Tiga Puluh Empat

1060 Kata
Pandu menatap Mamanya dengan lekat. Matanya menatap fokus ke Rani namun otaknya berfikir jawaban apa yang akan dia katakan kepada Rani. Satu-satunya cara yaitu dengan mengalihkan perhatian Rani agar Rani tidak terlalu fokus pada bahasan awal. "Makanya, Ma, Mama sering-sering datang kesini biar Pandu ada temen makan malam." Kata Pandu dengan ekspresi merajuk, persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim oleh Mamanya. Pandu berfikir itu adalah jawaban yang paling aman. Setidaknya dia tidak menyangkut ke hal-hal jika dia ada teman makan malam. "Kamu dong yang harus sering-sering datang ke rumah, Mama akan sering-sering memasakkan makanan kesukaan kamu." Ujar Rani sambil tersenyum. Pandu menyunggingkan senyum khas-nya. Senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Terdapat lesung pipi kecil di pipi kirinya. Hanya satu lesung pipi saja namun sudah berhasil membuat pesona Pandu bertambah. "Kamu masih marah sama Papa?" Tanya Rani pelan. "Yessss...." Teriak Pandu didalam hati karena dia berhasil mengalihkan fokus Mamanya. Buktinya sekarang Mamanya sudah tidak membahas tentang teman makan malamnya lagi. Ya, walaupun kini mereka sedang membahas Papanya tapi bagi Pandu itu sudah lebih baik. "Nggak kok, Ma." Jawab Pandu lemah. "Terus kenapa nggak pernah main ke rumah?" Tanya Rani pelan. Dia menatap Putranya dengan lekat. Ingin rasanya dia juga ditatap seperti ini oleh Putranya. Bukan hanya sekadar menatap namun benar-benar anaknya tahu bagaimana ekspresi wajahnya. Pandu menggenggam tangan Mamanya dengan erat. Dia tahu bagaimana perasaan wanita ini. Sering kali dia membuat perasaan kuatir pada Mamanya. Setiap kali dia bertengkar dengan Papanya, orang yang terluka pertama kali adalah Mamanya. Dia seperti orang yang serba salah, yang tidak tahu harus memihak yang mana. Karena keduanya sama-sama berharga baginya. "Kalau ada waktu senggang, Pandu main ke rumah." Jawab Pandu pelan. Dia mencoba menyunggingkan senyumnya agar Mamanya tidak terlalu kuatir dengannya. "Mama tuh sedih kalau kamu sama Papa berantem. Kalian itu sudah sama-sama dewasa tapi nggak ada yang mau mengalah." Kata Rani mencurahkan isi hatinya. Pandu menganggukkan kepalanya mengerti. Tanpa Mamanya bercerita pun dia tahu bagaimana perasaan Mamanya ketika dia dan Papanya bertengkar. Hanya saja untuk mengucapkan satu kata maaf butuh mental yang kuat. Terkadang dia merasa gengsi untuk mengalah. "Besok Pandu akan ke rumah." Kata Pandu pelan. Dia menggenggam tangan Rani dengan erat. Rani juga mengeratkan genggaman tangannya kepada Pandu. Dia tersenyum mendengar pengakuan putranya. Walaupun dia tidak sepenuhnya mempercayai ucapan putranya namun dia sangat tahu selama ini putranya tidak pernah mengatakan kebohongan. Apa yang keluar dari bibirnya akan dia pertanggungjawabkan. Sifat itulah yang membuat Pandu selalu sukses dalam mengambil keputusan untuk kemajuan perusahaan. "Jangan sampai bohong, jangan sampai buat Mama kecewa sama kamu." Kata Rani memperingatkan putranya itu. "Iya, Mama." Jawab Pandu dengan lembut. Dia tersenyum dengan lebar seakan-akan ingin menyalurkan senyum itu kepada Mamanya. Ya, walaupun dia tidak pernah tahu apakah Mamanya akan tertular senyum yang dia ukir atau tetap saja cemberut seperti sebelumnya. Pandu mengetahui ekpresi cemberut Mamanya karena dia sangat hafal bagaimana ketika Mamanya mengomel. Bertahun-tahun menjadi putra Rani membuat dia hafal setiap ekspresi Rani. *** Pandu keluar dari mobilnya. Hari masih sangat pagi bahkan embun masih turun membasahi setiap benda yang ada diatas bumi, begitu juga dengan tangan Pandu yang bersedekap d**a. Dia menyandarkan tubuhnya pada mobil hitamnya. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah dengan pelan. Matanya sangat jeli melihat orang-orang yang berjalan di depannya. Pagi ini Pandu sudah berada didepan kompleks perumahan Sakura. Sejak kemarin dia tidak bisa menghubungi Sakura membuat dia tidak bisa tenang. Dia takut jika terjadi hal yang buruk dengan Sakura. Ditambah dia takut jika dia melakukan kesalahan yang tidak dia sengaja dan dia tidak menyadari itu. Apalagi jika kesalahan itu melukai hati Sakura. Sudah lebih dari tiga puluh menit dia berdiri di sana. Pandu terus menatap rumah mewah yang ada di deretan depan. Rumah bergaya Eropa dengan cat berwarna putih itu masih tertutup rapat pintunya. Hanya pagarnya saja yang terbuka dan memberikan celah untuk Pandu melihat ke dalam. Hingga akhirnya seorang gadis muda keluar dari rumah megah itu. Pandu tersenyum ketika dia sadar orang itu adalah Sakura. Terlihat dari postur tubuh dan juga potongan rambut, Pandu juga mulai mengenali cara berjalan Sakura. Dan Pandu sangat yakin jika gadis itu adalah Sakura. "Itu dia." Ujar Pandu dengan senyum yang merekah. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Akhirnya tiga puluh menit menunggu tidak sia-sia. Beberapa saat kemudian senyum yang terukir dibibir Pandu harus musnah. Dia melihat laki-laki yang nampaknya masih muda keluar rumah dan berdiri di samping Sakura. Mereka terlihat sedang berbincang dan tidak lama setelah itu, laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Sakura. Deg. Hati Pandu merasa tidak enak. Untuk pertama kalinya setelah dia kecelakaan, dia merasa cemburu melihat orang yang dia kenal dekat dengan orang lain. Terlebih dia merasa jika dia punya banyak kekurangan. Dan dia melihat laki-laki itu mendekati sempurna. Mobil yang mahal, pakaian rapi khas orang kantoran dan Pandu mengira jika laki-laki itu punya jabatan yang tinggi diperusahaan, juga tubuh laki-laki itu yang terlihat atletis menambah nilai plus. Walaupun dia tidak bisa melihat bagaimana wajah laki-laki itu, melihat fisik lainnya membuat Pandu yakin jika tidak ada yang bisa menolak pesona laki-laki itu. Entah mengapa dia merasa laki-laki itu adalah saingannya. Padahal dia dan Sakura tidak punya hubungan yang spesial. Hubungan mereka hanya sebatas kenal dan lanjut ke pertemanan, tapi lambat laun ada perasaan lain yang hingga dihatinya. Pandu belum yakin perasaan apa itu namun dia merasa cemburu dan tidak rela melihat Sakura dekat dengan laki-laki lain. Pandu masuk ke mobilnya. Dia masih berdiam diri sambil melihat mobil yang ditumpangi oleh Sakura itu berjalan. Perlahan namun pasti mobil itu melewati mobilnya begitu saja. Ekor matanya melihat mobil itu hingga jauh dan kini sudah mulai tak terlihat karena mobil itu sudah berbelok. Pandu mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya benar-benar perih melihat itu semua. Namun tidak banyak yang bisa dia lakukan. Apalagi pesan yang dia kirimkan untuk Sakura tidak ada satupun yang dibalas oleh gadis itu. "Apa itu suaminya?" Tanya Pandu pada dirinya sendiri. Pandu menumpangkan dahinya ke kemudi. Dia memejamkan matanya sambil berpikir sejenak. "Jika memang itu suaminya, kapan Sakura menikah dan mengapa Sakura tidak mengatakan jika dia sudah punya pasangan?" Tanya Pandu lagi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab seorang diri. Dia butuh kejelasan namun dia juga merasa bingung harus memulainya dari mana. Tidak mungkin dia langsung menghampiri Sakura, dia tidak ingin mencari masalah dan membuat rahasianya terbongkar. Selama ini dia sudah menyimpan rahasia itu rapat-rapat, dia tidak ingin hanya karena seorang wanita rahasia yang dia sembunyikan terbongkar begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN