Tiba-tiba ia mendengar sebuah perkelahian dahsyat di belakang rumah mewah itu, firasat nya sangat buruk, ia segera menghampiri suara itu. Benar saja, di sana Sukma Kiai Soleh sedang bertempur dengan 2 Sukma Ber energi kegelapan yang sangat tinggi. Kiai Soleh terlihat kewalahan dan terluka menghadapi 1 orang kakek-kakek dan 1 orang pemuda. Ia segera membantu Kiai Soleh menghadapi pengikut iblis itu.
Dengan menerapkan Ajian Halimun dan Sambar Petir, Randi berhasil melumpuhkan salah satu dari musuh nya.
"Keparat...! Siapa yang melakukan ini pada cucuku..! Tunjukkan diri mu..!" teriak Ki Awang.
Sambil merapalkan mantra, Ki Awang mengeluarkan sebuah keris dan menancapkan nya ke tanah.
"Sreeettttttt...Duarrrrrrrrr...!"
Ajian Halimun milik Randi lansung memudar dan Randi sudah terpental beberapa meter di hadapan Ki Awang. Selanjutnya pertarungan fisik yang di sertai tenaga dalam antara Randi dan Ki Awang menggema di dunia lain di belakang rumah mewah itu, mereka saling menguji kemampuan lawan nya. Pertempuran itu berlangsung cukup lama, sementara Kiai Soleh hanya bisa melihat mereka, karena diri nya sudah terluka parah akibat pertempuran tidak imbang sebelumnya.
Kiai Soleh yakin Santri nya itu sedang mengungguli pertempuran, hingga
"Ctarrrrrrrr..!"
"Aaaaaaaaaaarghhh..!"
Randi terpelanting sejauh puluhan Meter terkena cambuk api Ki Awang. Belum berhenti terpental, Randi sudah di dekati Ki Awang
"Mati Kau Bocah ingus..! Hiaaaaaaaa...!"
"Syutttttttt..!"
"Duarrrrrrrrrrrr...!
Cambuk Api itu mengenai sukma Randi, namun Ki Awang terpental beberapa meter di hadapan Randi, dan memuntahkan darah segar di mulut nya.
"Sujatnaaaaa...!" Ha ha ha.. Ternyata memang benar kau telah memiliki pewaris baru.. Namun akan ku binasakan Cucu mu ini seperti sebelumnya...!"
"Uhukkkk...Uhukkkk.." ki Awang memuntahkan darah segar lagi akibat terkena Ilmu Pembalik Rasa yang tiba-tiba Randi miliki. Ilmu itu adalah Ciri Khas Sujatna, kakek buyut Randi. Jika seseorang memukul pemilik ilmu itu, maka efek pukulan itu akan di rasakan si pemukul itu sendiri. Namun ilmu itu hanya bisa di gunakan ketika tubuh si pemilik menyentuh bumi, dan akan sia sia ketika bertempur di udara seperti yang Randi lakukan saat bertempur tadi, serta ilmu itu tak bisa melawan Pusaka Sakti milik Sujatna yang kini berada di tangan anak ki Awang, untung orang itu lengah saat pertama Randi menerapkan ajian Halimun, dan orang itu yang pertama kali Randi pukul dengan Sambar Petir, hingga orang itu luka dalam.
"Tunggu lah kehancuran Generasi mu selanjutnya Sujatnaa..!" teriak ki Awang lalu menghilang.
"Uhukkkkhhh...!" Randi terkena luka dalam akibat serangan Cambuk Api pertama kali, namun luka nya tidak terlalu parah.
Kiai Soleh segera menolong Randi dengan menyalurkan hawa murni nya.
"Sudahlah Randi, mereka bukan tandingan kita, mereka sangat licik dan berbahaya," ucap Kiai Soleh sambil terus menyalurkan hawa murni nya.
"Sebenarnya siapa mereka, Yai,?" tanya Randi
"Mereka orang bayaran yang di suruh oleh pesaing bisnis Hendra, namun saya belum mengetahui siapa dalang nya, sudah lama sejak kematian istri nya Hendra, Seluruh Tempat yang Hendra miliki telah saya beri pagar gaib, tapi kali ini mereka berhasil menembusnya bahkan mengalahkan saya," ucap Kiai Soleh
"Cambuk Api, Yai.. Cambuk itu sangat berbahaya," ucap Randi
"Sudahlah.. Yang terpenting kamu selamat, hebat kamu Randi..! Seperti nya orang itu memiliki masalah dengan keluarga mu juga di masa lalu, kamu harus berhati-hati dengan pemuda yang sudah kamu lumpuhkan itu, ia memiliki sebuah pusaka yang sangat sakti, bahkan melebihi kekuatan Cambuk Api itu,"
"Tak masalah Yai, insya Allah saya akan bisa menumpas orang-orang seperti mereka,"
"Ya sudah, sekarang kamu kembali ke kantor, beritahu kejadian ini pada keponakan Hendra, tapi sebelum itu, bukan hanya sukmamu sekarang di sini,tapi ragamu juga harus kesini lebih dulu untuk membantu memandikan jenazah Hendra, mandikan sebelum Sholat subuh,"
"A-Apaa..? Pak Hendra meninggal,? Jadi ini rumah pak Hendra,?"
"Iya Randi, saya sudah secepat mungkin ke sini, karena saat pelindung gaib rumah ini jebol, saya sedang berada di kamar mandi, jadi harus berwudhu kembali, padahal tak sampai satu menit, saya tiba di sini, mereka berdua telah membunuh Hendra secara gaib, saya sudah berusaha semaksimal mungkin melawan mereka tapi gagal," lirih Kiai Soleh.
"Semua sudah takdir Allah, Yai.. Ini bukan salah Yai, tapi mereka, suatu saat nanti saya akan membalaskan ini dan menyelesaikan urusan keluarga saya yang terdahulu, kalau begitu saya pamit, Yai, terima kasih sudah berusaha keras melindungi Novi,"
"Lindungi semua tempat milik Hendra dengan pagar gaib mu, Randi, sekarang hanya kelebihanmu yang bisa menahan ganas nya mereka tentu nya dengan kuasa dan izin Allah.. Saya akan sedikit terlambat kesini, karena perjalanan yang harus di tempuh cukup jauh, kirimkan Sopir Pribadi Hendra ke pesantren untuk menjemput Rio, karena di pesantren cuma ada motor,"
"Baik Yai.." .
Sukma Randi dan Kiai Soleh segera kembali ke Raga nya.
Kiai Soleh segera berbicara dengan Dika dan Rio menceritakan pristiwa duka ini, sontak Rio menangis sekeras-keras nya. Saat ini ia sudah menjadi Yatim Piatu, hanya memiliki dua saudara sepupu, dan keluarga pesantren. Setelah sedikit di hibur dan di beri pencerahan oleh Dika, barulah Rio berhenti menangis. Mereka lalu membereskan beberapa pakaian untuk di bawa pulang ke rumah Rio, Dika akan kembali libur mesantren untuk beberapa saat karena harus menjaga Rio, Kiai Soleh, Dika dan Rio sudah mempersiapkan segala hal untuk di bawa, tinggal menunggu jemputan dari Sopir Rio.
\
Setelah Randi mengatakan segala hal pada Sopir Pribadi Hendra, Sopir itu segera memacu mobil nya ke pesantren. Randi segera ikut bergabung bersama warga untuk memandikan jenazah Hendra, setelah jenazah di kafani dan beres, Randi meminta izin pada Satpam di rumah itu untuk meninggalkan rumah sementara karena harus menjemput Novi, ia menitipkan ketertiban dan keamanan pada satpam itu.
Di tengah perjalanan, Randi menyempatkan diri untuk Sholat berjama'ah di masjid, sekalian istirahat sebentar karena luka tenaga dalam nya masih belum pulih total, segera ia melanjutkan perjalanan dengan ilmu meringankan tubuh nya, hingga tibalah di lantai 3 kantor nya.
"Kamu datang juga, kirain hanya ngerjain aku biar aku bete liburan di sini sendirian.." tukas Novi.
"Waaahh, ada makanan, makasih banyak ya Novi, kebetulan banget aku sudah sangat lapar," ucap Randi
"Hadeewww.. Jadi mau cerita apa tentang kejadian semalam,?" tanya Novi
"Lebih baik kamu sekarang mandi lebih dulu sana, ada sabun cair punya saya, kamu bisa pake,"
"Hellooo, Gua dah mandi sebelum Sholat Subuh,! Jangan mengalihkan perhatian, cepatlah cerita..!" ucap Novi dengan Nada suara yang sedikit meninggi.
"Baiklah, tapi saya habiskan sarapan lebih dulu," ucap Randi.
Setelah selesai sarapan, Randi bercerita semua apa yang terjadi kenapa waktu berdzikir, tubuhnya penuh keringat. Novi semakin antusias mendengarkan cerita Randi, pantas saja wajah Randi menjadi pucat dengan drastis ketika selesai berdzikir. Randi masih terus bercerita hingga sampai pada sebuah kata yang sangat sulit di ucapkan nya, ya, mengabarkan bahwa paman nya telah meninggal dunia karena perbuatan dukun bayaran itu. Akhirnya Randi menceritakan semua nya, dan tubuh Novi seketika langsung lemas seperti tak bertulang lagi. Awalnya Novi tak percaya, namun setelah di konfirmasi ke pembantu di kediaman Hendra, Novi mulai percaya, ia semakin lemas saja, keluarga satu-satu nya telah meninggalkan nya, kini ia benar-benar sebatang kara, ia juga harus merawat Rio dan adik nya, kini ia menanggung semua kewajiban nya itu. Novi hanya bisa duduk melamun, tatapan mata nya kosong, hingga air mata mengalir deras membasahi kedua pipi nya. Randi yang melihat nya, segera menenangkan Novi dengan memberi nya teh hangat dan menasehatinya perlahan. Setelah Novi mulai tenang, Randi segera menyiapkan semua barang-barang yang selalu di bawa Novi saat bekerja, mengunci semua pintu ruangan kantor, lalu mengajak Novi untuk melihat paman nya yang terakhir kali sebelum dikebumikan.