sampai jumpa secepatnya

3248 Kata
Anna Jovanka POV “Lah? Sumpah, sih, tiba-tiba banget gerimisnya?!” Aku menggerutu. Laki-laki di belakangku menarik lenganku pelan agar aku mundur lagi, masuk ke dalam warung tenda, tak jadi pulang sekarang. Kami berdiam selama beberapa detik, tahu abhwa kami tak emnemukan solusi kali ini. “Nunggu reda apa kamu tunggu disini biar aku beli payung dulu? Ada, kok, di sekitar sini.” Aku tentu menggeleng. “Gak usah, nunggu reda aja gak apa-apa.” “Ini udah jam sembilan— malah udah setengah sepuluh.” “Iya, enggak apa-apa. Lagian—“ Dering ponselku di dalam tas membuatku berhenti bicara. Aku dan Jeff sama-sama terinterupsi, aku buru-buru meringis padanya. Dia mengatakan ‘angkat aja’ tanpa suara. Aku mengernyit melihat nomor telepon Gilang terpampang disana. “Kenapa?” Tanyaku tanpa basa-basi. “Assalamualaikum.” Aku meringis lagi. Selalu lupa. “Iya, waalaikumsalam.” “Cowok lo bawa motor apa mobil?” Aku melotot, langsung menjauh sedikit dari Jeff takut jika laki-laki itu dengar. “Bukan cowok gue, he!” Disana Gilang mendnegus. “Bawa mobil apa motor?” “Motor.” “Ya udah tunggu disana kirimin lokasi ke gue. Abis ini gue jemput.” “Ha? Gak, gak! Ngapain, sih, dijemput segala kayak anak SD aja?” Balasku sewot. Ya, memang, aku lebih ingin pulang dengan Jeff, sih, dari pada dengan Gilang. Tapi selain itu, aku juga tak enak, dong, kalau meninggalkan Jeff begitu saja hanya karena Gilang? Aku enak-enakan pulang menggunakan mobil Gilag lalu Jeff disini sendirian menunggu hujan reda? Big no. “Lo mau nungguin hujan berhenti sampe jam berapa, hah?” “Ya jam berapa, kek. Lagian ini gerimis, doang. Bentar lagi juga udahan.” “Jangan ngeluh ke gue kalau besok lo masuk angin atau demam.” Tut! Aku melotot. Ku jauhkan ponsel dari telingaku, menatap layarnya yang sudah kembali menampilkan fotoku sebagai wallpaper disana. Gila, tiba-tiba marah, tiba-tiba maksa jemput, tiba-tiba matiin. Apa coba maksudnya? Aku mendengus kesal sebelum mendekat lagi di samping Jeff yang sedang asik menikmati jalanan basah. “Sama Gilang disuruh pulang?” Tanyanya tepat ketika aku menutup resleting tas. “Eh, kok tahu kalau Gilang namanya?” “Tadi keliatan pas dia nelpon.” Aku mengangguk-angguk. Kami masih berdiri di bawah pelindung milik warung tenda lalapan tadi. Aku bisa merasakan semilir angin menerpa wajahku drai arah depan. Gerimis saja, tapi dinginnya sampai ke tulang-tulang. Aku jadi menyesal tak menuruti kata Rara tadi untuk membawa jaket dari hotel. Aku menyilangkan tangan di depan d**a usai merasakan angin kembali berhembus. “Ini. Pake, gih.” Aku menoleh pada Jeff yang entah sejak kapan sudh melepas jaketnya. Ia meneyrahkan jaket tersebut di depanku, mendoorong tanganku agar segera menerima, yang langsung ku tolak mentah-mentah. “Aku pakai kemeja panjang. Kamu cuman pakai kaos doang.” Ujarku memberikan alasan mengapa aku menolak tawarannya. Lagi pula selain karena hal itu, aku juga tidak bisa melihat Jeff hanya dalam balutan kaos hitam seperti itu. Bisa-bisa aku tidak berkedip karena asik menatapnya yang jauh terihat tampan dan keren setelah melepas jaket. Dahi Jeff mengerut, tak terima dengan jawabanku. Aku tahu Jeff memang adalah laki-laki yang talk less do more. Tapi aku juga tak berharap Jeff sampai begini. Laki-laki itu mendekat padaku, mengangkat jaketnya, meyuruhkan emmasukkan tangan ke lubang disana sedangkan ia yang memegangi. “Jeff...” “Gak apa-apa. Ini dingin banget, Ann.” Aku mengalah. Sembari menggigit pipi bagian dalamku, aku memasukkan tangan pada lengan jaket, begitu pula dengan tanganku yang satunya. Ku kira Jeff akan mundur— setidaknya memberiku kesempatan agar bisa bernafas dengan baik usai wajahku hampir menabrak dadanya barusan. Tapi yang ada malah ia maju, mempersempit jarak kami, aku yakin sedikit lagi hidungku akan menabrak lehernya akibat saking dekatnya denganku.  Tangannya bergerak menelusup di belakang leherku, mengeluarkan rambutku yang masuk ke dalam punggung jaket. Aku tercekat. Demi apapun  aku bisa mencium semerbak harum Jeff bisa membuatku gila dalam hitungan detik kalau laki-laki itu tak kunjung menjauh juga. Ketika ia sudah mundur dan menatapku sambil tersenyum, aku juga mengulas senyum kaku. Gila, Jeff hanya tak tahu saja kalau jantungku sudah ingin melompat keluar akibat kedekatan kami. Aku berdeham menghilangkan canggung yang ku rasakan. “Beneran, nih, aku yang make?” “Heem.” “Makasih, ya.” “My pleasure.”   **   Jeff Rei Jericho POV Gue sebenernya ngerasa bersalah banget pas ujan baru reda sekitar jam sepuluh lebih, yang artinya kami baru sampai di hotel pukul setengah sebelas. Sebagai orang asing yang baru akan berusaha menyelinap ke hidupnya— saikkkk— gue tentu gak mau dipandang Anna jadi cowok yang bikin dia pulang kemaleman. Gue gak mau citra gue rusak di depan dia padahal baru pertama kali keluar. Makanya, setelah kami turun dari motor, gue sengaja natap dia lamat-lamat pas Anna ngerapihin rambutnya yang sedikit basah karena helm kami tadi terkena hujan. Gue tahu dia langsung salah tingkah gue liatin, dan jelas itu bikin gue seneng. Gemes banget pengen gue uyel-uyel. “Anna.” “Hm?” “Maaf, ya, baliknya kemaleman.” Dia tersenyum manis banget kayak gula sambil gelengin kepala. “Gak apa-apa, Jeff Rei...” Gue berusaha inget-inget kapan gue bisa ngerasain dag dig dug kayak detik ini pas ngeliat Anna dengan rambut dan baju setengah basah, natap geu sambil senyum dan menggeleng lucu. Apa lagi denger dia manggil gue Jeff Rei, suaranya kayak bisa bikin gue ngantuk. Gila, kayaknya dia pakai santet. Kenapa gue bisa sesuka ini sama cewek yang baru ketemu kemarin? “Jangan kapok jalan sama aku.” Kali ini gue serius. Gue gak mau dia kapok keluar sama gue gara-gara gue nganter dia kemaleman. Gue ikut mengernyit pas liat dahi dia mengerut kebingungan. “Apa?” “Emang kita bakal jalan lagi? Bukannya besok kamu udah balik Tangerang?” Oh, iya, lupa. “Januari akhir aku, kan, udah ke Malang lagi.” Aku menatapnya. Gue buat mata gue menunjukkan raut serius biar dia percaya gue gak lagi main-main. “Kalau udah di Malang, jangan bosen karena kau bakalan sering ngajakin kamu ketemu.” Gue bisa liat dia lagi nahan senyum yang mana itu bikin muka di makin lucu. Gue ketawa. Kami berjalan memasuki hotel bersama. Lalu sama-sama berhenti saat sudah berada di lobi. “Kamar kamu nomer berapa?” “Nomer 94.” Jawab gue. “Kamu?” “121.” Gue mengangguk-angguk. “Ehm, Ann.” “Iya?” Ngomong gak, ya. Gue bingung setengah mampus. Tapi gue bener-bener pengen ngomong ini karena kami gak bakalan ketemu lagi sampai dua bulan ke depan. Hadeh, berasa beneran mau LDR (Long Distance Relationship) sama pacar. “Besok... aku ke statsiun jam delapan.” Dia keliatan bingung pas gue biang gitu. Dengan tatapan polosnya, dia mengerjapkan mata. “O...ke? Hati-hati?” Gue terkekeh kecil. “Bukan mau di-take care-in, tapi... eum, mau gak besok sebelum aku ke stasiun kamu nyempetin buat nemuin aku? Di lobi sini aja.” Gue sedikit mundur ketika ngerasain degup jantung gue kencneg banget sampai-sampai gue takut cewek di depan gue bisa denger. Nungguin jawaban Anna rasanya hampir kayak nunggu diterima apa kagak lamaran gue. Wkwk. “Boleh. Jam delapan, kan?” Gue mengangguk seneng. Banget. “Iya. Jam delapan.” “Oke.” Jawabnya mantap. “Oke.” Anna tertawa mendengarku yang tak segera menutup perbincangan. Ngeliat dia ketawa kayak gitu bikin gue auto ikut senyum. Dia cantik banget, sumpah. “Duluan, gih, masuknya.” Ujar gue selanjutnya. Dia mengangguk menuruti kata gue. “See you... tomorrow?” Tanyanya setengah ragu. Gue mengangguk Smbil masih mengulas senyum yang lama-lama bikin mulut gue pegel tapi gue emang pingin senyumin dia. “See you. Jangan begadang, ya. Langsung istirahat.” Anna menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan kepadaku sebelum mulai melangkah. Gue ngamatin dia sampia dia bener-benr belok di lroong depan, menuju kamarnya. Lalu setelah itu, gue ambil ponsel, sengaja cari nama dia di kontak hape gue, ngetik disana. Jeff Rei J : thank you for this beautiful night, Anna. Jeff Rei J : it’s nice to spent time with you Jeff Rei J : good night Jeff Rei J : have a good dream Gue menghela nafas pendek sambil emnaykukan ponsel ke celana. Menunduk smabil tertawa kecil kayak orang gila tapi kayaknya gue emang hampir gila gara-gara cewek. Anna Jovanka, geu jatuh cinta.   **   Anna Jovanka POV Dari lobi sampai melangkah ke kamar, sebelumnya aku sudah mengirimi pesan pada Rara dan Putri agar tak tidur lebih dahulu karena aku baru pulang. Maksudku, jelas mereka kan mengunci kamar dari dalam. Maka dari itu, aku mengingatkan Rara dan Putri seklai lagi bahwa aku sudah dalam perjalanan. Aku mengetuk pintu hanya butuh tiga kali sebelum Rara dengan wajah penuh masker berwarna hitam— yang hampir membuatku berteriak karena terkejut— membukakan pintu. “Sumpah, kaget!” Pekikku sembari memukul kecil lengannya. Rara tertawa terbahak-bahak. Sudah ku bilang gadis ini snagat receh. “Mana Putri?” Tanyaku sambil meletakkan tas di atas nakas meja. “Di toilet.” “Serius Ra, lo maskeran jam segini?” Rara ,menyengir. “Tadi abis lo berangkat, gue sama Putri malah ketiduran. Baru bangun jam sembilan tadi.” “Terus gak bisa balik tidur?” “Bisa.” Rara menatapku. “Kalu elo bolehin kita tidur, dari tadi gue sama Putri udah ketemu sama Park Chan Yeol di alam lain.” Kini giliran aku yang tertawa. “Ya, maap, deh. Nih, gue, kan, dah balik, tidur sana lo sekarang.” “Kalau sekarang udah gak bisa tidur, anying. Ini aja gue sama Putri mau drakor bareng.”  ‘Ahay, si ibu udah dateng.” Seru seseorang dari arah kamar mandi. Putri disana sedang senyum meledek padaku. “Gimana datingnya? Lancar, Bu?” “Apaan, deh, lo, lebay amaaat.” “Hidih, sombong.” Tak berhenti disana, Putri dengan wajah basah karena usai mencuci muka itu menghampiriku yang sedang membersihkan riasan. “Gimana, gimana? Tadi ngapain aja?” Aku menoleh padanya dengan raut wajah bingung setengah mati. “Hah? Ya, gitu doang. Jalan-jalan ke Malioboro. Kan gue udah bilang?” “Ye, masa cuman walking doang?” “Enggak, lah. Lo kira gue sama Jeff lagi gerak jalan.” “Terus, terus?” “Makan lalapan.” “Terus?” “Neduh.” “Terus?” “Pulang.” “HAH?!” “Heh, kaget!” Aku langsung menutup kedua telingaku dengan cepat usai Putri teriak tepat di sampingku membuat kedua telingaku berdengung. “Ya Allah, gak mau b***k, ya Allah!’ Rengekku berlebihan yang dihadiahi Putri dengan jitakan di kepala. “Lagian elo. Yang bener aja cowok ganteng dianggurin?” “Ya gue harus ngapain emangnya?!” Balasku sebal. Putri meneyeringai. “Ya, ngapain, kek.” Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya sambil melirik sinis. “Halah.” Rara ikut mendekat padaku pada detik kemudian. “Jadi gimana hasilnya? Ada nyimpulin sesuatu?” Rara memang yang terbaik. Pertanyaan seperti itu aku tahu maksudnya. Ia ingin tahu apakah Jeff bisa dikategorikan laki-laki baik atau sebaliknya. Ia ingin memastikan bahwa aku pulang dalam keadaan utuh serta hati yang baik-baik saja pula. Aku memberikan senyum lembut padanya. “Alhamdulillah, sih. Hehe.” “Alhamdulillah gimana?” “Dia baik, sopan, menyenangkan, temen yang seru. Itu dulu, sih, yang bisa gue simpulin dari pertemuan kali ini.” Rara ,mengangkat satu alisnya tinggi. “Kali ini? Is there will be another meet up for twice?” Aku mengedikkan bahu. “Who knows?” Selanjutya aku meminta izin agar bisa ke kamar mandi guna mencuci muka dan ganti piyama. Aku tahu tean-temanku penasaran— juga peduli dnegan situasiku saat ini. Maka dari itu, usai aku sudah selesai dnegan urusanku, aku duduk di tengah ranjang dengan Putri dan Rara yang duduk bersila di depanku, siap mendengarkan curhanku. Aku menceritakan semuanya. Yang penting-penting saja, sih, maksudku. Mulai dari dia yang ternyata mahasiswa di Universitas Brawijaya— respon mereka juga tak beda jauh denganku. Terkjut dna menganga tak percaya. Bahkan Putri langsung berdecak sinis padaku sambil bilang. “Oh, makanya tadi lo bilang mungkin bakal ada pertemuan kedua. Dia kuliabh di Malang, toh.” Aku hanya menyengir menampilkan gigi-gigiku di depannya yang disambut dengusan dan disusul cie-cie. Akhir permbicaraan kami malam ini sebelum memutuskan untuk tidur adalah, Rara dan Putri sama-sama menyuruhku agar tidak berharap banyak yang tentu saja juga ku setujui tanpa ragu. Walaupun bisa dibilang aku memang sudah seratus persen tertarik padanya, tapi aku berusaha akgar menahan diri. Aku tidak ingin jatuh pada Jeff terlalu cepat. Belum tentu juga Jeff akan ingat denganku jika sudah pulang ke Tangerang. “Semoga aja sesuai ekspetasi lo.” Ujar Putri sebagai penutup kalimat. Aku mengernyit. “Emang ekspetasi gue apaan?” Dia mengedikkan bahu. “Apapun itu. Semoga sesuai.” Iya, benar. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Dan apapun yang terjadi, aku hanya bisa berdoa. Semoga kedepannya kan baik-baik saja. Selamat malam, over thinker.   ** Aku langsung menolak tawaran Gilang tanpa berpikir dua kali saat ia meneleponku dan mengajak aku--  tidak, maksudku kami berlima—untuk mencari sarapan di luar. Jika tebakan kalian adalah ini ada hubungannya dengan Jeff maka jawabannya ada;ah benar. Aku sudah berjanji pada laki-laki itu untuk bisa menemuinya sebelum ia pergi ke stasiun kereta. Maka dari itu, pukul setengah tujuh aku sudah abngun dan bergegas mandi— sebenarnya, sih, tadi sudah sempat sholat Shubuh juga namun aku memilih kembali tidur karena kemarin malam begadang. Bukan sengaja begadang, namun benar-benar insomnia. Aku memakai baju seadanya—celana jeans berwarna hitam, atasan kaus tak berlengan berwarna hitam juga yang ku balut jaket crop top warna kuning cerah. Aku mengambil sandal jepit untuk ku pakai menemui Jeff karena ku pikir aku juga tidak akan kemana-mana. Malah yang ada nanti sore pun aku dan teman-teman juga sudah pulang ke Malang naik kereta api. Usai mengambil jaket milik Jeff yang kemarin laki-laki itu pinjamkan padaku--  dan omong-omong tidak sempat ku cuci hanya ku keringkan ini, aku langsung menutup kamar hotel dan mengunci dari luar karena Rara dan Putri sedang sarapan di luar bersama yang lain. Aku berjalan sedikit cepat karena Jeff bilang ia sudah menungguku di lobi bersama teman-temannya. Mereka sudah akan masuk mobil untuk pergi ke stasiun namun Jeff memilih menungguku sebentar. Langkahku memelan ketika sosok jangkung yang kemarin malam menjadi tokoh utama di film pendek di otakku itu menoleh ke arahku. Menata nafasku yang sedikit tersengal-sengal, aku memberinya seulas senyuman. “Hai.” “Hai.” Lalu aku tak tahu harus apa. Masa iya langsung ngomong hati-hati? Sekarang aku jadi kikuk. Benar juga kata Putri tadi pagi. Memangnya kami amu apa pakai acara bertemu sebelum ia ke stasiun? Aku memutuskan untuk menyerahkan jaket miliknya yang berada di tanganku. “Eung— ini. Aku kembaliin. Tapi maaf banget gak sempet aku cuci.” Ku akhiri kalimatku dengan meringis kecil merasa tak enak. “Gak usah. Gak apa-apa.” Jawabnya namun tak kunjung mengambil jaket yang ku serahkan. Aku mengernyitkan dahiku. Mungkin ia tahu aku kebingungan sehingga ia kemudian terkekeh kecil dan menatapku. “Maksudku, gak usah dikembaliin. Gak apa-apa. Buat kamu aja.” “Loh? Kenapa?” Aku sedikit cemas dan merasa malu karena ia berkata seperti itu. Mungkinkah Jeff tidak mau menerima jaktenya karena bekasku dan belum ku cuci? “Eung... sebenarnya, ini... gak kotor, kok, Jeff.  Serius, deh. Tapi kalau—“ “Loh, loh. Kamu mikir kemana?” Potongnya cepat. “Aku gak mau terima jaketnya karena aku maunya kamu simpen aja. Biar jadi kenangan. Biar...” Jeff melirik teman-temannya yang emmang terlihat sedang menguping. Jeff melirihkan suaranya. “Biar kamu inget aku kalau lagi liat jaketnya.” Aku diam tak tahu harus menjawab apa. Ku gigiti bibir bawahku sebagai bentuk pelampiasan rasa salah tingkah yang kurasakan. :... makasih?” Dia mengangguk dua kali sambil tersenyum lucu. “Sama-sama?” “Udah belom, nih?????” “Kita nyamuk banget, ya, frens???” “Uhuk-uhuk. Sekalian bawa aja cewek lo ke Tangerang kalau gak siap pisah, Jep.” Koor dari arah belakang punggung Jeff membuatku menunduk dalam-dalam merasa malu. Teman-temannya Jeff iseng abnget, sih? Ku lihat Jeff melotot kecil sambil mengumpat ke arah teman-temannya agar diam dan tak menggodaku lagi. “Kamu jadi pulang nanti sore?” Aku mengangguk sebagai jawaban. “Kereta api juga?” Aku mengangguk kedua kalinya diikuti Jeff yang menganggukkan kepala juga sebagai isyarat bahwa ia paham. “Oke. Hati-hati, ya?” Aku tertawa. “Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu!” Seruku sambil tertawa. “Kan kamu yang udah mau berangkat ke stasiun.” “Ya, enggak apa-apa. Kamu, kan, juga butuh di ‘hati-hati’ in. Sama bilangin masinisnya, biar gak ngebut bawa kereta. Pelan-pelan aja, yang penting selamat.” Aku tak bisa menahan suaraku agar tak tertawa. Aku baru tahu kalau Jeff suka melemparkan candaan receh seperti ini. Aku memilih meladeninya. “Iya, nanti aku sampein.” “Sampein juga salam dari aku ke orang tau kamu.” Bekas tawa di bibirku langsung berubah di detik itu karena bingung. ‘Hah?” “Sampein salam dari aku ke orang tua kamu.” Ulangnya. “Bilangin, insya Allah bulan Februari aku ke rumah.” “Ih????” Aku langsung salah tingkah setengah mati. Maksudnya apaan, sih, nih cowok. “Ngapain?!” Dia hanya mengedikkan bahu dan menatapku jahil. Aku melengos, memilih memalingkan wajah ke arah lain. “Jep, ayo, Jep!” Seru salah satu teman Jeff yang bertubuh gemuk. “Malah enak ketawa-ketawa. Lo mau ketinggalan kereta?!” “Iya, bentar, elah!’ Jeff kembali menghadapku. “Ann, kalau aku minta kamu buat ngabarin aku kalau udah sampai rumah mau, gak?” “Boleh.” Jawabku membuatnya menyunggingkan senyum. “Ya udah. Aku... balik dulu, ya?” Ada rasa tak rela di hatiku saat Jeff melangkah satu kali mundur menjauh. Ku lihat teman-temannya juga sudah berdiri dan berjalan keluar pintu utama hotel. Tapi aku tentu mengangguk. Lalu dalam hitungan ketiga yang ku hitung dari dalam hati karena Jeff tak kunjung berbalik badan meninggalkanku, aku menyerah pada rasa sesak dihatiku yang seperti tak siap berpisah dengan laki-laki yang baru ku kenal tiga hari tersebut. “Jeff.” Panggilku akhirnya. Ia tak menjawab apapun— mungkin sudah hendak membuka mulut namun terkejut karena aku sudah maju merengkuh tubuhnya. Aku tak tahu apa maksud perasaanku saat ini. Jeff hanyalah satu dari laki-laki yang pernah dekat denganku. Kami baru kenal tiga haru yang lalu. Tapi sungguh, aku tak berbohong, aku merasakan sedih luar biasa, merasa tak rela, merasa menyesal mengapa aku abru mengenalnya belakangan ini. Mengapa tidak dari dulu-dulu saja. Ku rasakan ia menghela nafas di leherku kemudian ia mengusap punggungku pelan, membalas pelukanku. Aku bersyukur pagi ini tak begitu ramai orang di lobi hotel walau ada dua orang wanita dengan seragam yang sama di balik meja resepsionis. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin memeluk jeff.  Entah ini untuk pelukan perpisahan atau malah awal dari segalanya. Aku menjauh dari tubuhnya kemudian. Ia tersenyum lembut, tapi jika aku tidak salah lihat, aku menemukan sorot mata sedih disana. Tangan kanannya mengenggam satu tanganku, diusapnya pelan punggung tanganku. Beda lagi denganku yang sudah malu sekali karena berani-beraninya memeluk laki-laki asing yang abru ku kenal. Aku sudah asik menyalahkan diri sendiri, takut jika Jeff berpikir aku adalah perempuan murahan. Ku bersihkan tenggorokanku yang terasa kering dnegan berdeham canggung, namun tangan Jeff tak kemana-mana. Masih mengelus jemariku. “Sana, gih, pulang. Udah ditungguin temen-temennya, tuh.” Ujarku sambil mengibaskan tangan mengusirnya, tentu ini hanya candaan. Tapi aku melakukan ini untuk mengurasi maluku. :Jangan kangen.” Tambahku dengan kekehan bercanda. Ia berdecak entah untuk apa. “Mana bisa.”   **   Jeff Rei Jericho POV   Gue gak pernah merasa semenye-menye ini seumur hidup gue. Eh, ralat. Pernah, sih, pas bokap gue opname di rumah sakit karena stroke ringan--  kejadiannya pas gue SMA kelas satu. Terus udah, gak pernah lagi. Gue bersyukur karena gue terlahir di keluarga bahagia, dimana bokap gue bukan tipe bokap posesif dan emosian kayak di sinetron. Begitu pula dengan nyokap yang malah gue tabk di dunia ini gak ada yang ngalahin lembut dan baik hatinya dia. Tapi gak untuk kali ini. Gue sebenarnya masih ngerasa biasa ja pas nungguin Anna di lobi. Tapi begitu dia dateng, bilang hai ke gue sambil senyum, belum lagi gue bisa liat kalau dia abis lari, gue ngerasain jadi cowok lembek banget. Tiba-tiba ada perasaan sesak dan itu bikin gue berat banget buat ninggal Jogja. Atau ninggal Anna, tepatnya. Nyatanya gue gak paham sama maksud takdir yang seakan-akan mempermainkan perasaan gue. Gila aja, masa gue sedih cuman gara-gara mau pisah sama cewek yang baru gue kenal tiga hari? Like, seriously, man?! Gue berhasil nutupin apa yang gue rasain dengan neglontarin candaan-candaan cringe ke Anna— yang semoga gak garing-garing amat dan bisa bikin dia ilfeel, jangan sampe—tapi di detik ketika Anna meluk gue, disitu gue gak ngerasain ‘gak mau pisah’ sendirian. Dia juga begitu, dan gue bersyukur untuk yang satu tiu. Gue lepasin semua rasa berat di pundak gue dengan ngeehmbusin nafas sambil bales pelukan dia. Berharap dia tahu kalau gue sama kayak dia, sama-sama berat buat pisah. Oke, gue tahu ini berlebihan. Gue juga sependapat soal itu. Karena yang gue rasain emang ini kayak sinetron banget. Gue bahkan sempet inget adegan di film Ada Apa dengan Cinta pas di bandara. Gue ngerasain gimana jadi Rangga yang berat ninggalin Cinta. Padahal Rangga dan Cinta juga enggak pacaran, kan? Kalau bisa, gue pingin ngomong satu kalimat buat yang terakhir sebelum kami LDR— ah elah, LDR. Ann, semoga kamu dikasih sabar buat nunggu aku. Itu aja. Gue mau dia mau sabar buat nungguin dia. Entah sebagai apa hubungan kami selanjutnya, gue cuman mau Anna tahu, kalau gue mau kami berdua mengenal lebih jauh satu sama lain.  Sembari mendudukkan b****g pada kursi di kereta, gue mengeluarkan ponsel dan headset, menyumpal telinga dengan benda berwarna hitam itu, memejamkan mata, hingga stau persatu makna lriik dari lagu milik Adhitia Sofyan yang berjudul Sesuatu di Jogja mampu menghanyutkan pikiran. Hey cantik Bawa aku jalan Jalan kaki saja menyusuri kotaCeritakan semua ceritamu padaku Ya Jakarta diam kehilanganmu Bau wangi hujan tak lagi sama Sudah saatnya kau jemput musik yang tertinggal Sampai kapan aku kan bernyanyi sendiri Hingga kini masih selalu menanti nantiTerbawa lagi langkahku ke sanaMantra apa entah yang istimewa Kupercaya selalu ada sesuatu di JogjaDengar lagu lama ini katanya Izinkan aku pulang ke kotamu Kupercaya selalu ada sesuatu di JogjaIngat waktu itu kubertanya Aku mau dengar jawabnyaTerbawa lagi langkahku ke sana Mantra apa entah yang istimewa Kupercaya selalu ada sesuatu di JogjaDengar lagu lama ini katanya Izinkan aku pulang ke kotamu Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN