Lima Belas

1272 Kata
Pandu tersenyum dengan lebar setelah dia membaca isi laporan yang diberikan oleh Gilang tadi. Dia menatap itu dengan pandangan yang penuh kemenangan. Dia tidak pernah menyangka jika dia bisa melampaui batasan pekerjaannya sampai seperti ini. Pandu juga tidak tahu apakah orang tuanya sudah menerima laporan yang sama seperti yang dia pegang saat ini. "Saatnya bertemu dengan Mama dan Papa." Kata Pandu dengan bangga. Pandu turun dari mobilnya, dia berjalan pelan ke arah rumah mewah dengan gaya bangunan modern. Desain rumah yang didesain oleh arsitektur terkenal membuat rumah itu terlihat berdiri dengan gagah sempurna. Disamping rumah terdapat kolam renang yang besar dan terawat, ditambah taman yang lumayan luas hampir semua jenis bunga hidup di sana. Bangku taman yang sudah mulai usang di tambah payung besar diatasnya berfungsi memberikan perlindungan dari sinar matahari bahkan guyuran hujan yang jatuh ke bumi. Pandu tersenyum melihat itu semua. "Tidak banyak yang berubah." Gumam Pandu pelan. Dia memang tidak pernah meninggalkan kota ini. Namun setelah dia diberikan jabatan oleh Papanya, dia memilih untuk hidup sendiri dan hidup terpisah dari orang tuanya. Dia hanya sesekali berkunjung ke rumah itu. Dia datang ketika butuh persetujuan Papanya, karena walaupun dia CEO yang mengelola perusahaan itu, dia tetap harus mendapatkan persetujuan dari Papanya saat membuat keputusan yang besar. "Eh ada Mas Pandu. Masuk, Mas di dalam sudah ditunggu sama Ibu dan Bapak." Kata Mbok Ina begitu dia melihat anak majikannya sudah berada di depan rumah. Pandu menoleh ke sumber suara. Ucapan Mbok Ina barusan seperti menyadarkannya dari lamunannya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya seakan-akan dia telah melihat Mbok Ina. Walaupun Pandu tidak bisa membedakan wajah orang, dia bisa membedakan suara orang. Dan kini dia tahu siapa lawan bicaranya sekarang. "Iya, Mbok ini Pandu menemui Papa dan Mama." Jawab Pandu dengan menyunggingkan senyumnya. Mbok Ina sudah cukup lama bekerja bersama Rani dan Bambang. Bahkan dulu dia yang merawat Pandu ketika majikannya pergi bekerja. Dulu Rani masih berkarir di salah satu Bank negeri walupun sudah mempunyai suami yang mapan. Sampai dia melahirkan anak pun dia masih terus aktif di dunia kerja. Hingga ketika Pandu sudah saatnya masuk sekolah, Rani memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memilih mengurus Pandu dengan alasan dia ingin mengawasi setiap perkembangan Pandu dari mulai kecil hingga sudah dewasa. Sudah cukup terlambat memang, namun keputusan Rani tetap dianggap tepat oleh Sang suami. Dia memang tidak pernah memaksa istrinya untuk membantunya mencari nafkah, namun dia juga tidak ingin mengekang istrinya agar di rumah saja. Dia selalu mendukung setiap apa yang dilakukan oleh Rani, dengan catatan Rani tidak boleh lengah dengan tugasnya sebagai seorang istri. "Hari ini Ibu sudah masak banyak, dan semuanya masakan kesukaan Mas Pandu." Kata Mbok Ina berbisik. Dia seperti sedang membocorkan sebuah rahasia kepada Pandu. Pandu menanggapi ucapan Mbok Ina dengan tersenyum. "Kebetulan sekali Mbok saya juga lagi laper banget." Jawab Pandu sambil memegang perutnya sambil nyengir. Mengisyaratkan jika dia memang sedang menunggu hidangan sempurna yang sudah disiapkan oleh Mamanya. "Ya sudah segera masuk, Mas sebelum Ibu benar-benar bosan menunggu Mas datang." Kata Mbok Ina lagi. Pandu terkekeh pelan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Mana ada sih Mbok Mama bosan menunggu kedatangan Pandu." Kata Pandu dengan heran. Lebih tepatnya dia sedang mengoreksi ucapan Mbok Ina. Mbok Ina terdiam sejenak, dia seperti sedang berpikir. "Oh iya ya." Balas Mbok Ina ketika dia sadar dengan kesalahannya. Pandu tertawa melihat Mbok Ina yang mulai sadar. "Pandu masuk dulu ya, Mbok. Nanti Pandu bantuin siram bunga." Kata Pandu sopan sambil memegang pundak Mbok Ina. Setelah itu dia melenggang jauh masuk ke dalam rumah. Pandu mengucapkan salam seperti biasanya setiap kali dia masuk ke dalam rumah. Dia tidak menemukan orang tuanya diruang keluarga. Pandu langsung masuk ke ruang makan seperti petunjuk yang diberikan oleh Mbok Ina tadi. Dan benar saja, disana dia menemukan orang tuanya yang sedang duduk berdekatan. Rani langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri putranya. Dia memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat. Seperti seorang Ibu yang sedang mengeluarkan semua kerinduannya ketika baru bertemu. Rani memperlakukan Pandu seperti sudah lama tidak berjumpa. Memang, sudah lebih dari satu bulan Pandu tidak datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Terakhir kalinya dia berkunjung adalah ketika meminta persetujuan dari Papanya dan berakhir dengan pertengkaran hebat karena perbedaan pendapat. Dan ketika dia yang berkunjung ke perusahaan, ruangan putranya selalu kosong begitu juga dengan apartemen tempat tinggal Putranya. Rani sedikit heran memikirkan kenapa Putranya selalu tidak ada di apartemen dan perusahaan. Dia sangat hafal tempat yang selalu dikunjungi oleh Pandu setelah putranya itu mengalami kecelakaan. Pandu tidak akan mengunjungi tempat selain perusahaan dan apartemen juga sesekali dia masuk ke supermarket untuk membeli barang sehari-hari. "Mama merindukan kamu, Nak." Kata Rani sambil memegang kedua pipi putranya setelah dia melepaskan pelukan yang cukup erat tadi. "Pandu juga rindu sama Mama." Jawab Pandu dengan lembut. Dia mendaratkan kecupan dikening wanita yang sudah melahirkannya itu. "Ehemmm..." Terdengar suara dehem dari laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi makan. Laki-laki itu seperti sedang menegur anak dan istrinya yang sedang meluapkan kerinduan. "Papamu cemburu." Bisik Rani didekat telinga Pandu. Pandu tertawa mendengarnya. Hubungan Pandu dengan Mamanya sangat dekat. Walaupun saat bayi Mbok Ina lebih sering berada didekatnya, namun Pandu tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang Mamanya. Selelah apapun Mamanya pulang kerja, Rani selalu menyempatkan untuk bercengkrama dengan putranya. Dan juga setelah putranya masuk ke bangku sekolah, dia menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tanpa merasakan asiknya dunia pekerjaan lagi. Pandu mengulurkan tangannya untuk menyalami Papanya. Dia mencium punggung tangan itu dengan hormat. Walaupun mereka sering berbeda pendapat namun tidak membuat Pandu mengurangi rasa hormatnya kepada Papanya. "Baru datang?" Tanya Bambang dingin. "Iya, tadi ada urusan sebentar." Jawab Pandu singkat. Ya, dia menyesuaikan urusannya dengan Sakura terlebih dahulu tadi. "Kamu jarang terlihat di perusahaan, Nak. Setiap kali Mama kesana Mama tidak pernah bertemu dengan kamu." Kata Rani. Dia mengira ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan itu. "Mungkin saat Mama ke kantor Pandu masih di apartemen." Jawab Pandu dengan enteng. "Setelah dari kantor Mama juga ke apartemen tapi tetap saja tidak bertemu dengan kamu." Kata Rani lagi dengan heran. Pandu menjadi gelagapan sendiri. Dia menjadi bingung harus menjawab apa. "Mungkin waktunya yang belum pas, Ma." Balas Pandu dengan mengulum senyum. Kini dia baru sadar jika sejak bertemu dengan Sakura, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadis itu. "Ya sudah ayo makan dulu, Papa sudah kelaparan dari tadi." Kata Bambang yang mulai sadar dengan tingkah aneh putranya. Dia juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pandu selain di kantor dan apartemen. Namun dia merasa jika Pandu kini sedang menyembunyikan sesuatu. Dan dia tidak ingin berpikir yang macam-macam dulu, mungkin dia akan menyewa seseorang untuk memata-matai putranya. Dia tidak ingin putra semata wayangnya melakukan hal yang tidak baik. Mengingat kondisi Pandu yang tidak sedang baik-baik saja, Bambang takut Pandu kalap dan melakukan sesuatu yang diluar batas. "Oh iya, Mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu karena Mama tau kamu bakal datang." Kata Rani dengan tersenyum. Pandu tersenyum mendengar ucapan Rani. Di depannya memang sudah ada banyak hidangan yang beraneka ragam dan semuanya adalah makanan kesukaannya. Apalagi sayur rawon yang hitam dengan sambalnya yang khas membuat Pandu menelan ludahnya dan ingin segera menyantapnya. Rani mengambil piring suaminya terlebih dahulu untuk dia layani. Setelah itu piring putranya dan terakhir adalah piringnya. Itu sudah menjadi kebiasaannya, dia akan mendahulukan suami dan anaknya. Mungkin bukan hanya Rani saja, namun dia semua Ibu dan istri akan melakukan hal yang sama. Mereka rela mengesampingkan urusannya demi menomor satukan suami dan putranya. Ruang makan yang tidak terlalu besar itu terasa hangat dan erat hubungan kekeluargaannya. Tidak setiap hari mereka bisa berkumpul bersama seperti ini, namun pada saat-saat tertentu mereka menyempatkan diri untuk saling bercengkrama. Sekadar menanyakan kabar masing-masing atau menceritakan keluh kesah yang dialami setiap hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN