Perjanjian Kerja

1092 Kata

Selalu seperti ini. Aku terkesima sendiri melihat Ari. Penampilannya tidak serapi seperti saat pertama kali kami bertemu kembali. Tapi entah kenapa di mataku dia tetap menawan. Postur tubuhnya yang tegap, badannya yang cukup berisi, dan tone kulitnya tampak bercahaya di mataku. Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Aku segera membuang pandang. Bisa-bisanya aku memuji lelaki lain selain suamiku sendiri. Tanpa sadar aku menggigit bibir, gelisah. "Wah, Boy! Kamu ganteng banget. Udah rapi. Mau ke mana?" tanya Ari, mencolek hidung Geo sembari membungkuk. Mensejajarkan tingginya dengan Geo. "Aku mau ngaji nanti jam empat, Om." "Wah, keren. Mau Om antar?" "Mau, Om," jawab Geo cepat. Astaga anak itu. "Ya udah. Ayo kita duduk dulu." Dengan mudah Ari bisa memindahkan tangan mungil Geo ke tanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN