Sakura membuka matanya perlahan. Dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya ketika matanya terbuka. Dia mengernyitkan kepalanya ketika tahu jika itu adalah ruangan asing bagi Sakura. Itu bukan kamarnya atau kamar Papanya dan dia tidak tahu dia berada dimana. Samar-samar dia mendengar suara seseorang yang berisik sedang memanggil dokter. Sakura sedikit menolehkan kepalanya untuk melihat siapa orang itu. Dan lagi-lagi Sakura merasa asing. Dia tidak kenal dengan orang yang berada disampingnya dengan raut wajah yang kuatir.
"Saya periksa dulu." Kata Dokter itu dengan sigap. Dia memeriksa keadaan Sakura.
Pandu menganggukkan kepalanya pelan. Dia memperhatikan Dokter yang memeriksa Sakura tersebut. Sakura hanya bisa berbaring diam sambil menuruti ucapan Dokter yang memeriksanya. Kepalanya masih terasa pusing dan perlahan-lahan dia ingat apa yang tadi dia alami.
"Jangan banyak bergerak dulu. Harus istirahat yang cukup. Besok sudah bisa pulang." Kata Dokter itu menjelaskan. Tutur katanya sangat lembut membuat orang yang mendengar ikut menghangat.
"Terima kasih, Dok." Jawab Pandu dengan pelan.
Sakura hanya diam saja. Dari raut wajahnya terlihat jika dia masih merasa pusing. Dia kembali memejamkan matanya agar sakit yang dia rasakan tak terlalu terasa.
"Kamu sudah merasa baikan?" Tanya Pandu pelan. Dia mendekati Sakura dan bertanya dengan penuh perhatian.
Sakura menganggukkan kepalanya pelan. "Jam berapa sekarang?" Tanya Sakura dengan suara yang terdengar sangat lemah.
"Baru jam 8." Jawab Pandu setelah dia mengeceknya di jam tangan yang melingkar ditangannya.
Sakura membuka matanya. Dia melirik ke arah jendela. Dan dia menatap langit yang sudah berubah menjadi gelap. Bahkan mata Sakura juga bisa melihat gemerlap bintang yang tersebar di sana.
Sakura mencoba untuk bangun walaupun tubuhnya masih terasa lemah. Pandu yang melihat itu langsung melarang Sakura dan meminta Sakura agar tetap berbaring di ranjang. Dia tidak ingin luka Sakura bertambah sakit dan membuat gadis itu tak kunjung pulih.
"Mau kemana?" Tanya Pandu cepat.
"Pulang." Jawab Sakura singkat.
"Nggak boleh." Larang Pandu dengan tegas.
"Aku harus pulang. Keluargaku pasti sedang menungguku dirumah sekarang." Jawab Sakura memberi alasan. Dia hanya berbohong saat mengatakan keluarganya sedang menunggu. Ya, mungkin saat ini mereka sedang menunggunya pulang, namun bukan karena kerinduan tapi hanya untuk disuruh melakukan pekerjaan.
"Kamu nggak denger yang dibilang Dokter tadi, kamu baru boleh pulang besok." Kata Pandu seolah-olah mengingatkan Sakura.
"Tapi aku harus pulang. Aku punya keluarga di rumah." Bantah Sakura lagi.
"Kasih nomor orang tua kamu, aku akan bilang ke mereka kalau kamu baik-baik saja dan mereka tidak perlu merasa kuatir lagi." Kata Pandu sambil merogoh ponselnya dari saku jaketnya.
"Nggak perlu." Jawab Sakura ketus.
Sakura tetap mencoba bangun dari ranjang. Kepalanya masih sangat berat dan tubuhnya sangat lemah. Pandu yang semula bersikeras menahan Sakura, kini hanya bisa melihat gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandu menilai jika Sakura adalah gadis yang keras kepala.
"Ahhhh..." Keluh Sakura ketika dia terjatuh saat memaksa untu tetap berjalan.
"Aku bilang juga apa." Gumam Pandu pelan. Dia masih memperhatikan Sakura dan belum ada niatan membantu Sakura. Dia tidak mau jika mendapatkan penolakan lagi dari Sakura seperti tadi. Dia lebih memilih untuk diam saja hingga gadis itu sendiri yang meminta bantuannya.
Sakura duduk bersimpuh dilantai begitu dia terjatuh. Dia menarik nafasnya dengan dalam dan mencoba mengumpulkan semua kekuatannya agar bisa kembali berdiri. Tubuhnya masih terasa lemas dan matanya ingin terus terpejam. Ditambah bekas jahitan yang ada dipelipisnya terasa sangat menyakitkan. Sakura ingin menyerah saja namun dia juga harus segera sampai di rumah. Dia lebih mengkuatirkan keadaan Papanya dibandingkan lukanya yang belum sembuh.
Pandu yang melihat Sakura bersimpuh dengan badan lemah membuatnya tidak tega. Awalnya dia ingin membiarkan Sakura karena sifat Sakura yang egois. Namun melihat gadis itu kesulitan membuat hati Pandu ikut tidak nyaman.
Pandu memegang bahu Sakura, tangan kanannya masuk ke sela kaki Sakura yang terkekuk. Setelah itu dia mengangkat Sakura dengan perlahan. Merasa tubuhnya yang tiba-tiba melayang membuat Sakura terkejut. Dia dengan refleks melingkarkan tangan kanannya ke leher Pandu. Sakura memperhatikan wajah Pandu dari dekat. Walaupun matanya masih melihat dengan samar namun dia tahu jika Pandu memiliki paras yang menawan.
"Jangan sok kuat!" Kata Pandu dingin namun terdengar sangat perhatian.
"Aku mau pulang." Jawab Sakura lembut.
"Kamu harus pulih dulu." Kata Pandu lembut.
Pandu kembali mendudukkan Sakura di atas ranjang. Dia menatap Sakura dengan lekat seakan-akan dia orang normal yang bisa melihat wajah orang lain. Tapi ternyata tetap saja sekuat apapun dia berusaha untuk melihat wajah orang yang ada dihadapannya tetap tidak bisa melihatnya.
"Aku harus pulang. Sungguh aku harus pulang, ada hal yang ingin aku pastikan di rumah." Kata Sakura dengan penuh penekanan. Dia seperti sedang memohon kepada Pandu agar diizinkan pulang.
"Kamu seperti ini karena aku, jadi aku harus tanggung jawab dengan kesehatan kamu." Kata Pandu masih perhatian.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil." Balas Sakura.
Pandu diam saja. Dia tidak beralih dari wajah Sakura. Tatapannya semakin lama semakin lekat membuat Sakura salah tingkah. Sakura menundukkan kepalanya karena malu ditatap sedemikian rupa oleh Pandu.
"Besok saja kamu pulang seperti yang dikatakan oleh Dokter tadi." Kata Pandu tegas.
Sakura hanya diam saja. Dia tidak menjawab ucapan Pandu. Sakura merasa akan sulit kabur dari laki-laki yang dia tolong tadi. Sakura menjadi sedikit menyesal sudah menolong laki-laki yang tidak dia kenal itu. Jika saja dia tidak menolong laki-laki itu, pasti saat ini dia tidak akan berada disini.
"Harusnya aku biarkan saja dia tadi." Gumam Sakura pelan namun masih bisa didengar oleh Pandu.
Pandu mengernyitkan keningnya. "Kamu menyesal sudah menolongku?" Tanya Pandu pelan. Dia merasa tidak suka dengan ucapan Sakura tadi.
"Bukannya begitu. Tapi aku benar-benar harus pulang." Jawab Sakura lagi.
"Kenapa? Kamu sudah punya anak dan nggak bisa ninggalin dia?" Tanya Pandu dengan nada yang tidak suka. Dia merasa tidak suka melihat Sakura yang terus membantah dan tidak menuruti ucapannya. Padahal mereka adalah dua orang yang tidak saling mengenal.
"Aku belum pernah menikah." Jawab Sakura menjelaskan. Dia tidak mengerti mengapa Pandu bisa mempunyai pemikiran seperti itu.
"Lalu?" Tanya Pandu lagi semakin penasaran. Baru kali ini dia merasa ingin tahu tentang cewek. Selama ini dia tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun karena memang penyakit yang dia derita membuat dia tidak percaya diri.
"Sulit dijelaskan. Pokoknya aku harus pulang." Kata Sakura terus memohon.
"Kamu tidak merasa bersalah denganku?" Tanya Sakura lirih.
"Aku merasa bersalah, makanya aku ingin kamu tetap di sini dan mendapatkan perawatan yang baik." Jawab Pandu dengan tegas dan jujur. Ya, dia memang ingin melihat gadis itu cepat sembuh. Melihat ada beberapa jahitan dipelipis Sakura membuat Pandu semakin merasa bersalah.
"Aku nggak akan minta ganti rugi apapun dari kamu. Aku hanya ingin kamu izinkan aku pulang sekarang." Kata Sakura lagi.
Pandu diam. Sepertinya laki-laki itu sedang berfikir. Dia bingung saat membuat pilihan. Haruskah dia menuruti permintaan Sakura atau tetap menuruti ucapan Dokter tadi.
"Aku mohon. Aku janji nggak akan minta uang kamu sepeserpun. Bahkan biaya rumah sakit ini juga akan aku yang bayar." Kata Sakura lagi. Dia menangkupkan kedua tangannya sambil memohon kepada Pandu agar dia diperbolehkan untuk pulang.
"Aku yang antar kamu pulang." Kata Pandu setelah dia berpikir cukup lama. Sebenarnya dia masih ragu menuruti ucapan Sakura namun dia juga tidak bisa menahan gadis itu di sini sedangkan dia tidak tega mendengar suara Sakura yang terus merengek meminta untuk pulang.
Sakura tersenyum dengan lebar. "Iya, terima kasih ya." Jawab Sakura dengan gembira.
Pandu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia juga ikut tersenyum melihat Sakura yang bahagia. Walaupun dia tidak bisa melihat ekspresi bahagia Sakura hari ini, tapi dia yakin jika gadis itu sedang gembira terdengar dari suaranya saat bicara.
Pandu membantu Sakura untuk turun dari ranjang. Dia mengalungkan tangannya ke pundak Sakura dan menuntun gadis itu keluar dari ruangan. Namun sebelum mulai berjalan, Pandu mengambil tas milik Sakura dan melingkarkannya ke pinggang.
"Hati-hati." Kata Pandu dengan penuh perhatian.
Pandu mengurus semua di resepsionis. Sedangkan Sakura memilih untuk duduk di ruang tunggu dengan kepala yang dia sandarkan ke dinding. Sebenarnya dia juga ingin istirahat dulu sampai tubuhnya benar-benar pulih. Namun dia tidak bisa meninggalkan Papanya dengan lama. Dia takut jika Ibu dan saudara tirinya berbuat hal yang tidak baik kepada Papanya.
"Ayo!" Ajak Pandu lembut. Dia mengulurkan tangannya di depan Sakura dan kembali membantu Sakura untuk bangkit. Kini dia malah menggendong Sakura agar mereka cepat sampai di mobil. Sedangkan Sakura hanya bisa terdiam sambil melingkarkan lengannya ke leher Pandu. Wajahnya dia tenggelamkan ke d**a Pandu dan dia juga memejamkan matanya. Entah mengapa Sakura merasa sangat nyaman dengan posisi mereka saat ini.
Pandu mendudukkan Sakura di kursi penumpang. Bahkan dia juga memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Sakura. Setelah Pandu merasa semuanya sudah beres kini giliran dia yang masuk ke kursi pengemudi. Perlahan Pandu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Ini." Kata Sakura sambil menyerahkan secarik kertas kepada Pandu.
Pandu yang semula fokus dengan jalanan di depannya kini menoleh ke arah Sakura. Dia melirik kertas yang masih ditangan Sakura dan mengambilnya. Pandu membaca itu sekilas.
"Itu alamat rumahku. Kamu tidak perlu bertanya kemana mengantarkan aku pulang. Cukup baca itu saja dan aku mau tidur dulu." Kata Sakura yang sepertinya tahu isi kepala Pandu.
Pandu tersenyum mendengar penjelasan dari Sakura. Dia kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali fokus ke jalanan yang cukup ramai. Sakura menyandarkan punggungnya di kursi dan mulai memejamkan matanya. Sakura sangat tahu bagaimana kondisi jalanan saat malam seperti ini. Kota Jakarta tidak pernah sepi dari kendaraan. Semakin malam maka jalanan semakin ramai. Dan itu yang terjadi saat ini. Sakura ingin menggunakan kesempatan itu untuk memejamkan matanya sejenak.