Flashback : Awal kehancuran Bella

1222 Kata
Dua tahun telah berlalu semenjak kejadian Rava memarahi Bella di kamarnya. Selama itulah Bella tak pernah lagi melihat wajah Rava secara langsung ataupun berbicara dengannya. Saat ini Bella masih dalam perjalanan menuju rumah. Dia baru saja dijemput kedua orang tuanya di bandara. Liburan semester telah tiba, Bella pulang ke tanah air untuk berkumpul dengan keluarganya. Di tengah perjalanan hujan mengguyur Kota Jakarta. Jalanan di malam itu tampak sangat lengang. "Calon suami kamu udah jadi dosen lho, Bel," ucap Valerina, mengoda putrinya lalu tertawa kecil. "Ih, Mama. Jangan ungkit-ungkit, ah. Dulu kan Bella masih kecil, omongannya belum bisa dianggap serius," jawab Bella. Dia tahu orang yang mamanya maksud adalah Rava. Dulu saat usia Bella 11 tahun, saat masih polos-polosnya, ia pernah menyuruh Rava berjanji saat dewasa nanti pria itu akan menikahi Bella. Dan konyolnya Rava malah meladeni perkataan Bella. Hal itu membuat Bella sering mendapat ledekan dari kedua orang tuanya. Wajah Bella cemberut. Valerina akhirnya berhenti menggoda sang putri. Suasana hening. Tiba-tiba Bella merasakan mobil mereka melaju semakin kencang. "Rem, Mas!" seru Valerina yang duduk di sebelah suaminya. Wajah Gavin terlihat panik, ia mencoba mengerem sekuat tenaga tapi remnya tetap tak berfungsi. Entah apa yang terjadi pada mobil tersebut. Padahal sebelum berangkat ke bandara Gavin sudah memeriksa mobil mereka dalam keadaan baik-baik saja. Brakkk! Mobil tersebut melaju kencang lalu menabrak pembatas jalan tol. Tubuh Bella terhempas ke sana kemari, rasa sakit mulai menjalari tubuhnya, kepalanya terbentur kaca jendela dan mengalirkan darah segar. Asap mengepul di dalam mobil, napas Bella sesak. Kepalanya terasa sangat pusing, pandangannya buram. Mobil keluarganya kini berhenti melaju. Pintu mobil di sebelah Bella lalu terbuka. Gavin dengan sisa tenaga yang masih ada mencoba untuk menyelamatkan putrimya terlebih dahulu. Sementara Valerina tak sadarkan diri di dalam mobil. "Bertahan, Sayang. Papa akan menyelamatkan kamu," cicit Gavin.. Dia menggendong putrinya dan berjalan terseok menjauh dari mobil lalu membaringkan putrinya di tepi jalan. "Kamu tunggu di sini. Papa akan menyelamatkan mama." Gavin kembali berjalan sempoyongan kembali menuju mobil. Pria itu sempat terjatuh, tapi berusaha bangkit lagi demi menolong istrinya yang masih berada di mobil. Beberapa bagian dari mobil itu mulai terbakar. Samar-samar Bella melihat papanya mencoba mengeluarkan mamanya dari mobil. Sedetik kemudian gadis itu mendengar suara ledakan yang sangat keras, mobil itu terbakar, bersamaan dengan orang tuanya yang masih berada di sana. "Pa ... pa. Ma ...ma." Buliran bening keluar dari sudut mata gadis itu. Sedetik kemudian pandangannya terasa sangat gelap, dia tidak mendengar apa-apa lagi. Gadis berusia 20 tahun itu kehilang kesadaran. *** Bella terbangun satu tahun kemudian tepat diusia yang ke 21 tahun di sebuah rumah sakit. Setelah memeriksa keadaan Bella, dokter lalu keluar, di ruangan tersebut tinggal Bella dan kedua orang tua Rava. "Syukurlah sekarang Bella udah sadar," ucap Aril. "Di mana mama dan papa?" tanya Bella dengan suara yang sangat pelan.Tubuh gadis itu masih lemah. Dia bahkan tak ingat kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit. "Mama dan papa Bella lagi di luar negeri karena ada pekerjaan mendesak. Mereka menitip Bella ke Om dan Tante," jawab Naura, dia menahan tangisnya. Rasanya ia tak sanggup untuk jujur pada Bella mengenai apa yang terjadi pada keluarga gadis itu. Sudah dua minggu menjalani masa pemulihan di rumah sakit, tapi sampai saat itu keluarga Bella belum juga datang untuk menjenguk gadis itu. Bahkan Juna dan istrinya yang menikah 18 bulan lalu juga tak menjenguk Bella ke rumah sakit. Hal tersebut membuat Bella sedih dan sering bertanya-tanya di mana keluarganya? Tapi Aril dan Naura selalu mengatakan keluarga Bella ada urusan di luar negeri. Saat ini Bella sedang duduk di bangku taman rumah sakit sendirian. Matanya menatap kosong ke depan dengan raut wajah tanpa ekspresi. Dia sangat merindukan keluarganya. Seorang pria dengan mengenakan kemeja biru dan celana hitam tiba-tiba duduk di sebelah Bella. Dia adalah Rava Cristhian, pria yang tiga tahun lalu menyakiti hati Bella. "Mas, orang tua Bella masih hidup, 'kan?" Sejujurnya Bella tak berani menanyakan pertanyaan tersebut, tetapi tragedi kecelakaan yang menimpanya satu tahun lalu Bella telah mengingatnya. Rava terdiam. Ini adalah pertama kalinya setelah tiga tahun Bella mau berbicara dengannya. "Jawab, Mas." Bella tiba-tiba terisak. Memohon agar Rava menjawab pertanyaannya. Rava bingung harus menjawab apa. Dirinya tidak mampu untuk berkata jujur, tapi tidak bisa juga berbohong. "Orang tua kamu meninggal saat kecelakaan." Deg! Napas Bella tercekat. Oksigen di sekitarnya terasa menjauh, membuatnya terasa sulit bernapas sejenak. Detik kemudian tubuh gadis itu bergetar disertai isak tangis yang kuat. Hal yang Bella takutkan ternyata memang terjadi. Bella melihat sendiri mobil itu meledak, mustahil orang tuanya bisa selamat. "Papa, mama!" Gadis itu berteriak histeris dengan air mata yang mengalir deras. Dirinya terlihat sangat hancur setelah mendengar kedua orang tuanya telah meninggal dunia. *** Beberapa minggu kemudian setelah Bella pulih total dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Keluarga Cristhian mengajak Bella mengunjungi makam orang tuanya. Air mata gadis itu tak terbendung. Tubuhnya langsung lemas dan ambruk di tanah begitu melihat nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Bella masih berharap ini hanyalah mimpi buruk, agar dirinya bisa bangun dan melihat wajah orang tuanya lagi. Bella tak sanggup jika harus kehilangan mereka. Di saat tengah menangisi kepergian orang tuanya, mata Bella tak sengaja tertuju pada nisan yang bertuliskan nama Syafira Ayuningrum. Itu adalah nama kakak ipar Bella. "Itu makan siapa? Kenapa namanya sama dengan Mbak Syafira?" tanya Bella. "Sebenarnya Om berat memberi tahu hal ini, tapi itu memang makam Syafira, kakak ipar kamu. Dia meninggal tiga bulan kemudian setelah orang tua kamu meninggal." "Nggak mungkin!" Suara Bella bergetar, tangisnya makin pecah. Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Takdir seakan menyiksa Bella bertubi-tubi, terus memberikan Bella kabar yang menyakitkan. Bahkan Naura dan Ana turut menangis, ikut sedih melihat Bella yang sangat terpuruk saat ini. Rava pun juga terlihat sangat kasihan pada Bella. "Apa yang terjadi pada Mbak Syafira, Om? Dan di mana Mas Juna?" tanya Bella. "Setelah orang tua kamu meninggal, dua bulan kemudian kakak kamu menghilang. Perusahaan dan rumah keluarga kamu diambil alih oleh Om kamu, bahkan Syafira diusir dari rumah kalian. Semua kejadian itu membuat Fira yang sedang mengandung empat bulan mengalami depresi. Syafira sempat tinggal di rumah Om. Tapi satu bulan kemudian dia pergi tanpa memberitahu kami dan meninggalkan surat. Dia bilang ingin mencari Juna. Namun, keesokannya kami dapat telepon mayat Syafira ditemukan di sungai, dia bunuh diri dengan melompat dari jembatan." "Kenapa mereka semua tinggalin Bella sendirian? Seharusnya Bella juga ikut mati. Mama, Papa!" Keadaan Bella saat ini terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya dibanjiri air mata. Tiba-tiba saja gadis itu jatuh pingsan karena tak sanggup mendengar kabar mengejutkan tersebut. Dia telah kehilangan semua anggota keluarganya, kakaknya tak tahu ada di mana, kini Bella sendirian. Rava menggendong Bella, membawanya menuju mobil. Sesampainya di rumah ia membaringkan tubuh Bella di ranjang. "Kasihan sekali Bella. Dia pasti sangat terluka setelah mendengar apa yang terjadi pada keluarganya." Naura menangis. Aril mengelua pundak Bella. "Saat ini biarkan Bella istirahat. Setelah dia sadar nanti baru kita menghiburnya," ucap Aril, ia mengajak istri dan anak-anaknya keluar dari kamar. Tiga puluh menit kemudian Naura dan Rava kembali ke kamar tersebut untuk mengecek apakah Bella sudah sadar atau belum. Namun, sesampainya di sana mereka melihat Bella tak ada di ranjang, gadis itu menghilang. Naura jadi panik dan berteriak memanggil suaminya. "Pah, Bella nggak ada di kamar." Mata Aril terbelalak. Dia lalu menanyai semua orang rumah, tapi tak ada yang melihat Bella keluar rumah. "Rava akan cari Bella!" Rava buru-buru mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN