Tuhan menciptakan takdir bukan semata-mata untuk melengkapi jalan hidup setiap umat. Namun dia menciptakan takdir sesuai dengan akhir cerita bahagia yang akan dirasakan. Terkadang untuk mencapai puncak perlu melewati bukit bebatuan. Sesekali kaki tersandung bahkan tubuh terjatuh. Namun, tekad yang kuat tidak akan membuat impian menjadi lemah. Ribuan rintangan akan terlewati dengan satu lompatan. Semua itu butuh proses dan kesabaran. Karna usaha tidak akan pernah berkhianat.
Sekali ditolak tidak membuat Sakura putus harapan. 5 perusahaan yang menolaknya masih ada 500 perusahaan lainnya yang akan menerima dia sebagai pegawai. Dia yakin dia bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya. Hari ini ditolak masih ada hari esok dan esoknya lagi.
Tin tin... Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Sakura. Sakura menoleh ke belakang dan melihat mobil hitam berjalan pelan ke arahnya. Sakura mengerutkan dahinya karena berpikir jika dia pernah melihat mobil itu. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sampingnya. Kaca mobil itu terbuka menampilkan seorang laki-laki yang tidak asing baginya.
"Mau kemana?" Tanya laki-laki itu pelan.
"Cari kerjaan." Jawab Sakura dengan jujur.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan jawaban Sakura. Semalam dia melihat Sakura tinggal dirumah mewah dengan 3 lantai tapi kenapa hari ini Sakura terlihat pontang-panting mencari pekerjaan. Pandu semakin tertarik dengan jalan hidup Sakura.
"Kemana? Ayo aku antar." Kata Pandu dengan lembut. Dia menawarkan tumpangan kepada Sakura karena tidak tega melihat Sakura yang berjalan kaki sendiri di tengah terik matahari yang panas ini.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak perlu, aku juga lagi muter masukin lamaran pekerjaan diperusahaan-perusahaan." Jawab Sakura menolak dengan lembut.
Pandu turun dari mobilnya. Dia berdiri di depan Sakura. Matanya melihat beberapa map coklat yang didekap oleh Sakura. Dia bisa menghitung ada lebih dari 5 map coklat terlihat dari tebalnya map yang didekap oleh Sakura.
"Ayo aku antar. Kemana aja aku temenin." Kata Pandu dengan lembut dan tulus.
"Kamu nggak punya pekerjaan?" Tanya Sakura pelan.
Pandu tersenyum mendengar pertanyaan dari Sakura. Nada bicara Sakura memang terdengar pelan namun suasanya terasa dingin dan heran. Dimata Sakura dia seperti laki-laki pengangguran yang hanya menghabiskan waktu dengan bermain saja.
"Aku lagi nggak sibuk sih hari ini, jadi bisa anterin kamu." Jawab Pandu sedikit gelagapan karena dia bingung harus memberi alasan apa.
Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Sepertinya dia faham dengan jawaban Pandu. Walaupun dia belum mengerti dengan pekerjaan yang dimaksud oleh Pandu namun dia berusaha memahaminya.
Pandu membuka pintu mobil penumpang. Dia tersenyum ke arah Sakura yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Dia memberi isyarat kepada Sakura agar sakura mau masuk ke dalam mobilnya.
"Ayo masuk." Kata Pandu lembut ketika melihat Sakura yang masih setia berdiri di sana. Ini sudah lebih dari satu menit dan belum ada tanda-tanda Sakura akan beranjak mendekat ke arahnya.
"Kamu beneran nggak sibuk?" Tanya Sakura sekali lagi memastikan. Dia tidak ingin menghambat pekerjaan Pandu gara-gara mengantarkan dia cari pekerjaan.
Pandu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, udah ayo masuk." Kata Pandu dengan lembut.
Sakura melangkahkan kakinya mendekati Pandu. Dia berpikir mungkin lebih baik dia menerima tawaran Pandu yang akan mengantarnya. Lagi pula itu juga bisa memangkas pengeluaran biaya transportasinya.
"Terima kasih." Kata Sakura pelan sebelum masuk ke dalam mobil.
"Iya." Jawab Pandu lembut. Dia menutup pintu mobil itu setelah memastikan Sakura sudah duduk dengan tenang.
Dua orang yang tidak saling mengenal namun duduk bersebelahan. Keberadaan mereka di dalam satu mobil yang sama membuat suasana menjadi canggung. Terlebih ini adalah pertemuan mereka yang kedua kalinya setelah pertemuan pertama mereka terjadi karena insiden yang membuat Sakura terluka. Mereka tidak pernah mengira jika akan bertemu di tempat yang tak terkira sebelumnya. Sakura sama sekali tidak pernah berfikir jika dia akan bertemu dengan Pandu lagi, walaupun Pandu sudah berencana untuk menemui Sakura kembali. Namun sepertinya takdir mereka baru saja dimulai. Tanpa janji dan tanpa rencana sebelumnya, mereka kembali bertemu ditempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apakah setelah ini akan ada kebetulan-kebetulan lainnya ataukah semua memang sudah direncanakan oleh Sang Pencipta?
^^^
Suara musik klasik menggema di dalam mobil. Beberapa saat yang lalu suasana hening memenuhi mobil. Pandu yang tidak menyukai suasana canggung memilih untuk menyalakan musik dan Sakura tidak mempermasalahkan itu. Sesekali Sakura ikut menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan musik yang masuk ke gendang telinganya. Walaupun itu pertama kalinya dia mendengar, tapi alunan musiknya yang asik membuat Sakura ikut terhanyut ke dalam lagu. Bahkan Sakura merasakan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu itu.
"Kemana lagi setelah ini?" Tanya Pandu pelan. Ini sudah lebih dari 2 jam dia menemani Sakura mencari pekerjaan. Dan sudah ada 6 perusahaan yang Sakura datangi. Namun 6 perusahaan itu sama-sama menolak Sakura.
"Pulang saja. Aku akan lanjutkan besok lagi." Jawab Sakura pelan. Kepalanya menunduk sambil melihat amplop coklat yang dia dekap sedari tadi. Banyak tempat yang sudah dia datangi tapi belum satupun yang menerimanya.
Pandu melirik ke arah Sakura. Seketika hatinya ikut terenyuh melihat Sakura yang menyimpan kesedihan itu. Dia ingin membantu Sakura namun dia sendiri juga tidak punya banyak teman untuk dimintai informasi tentang lowongan pekerjaan. Dia juga tidak bisa merekrut Sakura menjadi karyawannya karena dia tidak ingin Sakura mengetahui tentang penyakitnya. Walaupun semua karyawannya juga tidak ada yang tahu tentang kehadirannya, tetap saja Pandu tidak ingin Sakura menjadi salah satu bagian dari karyawan itu.
"Kita makan dulu ya. Dari tadi belum makan sama sekali." Kata Pandu pelan.
"Aku nggak lapar." Jawab Sakura berbohong. Sebenarnya dia sangat lapar namun dia memilih menahannya dan makan di rumah daripada mengeluarkan uang untuk makan di luar. Apalagi makan bersama seseorang pasti akan membutuhkan banyak uang.
"Aku yang akan traktir kamu sebagai rasa terima kasihku karena kamu sudah menolongku kemarin." Kata Pandu dengan senyumnya yang lebar.
Sakura merasa tidak enak. Sejak kemarin laki-laki yang ada disampingnya itu selalu berbuat baik dengannya hingga dia merasa sungkan. Laki-laki ini juga selalu mengantarnya ketika dia mencari pekerjaan.
"Tidak perlu, kemarin kamu sudah membayar tagihan rumah sakit dan mengantarku pulang." Jawab Sakura menolak. Dia tidak bisa terus menerus menerima perilaku baik dari laki-laki yang ada di samping ini.
"Santai saja. Kau sudah menyelamatkan nyawaku." Kata Pandu lagi.
Sakura tertawa mendengar ucapan Pandu. Dia merasa jika Pandu terlalu melebih-lebihkan apa yang sudah dia lakukan. Toh apa yang dia lakukan kemarin memang harus dia lakukan. Tidak mungkin dia acuh ketika melihat seseorang yang akan celaka. Jika dia bisa menolong pasti akan dia tolong.
"Kalaupun waktu itu kau ditabrak oleh anjing itu, kau tidak akan mati. Mungkin hanya luka saja." Kata Sakura sambil tersenyum. Dia tetap merendah karena tidak ingin menerima sanjungan dari laki-laki itu.
Pandu juga ikut menyunggingkan senyumnya. Dia merasa jika ucapan Sakura benar. Ditabrak oleh anjing liar tidak akan membuatnya meninggal. Mungkin hanya luka goresan saja pada tubuhnya.
"Jalan hidup setiap orang tidak ada yang tau. Bisa saja penyebab kematianku adalah tertabrak anjing liar." Kata Pandu mencoba membela dirinya dari bahan tertawaan Sakura. Namun bukannya Sakura berhenti tertawa malah membuat Sakura tertawa dengan keras. "Kalau memang penyebab kematian kamu adalah ketabrak anjing, pasti Tuhan nggak akan ngirim aku buat nolongin kamu." Bantah Sakura disela-sela tawanya.
"Mungkin ini jalan hidup yang lain. Tuhan memang ingin mempertemukan kita." Kata Pandu lagi.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia lebih memilih untuk diam daripada terus berdebat dengan Pandu yang tidak akan ada habisnya.
"Kita makan di depan ya." Kata Pandu begitu dia melihat restoran cepat saji yang tidak jauh dari dia.
"Terserah saja." Jawab Sakura pelan.
Pandu menyunggingkan senyumnya. Dia menghentikan mobilnya di depan restoran itu. Mobilnya dia parkirkan berjejeran dengan mobil yang lain. Setelah dia memastikan mobil sudah terparkir dengan benar, dia mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil. Begitu juga dengan Sakura yang mengikuti Pandu. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam restoran. Pandu memilih tempat yang paling pojok karena tempat itu yang paling sepi dengan pengunjung lain. Sejak dia mengidap prosopagnosia, dia merasa tidak tenang berada ditempat umum. Dia tidak suka berkumpul dengan banyak orang. Hanya bisa melihat tubuh orang lain tanpa bisa melihat wajah mereka membuat Pandu merasa ketakutan sendiri. Itu terasa seperti hidup dalam kegelapan. Tidak bisa melihat apa yang seharusnya dia lihat. Tidak bisa menikmati apa yang diciptakan oleh Sang Kuasa. Terlebih dia tidak bisa melihat apakah seseorang itu berbicara jujur kepadanya atau sedang membohonginya.