Bambang meletakkan dokumen di hadapan Pandu. Wajahnya dingin dan terlihat sangat tegas. Rani yang duduk disebelah Pandu hanya bisa menggenggam tangan putranya dengan erat. Dia seperti sedang menenangkan putranya sedangkan Pandu terlihat tenang. Dia sudah tahu isi dokumen tersebut.
"Pa, mending kita ngobrol-ngobrol dulu ya mumpung Pandu lagi disini." Kata Rani dengan lembut. Dia seperti ingin mencairkan suasana yang sedang tegang ini. Rani belum tahu isi laporan itu namun melihat ekspresi suaminya dia merasa jika laporan itu tidak sesuai harapannya.
"Buat apa buang-buang waktu buat ngobrol?" Tanya Bambang dengan sinis.
Pandu menatap Mamanya. Dia tersenyum seakan-akan sedang menenangkan Mamanya.
"Papa nggak nyangka kalau hasilnya bisa seperti ini." Kata Bambang pelan. Dia menatap Pandu dengan lekat.
Rani semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan putranya. Pandu lebih mendekat ke arah Mamanya.
"Dia sedang menatapmu dengan tajam." Ucap Rani berbisik di telinga putranya. Dia tahu jika Pandu saat ini tidak bisa melihat ekspresi Papanya.
Pandu menganggukkan kepalanya mengerti. Bukannya takut dia malah tersenyum menatap Bambang. "Pandu juga nggak nyangka kalau seperti ini. Ini diluar pemikiran Pandu." Balas Pandu pelan.
Rani hanya bisa menatap suami dan putranya dengan bergantian. Dia tidak mengerti dengan posisinya saat ini. Suaminya terlihat dingin namun putranya menanggapinya dengan santai. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Rani mengambil dokumen yang ada di depan suaminya. Dia membuka dokumen itu perlahan dan mulai membacanya.
Deretan angka demi angka diteliti oleh Rani. Matanya sangat fokus karena takut salah membaca. Hingga akhirnya dia memelototkan matanya karena tidak percaya.
"Ini serius?" Tanya Rani dengan keras.
Pandu dan Bambang menganggukkan kepalanya dengan kompak. Tidak lupa senyum manis tersungging dibibir mereka. Pandu yakin jika saat ini Mamanya tidak bisa menahan kebahagiaannya, Pandu hanya bisa melihat dari lekuk tubuh Mamanya yang meloncat kegirangan tanpa dia bisa melihat ekspresi Mamanya. Pandu membayangkan ekspresi Mamanya saat ini mungkin sama seperti saat dia memberikan kejutan kepada Mamanya delapan tahun yang lalu, saat dia masih normal dan bisa melihat wajah orang.
"Tuh kan Mama bilang juga apa, anak kita nggak bakal salah dalam memutuskan sesuatu." Kata Rani menyanjung putranya. Dia menutup dokumen itu kembali dan memeluk putranya dari samping.
Bambang hanya kicep saja mendengar ucapan istrinya yang menyanjung Pandu sedangkan Pandu tidak berhenti tersenyum. Ini bukan pertama kalinya dia menerima sanjungan dari Mamanya namun dia merasa sanjungan kali ini terasa berbeda. Mungkin karena dari awal dia sudah ditentang oleh orang tuanya namun dia bisa membuktikannya dengan hasil yang maksimal.
"Kamu sudah dapat pesan ini belum?" Tanya Bambang sambil menunjukkan sebuah surat yang masih terbungkus amplop coklat.
Pandu melihat surat itu dengan lekat. Perlahan tangannya terulur untuk mengambil surat tersebut. Dia ingin tahu isi surat itu. Pelan namun pasti Pandu mulai membuka surat tersebut. Dia membacanya perlahan dan memahami isinya. Seketika bibirnya kembali menyunggingkan senyum.
"Alhamdulillah, Pa." Kata Pandu bahagia.
"Terima kasih, Du." Balas Bambang dengan penuh rasa bangga. Semula dia merendahkan bahkan menolak keputusan Pandu namun kini dia tidak bisa menghiraukan kinerja dan kemampuan putranya itu.
***
Pandu berjalan pelan beriringan dengan Mamanya. Lengannya dia biarkan untuk digandeng oleh Mamanya. Hari ini dia menyerahkan semua waktunya untuk menemani Mamanya. Sudah lama dia tidak pergi bersama Mamanya. Hari ini dia memiliki sedikit waktu luang jadi dia akan menemani Mamanya kemanapun Mamanya pergi.
"Du kita cari baju yuk buat foto keluarga. Sudah lama kita nggak foto bersama." Kata Rani dengan semangat. Tangannya masih bertengger dilengan Putranya.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia hanya bisa menurut saja terlebih terakhir kali mereka berfoto bersama ketika dia baru lulus SMA. Saat itu mereka berfoto untuk merayakan kelulusannya dari bangku sekolah.
"Iya, Ma." Jawab Pandu dengan pelan.
Dia berjalan di belakang Mamanya. Matanya melihat disekeliling toko. Dia ingin tahu apa saja yang ada disana. Apakah mungkin ada sesuatu yang ingin dia beli lagi.
"Du, sini deh." Panggil Rani kepada anaknya. Tangannya sudah memegang kemeja berwarna marun.
Pandu yang merasa namanya dipanggil segera mendekati Mamanya. Dia memutuskan untuk mengakhiri tatapannya pada toko perhiasan yang ada di depan toko baju yang dikunjungi oleh Mamanya. Entah mengapa hatinya tergerak ingin masuk ke toko emas. Sekadar melihat-lihat saja atau bahkan ingin membeli salah satu barang dari toko sana.
Rani menempelkan baju itu ke tubuh putranya. Dia melihatnya dengan seksama seakan-akan sedang menilai penampilan putranya.
"Kayaknya kurang pas deh." Kata Rani sambil memperhatikan dengan lekat.
Pandu hanya diam saja. Dia tidak bergerak dari posisinya. Namun matanya masih terus memperhatikan toko perhiasan yang ada di depan. Dia ingin ke sana namun bingung harus mengatakan apa kepada Mamanya.
"Kita coba yang ini." Kata Rani lagi sambil mengambil salah satu pakaian yang ada dipajang.
Pandu hanya pasrah saja. Dia menuruti semua yang dilakukan oleh Mamanya. Rani kembali menempelkan baju ke tubuh Pandu dan mengamatinya dengan lekat.
"Ini bagus." Kata Rani sambil tersenyum lebar. Dia seperti puas dengan apa yang sudah dia pilihkan.
"Udah Ma?" Tanya Pandu pelan.
"Sudah." Jawab Rani sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu coba di kamar ganti biar ukurannya lebih pas dibadan kamu." Kata Rani sambil menyodorkan baju yang sudah di pilih tadi.
Pandu menerima baju itu dan berjalan pelan ke arah kamar ganti. Dia mencoba baju yang sudah dipilihkan oleh Mamanya. Dan dia tersenyum puas melihat baju itu langsung pas ditubuhnya jadi dia tidak perlu mencoba banyak ukuran lagi.
"Gimana, Du?" Tanya Rani setelah melihat putranya keluar dari kamar ganti.
"Udah pas kok Ma." Jawab Pandu dengan tersenyum. Dia menyerahkan baju itu kepada pegawai toko agar disendirikan.
"Sini kamu bantuin Mama milih baju." Pinta Rani sambil menarik lengan Pandu menuju deretan pakaian.
Pandu dengan malas menuruti Mamanya. Mungkin dia akan menuruti Mamanya terlebih dahulu dan begitu dia ada kesempatan dia akan langsung ke toko itu untuk melihat-lihat.
"Ini bagus Ma, serasi sama punya Pandu tadi." Kata Pandu sambil menunjukkan salah satu gaun yang dia rasa cocok untuk Mamanya.
"Menurut kamu ini bagus?" Tanya Rani sekali lagi.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Ya sudah Mama coba dulu ya." Kata Rani dengan semangat. Dia menerima gaun yang dipilihkan oleh Pandu dan membawanya ke kamar ganti.
Pandu yang melihat Mamanya sudah masuk ke kamar ganti langsung berjalan pergi ke toko perhiasan. Dia tersenyum lebar karena bisa mendapatkan kesepakatan untuk melihat-lihat barang yang ada di sana.