moreno febriansyah

1545 Kata
Anna Jovanka POV Aku seperti merasa bahwa tubuhku siap remuk dalam hitungan detik. Liburan memang kerap kali menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi orang selalu lupa bahwa pulang dari liburan adalah hal yang  paling melelahkan. Tubuhku sangat pegal sampai-sampai setelah mengucap salam dan masuk ke rumah, aku langsung meletakkan tas besarku di belakang pintu, menggeletakkannya begitu saja, melempar tubuhku ke sofa di runag tamu, lalu mulai  memejamkan mata. “Heh, bisa-bisanya masuk rumah sepatu belum dicopot?” Aku membuka mataku yang sebenarnya sudah tidak kuat melek itu. Tanteku berkacang pinggang sembari meloto. Aku menyengir tanpa berusaha mematuhi maunya. Omong-omong sual orang rumah, aku tinggal berempat, tapi tidak seperti anak-anak lainnya yang tinggal satu rumah dengan orang tua. Aku tinggal bertiga bersama kakek dan nenekku, awalnya. Lalu ketika nenek meninggal saat aku kelas satu SMA, tanteku alias anak terakhir kakek dan neneklah yang menggantikan keberadaan nenek. Tentu ini berdasarkan keputusan keluarga besar karena aku masih belum bisa menggantika peran nenek untuk bapak. Maksudku dalam hal emmasak, mencuci baju, dan yang lainnya. Jadi tanteku yang suianya masih kepala tiga dan abru bercerai dnegan sang suami itulah yang sekarang tinggal bersamaku. Tak lupa satu putra semata wayangnya yang emmang hasil pereceraian dengan suaminya dulu— hak asuh jatuh ke tangan tanteku, jadi Iqbal, nama anak Tante Nia--  tinggal bersama kami. “Jangan tidur dulu, ganti baju, kek, ngapain, kek.” “Aduh, capek, tahu, Mbak.” Iya, karena usianya yang masih muda, apa lagi wajahnya sangat jauh dari menua, aku memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘mbak na’ biasanya.  “Kamu, tuh, cewek jangan jorok-jorok. Masih keringetan, mbok, ya, mandi-mandi dulu.” “Iya, atpi aku mau tidur bentar. setengah jam doang, deh.” Rayuku sebelum beranjak dari sofa dan melangkah ke kamar. “Mandi dulu, Ann!’ “Duh, Mbak.” Jawabku sebal sembari menghentak-hentakkan kaki ke lantai merajuk seperti anak kecil. Iqbal, keponakanku yang baru lulus Sekolah Dasar itu tertawa mengejek. “Ngapain, hah?!” Balasku jadi nyolot. “Makan kerupuk minum milo.” Jawabnya tak nyambung membuatku mengernyit dan menatapnya aneh. “Hah?” “Kasian, deh, lo.” Aku langsung melototinya. ** Karena dimarahi Mbak Nia tadi, alhasil aku sudah tidak mengantuk melainkan malah merasa badanku gatal karena keringat. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi selama satu jam lamanya, menghilangkan daki yang rasanya bisa dikilokan ke pasar karena selama di Jogja aku memang mandi selalu cepat-cepat karena bergantian dengan Rara dan Putri. Usai amndi, aku merapikan isi koperku. Memasukkan ke dalam lemari barang-barangku yang masih bersih dan membawa pakaian kotor ke keranjang. “Ann, makan dulu. Mbak udah masak udang asam manis, tuh.” Aku adalah penyuka udang garis keras. Diolah seperti apapun, aku selalu bisa melahapnya sampai habis. Kadang aku merasa kasihan pada orang-orang yang alergi udang atau tak suka udang dengan alasan amis, karena menurutku binatang laut yang satu itu sangat enak disantap. “Iya, bentar!” Jawabku sambil teriak karena Mbak Nia terus-terusan mengetuk pintuku. Aku buru-buru keluar dan menemukan Mbak Nia disana dengan tatapan galak yang malah membuatku tertawa mengejek. Malam itu akhirnya kami makan malam bersama. Mungkin ini efek home sick yang ku rasakan walau hanya tiga hari di Yogyakarta. Aku merasakan rindu luar biasa dengan situasi di rumah, dnegan masakan Mbak Nia, juga dengan kakekku yang biasa ku panggil bapak tersebut. Saking enjoy-nya aku malam itu, aku lupa kalau aku sudah berjanji pada Jeff bahwa aku akan menghubunginya setelah aku sampai di rumah.   **   Setelah aku melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim yakni sholat Isya di pukul setengah tujuh, aku memutuskan untuk langsung kembali ke kamar usai dari ruang sholat di dalam rumah. Biasanya aku dan orang-orang--  Mbak Nia, Iqbal, dan Bapak— akan menonton televisi di ruang tengah bersama-sama dan bercerita mengenai ini dan itu unutuk mempererat—hanya formalitas agar kami tidak melupakan waktu bersama dengan keluarga. Baru pukul sembilan, masing-masing dari kami akan pergi ke kamar dan tidur. Tapi karena aku sangat lelah, aku berpamitan pada bapak untuk tidur terlebih dahulu yang langsung diiyakan. Sebagai anak muda milenial, tentu sebelum tidur yang ku lakukan adalah malah mencari letak ponselku. Baru ku hidupkan layar, yang terpampang nayta adalah pesan masuk dari laki-laki yang sudah ku ingkari janjinya itu. Aku langsung tersadar atas kesalahanku. Dengan merutuki diri sendiri, aku langsung buru-buru membuka ponsel. [16.01] Jeff Rei : Aku baru masuk rumah [19.00] Jeff Rei : Ann, belum sampai rumah? Aku baru akan mengetik balasan sesaat sebelum akhirnya aku malah menerima telepon dari Fannya--  adik kandungku yang tinggal dengan Ayah dan Anisa--  ibu tiriku. Aku sempat mengernyit sebentar karena adikku ini sangat jarang menghubungiku. Jangankan telepon, mengirim pesan singkat saja tidak. “Halo?” “M-mbak Ann...” Aku semakin melipat dahiku ke dalam saat menangkap suara panik disana. “Ada apa, Fan? Kenapa?!” “Mbak, Reno dirusir dari rumah sama Ayah...” “HAH?!” Reno adalah adikku yang kedua, usianya pantaran dengan Iqbal si sepupuku yakni baru lulus Sekolah Dasar. Saking paniknya, aku sampai berteriak kencang. Kemudian Fannya menceritakan semuanya. Katanya sore tadi Raffi--  yang mana ini adalah anak Ayah hasil pembuahan dengan istri barunya alias ibu tiri kami—kehilangan uang sebesar tiga puluh ribu rupiah kemudian ibu tiriku itu menuduh Reno. Tanpa tending aling-aling, adikku diusir dari rumah. Aku tidak tahu bagaimana bisa hanya karena Raffi--  bocah kecil yang masih TK kehilangan uang, tiba-tiba adikkulah yang dituduh. Lebih heran lagi karena Reno sampai diusir. Amarahku memuncak. Sudah cukup selama ini Fannya dan Reno tidak diperlakukan dnegan baik oleh ibu tiri mereka. Sudah selama ini adik-adikku merasa sedih dan kesakitan karena tidak dibela oleh Ayah kami sendiri karena ayah sudah dibutakan oleh ibu tiri kami. Aku menyuruh Fannya untuk mengantar Reno ke rumah Bapak--  alias rumah yang ku tempati sekarang. Tak butuh satu detik untukku sampai akhirnya satu demi satu bulir air mata jatuh ke pipiku. Demi Tuhan selama ini aku sudah mencoba sesabar mungkin melihat adikku tidak diperlakukan dnegan adil oleh ayah kami sendiri. Mungkin ini terdengar sangat sinetron tapi begitulah adanya. Rasa cinta ayah kandungku pada Raffi dan istri barunya mampu menutup hati ayah untuk tiga anaknya yang lain. Benciku pada ibu tiriku semakin menjadi-jadi. Ini bukan pertama kalinya Reno diusir dari rumah. Di usia sekecil itu, Reno tumbuh emnjadi laki-laki yang bisa dewasa sebelum waktunya. ia sering bekerja walaupun hanya membantu orang mengangkat keranjang atau apalah itu, hanya demi uang lima ribu karena adikku tidak diberi uang saku, karena adikku ingin membeli makanan ringan di toko. Bayangkan sehancur apa hatiku mendengar kabar-kabar seperti itu keluar dari bibir Fannya. Aku merasa gagal menjadi kakak. Aku membenci ayah, membenci ibu tiriku. Bahkan ibu tiriku itu juga tidak disukai oleh saudara-saudara ayah. Semua orsang tahu betapa Annisa sangat sombong. Ayah, ibu tiri, dan Raffi selalu belagak menjadi orang paling kaya sedunia. Tapi mereka tak melakukan yang sama pada Fannya dan Reno yang bahkan untuk membeli bakso saja tak bisa karena tak emmiliki uang. Aku langsung turun ke lantai bawah, menceritakan semuanya pada tante dan kakekku yang langsung ikut terenyuh. Jelas saja terenyuh, siapa yang tidak tersentuh hatinya jika anak usia tiga belas tahun sudah diusir dari rumah oleh ayah kandungnya sendiri? Belum reda emosi yang ada di kepalaku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Aku, bapak, dan tante sama-sama menoleh bertukar pandang. Kami bisa menebak bahwa itu Reno. Dan semua terbukti benar saat aku membukakan pintu lalu mendapati adik laki-laki yang ku sayang itu membawa tas punggung serta kantung plastik merah besar di tangan kananya. Matanya berkaca-kaca membuatku kembali menangis sembari maju memberi pelukan padanya. Ya Tuhan, bocah sekecil ini... “Reno gak perlu nangis. Ada Mbak Anna disini... Gak perlu sedih.” Usapku sembari mengelus punggungnya pelan, berusaha mengedarkan hatinya padahal aku juga sudah terisak. “Reno gak ngambil uangnya Raffi, Mbak...” Aku mencium pipinya membuat air mataku juga menetes disana. “Iya, Mbak Anna tahu Reno gak salah. Udah, jangan nangis. Reno disini aja sama Mbak Anna, ya?” Ia mengangguk. “Mana Mbak Fannya?” Tanyaku karena baru sadar bahwa ia datang sendirian. “Mbak Fannya gak dibolehin Mama buat nganter Reno. Reno disuruh jalan kaki.” “Jalan kaki?!” Ia mengangguk lagi. Keterlaluan. Rasa marah di dadaku semakin membeludak. Orang tua macam apa yang tega membiarkan anaknya jalan kaki walau hanya dua kilo meter tapi membawa tas seberat itu? Aku tidak berbohong. Tas dan kantung plastik merah itu sangat berat padahal ini aku yang membawakan. Bagaimana dengan Reno yang masih kecil? Aku ingin mengumpat. Ingin aku marahi ayah dan istri barunya yang sudah melakukan hal keji pada adikku. Bahkan masih terrekam jelas di kepalaku dulu saat ayah memukuli Reno dengan sapu hingga tongkatnya patah. Aku masih ingat Reno emmohon ampun padahal bukan ia yang salah. Padahal selama ini aku sudah diam, sudah berusaha menahan diri agar tak meluapkan isi hatiku karena bagaimanapun aku menghargai istri ayahku sendiri. Tapi apakah ini balasannya? Ku tata buku dan pakian yang Reno bawa di dalam tas. Ku masukkan lemari dan ku letakkan rapi masih dengan air mata terus melelh di pipi. Reno sendiri sudah ku suruh membersihkan diri dan beristirahat di kamar Iqbal. Di tengah-tengah rasa kecewa dan tangisku yang tak kunjung berhenti, tiba-tiba dering ponsel yang menggema di runag kamarku membuatku terkejut. kain kaget lagi saat tahu itu adalah panggilan masuk dari Jeff. Aku menyedot ingus sebentar sebelum ku tekan tombol hijau dan menempelkan ponsel di samping telinga. “H-halo, Jeff? “Hai, Ann. Eung--  sorry, ya, tiba-tiba nelpon. Aku cuman mau mastiin kamu  udah sampai dari rumahnya.” Astaga, janji itu. “Jeff, ya ampun, maaf. Aku lupa tadi mau ngabarin. Aku—“ “Ann, bentar, bentar. Kamu... suara kamu kok kayak serak-serak gitu? Abis nangis?” “Hah? Enggak.” “Gak, gak. Aku denger jelas, loh, ini, suara kamu beda.” Aku tertawa hambar yang mana itu malah membuat hatiku semakin nyeri dan kembali sesenggukan. “Enggaaaak. Gak apa-apa. Aku... a-aku baik-baik aja.” “No, you are not. Anna, aku disini...” Aku hancur. Mendengar suara lembut Jeff membuatku semakin emnangis. Ku keluarkan semua isak tangisku. Tak lagi aku menyembunyikan suaraku yang pecah, ku biarkan Jeff tahu sakit hatiku. “Jeff...” ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN