Sebelas

1028 Kata
Pandu terus menundukkan kepalanya. Bahkan dia tidak merespon ketika Sakura memanggilnya. Hal itu membuat Sakura sedikit jengkel. Dia merasa seperti sedang diacuhkan oleh Pandu. Laki-laki itu yang mengajaknya untuk makan terlebih dahulu dan sekarang dia juga diacuhkan. Sakura meletakkan ponselnya di atas meja dengan cukup keras. Hal itu membuat Pandu sedikit terkejut. Dia langsung mendongakkan kepalanya dan fokus kepada Sakura. Karena dia tidak bisa melihat ekspresi Sakura, dia hanya memasang wajah datar dan itu membuat Sakura bertambah jengkel. "Ada apa?" Tanya Pandu sedikit bingung. Suaranya sangat pelan dan lembut. "Gapapa jengkel aja, pengen balik." Jawab Sakura dengan sedikit ketus. Pandu tidak mengerti namun mendengar jika Sakura jengkel dia sedikit demi sedikit bisa membayangkan bagaimana raut wajah Sakura saat ini. Pasti saat ini keningnya berkerut dengan bibir mengerucut. Walaupun dia belum pernah melihat Sakura, namun dia bisa membayangkan dari suara dan bentuk tubuh Sakura. Pandu yakin jika Sakura adalah salah satu wanita cantik yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengisi bumi ini. "Oh iya kita belum kenalan." Kata Pandu mencoba membuka obrolan. "Namaku Pandu." Kata Pandu lembut sambil mengulurkan tangannya. Tidak lupa senyum manis tersungging di bibirnya. Sakura melihat uluran tangan Pandu sekilas. Dia ragu untuk menjabat tangan itu namun dia juga tidak bisa membiarkan orang lain menunggu jabatan tangannya. Toh laki-laki ini berniat baik untuk berkenalan bukan untuk hal buruk. "Aku Sakura, orang biasa memanggilku Ara." Jawab Sakura memperkenalkan dirinya dengan pelan. "Nama yang cantik." Kata Pandu sambil tersenyum. Dia melepaskan jabatan tangannya dengan Sakura. "Banyak yang bilang gitu." Balas sakura sambil menundukkan kepalanya. Pandu mengernyitkan dahinya. Dia merasa jika Sakura sedang sedih sekarang. "Kenapa? Bukannya bagus punya nama yang artinya bagus?" Tanya Pandu bingung. "Sesuai namaku, setiap ada kebahagiaan pasti ada kesedihan, begitu ada kelahiran pasti ada kematian. Hidup memang tidak mudah untuk dijalani." Jawab Sakura dengan mata yang menatap kosong jauh ke depan. Pandu hanya diam saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya ingin mendengarkan Sakura berbicara. Entah apapun itu pembicaraannya, dia akan tetap mendengarkannya. "Seperti aku yang dulu selalu merasa bahagia, kini semuanya jadi terbalik." Kata Sakura mulai bercerita. Entah apa yang membuatnya ingin menceritakan tentang hidupnya padahal mereka baru saja kenal. Sakura merasa tidak takut sama sekali jika laki-laki ini bisa saja memiliki niat buruk. Pandu menganggukkan kepalanya pelan. Dia sedikit demi sedikit bisa mengerti mengapa kemarin Sakura mengalami hal yang jahat seperti itu. Mungkin itu yang dimaksud Sakura jika dulu dia hidup bahagia dan sekarang sebaliknya. Memang benar takdir Tuhan tidak ada yang bisa memprediksi. Apa yang dikira bagus belum tentu bagus. Proses yang berat belum tentu hasilnya juga berat. Semua hanya bisa menjalaninya sesuai dengan skenario yang sudah ditulis. ^^^ Malam hadir menggantikan siang. Rembulan bertugas menyinari bumi setelah matahari menyelesaikan tugasnya. Kerlap lintang bertebaran dilangit menambah indah langit malam ini. Hembusan angin bertiup menggerakkan rambut Sakura. Walaupun angin itu tidak kencang namun hawanya mampu merasuk ke dalam tubuh Sakura. Sakura mengeratkan jaketnya untuk menghangatkan tubuhnya dari amukan angin. Dia mengapit tali tasnya agar tidak terjatuh. Jalannya sangat pelan menapaki satu per satu aspal jalan. Berjalan seorang diri ditengah sepinya malam. Sakura berhenti di depan rumah megah dengan pagar tinggi dan masih terkunci rapat. Dia mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Dia seakan-akan sedang mengingat masa-masa kecilnya. Rumah sederhana yang dia tinggali bersama Papa dan Mamanya. Dulu dia sangat bahagia, menjadi putri yang mendapatkan kasih sayang dengan sepenuh hati. Mamanya menjaganya dengan baik dan Papanya tidak pernah membiarkan dia menangis. Semuanya memberikan kasih sayang yang banyak untuknya. Saat itu dia merasa seperti anak yang paling bahagia di dunia. "Ara rindu sama Mama." Kata Sakura lirih. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Sakura tiba-tiba duduk. Dia menenggelamkan wajahnya ke pangkuannya. Dia menangis sesenggukan. Beberapa tahun ditinggal oleh sang bunda membuat hidup Sakura menjadi berat. Dulu dia masih memiliki Papa yang dengan sigap membelanya dan membantunya. Saat itu hidupnya tidak terlalu berantakan. Namun 5 tahun terakhir ini, Sakura merasa jika hidupnya benar-benar berantakan. Dia seperti hidup ditepian jurang dengan jalan licin yang sewaktu-waktu bisa membuatnya terpeleset jatuh ke dasar jurang. Tin tin... Bunyi klakson mobil mengagetkan Sakura. Ditambah cahaya lampu mobil yang terang membuat mata Sakura silau saat menoleh ke belakang. "Lo mau mati?" Tanya pengendara mobil itu dengan kasar. Sakura hanya diam saja. Perlahan dia bangkit dari duduknya dan minggir memberi jalan mobil itu. Dia hanya berdiri dengan mengapit tasnya sambil memperhatikan mobil mewah itu. Itu adalah salah satu mobil miliknya namun sekarang sudah menjadi milik saudara tirinya. "Bukain pagernya malah diem aja." Teriak orang itu lagi. Sakura sedikit berjinggat kaget. Namun dia dengan cepat menuruti ucapan saudara tirinya itu. Dia tidak ingin memancing masalah dan membuatnya berakhir menderita lagi. Mobil putih itu kembali jalan, dia masuk ke pelataran rumah megah itu dengan gagah. Sakura menutup kembali pagar rumah dan menguncinya. Setelah itu Sakura menuju rumah dan memilih lewat pintu belakang. Dia terlalu malas untuk bertemu dengan ibu dan saudara tirinya. Sakura membuka pintu kamar yang ditempati oleh Papanya. Dia ingin melihat bagaimana kondisi Papanya. Laki-laki setengah baya itu hanya bisa berbaring di ranjang. Tidak ada yang benar-benar mengurusnya. Sakura hanya bisa menemaninya disela-sela waktu luang Sakura. Karena Sakura sendiri juga memiliki pekerjaan lain. Sakura masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu itu lagi. Tangannya terulur memegang tangan Pak Joko. Dia kembali menangis melihat kondisi Papanya yang tidak ada perkembangan. Setetes air mata jatuh ke punggung tangan Joko. Dia tidak tahan menahan tangisnya lagi. Sakura tidak tahu bagaimana caranya untuk bangkit lagi. Mengembalikan kehidupan nyamannya seperti dulu lagi. Hanya ada senyum dan tawa tanpa air mata kesedihan. "A...a..ra kkkeernapa... mmmee... nangis?" Tanya Pak Joko dengan susah payah. Dia merasakan ada sesuatu yang menetes dipunggung tangannya. Sakura mendongakkan kepalanya. Dia melihat Papanya yang sudah membuka matanya. Dia dengan cepat menghapus air matanya dan menyunggingkan senyumnya dengan lebar. "Ara bikin Papa bangun ya? Maafin Ara ya, Pa." Kata Ara dengan lembut. Dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Joko menggelengkan kepalanya. Tangannya yang lemah terangkat untuk mengusap pipi Sakura yang basah karena tetesan air mata. Dia tidak ingi melihat putrinya bersedih apalagi menangis seperti itu. Walaupun dia sendiri juga tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan putrinya. Joko merasa jika dia adalah orang tua yang tidak berguna. Dia tidak bisa melindungi Sakura dari kekejaman istri mudanya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN