Sembilan

1229 Kata
Pandu mengemudikan mobilnya dengan tenang. Walaupun jalanan sangat ramai dia tidak merasa jenuh tapi dia malah merasa ingin berlama-lama di dalam mobil. Mungkin karena kehadiran gadis yang ada di sampingnya itu. Sesekali Pandu menoleh ke samping kanannya ketika telinganya mendengar suara dengkuran yang sesekali terdengar. Bukannya risih dia malah tersenyum mendengarnya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang tidur dengan nyenyak di sampingnya. "Aku nggak tau apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Kamu memilih untuk pulang sedangkan sebenarnya kamu butuh istirahat." Kata Pandu sambil menatap Sakura lekat. Pandu kembali fokus ke jalanan ketika suara klakson dari mobil lain membuyarkan lamunannya. Dia melamunkan memikirkan tentang gadis penolongnya itu. Semakin lama dia semakin penasaran dan ingin mengetahui tentang kehidupan gadis itu. Pandu merasa hidup Sakura sangat berat untuk dijalani. Namun melihat alamat rumah yang diberikan Sakura, Pandu yakin jika Sakura berasal dari keluarga yang berada. Karena kawasan perumahan itu adalah perumahan elit. Hanya orang-orang yang mempunyai banyak uang yang tinggal di sana. Pandu membelokkan mobilnya ke arah perumahan. Setelah itu dia menghentikan mobilnya di depan pintu perumahan karena seorang satpam menghadang mobilnya. Pandu menepuk bahu Sakura pelan untuk membangunkan gadis itu. Dia tidak tahu rumah Sakura yang mana dan Sakura hanya memberikan alamat rumah sampai di depan kompleks saja. "Bangun. Kita sudah sampai di depan perumahan tempat tinggal kamu." Kata Pandu pelan. Dia membangunkan Sakura dengan sangat lembut bahkan tepukannya terasa seperti elusan yang membuat Sakura semakin nyenyak dalam tidurnya. "Hey, bangun. Aku harus mengantarmu kemana?" Tanya Pandu dengan bingung. Orang yang dia bangunkan sedari tadi masih belum membuka matanya. Kaca jendela diketuk oleh satpam. Pandu semakin panik, dia takut jika satpam itu salah sangka dengannya. Pandu yakin jika satpam itu pasti mengenal Sakura, tapi melihat Sakura dalam keadaan tidak sadar ini akan membuat satpam itu salah faham dan mengira jika dia adalah orang yang jahat. "Sampai mana?" Tanya Sakura pelan yang kini sudah mulai sadar dari tidurnya. Pandu menghela nafasnya lega. Ketika dia merasa sangat panik, Sakura bangun di saat yang tepat. Gadis itu mengusap matanya dan menghadap ke arah Pandu. Setelah dia benar-benar sadar dia melihat keluar mobil dan dia merasa sangat kenal dengan daerah itu. Itu adalah daerah rumahnya. Rumah yang sudah dia tempati sejak lahir. Hanya saja dulu rumah itu tidak semegah sekarang. Rumah itu sudah mengalami beberapa kali renovasi hingga sekarang terlihat sangat megah itu. "Oh kita sudah sampai. Terima kasih sudah mengantarku pulang." Kata Sakura sambil tersenyum. Kaca jendela terus diketuk dan membuat Pandu merasa risih. Dia langsung membuka kaca itu dan melongokkan kepalanya keluar jendela. "Mau mengantar teman saya pulang." Kata Pandu kepada satpam itu. Padahal satpam itu belum bertanya kepada Pandu namun Pandu sudah mengerti. Satpam itu melihat di kursi penumpang. Dia melihat gadis cantik yang sangat dia kenal itu. Gadis itu adalah gadis yang selalu menebar senyum walaupun hidupnya sangat berat. "Oh iya silakan masuk." Kata satpam mempersilakan Pandu masuk ke dalam perumahan. "Terima kasih." Kata Pandu dengan tersenyum. Pandu kembali menjalankan mobilnya. Dia masuk ke dalam perumahan dengan pelan karena memang dia tidak tahu rumah Sakura yang mana. Semua rumah disana berdiri dengan sangat megah menandakan pemiliknya bukan orang yang berpenghasilan rendah. "Berhenti. Sampai di sini saja." Kata Asoka meminta Pandu untuk menghentikan mobilnya. Sakura merasa jika dia tidak boleh membawa Pandu mampir ke rumah karena kondisi keluarganya yang berantakan. "Rumah kamu yang mana?" Tanya Pandu pelan. Dia ingin tahu rumah yang mana yang dihuni oleh Sakura. "Ini udah deket kok. Aku bisa jalan kaki." Kata Sakura menolak tawaran Pandu yang ingin mengantarnya sampai di rumah. "Aku antar." Kata Pandu tetap keras kepala. Sakura melepas sabuk pengamannya. Dia mengambil tas kecil miliknya yang ditaruh oleh Pandu di kursi penumpang. Setelah Sakura memastikan jika barang-barang yang dia bawa sudah tidak tertinggal di mobil Pandu, dia langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Karena Sakura berfikir jika dia tidak akan kembali bertemu lagi dengan Pandu jadi dia tidak ingin barangnya tertinggal. "Terima kasih tumpangannya." Kata Sakura dengan sopan sebelum dia benar-benar pergi. Dia menundukkan kepalanya untuk memberi salam. Pandu hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Dia masih menatap Sakura yang sudah mulai berjalan. Dia memperhatikan gadis itu yang berjalan menuju salah satu rumah megah. Bahkan rumah itu terlihat sangat megah dibanding rumah yang lainnya. Hingga akhirnya Pandu merasa marah melihat sesuatu yang menimpa Sakura. Namun dia tidak bisa melakukan apapun karena setelah itu Sakura sudah hilang dari pandangannya. *** Pandu menggenggam kemudi dengan sangat erat. Entah mengapa dia merasa emosi dengan apa yang dia lihat tadi. Hatinya ikut sakit namun dia tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat saja. "Arrgghhhh..." Teriak Pandu dengan emosi. Dia sangat marah namun orang yang pantas untuk dimarahi adalah dirinya sendiri. "Kenapa dia harus diam saja saat diperlakukan seperti itu?" Teriak Pandu lagi. Pandu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Sakura. Kini dia tahu alasan Sakura bersikeras untuk tetap pulang ke rumah. Karena Sakura tidak ingin dijadikan korban wanita jahat itu. ~Flashback On~ Pandu memperhatikan Sakura yang terus berjalan ke salah satu rumah. Bahkan kini dia sudah masuk ke halaman rumah itu. Pintu gerbang yang masih terbuka entah karena lupa atau memang disengaja membuat Pandu bisa melihat keadaan di depan rumah itu. Semula Pandu merasa tenang karena Sakura bisa berjalan seperti orang sehat. Namun baru saja Sakura menginjakkan kaki di teras rumah, seorang perempuan paruh baya meneriakinya dengan cukup keras hingga membuat Sakura menundukkan kepalanya takut. "Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" Teriak wanita paruh baya itu yang samar-samar bisa didengar oleh Pandu karena dia sudah keluar dari mobilnya dan berencana untuk menolong Sakura. Namun dia memilih untuk berdiri di depan pagar rumah dan kakinya sangat sulit melangkah. "Sakura kerja, Bu." Jawab Sakura dengan suara bergetar. "Itu hanya alibimu saja. Saya habis kesana dan menejer kamu tidak tahu kamu kemana." Jawab wanita itu lagi. Sakura semakin menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Ibu tirinya sampai mencarinya ke restoran tempatnya bekerja. Sakura merasa ini adalah akhir dari kebohongannya hari ini. "Kamu mau kabur dari saya? Inget ya kalau kamu kabur, Papa kamu jadi korbannya. Kamu nggak akan bisa ketemu dia lagi." Ancam Bu Elmi dengan kejam. Dia menarik rambut Sakura hingga Sakura mendongak ke atas. Sakura merintih kesakitan, matanya berkaca-kaca namun dia mencoba untuk menahan tangisnya agar tidak keluar. Dia beberapa kali mengeluh kesakitan agar Ibunya mau melepaskan rambutnya, namun yang ada malah membuat Ibunya kesetanan dan semakin keras menarik rambutnya hingga Sakura tersungkur ke lantai. Pandu memelototkan matanya melihat Sakura yang tersungkur ke lantai. Tangannya mengepal karena tidak terima melihat gadis penolongnya diperlakukan buruk seperti itu. Dia ingin menolong gadis itu namun baru selangkah, matanya sudah melihat Sakura yang ditarik masuk ke dalam rumah. Pandu hanya bisa melihat rumah yang terkunci rapat itu dengan hati yang meminta kepada Tuhan agar Tuhan melindungi gadis penolongnya itu. Dengan hati yang memendam amarah, dia memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Lebih baik dia pulang ke rumah dan kembali lagi besok. Karena dia sangat mengkuatirkan keadaan Sakura. Kini dia mengerti kenapa Sakura ngotot ingin pulang, mungkin karena perlakuan Ibunya yang kasar itu membuat Sakura tidak bisa meninggalkan rumah. ~Flashback Off~ Pandu menghentikan mobilnya. Dia diam sejenak sambil matanya menatap lurus ke depan. Pikirannya berkecamuk memikirkan tentang Sakura. Dia menjadi menyesal karena memilih untuk berbalik daripada menolong Sakura. Kini dia kuatir jika wanita paruh baya itu berbuat hal yang lebih kasar kepada Sakura. "Harusnya aku nolongin dia tadi." Gumam Pandu pelan. Dia menempelkan dahinya ke kemudi. Memang penyesalan selalu datang diakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN