Dua belas

1001 Kata
Gilang masuk ke ruangan yang gelap tanpa penerangan lampu. Hanya cahaya dari komputer yang memberikan sedikit tanda-tanda kehidupan. Ditangannya membawa berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Pandu. Seperti biasa setiap perencanaan harus melalui persetujuan dari Pandu selaku CEO perusahaan itu. "Masuk." Jawab Pandu dari dalam ruangan. Gilang membuka pintu itu dengan pelan. Seperti biasa tangannya menekan saklar lampu yang berada di samping pintu. Itu sudah menjadi rutinitasnya setiap kali masuk ruangan pribadi Pandu. Sepupunya itu tidak akan menyalakan lampu walaupun dia berada di dalam sana. "Ini berkas-berkas yang harus kamu tandatangani." Kata Gilang sambil meletakkan berkas itu di depan Pandu. "Bagaimana laporan mingguan tentang kepuasan pelanggan?" Tanya Pandu dengan dingin. Matanya tidak bergerak dari objek sebelumnya namun tangannya mengambil berkas itu dan mulai membacanya. "Masih aku tinjau, nanti sore akan kuberikan kepadamu." Jawab Gilang. "Apakah laporannya jelek?" Tanya Pandu lagi. Dia was-was jika memang itu laporan tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dia pasti akan langsung didepak oleh Papanya. "Belum selesai ku baca." Jawab Gilang lagi. Gilang memperhatikan ruangan itu. Dia merasa sangat tidak nyaman jika harus berlama-lama di dalam ruangan itu. Ruangan yang hanya terdapat meja kerja dan satu sofa panjang. Tidak ada lukisan atau bingkai foto. Tidak ada sesuatu yang menyegarkan mata. Bahkan jendela yang ada dipojok ruangan juga terkunci rapat seakan-akan jendela itu tidak ada fungsinya. "Cobalah rubah gaya hidupmu. Kamu manusia hidup bukan robot mati." Kata Gilang memberikan nasehat kepada sepupunya. "Aku sudah mati sejak insiden itu." Jawab Pandu dengan dingin. Gilang menghela nafasnya lelah. Dia sudah berkali-kali mengingatkan Pandu untuk memperbaiki hidupnya. Dia mengerti bagaimana terpukulnya Pandu karena insiden itu, namun tetap saja dia harus melanjutkan hidupnya dan melihat dunia yang indah ini. "Dunia memiliki banyak warna, tidak melulu tentang kegelapan." Kata Gilang. Gilang bangkit dari duduknya dan mendekati jendela itu. Tangannya perlahan membuka jendela itu agar ruangan Pandu terkena sinar matahari. "Coba lihat keluar, banyak hal yang bisa kamu nikmati. Dunia tidak sejahat itu, Bro." Kata Gilang lagi dengan bersemangat. "Dunia hanya bisa dinikmati oleh orang yang normal." Jawab Pandu lagi dengan dingin. Dia masih terus meninjau dokumen yang diberikan oleh Gilang. "Apa menurutmu kamu bukan orang normal?" Tanya Gilang dengan geram. Setiap kali dia ingin menyadarkan Pandu, selalu berakhir dengan istilah jika Pandu bukan orang yang sama seperti kebanyakan orang. "Apa menurutmu aku normal?" Tanya Pandu balik. Dia menatap sepupunya itu dengan lekat walaupun lagi-lagi dia tidak bisa melihat wajah itu. Gilang menganggukkan kepalanya dengan mantap tanpa keraguan. Dia selalu menganggap sepupunya itu orang normal tanpa kekurangan apapun. "Orang normal pasti bisa melihat setiap perubahan wajah orang." Kata Pandu dengan putus asa. Gilang hanya diam saja. Dia tahu jika apa yang dia katakan akan berakhir dengan percuma. Tidak mudah membuat Pandu kembali bangkit seperti dulu. Sangat sulit membuat Pandu menjadi pria aktif dalam bermasyarakat seperti dulu. Dulu Pandu sangat suka berorganisasi, namun setelah insiden itu dia memutuskan untuk menarik diri dari banyak orang dan memilih berdiam diri dibalik ruangan tertutup ini. "Dokumen sudah selesai aku tanda tangani. Kamu bisa pergi sekarang." Kata Pandu dengan dingin sedingin raut wajahnya." Gilang tidak bisa berkata apapun lagi selain menuruti ucapan Pandu. Dia kembali menutup jendela itu dan mengambil dokumen dari meja Pandu tanpa mengatakan apa-apa. "Jangan lupa matikan lampunya lagi." Kata Pandu tegas. Dia melirik Gilang yang sepertinya berjalan lurus tanpa ingin mematikan saklar lampu itu. "Ogah. Kalaupun nanti kamu mati beneran, setidaknya kamu harus mati di dalam ruang yang terang." Jawab Gilang sebelum dia benar-benar menutup pintu itu. Pandu hanya berdesis saja. Melihat sepupunya yang pergi tanpa mematikan lampu membuat dia geram. Pandu dengan malas bangkit dari duduknya. Dia mematikan saklar lampu itu dan membuat ruangan kembali menjadi gelap. Bagi Pandu, ruangan terang ataupun gelap terasa sama saja dimatanya. Dia sama-sama tidak bisa membedakan wajah setiap orang yang menemuinya. Bahkan untuk melihat wajahnya sendiri dia juga tidak bisa. *** "Kalau Lo udah bosen hidup mending bunuh diri di rel kereta aja, jangan nabrakin diri di mobil gue." Kata Tasya dengan cukup keras. Dia masih merasa jengkel dengan apa yang dilakukan Sakura semalam. Sakura hanya diam saja. Dia masih meneruskan pekerjaannya menyiapkan sarapan untuk ibu dan saudara tirinya. "Kenapa pagi-pagi udah jengkel, Sya?" Tanya Bu Elmi yang baru turun dari kamarnya. Ditangannya sudah menenteng tas yang berisi dokumen-dokumen kantor. Pakaiannya sudah rapi dengan setelah kantor. Terlihat sekali jika dia adalah wanita karir yang sukses. Tidak bisa dipungkiri memang jika perusahaan baik-baik saja sejak dipegang oleh dia. "Semalam dia duduk di depan mobilku, Ma. Kalau aku nggak hati-hati pasti aku udah nabrak dia." Adu Tasya pada Mamanya. "Kamu mau jebak anakku?" Tanya Elmi dengan keras. Emosinya langsung naik begitu mendengar cerita dari Tasya. "Aku tidak akan mati sebelum aku bisa merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Kata Sakura dengan tegas. Dia terlihat sangat santai dengan tangan yang masih cekatan menyiapkan sarapan, namun dari ucapannya barusan terdengar jika itu sebuah ancaman. Elmi dan Tasya tertawa meremehkan. Namun didalam hati mereka sebenarnya mereka juga kuatir jika Sakura benar-benar merebut perusahaan itu. Ditambah kecerdasan Sakura dan ketelatenan Sakura dalam meraih apa keinginannya membuat semua yang semu menjadi nyata. "Mimpi aja terus. Selama aku masih hidup kamu tidak akan pernah bisa merebut perusahaan itu." Balas Elmi dengan tajam. "Sesuai logika sisa usiamu lebih sedikit dibandingkan dengan sisa usiaku. Keahlian mu dalam memimpin perusahaan juga akan berkurang, itu menjadi nilai minus buat kamu." Kata Sakura terus membantah. "Kamu mencoba mengancam ku?" Tanya Elmi lagi. "Terserah bagaimana caramu menyimpulkannya." Kata Sakura dengan sinis. Sakura meletakkan hasil masakannya di atas meja. Dia segera melepas appron nya dan menyimpannya ke tempat asal. Setelah itu dia pergi dari ruang makan dan seperti biasa merawat Papanya yang tidak bisa bergerak dari tempat tidur. Hidup Sakura memang berat, namun dia dengan ikhlas menjalani itu semua tanpa mengeluh. Walaupun sesekali dia ingin menyerah tapi ketika dia teringat dengan Papanya dia seperti mendapatkan suntikan semangat yang baru. Memang tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini tanpa mengeluh. Setinggi apapun jabatan mereka, mereka juga akan mengalami titik terendah. Apalagi dengan mereka yang memiliki hidup yang sulit dan rumit, seperti ingin mengakhiri hidup saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN