Empat Belas

1140 Kata
Angin bertiup lebih kencang. Daun kering yang semula anteng diatas pohon, kini harus rela terbang berjatuhan. Sakura berbaring di atas dedaunan kering yang jatuh itu. Membiarkan rambutnya menempel pada tanah dan daun kering. Membiarkan bajunya ternoda oleh dua elemen yang tidak bisa lepas dari bumi itu. "Mau kemana lagi?" Tanya Pandu pelan. Dia duduk disamping Sakura sambil meletakkan jajanan ringan yang tadi dia beli. "Nggak tau. Aku capek." Jawab Sakura dengan lemas. Dia memejamkan matanya dan tidak memedulikan Pandu yang sedang menatapnya. "Jangan nyerah." Kata Pandu pelan. "Aku nggak nyerah. Hanya butuh jeda istirahat saja." Jawab Sakura lagi. "Ya sudah silakan istirahat dulu, aku yang akan menjagamu." Kata Pandu sambil tersenyum. Sakura menganggukkan kepalanya pelan. Dia tidak segan untuk memejamkan matanya. Bahkan kantuknya sudah mulai datang. Setiap hari tidur tidak lebih dari 3 jam membuat tubuh Sakura menjadi lelah. Dia ingin menjalani hidup seperti gadis-gadis seusianya. Tidak dibebani oleh tanggungan keluarga yang begitu berat. Pandu memejamkan matanya. Dia menikmati suasana hari ini. Hari memang belum benar-benar sore bahkan matahari masih terlihat jelas dilangit. Namun suasananya terasa sejuk ditambah saat ini dia sedang berada dibawah pohon yang cukup rindang. Di depannya ada danau kecil dengan perahu kayu yang sudah usang. Pandu yakin jika perahu itu sudah bocor dibeberapa sisi. Danau kecil dengan airnya yang sedikit berwarna hijau bahkan ada beberapa lumut dan bunga teratai di atasnya. Beberapa dedaunan kering jatuh diatasnya karena tiupan angin. 2 angsa putih yang berjalan beriringan menceburkan dirinya di danau. Menikmati segarnya air yang tak jernih itu. Sesekali mereka saling berhadapan dengan mengeluarkan suara yang saling bersahut-sahutan. Mungkin mereka sedang mengobrol atau saling memuja satu sama lain. Pandu hanya bisa tertawa. Bahkan dia merasa iri dengan kedekatan angsa itu. Mereka seperti sepasang angsa yang sedang jatuh cinta. Sedangkan dia, makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan merasa memiliki banyak kekurangan dan tidak percaya diri ketika ingin menjalin sebuah hubungan percintaan. Tanpa sadar, Pandu memandang gadis penyelamatnya yang sedang tertidur dengan pulas itu. Pandu bisa tahu jika Sakura tertidur karena mendengar dengkuran halus dari Sakura. Pandu tersenyum melihat itu, Sakura seperti sangat santai menjalani kehidupannya. Walaupun banyak masalah dan rintangan yang hadir di dalam hidupnya, Sakura tetap ikhlas menjalaninya. "Ternyata kamu benar, dunia tidak sepenuhnya jahat." Pandu bergumam pelan. Dia mengingat ucapan Gilang kemarin. Sepupunya itu memintanya untuk keluar dan membuka mata. Melihat indahnya alam yang sudah disediakan oleh Tuhan untuk dia nikmati. Walaupun kornea matanya tidak bisa melihat indahnya wajah setiap orang, namun masih ada alam yang tidak kalah indah dari lekukan wajah manusia. "Kamu nggak lelah?" Tanya seseorang tiba-tiba. Pandu yang mendengar suara Sakura menoleh ke sumber suara. Dia tidak tahu apakah saat ini Sakura masih memejamkan matanya atau sudah membuka mata melihat dunia. Yang dia sadari hanya Sakura yang mengajaknya berbicara. "Udaranya seger, enak banget buat tidur." Kata Sakura lagi. "Ya kamu tidur lagi aja, aku jagain kamu di sini." Jawab Pandu perhatian. Dia melepas jaketnya dan dia sematkan ditubuh Sakura. Sakura hanya diam saja tidak berkutik. Menerima perhatian dari Pandu membuat hatinya berdebar tidak karuan. Ini pertama kalinya dia merasakan hal ini. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Usinya memang bukan remaja lagi, namun Sakura juga belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain selain Papanya. Sejak kepergian Mamanya, Sakura terus fokus pada belajarnya agar dia bisa membuktikan kepada Mamanya agar Mamanya juga bangga melihatnya dari surga. Saat itu hidup Sakura sudah mulai berubah namun dia masih bisa menjalaninya dengan baik karena masih ada Papanya yang selalu mendukungnya dan menjaganya dari belakang serta membantunya ketika dia terjatuh. Namun semua berubah setelah Papanya kecelakaan, dia seperti hidup seorang diri. Hanya fokus dengan kuliahnya dan merawat Papanya. Kini dia lebih fokus bagaimana caranya bangkit agar bisa keluar dari lubang hitam yang diciptakan oleh Mama tirinya. "Aku tidak perlu ini." Kata Sakura pelan. Dia bangun dari tidurnya dan menyerahkan jaket hitam kepada Pandu. Sakura merapikan bajunya yang lusuh dan rambutnya yang kusut. Pandu tersenyum kecil melihat tubuh mungil Sakura yang penuh dengan daun kering. Apalagi tubuh bagian belakang Sakura yang berantakan. Pandu mengulurkan tangannya untuk membantu merapikan baju dan rambut Sakura. Namun Sakura menghentikan tangan Pandu dan mereka menjadi canggung. "Aku bisa sendiri." Kata Sakura pelan. Pandu menganggukkan kepalanya pelan. Dia tersenyum kecut dan bingung harus berbuat apa. Suasana yang semula nyaman kini berubah menjadi canggung. Semua itu karena tingkahnya yang tiba-tiba meraih daun kering dari rambut Sakura dan membuat Sakura menjadi salah tingkah. *** Pandu membuka pintu ruangannya. Dia berjalan santai sambil memainkan kunci mobilnya. Bibirnya menyanyikan sebuah lagu pop yang sering dinyanyikan oleh anak zaman sekarang. Lagu itu seakan-akan mewakili perasaan Pandu yang sedang kasmaran. "Kamu terlambat." Kata seseorang mengagetkan Pandu. "Astaga." Teriak Pandu kaget. Dia semakin terkejut dan merinding ketika melihat hanya melihat bayangan seseorang di dalam ruangannya itu. "Siapa?" Tanya Pandu dengan rasa takutnya. Jantungnya masih berdebar dengan kencang, suara yang dia dengar tadi tidak terlalu jelas dan dia tidak terlalu mengenali suara itu. Mungkin karena saat itu dia sendiri juga sedang bernyanyi jadi fokusnya hanya pada nyanyinya saja. "Makanya kalau punya ruangan dikasih lampu." Kata orang itu lagi yang masih tidak beranjak dari duduknya. Pandu menghela nafasnya lega. Dia mengira jika orang itu adalah orang jahat yang ingin melukainya. Tapi ternyata orang itu adalah sepupunya sendiri. "Kenapa saklarnya nggak berfungsi? Rusak?" Tanya Gilang dengan penasaran. Pandu menyalakan senter pada ponselnya dan dia arahkan ke langit-langit ruangan. Di sana terlihat cup lampu yang menggantung tanpa ada lampunya. "Bukan saklarnya yang rusak tapi lampunya yang aku buang." Jawab Pandu dengan santai. Dia kembali mematikan senter ponselnya dan meletakkannya di atas meja bersamaan dengan kunci mobilnya. Pandu menarik kursi kebesarannya dan mendaratkan bokongnya disana. Gilang tersenyum kecut mengetahui kebenaran itu. "Lama-lama Lo ngeri juga ya." Gumam Gilang dengan bergidik ngeri. "Tangan Lo nggak bisa diem kalau masuk sini. Selalu nyalain lampu dan nggak mau matiin lagi." Bantah Pandu. Dia mengatakan alasannya mengapa dia melepaskan lampu itu dari cupnya. "Ruangan ini seperti tidak bernyawa." Komentar Gilang pelan. "Ini bukan ruangan, tapi ini peti kehidupanku." Balas Pandu dengan cuek. Gilang menatap sepupunya dengan pandangan yang sulit diartikan. Semakin lama dia merasa jika Pandu semakin sulit dikendalikan. Apa yang dilakukan oleh Pandu selalu diluar nalarnya. Dia tidak bisa menebak apa yang sedang dirasakan oleh pria itu dan apa yang akan dilakukan oleh pria itu nantinya. Gilang hanya berdoa semoga Pandu masih diberikan akal sehat dan tidak membuatnya melakukan hal yang macam-macam. "Ada apa Lo kesini?" Tanya Pandu dingin. Gilang menyerahkan dokumen berisi laporan daftar pelanggan yang memakai jasa travel mereka. Pandu yang melihat dari luar map nampak tegang. Dia takut jika isi dokumen itu tidak sesuai dengan rencananya. "Nanti Lo harus pulang ke rumah orang tua Lo dan omongin itu semua. Gue nggak mau ikut campur lagi setelah dokumen itu jatuh ke tangan Lo." Kata Gilang dengan dingin. Setelah itu dia pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Pandu dengan wajah tegang dan tangan gemetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN