Saat Bella terbangun dari pingsan dia keluar kamar dan melihat keadaan rumah yang sepi. Para anggota Keluarga Cristhian saat itu sedang berada di kamar masing-masing. Dan para asisten rumah tangga juga sibuk di dapur saat itu. Bella keluar dari rumah dengan tatapan kosong. Di depan rumah Bella melihat tukang kebun berjenis kelamin laki-laki yang sedang membersihkan halaman sambil bersenandung, pria itu tidak melihat Bella karena fokus dengan pekerjaannya.
Bella berjalan kaki dari rumah Keluarga Cristhiam menuju ke rumah keluarganya. Namun, sesampainya di sana Bella malah dilarang masuk oleh pria yang sama sekli tidak Bella kenal.
"Maaf, anda dilarang masuk," ucap seorang pria berbadan kekar. Dia adalah penjaga keamanan di rumah itu.
"Saya ingin ketemu Om Niko, saya keponakannya."
Penjaga tersebut meminta Bella menunggu, dia lalu menelepon bosnya. Ketika panggilan telepon tersebut selesai, dia lalu mengizinkan Bella untuk masuk. Rumah itu kini benar-benar dijaga sangat ketat.
Saat memasuki rumah Bella merasakan suasana yang berbeda. Semua foto keluarganya yang sebelumnya terpajang disetiap sudut rumah sudah tidak ada. Beberapa furniture di rumah itu juga sudah diganti. Hal itu membuat air mata Bella menetes karena semua kenangan di rumah itu telah hilang. Dia sudah tak memiliki foto bersama keluarganya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Niko, menghampiri Bella bersama istri dan putrinya. Niko adalah kakak dari Valerina, mereka satu ayah tapi berbeda ibu. Mama Valerina adalah istri kedua dari ayah Niko.
"Saya pikir kamu akan menyusul kedua orang tua kamu," timpal Claudia. Bella terkejut mendengar nada bicara tantenya yang berubah ketus. Padahal dulu dia sangat lembut pada Bella.
"Ada perlu apa lo ke sini? Kalau lo belum tahu, rumah ini sekarang sudah menjadi milik keluarga gue," ucap Jesika, sepupu Bella.
"Nggak, ini rumah Bella. Bella yang seharusnya bertanya kenapa kalian ada di sini."
"Rumah dan perusahaan keluarga kamu sudah menjadi milik saya. Perusahan kamu dulu hampir bankrut, lalu abang kamu menjual perusahaan dan rumah ini ke saya. Saya sudah mengira tujuan kamu ke sini adalah untuk menanyakan hal ini. Jadi, saya sudah menyiapkan dokumen ini untuk kamu baca, di sana juga tertera tanda tangan kakak kamu." Niko menyerahkan dokumen tersebut pada Bella.
Sejujurnya Bella tidak ingin mempercayai perkataan Om Niko, tapi tanda tangan di dokumen itu benar-benar milik kakaknya. "Jika benar ini tanda tangan Mas Juna, lalu di mana dia sekarang?" tanya Bella.
"Mana kami tahu. Bukankah dia kabur dengan selingkuhannya," jawab Claudia dan seketika membuat Bella membelalakkan mata.
"Tante jangan sembarangan bicara, Mas Juna nggak mungkin melakukan hal itu!"
"Yang dibilang nyokap gue itu fakta. Kakak lo selingkuh, bahkan sampai meniduri selingkuhannya dan foto mereka tersebar. Makanya gadis kampung itu stres dan akhirnya bunuh diri," cecar Jesika dengan tangan bersedekap d**a.
"Nggak mungkin. Itu nggak benar! Mas Juna nggak akan mengkhianati Mbak Syafira" Bella berteriak sambil menggelengkan kepala. Dia sangat mengenali kakaknya, sejak SMA pria itu hanya setia dengan satu wanita, yaitu Syafira.
Jesika mengotak-atik ponselnya lalu menunjukkan foto Juna yang tersebar diinternet bersama seorang gadis, tertidur di ranjang yang sama.
"Kalau lo masih gak percaya, lo cari sendiri di internet berita viral tentang Pewaris Atmaja-Tech yang selingkuh dari istrinya."
Napas Bella tercekat. Seakan tidak percaya mendengar berita tentang kakaknya.
"Semua pertanyaan kamu sudah kami jawab dan silahkan pergi dari sini. Kamu sudah tidak memiliki hak di rumah ini." cecar Claudia.
Bella menangis. "Bella mohon, Om, Tante. Izinkan Bella tinggal di sini," mohon Bella. Dia tak tahu harus tinggal di mana. Dirinya sudah tidak memiliki apa-apa.
"Enak saja. Lo udah gak punya hak di rumah ini." Jesika yang menjawab.
"Silahkan pergi dari rumah ini!" usir Niko.
Hati Bella sakit. Bahkan, om-nya sendiri mengusirnya.
Claudia memanggil penjaga rumahnya dan menyuruh mereka mengusir Bella. "Usir gadis ini dan jangan pernah biarkan dia masuk lagi!"
Kedua penjaga di rumah itu menurut dan segera melaksanakan perintah. Mereka menarik Bella secara paksa keluar dari rumah dan mendorong gadis itu ketika tiba di gerbang. Bella tersungkur di aspal, lutut dan telapak tangannya terluka.
Gadis itu meninggalkan rumahnya, dia berjalan sambil meneteskan air mata. Kini dia sebatang kara di dunia ini, tak punya keluarga atau pun harta benda. Bella benar-benar tak tahu di mana ia harus tinggal sekarang.
Mama, papa, kenapa kalian tinggalin Bella? Bella takut sendirian. Bella ingin terus bersama dengan kalian," cicit Bella.
Bella tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia menatap ke jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan berlalu lalang.
"Mama, papa, Bella akan menyusul kalian," lirih Bella yang sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia melangkah ke tengah jalan, beberapa kendaraan berhenti secara nendadak, sang pemudi meneriaki Bella. Namun, tak dihiraukan oleh gadis itu karena saat ini dia hanya ingin mati.
Sedangkan di sisi lain Rava kini masih berusaha mencari Bella. Pria itu mengerem mobilnya secara mendadak ketika matanya melihat Bella melangkah di jalur yang berbeda dengannya. Jalan tersebut terdiri dari dua jalur.
Dada Rava mencelos melihat Bella menyebrang tapi tak menoleh kiri-kanan, padahal kendaraan sedang ramai berlalu-lalang.
Rava panik dan bergegas turun dari mobil. Dia melintasi jalan sambil merentangkan sebelah tangannya.
"Mas Rava," lirih Bella yang kini berdiri di tengah jalan. Dia menatap ke depan, tepatnya pada Rava yang kini berlari ke arahnya.
Tinn!
Bunyi klakson mobil terdengar panjang. Bella menoleh ke samping dengan tatapan kosong. Sebuah truk kini melaju ke arahnya, tapi gadis itu enggan beranjak dari tempat.
Rava menarik Bella kencang ke tepi jalan. Jantung pria itu berdetak kencang, ia memeluk Bella erat.
"Woi! Pengen mati lo!" Truk tersebut berhenti, sang pengemudi meneriaki Bella emosi, dirinya hampir terkena masalah gara-gara Bella.
"Maaf, tolong maafkan adik saya," ucap Rava.
"Bilangin adik lu, kalau mau mati jangan libatin orang. Gimana kalau tadi dia ketabrak, gue bisa dipenjara gara-gara dia dan keluarga gue di rumah bisa kelaparan karena nggak ada yang nafkahin mereka," maki supir tersebut, dia lalu melajukan truk tersebut.
"Apa yang ada dipikiran kamu? Kamu hampir menyelakai diri kamu sendiri dan membuat orang lain kena masalah," bentak Rava, berusaha membuat Bella sadar.
Gadis itu menunduk dengan air mata yang tak henti menetes. Rava lalu mengajak Bella pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah mereka berdua di sambul oleh Aril, Naura, dan Ana yang saat ini terlihat sangat khawatir, mencemaskan Bella.
Bella, kamu dari mana aja, Sayang? Kenapa pergi nggak bilang ke tante?" tukas Naura cemas. Melihat Bella pergi diam-diam, hal tersebut mengingatkannya pada Syafira. Naura takut jika Bella melakukan hal yang sama seperti kakak iparnya.
"Bella pulang ke rumah, tapi Om Niko ngusir Bella," balas Bella tersedu-sedu.
"Lutut kamu kenapa?" tanya Aril khawatir. Hal tersebut membuat Rava melirik ke lutut Bella, ia baru sadar lutut gadis itu terluka.
"Jatuh," kilah Bella.
Naura mengajak Bella duduk di sofa. "Ana, tolong ambilin kotak P3K," suruh wanita itu pada putrinya. Ana mengangguk, melaksanakan perintah.
Setelah mengobati luka Bella, Naura pamit sebentar ke kamar untuk mengambil sesuatu. Kini Bella duduk di sofa bersama Aril, Rava, dan Ana. Tak lama kemudian Naura kembali sambil membawa kotak berukuran 30x30 cm.
"Saat Syafira pergi dia meninggalkan kotak ini. Di surat yang dia tulis, katanya kotak ini untuk kamu," tutur Naura, menyerahkan kota tersebut pada Bella. Bella langsung membukanya.
Di dalam kotak tersebut terdapat buku resep kue yang ditulis oleh mama Bella dengan tulisan tangan, album foto keluarga Bella, serta buku tabungan dan atm milik Syafira yang di dalamnya terdapat saldo 1,2 miliar.
"Mbak Syafira ...," cicit Bella, ia merindukan kakak iparnya itu. Walau Syafira adalah gadis yatim piatu dan berasal dari panti asuhan, tapi dia adalah wanita yang sangat baik, sehingga keluarga Bella menyukainya sehingga merestui gadis itu menjadi istri Juna.
"Bella sekarang sendirian. Kenapa kakak dan Mas Juna meninggalkan Bella?" isak Bella.
"Kamu tidak sendirian Bella. Kita semua di sini sudah menganggap kamu seperti keluarga. Kamu akan tinggal di rumah ini dan kuliah di Indonesia. Om akan menanggung semua kebutuhan kamu. Om juga akan berusaha untuk mencari Juna," tutur Aril, dia akan menjaga anak sahabatnya itu dengan baik. Aril takut jika membiarkan Bella tinggal sendirian gadis itu akan merasa sangat kesepian dan bunuh diri seperti Syafira.
Bella akhirnya tinggal di rumah Rava. Dia akan tinggal seatap dengan pria yang dulu menyakiti hatinya. Bahkan luka itu masih membekas di hati Bella. Itu adalah awal dimulainya kisah mereka yang berakhir menjadi rumit sehingga tak ada celah lagi untuk mereka bisa bersatu.
***
Di dalam mobilnya Bella kini telah berhenti menangis. Wanita itu menyalahkan diri sendiri. Anda saja dulu ia tak jatuh cinta pada Rava, maka hubungannya dengan Rava tidak akan serumit seperti sekarang. Aril dan Naura juga tak akan membencinya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.
Sekarang yang ada dipikiran Bella adalah mengenai apa tujuan Rava datang ke Singapore. Kenapa pria itu bisa tahu alamat tempat tinggalnya.
"Apa jangan-jangan selama ini dia menyelidiki tentang aku? Dan tujuannya datang ke sini adalah untuk merebut Noah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," guman Bella. Sekarang satu-satunya keluarga yang Bella punya hanya Noah. Dia tak akan membiarkan Rava mengambil anaknya.
Entah sudah berapa lama Bella menyendiri di dalam mobilnya. Wanita itu keluar dari mobil, dia harus menjemput Noah ke tempat Makcik Noor.
Bella berdiri di depan lift yang ada di basement. Ketika lift tersebut terbuka, lagi-lagi pria harus bertemu dengan pria yang tak ingin ia lihat. Pria itu terlihat rapi dengan setelan jasnya.
"Kenapa kamu sendiri? Di mana Noah? Kamu meninggalkannya sendirian?" ketus Rava, masih berdiri di dalam lift.
"Kamu tak perlu menegur aku karena Noah bukan anak kamu. Aku lebih mengerti bagaimana cara menjaga Noah karena aku ibunya. Dan jikalau pun kamu ayah Noah, kamu juga tak berhak mengatur aku karena selama ini aku menjaga Noah sendirian, di saat usia Noah sudah empat tahun kamu baru datang dan mengaku-ngaku sebagai ayahnya," balas Bella.
"Jangan memancing aku untuk bertengkar lagi karena saat ini aku tak punya waktu untuk ribut dengan kamu," balas Rava sengit lalu melangkah menuju mobil. Dia harus buru-buru ke kantor karena sedang ada masalah di sana.
"Sekali-kali kamu harus sadar diri, kamu yang selalu memanhcing pertengkaran!" teriak Bella kesal. Dia memasuki lift. Sudah cukup, dirinya sudah kehabisan kesabaran menghadapi Rava. Bella tak ingin lagi bertemu pria itu. Jika Rava tak ingin pindah, maka biar dirinya dan Noah yang pindah dari apartemen tersebut.