"Siapa yang sedang diselidiki oleh suamiku?" Tanya Rani dalam hati.
Ya, orang yang mengintip sedari tadi adalah Rani. Awalnya dia ingin menyusul suaminya namun sebelum dia benar-benar masuk ke ruangan kerja suaminya, dia mendengar seseorang berbincang dari dalam. Rasa penasarannya yang besar mendorong dia untuk menempelkan telinganya ke pintu. Mendengarkan setiap percakapan yang terjadi di dalam. Sayup-sayup dia mendengar ada beberapa foto yang diberikan. Dan lagi-lagi rasa penasarannya itu kembali muncul hingga membuat dia ingin melihat foto siapa itu.
Clek. Rani berjinggat kaget ketika mendengar pintu terbuka. Namun secapat mungkin dia menguasai dirinya. Menyembunyikan rasa terkejutnya supaya suaminya tidak curiga. Namun diluar kendali, malah dia yang melihat suaminya terkejut. Rani menebak suaminya terkejut karena takut apa yang sedang dia sembunyikan terbongkar.
"Sudah lama, Ma?" Tanya Bambang dengan gugup.
"Enggak kok, baru aja pulang." Jawab Rani berbohong. Dalam hati dia memohon kepada Tuhan agar diampuni kebohongannya kepada suaminya. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia dia menguping sedari tadi. Yang ada rencananya untuk mencari foto itu akan gagal.
Bambang menghembuskan nafasnya dengan lega. Terlihat raut wajah yang tegang kini sudah menjadi lebih tenang. Tangannya yang semula gemetar kini sudah berkurang. Dia sudah lebih santai daripada saat awal tadi. Tangannya kembali menutup pintu dan menguncinya. Rani memicingkan matanya ketika melihat suaminya mengunci pintu. Tidak seperti biasanya suaminya melakukan hal itu. Sekarang ruangan kerja itu seakan-akan menjadi ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh suaminya sendiri. Padahal sebelumnya dia sering keluar masuk ke ruangan itu sekadar membaca buku atau membersihkan ruangan.
"Bagaimana tadi arisannya?" Tanya Bambang pelan. Dia melingkarkan tangannya ke pundak istrinya. Mencoba bersikap lembut untuk memanipulasi perhatian istrinya. Dia tahu sedari tadi istrinya melirik ke arah ruangannya. Walaupun dia juga tidak yakin jika istrinya mengetahui rencananya yang mengawasi Pandu secara diam-diam. Dia akan mencoba mempercayai apa yang dikatakan oleh istrinya barusan. Toh selama mereka menjadi suami istri, istrinya tidak pernah mengecewakannya ataupun berbohong kepadanya.
"Ya kayak biasanya sih, Pa." Jawab Rani pelan. Dia mengikuti suaminya yang mencoba mengalihkan perhatiannya pada ruangan itu.
"Kok tumben pulangnya cepet?" Tanya Bambang lagi. Dia mengajak istrinya duduk di sofa sambil menonton televisi.
Rani menggeser tubuhnya lebih menjauh dari Bambang. Dia merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengan suaminya. Apalagi dia mengetahui jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dia merasa suaminya tidak percaya dengannya hingga tidak mau jujur dengannya.
"Sebenarnya tadi mau shoping dulu tapi jeng Dina udah dijemput suaminya jadi nggak besok-besok aja deh." Kata Rani menjelaskan. Ya, temannya sudah lebih dulu dijemput oleh suaminya yang membuat mereka semua membatalkan rencana belanja bareng.
"Terus kenapa tadi di depan, nggak langsung masuk aja?" Tanya Bambang lagi. Sebenarnya dia ingin mengetes kejujuran istrinya. Dia ingin tahu jawaban apa yang akan dia dengar dari bibir istrinya. Jika istrinya sudah sedari tadi di depan pintu kemungkinan besar istrinya tahu jika dia habis bertemu dengan orang suruhannya.
"Baru mau masuk Papa udah keluar duluan." Jawab Rani dengan santai. Dia sudah seperti pembohong yang hebat. Gerak-geriknya saat menjawab kebohongan itu tidak terlihat dan sudah tidak bisa diragukan lagi. Lagi-lagi dia memohon ampun kepada Tuhan karena sudah berbohong dengan suaminya.
Bambang mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. Dia tersenyum dan mencoba untuk percaya dengan istrinya. Namun dia tetap harus hati-hati agar rencananya tidak ketahuan oleh istrinya. Akan marah besar istrinya jika mengetahui dia diam-diam mengintai setiap kegiatan yang dilakukan oleh Pandu. Karena dia tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang. Kejadian dimanaa istrinya marah besar karena dia mengintai Pandu. Kejadian yang pada akhirnya membuat Pandu memutuskan untuk pergi dari rumah ini.
***
Sakura tidur meringkuk disebelah Papanya. Tangannya memeluk lengan Papanya dengan erat. Janjinya dia ingin menemani Papanya namun yang ada malah dia yang tidur duluan. Joko hanya diam saja tanpa protes. Dia menyadari jika putrinya pasti kecapekan karena sudah bekerja seharian. Belum lagi harus mengurus rumah juga dan mengurusnya yang lagi sakit. Rasanya, Bambang ingin segera sembuh agar tidak terlalu membebani hidup putri semata wayangnya itu.
Ujung matanya meneteskan air mata tatkala dia melihat wajah lelah putrinya. Hanya air mata dan doa yang bisa dia lakukan. Membantu secara fisik dia tidak sanggup, menggerakkan kaki dan tangannya adalah hal yang mustahil bagi dia. Hidupnya benar-benar berubah drastis ketika kecelakaan itu menimpanya. Andai saja jika istrinya masih hidup, mungkin nasibnya tidak akan seburuk ini. Masih ada istrinya yang akan merawatnya dengan baik, mengurus Sakura sehingga Sakura bisa belajar dengan tenang dan membuat Sakura mengurus perusahaannya yang dia yakini akan semakin besar ditangan Sakura. Walaupun usahanya saat ini memang ada kemajuan, tetap saja dia tidak rela karena perusahaan itu dikuasai oleh istrinya yang tidak tahu diri. Istrinya yang membuat hidupnya dan juga hidup Sakura menjadi berantakan. Harta yang sudah dia kumpulan sejak muda dan dia gadang-gadang akan dia berikan kepada keturunannya malah dikuasai oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Baru kali ini dia merasa salah mengambil keputusan. Keputusan ketika dia menikah lagi. Dia berpikir hidupnya akan menjadi baik lagi karena ada istri yang merawatnya, namun justru malah sebaliknya. Istri mudanya hanya merawat hartanya saja dan melupakan dia dengan mudah. Mungkin saja ketika dia sudah tanda tangan pengalihan harta, dia dan Sakura sudah ditendang dari rumah ini.
Joko menatap ke arah orang yang berdiri diambang pintu. Orang itu tersenyum ke arahnya. Ditangannya membawa segelas s**u hangat yang masih mengepulkan asap. Perlahan Joko menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Walaupun kaku namun senyum Joko masih memperlihatkan bagaimana ketampanannya.
"Om belum tidur." Gumam Delon pelan sambil menaruh nampan itu diatas nakas.
Joko menggelengkan kepalanya pelan. Dia ingin bangun dan duduk bersandar. Tidak enak ada Delon namun dia masih berbaring. Delon yang tahu maksud Papa dari gadis yang dia cintai itu dengan cepat membantu Joko. Dia menata bantal dan membantu Joko bersandar.
"Minum susunya ya, Om." Kata Delon dengan lembut.
Joko menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia membuka sedikit mulutnya untuk menerima s**u yang sudah disiapkan oleh Delon. Sudah dua hari ini dia mendapatkan perhatian khusus dari Delon. Entah apa yang membuat Delon seperti itu. Yang jelas dia merasa Delon tidak sejahat tantenya. Walau dengan waktu yang cukup lama, akhirnya dia bisa menghabiskan s**u hangat yang dibuat oleh Delon.
Delon menatap Sakura yang tidur dengan lelap. Matanya tertutup rapat dan wajahnya terlihat sangat teduh. Bahkan ketika dia sudah terlelap pun masih terlihat lelah diwajahnya. Tangannya mengapit lengan Papanya dengan erat seakan-akan takut jika Papanya kabur. Sedikit pun Sakura tidak bergerak walaupun ranjang bergetar karena gerakan yang dilakukan oleh Joko maupun Delon.
"Ddd..ia pasti kekkelelahaann..." Kata Joko dengan berbisik.
Delon mengangguk setuju. Dia tahu sendiri jika Sakura sangat bekerja kerasa dikantor. Mungkin gadis itu ingin membuktikan kepada orang kantor jika dia kompeten supaya dengan cepat mendapatkan peluang promosi jabatan.
"Dia gadis yang hebat. Dia sangat pekerja keras. Om sangat beruntung memiliki anak seperti Sakura." Kata Delon memuji Sakura.
Joko meneteskan air matanya. Lagi-lagi dia dibuat sedih. Dia tidak bisa menjadi ayah yang baik dan membiarkan anak semata wayangnya berjuang sendirian. Bahkan dia terkesan numpang hidup kepada anaknya.
"Om kenapa nangis? Ada yang sakit kah?" Tanya Delon dengan panik. Dia takut jika Joko diam-diam menahan sakitnya.
"Ttiiddakk.. ttiidak ap..a apaaa..." Jawab Joko sambil menggelengkan kepalanya.
"Om tiduran saja." Kata Delon pelan.
Joko menganggukkan kepalanya lagi sebagai jawaban. Delon dengan sabar membantu Joko tiduran lagi. Dia menata bantal agar Joko tidur dengan nyaman. Setelah itu dia menaikkan selimut hingga sebatas pinggang Joko dan juga menaikkan selimut hingga sebatas pinggang Sakura. Delon menyunggingkan senyumnya dan memperhatikan Joko serta Sakura secara bersamaan. Tanpa terasa Joko mulai menutup matanya. Rasa kantuknya sudah datang dan memaksa Joko untuk segera beristirahat.
Delon hanya diam saja sambil menunggu kedua orang yang mulai dia pedulikan itu nyenyak di dalam mimpi. Walaupun hidup mereka sulit, setidaknya mereka harus merasakan kebahagiaan walaupun di dalam mimpi. Ya, hal itu yang diharapkan oleh Delon. Namun dia juga berharap semuanya akan baik-baik saja. Sakura akan mendapatkan haknya kembali, hak yang sudah dirampas oleh Elmi secara paksa. Ya, Delon berharap jalannya lancar tanpa rintangan.