Kenapa rambut Noah dicabut, Uncle?

1133 Kata
Di dalam apartmen Makcik Noor yang luas, Noah dan Kak Melati—anak Makcik Noor—sedang asyik bermain kuda-kudaan. Noah naik ke punggung Kak Melati, menganggap gadis 19 tahun itu sebagai kuda. "Haiyah! Aku raja kuda sekarang!" seru Noah. "Jalan yang cepat kuda," lanjut Noah pada Kak Melati. "Kita rehat kejap. Badan Noah berat sangat, penat Akak," keluh Kak Melati. Noah turun dari punggung gadis itu. "Dah selesai main?" tanya Makcik Noor yang baru saja dari kamar mandi. Saat ini di apartemen tersebut hanya ada Makcik Noor, Kak Melati, dan Noah. Sedangkan suami Makcik Noor sedang pergi main golf dengan rekan kerjanya karena ini akhir pekan, jadi perusahaan dan sekolah libur. "Kami istirahat dulu Makcik, Kak Melati penat," jawab Noah. Bel apartemen berbunyi membuat Makcik bergegas membuka pintu. "Cepatnye awak balik," ucap Makcik Noor, sedikit terkejut karena rasanya baru sebentar Bella pergi ke toko. Makcik mengajak Bella masuk. "Urusan Bella di toko sudah selesai Makcik," kilah Bella berbohong, karena sejak tadi ia berada di basement. "Mommy!" Noah berlari menghampiri dan memeluk mommy-nya. Bella tersenyum melihat wajah putranya yang sangat ceria. Wanita itu mengusap-usap rambut Noah. "Bella mau jemput Noah. Terima kasih karena Makcik udah jaga Noah," tutur Bella. "Makcik senang Noah main di sini. Kak Melati jadi ada kawan dan tempat ini pun ramai," ucap Makcik. "Besok kita main lagi ya Kak Melati?" ajak Noah. "Oke, Noah." Setelah berpamitan pada Makcik Noor dan Melati, Bella lalu mengajak Noah kembali ke apartemen mereka. Saat melintas di apartemen Rava, Noah menahan tangan Bella, langkah mereka terhenti. "Mommy, kita belum kasih brownies ke uncle," ucap Noah, bocah itu mendongak demi menatap wajah Bella. "Bukannya mommy sudah pernah bilang ke Noah agar jangan dekat-dekat dengan uncle itu." "Kenapa mommy larang Noah bicara sama uncle?" "Kita tidak mengenalnya, Sayang. Bagaimana jika nanti Noah diculik. Noah harus dengar kata mommy," ucap Bella lembut. Dia melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tangan Noah. Sesampainya di apartemen Noah mengambil mainannya. "Mommy ayo kita main!" ajak Noah sambil menyerahkan pistol mainan pada Bella. "Nanti, ya, Sayang. Mommy selesaikan pekerjaan dulu," ucap Bella. Noah mengerucutkan bibirnya, merasa kecewa. "Andai Noah punya daddy, pasti Noah punya teman main. Kenapa kita tidak menyusul dady ke negaranya saja mommy?" ucap Noah. Selama ini setiap ia menanyakan tentang daddy, mommy selalu memberikan jawaban daddy-nya ada di negara yang jauh untuk bekerja dan belum bisa menemui mereka. "Daddy Noah lagi kerja, jadi kita tidak bisa menemuinya." Bella menggigit bibir bawahnya, matanya berkilauan menahan cairan bening. Ia merasa bersalah karena terus membohongi putranya. Andai bocah itu tahu bahwa sebenarnya daddy tinggal di sebelah apartemennya. "Ayo kita main." Bella mengalihkan pembicaraan agar Noah tak menanyakan tentang daddy-nya lagi. "Ayo!" Noah seketika langsung senang karena mommy mau menemaninya bermain. Satu jam kemudian Noah mulai lelah, bocah itu lalu ke kanarnya untuk tidur siang. Sementara Bella kini duduk di balkon sambil berkutat dengan laptop. Wanita itu membuka situs jual-beli rumah, mencari tempat yang cocok baginya dan Noah untuk tinggal. Bella berencana untuk membeli rumah saja. "Maafkan keegoisan mommy, Noah. Mommy gak sanggup harus memberitahu tentang siapa ayah kamu," lirih Bella sambil termenung menatap layar laptopnya. Setelah beberapa jam berkutat dengan laptop Bella akhirnya menemukan rumah yang ia suka, lokasinya ada di luar kota di dekat salah satu cabang toko Bella. Wanita itu berencana untuk melihat rumah tersebut secara langsung besok, jika cocok dengannya Bella akan mengajak Noah ke sana. Dirinya mungkin juga akan memindahkan Noah ke sekolah yang ada di kota tersebut. Dengan begini mereka tak akan bertemu lagi dengan Rava. *** "Noah, mommy ingin masak makan malam. Kamu main di sini, ya. Jangan keluar," pesan Bella pada putranya yang sedang membaca buku cerita di ranjang. "Iya, Mommy." Bella lalu pergi ke dapur, sedangkan Noah kembali asyik membaca buku ceritanya. Namun, beberapa saat kemudian bocah itu mulai bosan. Dia keluar kamar, melangkah pelan-pelan menuju meja makan agar Bella tak mendengar suara langkahnya. Saat ini Bella tengah menggoreng ayam dan berdiri membelakangi Noah. Noah mengambil sisa brownies yang dibuat mommy-nya tadi pagi. Dia kembali melangkah pelan-pelan sambil membawa piring berisi brownies tersebut menuju ke apartemen Rava. Bocah itu memencet Bel, tapi Rava tak kunjung keluar. "Sepertinya uncle tidak ada di dalam," guman Noah. "Noah!" panggil Rava yang baru saja kembali dari kantor. Seharusnya hari minggu ia libur, tetapi karena aplikasi MasterClass yang tiba-tiba eror jadi Rava harus ke kantor dan mengatasi masalah tersebut. "Uncle dari mana? Oh, iya Noah belum tahu nama uncle," ucap Noah. "Uncle dari kantor. Nama uncle Rava." "Noah bawain brownies untuk uncle." Rava berlutut di hadapan Noah, menangkup pipi bocah itu, mengamati setiap lekuk wajahnya. Ucapan Bella tadi pagi tentang ayah kandung Noah melintas di benak Rava. Noah adalah anak Samuel, seharusnya Rava tak berbicara dengan bocah itu, begitu kata pikirannya. Tapi hatinya mengatakan Noah adalah anaknya, Rava percaya itu. Hatinya selalu nyaman saat berbicara dengan Noah, Rava merasa seakan memiliki ikatan batin dengan Noah. "Aww, Uncle rambut Noah kenapa di cabut?" ringis Noah. "Maaf, uncle boleh minta beberapa helai rambut kamu?" "Buat apa uncle?" "Sebagai tanda pertemanan." Rava tak tahu bagaimana menjelaskannya pada Noah sehingga ia menjawab asal. Noah menyuruh Rava memegang piring brownies. Dia mencabut beberapa helai rambutnya, Noah mencabutnya satu-satu, karena kalau dicabut sekali banyak maka kepalanya akan sakit. "Ini uncle." Bocah itu menyerahkan beberapa helai rambutnya pada Rava. "Terima kasih, Noah." Rava tersenyum. Setelah dirinya memiliki bukti, maka Bella tak bisa lagi melarangnya untuk mendekati Noah. "Noah kembali dulu uncle. Brownies-nya jangan lupa dimakan, enak lho." Noah tersenyum manis. Dia lalu kembali dan menghampiri mommy-nya yang tengah kebingungan. "Mommy, cari apa?" "Brownies yang mommy bikin tadi pagi tiba-tiba hilang, padahal sebelumnya di meja makan. Kamu yang ambil?" "Iya, Mommy." "Owhh." "Piringnya mana, biar mommy cuci." "Piringnya ada di uncle Rava. Tadi pagi, kan, brownies untuk uncle kan jatuh, jadi Noah kasih lagi," jawab bocah itu polos. Mata Bella terbelalak. Entah dengan bahasa apa lagi ia harus menjelaskan oada Noah agar tidak mendekati Rava. Bocah itu tidak paham-paham dengan ucapan Bella sebelumnya. *** Setelah mendapatkan rambut Noah, Rava langsung menuju ke rumah sakit terbaik yang ada di pusat kota untuk melakukan tes DNA. Setelah menunggu dua hari, hasil tes yang Rava tunggu-tunggu itu akhirnya keluar. Rava kini masih berada di rumah sakit. Di tangannya terdapat kertas hasil tes DNA dirinya dengan Noah. d**a pria itu berdebar, ia deg-degan dan belum membuka hasil tes tersebut. Menghembuskan napas pelan, perlahan tangan Rava membuka hasil tes DNA tersebut. Dan hasilnya menunjukkan ... Noah adalah anak kandungnya. Beberapa saat setelah membaca hasil tes tersebut, di saat dadanya masih berdebar-debar merasa tidak menyangka jika dirinya telah menjadi seorang ayah, mata Rava tak sengaja menangkap Bella berlarian di koridor rumah sakit dengan wajah panik, wanita sendirian. Mengapa wanita itu di sini? Apa yang terjadi sehingga wanita itu kelihatan panik? Dan di mana Noah? Perasaan Rava seketika jadi tak enak. Dia lantas mengikuti Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN