Pandu bersandar pada mobilnya. Sudah sejak satu jam yang lalu dia berada diposisi itu. Tangannya bersendekap didada dengan mata yang terus fokus melihat sekitar. Satu-satunya cara agar dia bisa mengenali orang yang dia cari adalah dengan melihat postur tubuh dan juga cara berjalannya. Setelah kemarin menghabiskan waktu bersama Sakura, perlahan-lahan dia sudah bisa mengenali cara berjalan Sakura dan bentuk rambut Sakura.
"Kenapa lama sekali munculnya?" Tanya Pandu pada dirinya sendiri. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Dia ingin memastikan berapa lama lagi dia harus menunggu kedatangan gadis itu.
Memang tidak ada janji sebelumnya. Apa yang dilakukan Pandu hari ini hanyalah keinginannya sendiri. Dia merasa ada sesuatu yang hilang ketika dia tidak bersama Sakura. Belum lama mengenal namun dia sudah merasa menjalin hubungan yang lama dengan Sakura.
Hingga akhirnya sebuah tepukan mendarat dipundak Pandu. Laki-laki itu sedikit terkejut mendapatkan tepukan yang cukup keras dari seseorang. Pandu dengan cepat menoleh ke belakang dan memicingkan matanya. Dia melihat orang itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Sudah menjadi kebiasaannya, dia akan memperhatikan orang-orang dengan teliti karena dia tidak bisa membedakan wajah mereka.
"Ara?" Tanya Pandu dengan ragu-ragu.
Sakura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Yang terlihat oleh mata Pandu hanyalah anggukan kepalanya saja, senyum manis Sakura tidak terlihat oleh mata Pandu. Namun Pandu lega karena orang yang dia tunggu sedari tadi muncul juga.
"Kenapa di sini?" Tanya Sakura pelan.
Pandu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia melakukan itu agar tidak terlihat canggung. Pandu memutar otaknya untuk segera mencari jawaban dari pertanyaan Sakura.
"Sedang mencariku?" Tanya Sakura lagi.
Pandu dengan cepat menganggukkan kepalanya. Dia berfikir lebih baik dia jujur daripada harus mengarang cerita yang bisa saja membuat dia kebingungan sendiri.
"Ahh...iya aku kemari karna mencarimu." Jawab Pandu membenarkan pertanyaan Sakura.
"Ada apa?" Tanya Sakura dengan bingung. Perempuan itu mengerutkan keningnya karena merasa heran mengapa Pandu sampai mencarinya ke kompleks perumahannya.
"Kau bilang akan mencari pekerjaan, aku punya informasi perusahaan yang sedang membutuhkan karyawan." Jawab Pandu. Ya, semalam dia sudah mencari beberapa lowongan pekerjaan, dia ingin membantu Sakura agar segera mendapat pekerjaan.
"Kau mau membantuku lagi?" Tanya Sakura memastikan.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia memang ingin membantu Sakura. Namun alasan utamanya bukan karena ingin membantu sakura, melainkan karena dia ingin terus berada dekat dengan gadis itu.
"Ayo, kita berangkat." Kata Pandu dengan semangat. Dia sedikit berlari ke arah kursi penumpang dan membukakan pintu untuk Sakura.
Sakura tersenyum melihat tingkah Pandu yang lebih bersemangat daripada dia. Namun semangat Pandu ternyata memberikan efek yang baik untuk Sakura. Buktinya gadis itu juga merasakan semangatnya bertambah. Dia dengan cepat berlari mendekat Pandu dan masuk ke mobil itu.
Pandu menyusul Sakura yang sudah lebih dulu masuk ke mobil. Dia memasang sabuk pengamannya dan mulai menjalankan mobilnya. Dia fokus ke jalannya dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum. Entah mengapa berada di dekat Sakura membuat dia menjadi lebih bersemangat. Seperti ada warna baru di dalam kehidupannya yang gelap gulita. Selama ini Pandu selalu merasa hidup di dalam peti. Yang dia rasakan hanyalah nuansa hitam dan juga abu-abu. Gelap dan sunyi. Dingin dan hampa. Tidak ada apapun lagi selain itu.
"Kenapa ingin cari kerja? Kenapa nggak bikin usaha aja?" Tanya Pandu disela-sela fokusnya menyetir.
"Bikin usaha juga butuh modal yang besar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aja rasanya sangat susah apalagi buat buka usaha." Jawab Sakura dengan jujur. Beberapa kali dia pernah berfikir untuk membuka usaha saja, namun mengingat semua usaha butuh modal yang banyak membuat dia berfikir lagi. Menggadaikan aset pun dia tak punya aset apapun. Ditambah dia harus memutar otak lagi untuk membuat usaha itu berkembang dan membuatnya menjadi kaya.
"Sekarang banyak instansi yang menawarkan pinjaman." Kata Pandu pelan.
"Aku terlalu miskin untuk menggadaikan barang-barang berharga." Jawab Sakura pelan.
Pandu mengerutkan keningnya. Dia tahu jika Sakura tinggal dirumah gedongan yang hanya bisa ditempati oleh orang-orang kaya. Namun mengapa Sakura bilang jika dia miskin. Namun Pandu tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Dia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan orang lain. Terlebih orang itu belum lama dia kenal. Dia tidak tahu apakah orang itu akan baik-baik saja ketika dia bertanya banyak hal pribadi, mungkin saja orang itu akan merasa tidak nyaman.
"Kalau kamu bersedia aku bisa memberimu modal." Kata Pandu pelan. Dia sangat hati-hati, takut jika lawan bicaranya tersinggung dengan ucapannya.
Sakura tertawa menanggapi ucapan Pandu. Dari penampilan Pandu, Sakura tahu jika laki-laki itu bisa dikatakan memiliki penghasilan yang lumayan banyak. Terlihat dari barang-barang mewah yang menghiasi tubuhnya.
"Tidak perlu. Aku akan mencari pekerjaan saja, jika nanti pengalamanku sudah cukup, aku akan membuka usaha." Jawab Sakura sambil tersenyum namun Sakura tidak pernah tahu jika senyumnya tidak akan pernah terlihat dimata Pandu.
Pandu tersenyum kecut mendengar penolakan Sakura. Niat baiknya ditolak begitu saja. "Semoga hari ini kita dapat pekerjaan." Kata Pandu pelan.
"Aamiin..." Jawab Sakura dengan tulus. Dia tidak mengenal pria ini sebelumnya. Dia hanya mengenal ketika dia menyelamatkan pria itu, dan Sakura berfikir jika mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Namun, ternyata itu salah, laki-laki itu selalu hadir ke dalam hidupnya, menemani hari-hari yang dia lalui dengan berat, sedikit demi sedikit memberikan semangat baru untuk Sakura.
"Kamu kerja apa? Kok bisa ninggalin kerjaan seenaknya gini?" Tanya Sakura pelan. Dia sangat penasaran dia laki-laki yang ada disampingnya itu. Banyak hal yang belum dia tahu dari laki-laki itu.
"Ada lah, yang penting apa yang aku lakukan sekarang nggak memengaruhi pekerjaanku." Jawab Pandu dengan tersenyum.
Sakura menaikkan satu alisnya. Dia seperti sedang berfikir pekerjaan apa yang sedang dijalani oleh pria itu. "Kamu selebgram?" Tanya Sakura dengan ragu.
"Menurutmu wajahku bisa masuk ke kategori selebgram?" Tanya Pandu dengan senyum kecil.
"Wajahmu tampan dan postur tubuhmu bagus." Jawab Sakura tanpa sadar menyanjung Pandu.
"Benarkah? Menurutmu aku tampan?" Tanya Pandu tidak percaya. Hal yang membuatnya tidak nyaman adalah ketika dia tidak bisa melihat perkembangan keriput dan perubahan wajahnya. Bahkan saat ini dia sudah lupa bagaimana rupa wajahnya. Dia juga sudah lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Sakura gelagapan. Dia salah tingkah mendengar pertanyaan dari Pandu. Sedangkan Pandu hanya tertawa ketika melihat Sakura tidak berkutik. Dia berhasil menggoda gadis yang ada di sampingnya itu.
"Ya semua laki-laki tampan." Jawab Sakura kemudian. Dia melengos melihat keluar jendela.
Pandu masih tidak bisa berhenti tertawa. Menggoda Sakura bisa sangat menyenangkan seperti ini. Akan lebih menyenangkan jika dia bisa melihat raut wajah Sakura yang pastinya sedang kesal.