaaa..! Lo bilang gua ibu..? Sejak kapan gua ngelahirin Lo, ha...!" teriak Novi, yang hampir tersedak makanan saat mulut nya sedang mengunyah.
"Duuuh, maksud saya Nona Novi, " ucap Randi
"Gua juga ga suka di panggil nona, cuma orang-orang saja yang begitu, wajar sih karena gua yang tercantik di kantor ini, bahkan sekretaris bos aja laki-laki, ha ha ha... Sudah lah, panggil nama gua aja..! Gua juga masih di bawah Lo umur nya, " ucap Novi yang mulai kepedean.
"Tapi kan Nona atasan saya, ga sopan kalau manggil atasan dengan menyebut nama saja," ucap Randi
"Terserah Lo mau manggil apa kalau di kerjaan, tapi kalau di luar kerjaan, cukup panggil nama saja, ingat..!" ucap Novi
"Baiklah Novi, silahkan lanjutkan makanan nya ya, saya mau Sholat magrib dulu," ucap Randi.
Setiap hari, Novi sering pulang sehabis magrib karena lembur, tak terasa karena kedekatan mereka selama ini, Novi akhirnya merasa nyaman dengan keberadaan Randi di dekat nya, begitu pun Randi, ia merasa jatuh hati pada Novi, namun ia tak berani untuk mengungkapkan, dan memang meski sering bertemu di kantor, Novi tak pernah menginjak lantai 3 lagi karena ia juga memiliki aktifitas sendiri yang selalu padat, dan pulang sehabis magrib. Belum genap satu tahun Sejak Randi bekerja di perusahaan itu, pekerjaan di kantor selalu deadline karena banyak nya para pembeli, bahkan Novi selalu ambil lembur demi menyelesaikan pekerjaan nya, tak jarang Randi juga sering membantu Novi agar pekerjaan nya cepat selesai.
Novi terlihat letih, ia merasa hari ini energi nya benar-benar di kuras habis, bahkan ia sampai lupa makan siang. Ketika hendak mengambil air minum di dispenser yang letak nya di dekat tangga, tak sengaja Novi mencium bau masakan di lantai 3, 'mampir ahh, ga apa-apa lah merepotkan nya sekali lagi, suruh siapa bau masakan nya sampe ke lantai 2,' gumam Novi. Ia langsung naik ke lantai 3 dan menawarkan untuk mencicipi rasa masakan yang Randi buat, begitulah Novi, ia gengsi jika meminta nya secara terang-terangan, walau Randi selalu menawarkan makanan nya setiap hari.
"Hati-hati makan nya, tenang saja, masih banyak persediaan bahan masakan di dapur" ucap Randi
"Lo gak makan, ? Ini masih banyak loh," tanya Novi
"Nanti saja saya makan nya sehabis Sholat, " ujar Randi
"Tunggu..! Aku ikut berjama'ah, boleh kan?" pinta Novi
"Aduh Novi, bukan nya ga mau dan menolak pahala berjama'ah, tapi kita bukan muhrim dan di sini cuma ada kita berdua,"
"Lo ga usah mikir macem-macem deh, gua tau itu..! Yasudah, nanti gua sholat di Ruangan gua sendiri di lantai bawah," ucap Novi
Randi segera melaksanakan Sholat, hati nya benar-benar berguncang, baru kali ini ada wanita yang minta ikut sholat berjama'ah, bisa baper nanti nya Randi.
Setelah kenyang, Novi segera ke lantai 2, ke ruangan nya untuk melaksanakan Sholat.
"Untung saja sudah ga ada orang nya, ya Robb..Ternyata Cantik sekali dia kalau bicara dari dekat seperti tadi," gumam Randi di depan meja makan nya,
"Astagfirulloh, lauk pauk untuk besok aku sarapan, hanya tinggal tersisa untuk makan sekarang," batin Randi, namun ia tersenyum senang, karena ada orang kantor yang memakan masakan nya apa lagi orang itu secantik Novi, bahkan semua makanan nya di habiskan pun ia rela asal Novi menikmati masakan nya.
Randi makan malam sambil membayangkan wajah cantik Novi.
"Astagfirulloh Randi..Sadar..Sadarr... Sekarang harus fokus dengan pekerjaan, jangan memikirkan wanita dulu," batin Randi ,segera ia menyadarkan sifat Bucin nya yang mulai tumbuh.
Setelah selesai Sholat, Novi malah ketiduran di atas sajadah, karena aktifitas hari ini membuat ia lelah dan ngantuk, terlebih ia sudah kenyang, otomatis langsung menuju mimpi saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 tapi Randi belum melihat tanda-tanda Novi meninggalkan Kantor, Mobil nya pun masih terparkir di halaman parkir kantor,
Randi harus mematikan semua penerangan di dalam kantor, kecuali lantai 3, semua penerangan tak di matikan, karena memang lampu nya tak terlalu terang seperti lampu di lantai bawah nya. Namun saat Randi di depan ruangan Admin, Randi merasa berat untuk masuk ke dalam ruangan itu, karena ia yakin di dalam sana ada Novi, ia takut tak sopan, akhir nya ia menunggu di sofa dekat ruang admin.
"Sedang apa ya Novi sampe larut malam begini belum pulang,? Apa banyak sekali kerjaan kantor yang harus dia selesaikan,?" batin Randi
"Duarrrrrrr...!" suara ledakan keras berasal dari lantai atas mengagetkan Randi, ia segera naik ke lantai atas untuk mengecek nya, ia takut komputer di ruangan security meledak.
Setelah Randi ke ruang security, komputer aman-aman saja, bahkan seluruh ruangan dia telusuri tapi tak ada tanda-tanda kehancuran.
"Duaaarrrrrrr....!" kali ini suara itu berasal dari lantai 2, segera ia turun kembali, ia khwatir terjadi sesuatu dengan Novi. Namun di tengah tangga, ponsel Randi berdering.
"Assalamu'alaikum Yai..A-Apa Yai baik-baik saja,?" sapa Randi dengan menahan deru nafas nya yang naik turun dengan kencang karena sedang panik.