Kreesss... suara daun dan ranting yang terinjak terdengar semakin keras hingga membuat aku dan Hendra waspada akan apa yang akan terjadi pada diri kami.Tak ada kata antara aku dan Hendra, yanga da hanya tatapan setajam singa yang siap berburu. Bruk... kulihat sesuatu meloncat dan terjatuh tepat di hadapan kami. Kami menarik napas lega karena yang sedari tadi mengintai kami hanya seekor musang saja. Ternyata feelingku kali ini salah, aku mengira manusia tapi ternyata bukan.Kakiku tiba-tiba lemas begitu menyadari bahwa itu hanya seekor musang yang tidak mengganggu kami sama sekali. Aku terduduk di atas tanah sambil berulang kali menarik nafas dalam. "Di, kita bermalam di sini bagaimana?" tanya Hendra. "Baiklah," jawabku. Dengan gesit Hendra segera mendirikan tenda untuk kami bermalam. Ti

