"Mom," seru Reyhan, tapi Lidya menutup sambungan telepon membuatnya semakin merasa kesal. Reyhan mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. Menggenggam ponsel canggih miliknya lalu menatap wajah Meta, kemudian duduk tepat di sampingnya. "Sebenarnya ada apa, Met? Kenapa kamu tiba-tiba ngobrol sama Mommy?" tanyanya tanpa menoleh, pandangan matanya nampak lurus ke depan melayangkan tatapan kosong. "Tadi Mommy kamu nelpon, Rey. Karena kamu udah tidur, aku terpaksa mengangkat telepon," jawab Meta. Ia menceritakan apa yang ia dengar di dalam sambungan telpon. Semua itu ia ceritakan dengan jelas tidak dikurangi, tidak pula ditambahkan. Reyhan mengusap wajahnya kasar, ia sadar bahwa masalah ini ibarat bom waktu yang hanya menunggu untuk meledak, dan sekarang bom tersebut sudah benar-benar

