Pandu mengendarai mobilnya dengan pelan. Sepanjang jalan dia tidak fokus, dia masih terbayang Sakura bersama laki-laki lain. Mereka nampak sangat dekat seperti ada hubungan yang tidak hanya sebatas teman. Pandu tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak namun pikiran-pikiran itu terus melintas diotak Pandu dan tidak mau pergi. Mereka seperti mengendap disana dan susah untuk hilang.
"Arrgghhhh..." Teriak Pandu dengan keras. Dia memukul setirnya dengan tangan kirinya. Baru kali ini dia merasa sangat cemburu.
Pandu meminggirkan mobilnya. Dia berhenti diarea yang cukup kosong. Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih yang canggih itu. Dia mencari nomor dengan nama Sakura dan setelah itu memanggilnya. Hatinya benar-benar sudah tidak tenang. Dia ingin segera bertemu dengan Sakura, kalau bisa saat ini juga.
"Hallo." Sapa seseorang dari seberang telvon.
Pandu menghela nafasnya dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Sesak yang ada di dadanya seperti mendapatkan oksigen baru. Mendengar suara Sakura membuat pikiran-pikiran negatif itu mulai berkurang.
"Hallo, ada apa?" Tanya Sakura pelan. Dia merasa aneh dengan Pandu. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun.
"Kamu dimana?" Tanya Sakura lagi. Sakura mulai kuatir. Tidak biasanya Pandu melevonnya namun tidak mengatakan apapun seperti ini.
"Ehem." Pandu berdehem kecil. Dia masih mengatur nafasnya. Dadanya tiba-tiba berdegup, tidak tahu apa penyebabnya. Namun dia merasa gugup dan masih ingin menenangkan dirinya.
Terdengar Sakura menghela nafasnya pelan. "Kamu bikin aku kuatir." Kata Sakura pelan.
"Kamu kerja sekarang? Aku ganggu kamu ya?" Tanya Pandu lembut. Dia mulai bisa mengontrol jantungnya yang berdegup kencang.
"Aku baru sampai di kantor." Jawab Sakura dari balik telvon.
"Aku masuk duluan ya." Kata seseorang yang sepertinya sedang bersama Sakura. Pandu mengernyitkan keningnya, lagi-lagi pikiran negatif itu muncul kembali. Pandu diam saja, dia ingin mendengarkan jika ada obrolan selanjutnya. Hanya yang terdengar hanya suara kecil dari seberang telvon. Suara itu tidak jelas masuk ke telinga Pandu, hal itu membuat Pandu hanya bisa mendesah pelan. Dia sedikit kecewa karena tidak bisa mendengar percakapan Sakura dengan orang lain. Bukannya dia berniat menguping tapi Pandu hanya penasaran saja.
"Kak, aku masuk kantor dulu ya." Kata Sakura berpamitan.
Pandu tersadar dari lamunannya. "Iya. Eh tunggu." Kata Pandu mencegah Sakura yang hendak mematikan sambungan telvonnya.
"Ada apa?" Tanya Sakura dengan suara yang terburu-buru. Mungkin dia sudah terburu-buru akan masuk ke dalam kantor.
"Nanti malam pulang kerja aku jemput ya." Kata Pandu pelan.
Tanpa berpikir panjang, Sakura menyanggupi begitu saja. Toh, tidak akan ada bedanya Pandu menjemputnya atau tidak, dia juga tidak punya janji apapun nanti malam. "Iya, sudah dulu ya aku mau masuk kantor." Kata Sakura sambil mematikan sambungan telvon begitu dia mendengar jawaban dari Pandu.
Pandu menggenggam ponselnya. Dia memandangi ponselnya yang sudah mulai mati. Wajahnya datar, pikirannya bercabang. Entah mengapa dia merasa kecewa begitu Sakura memutus sambungan telvonnya. Walaupun itu dengan alasan masuk kantor dan mulai bekerja. Pandu merasa sepeti ABG yang sedang cemburu buta. Namun dia enggan mengakui perasaannya kepada Sakura. Entahlah, Pandu menyerahkan semuanya pada takdir. Dia ingin menjalani sesuai takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Tidak mau menolak dan juga tidak mau meminta. Namun dia menerima apa yang diberikan oleh Tuhan untuknya.
Pandu kembali menjalankan mobilnya. Dia berusaha untuk fokus bekerja. Lagipula nanti malam dia akan bertemu dengan Sakura. Dia bisa menanyakan tentang rasa penasarannya tadi.
Begitu juga dengan Sakura, dia mejalani hari ini dengan santai. Menyelesaikan setiap pekerjaan yang ada hingga tanpa terasa memang hari sudah sore dan menjelang waktunya pulang.
Delon mencekal tangan Sakura. Dia menatap mata Sakura dengan lekat. Bibirnya masih terkunci rapat namun sorot matanya mengisyaratkan jika ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh Delon. "Ada apa?" Tanya Sakura sinis. Dia mengibaskan tangannya sehingga pergelangan tangannya terlepas dari cekalan tangan Delon.
"Pulang bersamaku." Kata Delon tegas.
"Aku sudah ada janji." Jawab Sakura singkat. Setelah itu dia berlalu dari hadapan Delon. Sakura berjalan dengan langkah panjang, bahkan dia terlihat sedang berlari kecil. Sakura menganggap Delon tidak akan mengejarnya lagi tapi ternyata dia salah. Delon mengejarnya dari belakang hingga mereka masuk ke dalam lift yang sama.
"Kamu mau kemana?" Tanya Delon pelan. Dia berbicara dengan santai karena di dalam lift hanya ada dia dan Sakura.
"Aku sudah ada janji dengan teman." Jawab Sakura.
"Pulang larut? Kalau iya aku yang gantiin kamu temani Papa kamu lagi." Delon menanggapi.
Seketika Sakura teringat Papanya. Setiap kali dia akan pergi bersama Pandu, dia melupakan Papanya begitu saja. Seperti dia hanya hidup sendiri dan memikirkan diri sendiri. Padahal ada Papanya yang juga sedang menunggunya pulang.
Sakura diam saja. Tidak lama setelah itu pintu lift terbuka. Dengan terburu-buru Sakura keluar dari lift dan berjalan dengan cepat. Delon juga melakukan hal yang sama. Dia berusaha mengejar Sakura dan mengajaknya segera pulang. Dia memang tidak tahu teman siapa yang sudah Sakura ajak janjian namun dia tetap merasa tidak suka. Dia seperti ingin mengikat Sakura hanya untuk dia saja.
"Pulang bersamaku. Kita cari makan dulu sekalian untuk Papa kamu." Kata Delon sambil menarik tangan Sakura menuju parkiran.
Tanpa Sakura tahu, Pandu sudah datang dan melihat dia bersama laki-laki lain. Lagi-lagi Pandu menelan kekecewaan. Dia meremas setirnya dengan erat. Wajahnya sangat dingin karena menahan emosinya. Dengan terpaksa dan menahan kekecewaan, Pandu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat kerja Sakura. Lebih baik dia pergi dari pada harus melihat Sakura bersama orang lain. Karena Pandu merasa laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang tadi.
Patah hati memang sangat sakit. Namun kita tidak pernah ingin meminta untuk merasakan itu dan kita juga tidak pernah kuasa untuk menghindarinya. Semua itu terjadi begitu saja, tidak bisa diminta dan tanpa bisa dicegah. Rasa yang meluap semakin besar dan meninggalkan kerinduan yang dalam harus terbalas dengan kekecewaan yang menyakitkan. Siapa yang tidak ingin menyerah ketika berada diposisi seperti itu? Pasti semuanya ingin menyerah dan balik badan. Mengenal orang baru dan mengejar cinta yang lainnya, namun nyatanya beberapa orang lebih memilih untuk bertahan dari rasa sakit itu. Salah satunya adalah Pandu. Dia memilih untuk tetap bertahan mencintai Sakura, bukan karena dia takut tidak ada penggantinya hanya saja dia terlalu malas membuka hati untuk orang baru. Malas berurusan dengan orang baru dan malas menaruh hati pada orang baru yang bisa saja berujung pada kekecewaan yang sama.