Tiga Puluh Enam

1522 Kata
Menit berganti jam, jam kini berubah menjadi hari. Sudah berhari-hari berlalu hingga hampir lebih dari satu minggu. Baik Sakura maupun Pandu sama-sama tidak ada yang mau mengalah untuk mengirimkan pesan pertama kali. Mereka sibuk dengan pikiran dan ego mereka sendiri. Pandu yang kecewa dan berpikiran negatif tentang Sakura dan laki-laki itu, sedangkan Sakura yang merasa jika Pandu sudah tidak peduli dengannya. Pandu mematikan layar komputernya. Seketika ruangan menjadi sangat gelap tanpa cahaya apapun. Pandu terdiam seorang diri. Pikirannya kalut dan beberapa hari ini dia menjadi tidak konsen. Dia terus memikirkan Sakura, bayangan Sakura yang pergi dengan laki-laki lain terus melintas di depan matanya. Bayangan itu seakan-akan tidak memberikan kesempatan untuk Pandu melupakan itu sejenak saja. "Arrgghhhh kenapa terus kepikiran itu sih." Teriak Pandu dengan cukup keras. Untung saja ruangannya kedap suara, jika tidak pasti semua orang yang ada di kantor akan mendengarnya. Pandu bangkit dari duduknya. Dia mengambil jaket yang dia gantung dan bergegas pergi dari ruangannya. Memasuki lift pribadi yang langsung menghubungkan ke parkiran mobilnya. Beberapa kali dia harus menurunkan topinya agar tidak ada orang yang melihatnya. Karena ketika dia di parkiran, beberapa kali melihat karyawannya. "Itu siapa, kayaknya cakep deh." Kata perempuan muda yang berambut blonde. "Iya, aku juga baru tau. Kayaknya dia bukan karyawan deh, bajunya aja kayak gitu." Jawab temannya yang ada disampingnya. Mata kedua perempuan itu tidak lepas dari tubuh Pandu. Walaupun Pandu sudah memakai masker dan topi bahkan dia juga memasang tudung jaketnya, pesona dan karismanya tidak bisa ditolak oleh mata yang menatapnya. Pandu yang mendengar bisik-bisik itu semakin melebarkan langkahnya agar cepat ke mobilnya. Walaupun dia tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan namun Pandu merasa jika mereka sedang membicarakannya. Hari ini dia memarkirkan mobilnya agak jauh karena parkiran yang biasa dia gunakan sudah digunakan oleh orang lain. Entah siapa yang berani memakai parkiran miliknya, namun Pandu membiarkan itu karena dia merasa malas untuk mengurusi urusan orang lain. Pikirannya sudah terpenuhi memikirkan tentang Sakura. Gadis itu sangat membuat Pandu penasaran. Pandu merasa ada banyak rahasia yang tidak bisa diceritakan oleh Sakura kepadanya. Pandu juga takut jika salah satu rahasia itu adalah rahasia bahwa dia sebenarnya sudah menikah. Pandu masuk ke dalam mobil. Dia melakukan mobilnya tanpa berpikir panjang. Mengarahkan mobilnya ke sembarang arah. Dia tidak tahu harus pergi kemana. Berada di apartemen seorang diri hanya akan menambah beban pikiran Pandu. Lebih baik dia pergi ke rumah orang tuanya agar dia juga punya teman. Walaupun itu mengobrol atau hanya duduk santai saja tanpa membicarakan hal yang serius. Ya, Pandu sudah memutuskan jika dia pergi ke rumah orang tuanya. Dia membelokkan mobilnya mengitari jalan Sudirman, jalanan kota yang tidak pernah sepi dari kendaraan itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi Pandu. Kota Jakarta memang tidak pernah sepi pengunjung, namun sedikitpun dia tidak ingin meninggalkan kota ini. *** Delon menghentikan mobilnya disebuah restoran mewah. Banyak lampu yang menyala menandakan memang restoran ini sedang buka. Hanya saja Sakura melihat restoran itu sangat sepi dari pengunjung. Sakura berpikir mungkin rasa hidangan yang dihidangkan oleh restoran itu tidak terlalu enak membuat pengunjung ogah datang lagi. "Kenapa berhenti?" Tanya Sakura pelan. "Kita makan dulu." Jawab Delon pelan. Dia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu. Sakura tidak banyak bicara, dia langsung melakukan hal yang sama seperti Delon. Lagi pula sejak siang tadi dia belum makan. Bagaimanapun rasa makanan itu nanti akan tetap dimakan olehnya. "Ayo." Ucap Delon pelan. Dia menggenggam tangan Sakura dan mengajaknya masuk. Dua pelayan yang menjaga disamping pintu masuk menganggukkan kepalanya menyapa Sakura dan Delon dengan sopan. Sakura dan Delon menjawab sapa mereka dengan lembut. Sakura mengedarkan matanya ke setiap sudut ruangan. Tidak ada satu pun pengunjung di restoran ini. Dia juga melirim jam tangannya, jam masih menunjukkan pukul 7 malam, masih sore jadi tidak mungkin restoran itu akan tutup. "Nggak ada pelanggan, kita pergi aja ya." Kata Sakura berbisik. "Enak dong kalo sepi, bisa lebih leluasa." Ucap Delon sambil tersenyum. "Silakan naik, Pak kami sudah menyiapkan semuanya." Kata salah satu pelayan kepada Delon. "Terima kasih." Jawab Delon dengan lembut. Sedangkan Sakura hanya diam saja, dia tidak mengerti dengan ucapan pelayan tadi. Sedari tadi Delon belum memesan apapun jadi bagaimana bisa pelayan tadi menyiapkan makanan yang belum dipesan oleh pelanggan. Begitu Sakura menginjakkan kakinya dianak tangga terakhir. Matanya melotot tidak percaya. Banyak taburan bunga dilantai. Bahkan ditengah-tengah ruang itu terbentuk kelopak bunga mawar merah yang dibentuk menjadi kata "I LOVE YOU SAKURA" Sakura menutup mulutnya dengan tangannya. Dia menatap Delon dengan tatapan tidak percaya. Ini terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba untuk Sakura. Selama ini dia tidak pernah memberikan umpan kepada Delon. Lantas bagaimana bisa laki-laki itu memberikan kejutan dia seperti ini. "Apa maksudnya? Apa ini untukku?" Tanya Sakura dengan bingung. "Ini ungkapan perasaan aku untuk kamu." Jawab Delon lembut dengan penuh makna. Sakura hanya diam saja. Dia menatap laki-laki yang ada didepannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sakura masih terlihat terkejut karena selama ini dia tidak pernah berpikir akan diberikan kejutan seperti ini. Sakura mengira kejutan-kejutan romantis ini hanya ada di drama namun ternyata dia merasakannya sendiri. Sakura merasa jika dia seperti pemeran utama wanita dalam drama romantis. "Tapi.. tapi aku..." Kata Sakura pelan. Dia bingung harus mengatakan bagaimana. Tidak mungkin dia menolak Delon begitu saja. Itu akan membuat hati Delon terluka. "Aku tidak butuh jawaban kamu sekarang, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintai kamu supaya kamu terus mengingatku ketika kamu hendak dekat dengan laki-laki lain." Kata Delon sambil menyunggingkan senyumnya. Dia tahu bagaimana perasa Sakura untuknya. Dia mengerti jika Sakura tidak mencintainya, namun dia sudah terlanjur terpikat dengan gadis itu. Ketika dia tidak bisa mendapatkan hati gadis itu setidaknya dia mencegah orang lain untuk memiliki cinta Sakura. Sakura kembali diam. Dia tidak pernah bisa menduga setiap kata yang keluar dari bibir Delon. Lagi-lagi Delon membuatnya terpana. Setiap hal yang dilakukan oleh Delon sangat diluar kendali. Dan lagi-lagi kelakuan Delon membuat hatinya terenyuh. "Kenapa aku mengatakan jika aku jatuh cinta kepada kamu tanpa mengajak kamu menikah?" Tanya Delon pelan. Sakura menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menjawab karena dia tidak mau jawabannya tidak sesuai dengan Delon. Toh, dia juga ingin mendengar alasan Delon melakukan ini semua. "Bukan aku tidak mau mempersuntingmu, tapi aku ingin memberimu kebebasan untuk menjalani kehidupan yang baru kamu rasakan. Aku tahu banyak impian yang belum bisa kamu wujudkan, aku ingin kamu mewujudkan impian itu terlebih dahulu. Bukannya aku tidak mau membantu kamu atau mendampingi kamu untuk mewujudkan impian itu, hanya saja mendampingi bukan harus menjadi seorang suami. Aku akan terus berada dibelakangmu, mengikuti setiap langkahmu, menangkapmu ketika kamu hampir jatuh, mendorongmu ketika kamu merasa lelah dan putus asa, bahkan aku akan mendekapmu ketika kamu merasa gagal. Aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk mendukungmu, Sakura." Kata Delon dengan lancar. Dia sudah menyiapkan kata-kata itu sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan sedari tadi dia terus latihan. "Lagi pula kamu juga masih muda, beberapa bulan mengenal kamu membuat aku tahu kalau kamu adalah gadis yang ambisius. Kamu akan melakukan semua hal agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku ingin kamu menikmati masa muda kamu dengan puas. Bukan terjebak dalam jalinan rumah tangga yang bisa saja membuat kamu bosan." Kata Delon lagi. Dia menatap Sakura dengan lekat. "Bukannya aku akan menjadi suami yang otoriter, yang mengaturmu untuk melakukan ini dan melarangmu melakukan itu hanya saja dunia pernikahan akan berbeda dengan duniamu saat ini. Posisimu sebagai istri akan sangat berbeda dengan posisimu sebagai anak. Ketika kamu menjadi seorang istri maka langkah kamu harus dipenuhi oleh izin suamimu." Kata Delon lagi. Tidak bisa dipungkiri jika Sakura merasa kagum dengan Delon. Kedewasaan Delon membuat dia hampir goyah. Mungkin saja jika Delon berusaha lebih keras lagi dia akan benar-benar berubah haluan. "Aku mencintai tanpa ingin mengekangmu." Kata Delon lagi sambil menggenggam tangan Sakura. "Jadi, nikmati saja duniamu saat ini. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku akan terus mendukungmu dan membantumu. Ketika kamu sudah bosan dan puas, segeralah berbalik arah dan berlari ke arahku karena aku selalu dibelakangmu. Ketika itu terjadi aku akan dengan senang hati merentangkan kedua tanganku untuk membawamu ke pelukanku. Dan begitu kamu masuk ke dekapanku, aku tidak akan pernah melepaskanmu." Lanjut Delon sambil mengelus rambut Sakura. Sakura hanya melongo mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Delon. Dia benar-benar dibuat melayang dan terbang. Terpana dengan setiap kata yang terucap. Hingga dia tidak tahu caranya membalas kata untuk Delon. Delon tersenyum mendengar Sakura yang melongo melihatnya. Dia sendiri juga tidak percaya jika dia bisa mengatakan kata-kata manis seperti tadi. "Ayo makan, aku sudah lapar." Ucap Delon pelan sambil menepuk-nepuk perutnya dengan pelan. Sakura terkekeh dengan pelan. Bagi Sakura, Delon adalah paket komplit. Sejenak dia membuat suasana menjadi romantis namun secepat angin dia merubah suasana itu menjadi konyol. "Aku juga lapar." Ucap Sakura tersenyum. Delon menarik tangan Sakura untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. Sudah ada hidangan diatas meja, hidangan yang dipesan oleh Delon dan pastinya itu adalah hidangan favorit Sakura. Sakura menelan ludahnya dengan susah payah, semua menu yang ada didepannya menggugah selera makannya. Dia menjadi tidak sabar untuk mencicipi makanan itu. Suasana yang hening, tidak ada orang selain mereka berdua. Lampu warna-warni yang menyala ditambah lilin aromaterapi yang harumnya membuat penat hilang terasa sangat nyaman. Ditambah menikmati hidangan favorit adalah moment yang benar-benar membahagiakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN