Rani membuka pintu ruangan Pandu dengan pelan. Seperti biasa saat pertama kali baru masuk ke dalam ruangan Pandu, hal pertama yang dilihat adalah kegelapan. Tidak peduli hari masih siang dan cahaya matahari masih bersinar terang, ruangan Pandu tetap saja tidak ada titik cahaya. Pandu benar-benar menutup semua akses cahaya yang akan masuk ke dalam ruangannya. Sekecil apapun celah itu dia tidak akan mengizinkan cahaya bersemayam di dalam ruangannya.
Ruangan yang gelap namun tidak menunjukkan adanya hawa yang engap. Pandu punya cara tersendiri untuk membuat ruangannya menjadi nyaman. Harum vanila masuk ke Indra penciuman ketika ada seseorang yang baru masuk ke dalam. Tangan Rani menyalakan saklar putih yang ada dibalik pintu. Namun Rani mengerutkan keningnya karena tidak melihat cahaya lampu. Rani berpikir itu rusak, dia mencoba untuk terus menekannya.
"Lampunya Pandu lepas, Ma." Kata Pandu dingin. Dia tahu orang yang masuk ke dalam ruangannya adalah wanita yang sudah melahirkannya. Walaupun ruangan sangat gelap, dia tetap bisa tahu siapa yang sedang menemuinya. Apalagi jika Mamanya datang, parfum Mamanya akan langsung masuk ke hidungnya. Parfum favorit Mamanya yang sudah sangat Pandu hafal. Hal itu juga membuat Pandu lebih mudah mengenali Mamanya walaupun dia tidak bisa mengenal wajah Mamanya. Mungkin juga Mamanya sengaja membeli parfum itu untuk membuat tanda bahwa dia datang.
"Aaa..." Teriak Rani terkejut. Walaupun dia tahu jika di dalam ruangan itu mungkin saja ada anaknya, namun dia tetap merasa terkejut mendengar suara orang yang secara tiba-tiba menyapanya.
Rani membuka matanya. Dia menghembuskan nafasnya lega dan mengelus dadanya. Kelakuan putranya semakin hari semakin tidak bisa dinalar. Bahkan dia menjadi ibunya saja tidak bisa menebak hal aneh apa yang akan dilakukan oleh Pandu selanjutnya.
Rani menutup pintunya dan mengunci pintu itu. Dia tidak ingin membuat putranya jengkel karena tidak mematuhi peraturan yang sudah dia buat. Setiap orang yang masuk ke ruangannya harus mengunci kembali pintu dan bersedia berada di ruangan gelap jika memang dia tidak lagi ingin melihat cahaya.
"Kenapa dilepas lampunya?" Tanya Rani dengan heran. Dia menyalakan senter yang ada di ponselnya agar dia tahu dimana letak kursi atau sofa.
"Gara-gara Gilang." Jawab Pandu dengan singkat. Sepupunya itu selalu menyalakan lampu ruangan dan tidak mau mematikan lagi ketika keluar ruangan. Hal itu membuat Pandu jengkel dan memutuskan untuk tidak memakai lampu sekalian.
"Coba kembali ke kehidupan kamu yang normal seperti dulu." Kata Rani mencoba untuk membuka pikiran Pandu. Dia tidak ingin melihat putranya yang menjalani hidup tidak biasa.
"Nanti kalau penyakit ku sudah sembuh, aku akan kembali ke kehidupan yang normal." Jawab Pandu enteng. Kata-kata itu seperti sebuah keputusasaan yang dirasakan oleh Pandu.
Rani diam saja. Dia memperhatikan putranya yang duduk dibalik kursi kebesarannya. Dengan penerangan yang dia dapat dari senter ponsel membantu Rani melihat wajah tampan putranya. Ingin rasanya dia memeluk dan menuntun laki-laki itu agar keluar dari lembah hitam yang menyesakkan d**a ini. Namun, sebanyak apapun dia mencoba tetap saja penolakan yang dia dapatkan. Pandu benar-benar keras kepala dan terus saja menolak.
"Kamu sudah makan?" Tanya Rani pelan. Dia melihat jam yang ada di ponselnya menunjukkan jam makan siang. Dia sangat hafal jika putranya akan menyelesaikan pekerjaannya dulu baru makan. Hal itu yang membuat Pandu sering melupakan makan siangnya dan akan dia gabung dalam makan malam.
"Nanti dulu, Ma. Mau nyelesain kerjaan dulu." Jawab Pandu pelan. Matanya fokus pada layar komputer yang ada didepannya. Kacamata bundar bertengger di pangkal hidungnya memberikan perlindungan dari cahaya radiasi yang bisa merusak matanya.
"Nunggu apa lagi? Mama udah laper ih." Ujar Rani sambil mengelus perutnya yang datar. Dia hanya pura-pura saja karena dia ingin membawa kabur putranya dari ruangan tak bernyawa ini.
"Satu jam lagi ya, Ma." Ucap Pandu datar.
Rani mendesah keras mendengar ucapan Putranya. Putranya sudah banyak berubah. Tidak seperti Pandu yang dulu yang mudah dia kendalikan. Pandu yang akan menuruti semua keinginannya ketika dia mengatakan sesuatu. Pandu yang sekarang susah diajak bicara. Susah dia kendalikan, bahkan dia terkesan tidak mengenal putranya sendiri.
***
Pandu terlihat sangat gelisah dengan tangan yang menggenggam ponsel. Sedari tadi dia melihat ponselnya dan seperti sedang menunggu balasan dari seseorang. Bahkan beberapa kali Pandu terlihat menempelkan ponsel itu pada telinganya. Namun lagi-lagi dia mendesah kecewa dan sepertinya tidak mendapatkan jawaban dari panggilan telvon yang dia minta.
"Du, udah mateng ini." Panggil Rani dari arah dapur. Ya, saat ini mereka sedang berada di apartemen Pandu. Sejak sore tadi mereka keluar dari kantor dan pulang ke apartemen Putranya. Sebelum ke apartemen, Rani lebih dulu mengajak Pandu untuk berbelanja sayuran karena dia yakin Pandu tidak akan punya banyak persiapan sayuran di apartemen. Sudah lama dia tidak memasak untuk putranya. Dia merindukan saat-saat dia bersama putra semata wayangnya. Melakukan hal yang sederhana namun memberikan kebahagiaan sendiri. Dan kini dia sudah selesai memasak untuk putranya. Masakan kesukaan Pandu yang sangat dia hafal.
"Iya, Ma." Jawab Pandu pelan sambil menyimpan poselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia berjalan pelan menghampiri Mamanya yang sibuk menata makanan diatas meja.
Wangi masakan masuk ke hidung Pandu. Sudah cukup lama dia tidak merasakan masakan Mamanya. Terakhir kali dia makan masakan Mamanya sebelum dia bertengkar hebat dengan Papanya dulu. Pertengkaran karena dia memilih untuk bersembunyi dibalik ruangan dan meminta Gilang yang menghadiri acara penerimaan penghargaan.
"Kamu setiap hari makan malam sendirian, 'kan?" Tanya Rani pelan. Dia seakan-akan sedang mengetes Putranya. Dia ingin tahu apakah benar Putranya tidak memiliki kekasih.
"Uhukk...uhukk...uhuk... uhukk.." Pandu tersedak setelah mendengar pertanyaan Mamanya. Karena dia sering makan malam bersama Sakura tapi dia tidak bisa mengatakan itu kepada Mamanya. Pandu tidak ingin Mamanya tahu tentang Sakura. Bukannya dia tidak ingin mengakui Sakura hanya saja dia merasa belum saatnya Mamanya tahu tentang Sakura.
"Kenapa tanya gitu, Ma?" Tanya Pandu berusaha untuk tetap tenang.
"Gapapa, Mama cuma pengen tanya aja. Kan kamu nggak punya temen, palingan cuma Gilang dan Mama rasa nggak mungkin kamu makan sama dia." Balas Rani lagi.
Pandu meneguk air dingin yang sudah disiapkan oleh Mamanya. Dia tidak mungkin berbohong dengan Mamanya namun dia juga tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya. Keluarganya terlalu bahaya jika mereka sampai tahu tentang Sakura. Lagipula dia juga tidak rela membawa Sakura masuk ke dalam keluarganya sebelum ada persiapan sebelumnya.