Elmi memandangi Delon dengan lekat. Di ruang makan malam ini terasa sedikit menegangkan. Bahkan Tasya yang biasanya banyak bicara, kini memilih untuk menutup rapat-rapat mulutnya. Melihat wajah dingin dan tegas Mamanya, membuat Tasya tidak berani berkutik. Dia takut salah bicara dan akan membuat suasana bertambah menegangkan.
Delon sepertinya tidak menyadari jika sedari tadi dia diperhatikan oleh tantenya. Delon yang masih menikmati makanannya tanpa gusar membuat Elmi semakin ingin segera menumpahkan kemarahannya. Hingga akhirnya kaki Tasya menyenggol kaki Delon dengan cukup keras. Hal itu membuat Delon sedikit tersedak dan menengok ke arah Tasya dengan wajah yang garang.
"Apa sih, Tas?" Keluh Delon dengan suara yang sedikit tinggi. Wajahnya terlihat sangat jengkel, bagaimana bisa dia tidak jengkel kalau sedang enak-enak makan kakinya disenggol oleh orang lain.
Tasya mengode Delon dengan matanya. Dia melihat Delon dan Mamanya secara bergantian. Delon yang sepertinya mengerti dengan kode mata itu langsung ikut melihat ke arah Elmi. Dan seketika matanya bertatapan dengan mata Elmi yang sorot matanya tajam. Bibir Delon langsung kicep melihat itu, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun namun Elmi sepertinya sedang marah dengannya.
Delon menatap Tasya dengan tatapan seakan-akan bertanya mengapa Elmi marah dengannya. Sedangkan Tasya hanya menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah cemberut. Delon mendesah pelan menanggapinya. "Ada apa, Tan?" Tanya Delon akhirnya. Setelah berpikir beberapa saat lebih baik dia yang memulai pembicaraan. Dia juga ingin tahu mengapa tantenya itu terlihat begitu marah dengannya.
"Kamu nggak ingat apa yang Tante katakan sama kamu tempo hari?" Tanya Elmi dengan tegas.
Delon mengerutkan keningnya seakan-akan sedang berpikir. Banyak hal yang dikatakan oleh Tantenya tempo hari dan Delon merasa tidak ada hal yang penting. Semua pembicaraan hanya pembicaraan biasanya, sekadar menanyakan kabar dan aktivitas harian.
"Memangnya apa, Tan?" Tanya Delon pelan. Dia sangat hati-hati saat bertanya. Dia tidak ingin membuat tantenya langsung membludak kemarahannya.
"Kemarin Tante lihat kamu pulang bareng sama Sakura, kalian kelihatan sangat dekat. Kamu juga perhatian sama Papanya Sakura. Kamu tidak peduli dengan yang Tante katakan?" Kata Elmi memulai pembicaraan. Dia kesal dengan ponakannya yang tidak mengerti dengan kode yang dia berikan.
"Tante sudah berkali-kali katakan sama kamu kan kamu jangan dekat-dekat sama Sakura." Kata Elmi dengan cukup keras.
Saat itu Sakura sedang melintas di dekat meja makan. Dia langsung berhenti begitu mendengar ucapan Mama tirinya yang membawa-bawa tentang dirinya. Tangannya yang menggenggam segelas air terlihat menambah tekanan genggaman itu hingga air itu bergetar. Mungkin saat ini Sakura sedang menahan emosinya. Dia tidak pernah tahu apa kesalahannya kepada Mama tirinya. Padahal jika difikir-fikir, Mama tirinya lah yang sudah membuat banyak kesalahan.
Delon dan Tasya melihat ke arah Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Elmi hanya melirik ke arah Sakura dengan sinis. Dia sama sekali tidak merasa bersalah sudah mengatakan hal yang menyakitkan itu. Bahkan dia malah ingin Sakura sadar diri dengan posisinya.
"Dia itu gadis miskin, dia nggak punya apa-apa. Dia hanya mendekati kamu karna kamu sudah sukses, punya pekerjaan yang bagus, harta kamu juga sudah banyak. Dia hanya ingin numpang hidup enak sama kamu." Kata Elmi lagi.
Delon dan Tasya diam saja. Sedari tadi mata Delon tidak pernah berhenti menatap Sakura. Ucapan-ucapan yang keluar dari bibir Elmi hanya angin lalu bagi Delon. Namun hal itu tidak bagi Sakura, ucapan Ibu tirinya bagaikan silet yang tajam yang dengan sengaja dicoretkan pada hatinya. Terasa sangat perih dan menyakitkan. Bahkan ketajaman bibir Ibu tirinya tidak sebanding dengan silet itu. Luka karna sayatan masih bisa sembuh dan masih bisa ditutup dengan perban, namun luka yang sengaja ditorehkan oleh orang lain akan selalu bersemayam dengan abadi. Bisa saja dia sejenak melupakan luka itu namun itu hanya bersifat sementara. Selebihnya luka itu akan terus terasa sakit seperti ditetesi jeruk nipis yang tidak akan pernah bisa mengering.
"Kamu sudah tertipu dengan bujuk rayu dia." Kata Elmi lagi.
"Dia tidak pernah merayuku." Kata Delon dengan singkat. Matanya masih terus menatap Sakura. Bahkan dia melihat kesedihan dimata Sakura namun gadis itu sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam saja mendengarkan setiap hinaan yang dilayangkan untuknya.
"Dia hanya berpura-pura tidak peduli untuk menarik perhatian kamu. Kamu harus sadar itu." Kata Elmi dengan nada yang lebih tinggi.
Sakura semakin mengeratkan genggaman tangannya pada gelas itu. Dia sudah tidak tahan namun dia masih ingin mendengar kata-kata apa yang selanjutnya dikatakan oleh Ibu tirinya. Dia ingin tahu sampai dimata Ibu tirinya ini menjelek-jelekkannya.
"Dia hanya memanfaatkan kamu Delon, sekarang kamu sudah terjebak dalam rayuannya. Setelah ini dia akan memanfaatkan uang kamu untuk keperluan pribadinya. Mungkin saja dia akan mengeruk habis harta kamu untuk membiayai pengobatan Papanya yang lumpuh itu." Kata Elmi lagi.
Prankkkk... Gelas yang sedari tadi dipertahan oleh Sakura akhirnya jatuh juga. Bukan Sakura tidak sengaja, melainkan dia sengaja menjatuhkan gelas itu. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Mereka menatap Sakura dengan sorot mata yang tajam. Bahkan kini Elmi melotot ke arahnya begitu melihat Sakura menjatuhkan gelas yang dia beli.
Sakura memungut salah satu dari pecahan kaca tersebut. Dia mendekat ke arah Elmi. Elmi yang semula masih duduk di kursi makan kini bangkit dan berjalan mundur secara perlahan. Semakin dia menjauh dari jangkauan Sakura, semakin Sakura kalap dan ingin segera membunuhnya. Pecahan kaca yang tajam itu dia acungkan ke arah Elmi. Matanya berkaca-kaca ingin meluapkan semua amarahnya. Tangis Sakura bukan karena kesakitan yang dirasakan ditangannya yang mengucur darah segar, namun tangis itu karena luka yang digoreskan Elmi pada hatinya.
"Jangan mendekat !" Ucap Elmi dengan suara bergetar. Bahkan kini tubuhnya juga bergetar karena melihat pecahan gelas itu di depan matanya. Memang dia tidak pernah melihat Sakura sampai seberani dan senekad ini namun dia juga tidak bisa memungkiri jika diamnya seseorang akan terus diam dan terima ketika dihina. Elmi merasa kuatir, mungkin ini saatnya Sakura berontak dan membantahnya. Hanya saja dia masih ingin terus bernafas hingga menaklukkan seluruh harta suaminya yang lumpuh itu.
"Ra, jangan berani menyentuh Mamaku." Teriak Tasya yang sudah mulai panas dingin. Baru kali ini dia melihat wajah Mamanya yang ketakutan. Biasanya dia selalu melihat wajah Mamanya yang tegas dan ambisius. Dan saat ini dia seperti sedang melihat orang lain. Wajah Mamanya sangat pucat karena ketakutan tapi dia tidak bisa berbuat banyak, takut jika malah dia yang kena sasaran.
"Diam. Semakin kamu banyak bicara akan semakin cepat pecahan kaca ini menggores bibir Mama kamu." Kata Sakura dengan keras. Apa yang dikatakan olehnya bukan sekadar omong kosong namun juga ancaman yang akan dia buktikan dengan tindakan.
Tasya hanya diam saja. Dia tidak berkutik setelah mendengar ucapan Sakura. Tangannya bergetar melihat Sakura yang sepertinya sudah dirasuki emosi. Tasya berjalan pelan mendekati Delon. Dia berharap Delon akan melakukan sesuatu yang akan membantu Mamanya dari serangan Sakura. Namun sepertinya Delon hanya diam saja. Matanya terus menatap apa yang ada didepannya itu. Dia seperti sedang menunggu hal apa yang akan dilakukan oleh Sakura setelah ini. Apakah gadis itu akan benar-benar nekad melukai Ibu tirinya sendiri.
Elmi terus berjalan mundur. Hingga tanpa dia sadari selangkah lagi dia sudah mencapai di ujung tembok. "Aduh.." keluh Elmi ketika punggungnya sudah menabrak tembok. Kini di benar-benar sudah tidak bisa berkutik. Sakura tersenyum sinis, merasa dia menang dan bisa menyudutkan Elmi dengan bebas. Dia juga melihat Delon dan Tasya sepertinya tidak berniat menolong Elmi.
"Masih bisa membual?" Tanya Sakura dengan sinis.
"Apa mau kamu?" Tanya Elmi dengan suara bergetar. Tangannya meraba tembok yang ada dibelakangnya. Dia seperti ingin mencari sesuatu yang bisa menolongnya. Tapi itu semua nihil. Tidak ada satupun sesuatu yang bisa membantunya.
"Mau saya? Saya mau menggoreskan pecahan ini pada mulut Anda." Jawab Sakura dengan dingin.
Elmi memelototkan matanya. Untuk pertama kalinya dia merasa ketakutan. Dia merasa sangat terancam sekarang. Elmi merasa posisinya saat ini sudah membuat kewibawaannya hancur. Apalagi hancur di depan anak tirinya yang ingin dia musnahkan.
"Goresan pecahan ini tidak akan sebanding dengan hinaan yang anda berikan. Dan mungkin saja jika saya menggores bibir anda, anda akan berhenti menghina saya dan Papa saya." Kata Sakura lagi.
"Jangan macam-macam kamu, saya bisa tuntut kamu atas tuduhan penganiayaan." Kata Elmi yang masih bisa mengancam Sakura.
"Saya juga akan menuntut Anda dengan tuduhan pencemaran nama baik dan juga penelantaran." Balas Sakura yang tidak mau kalah.
Suasana menjadi semakin panas. Sakura yang menatap Elmi dengan tajam dengan tangan yang masih memegang pecahan kaca, bahkan dia tidak memikirkan tangannya yang berdarah karena goresan sewaktu memungut kaca itu dilantai. Rasa sakit yang ada ditangannya tidak sebanding dengan sakit hati yang dia rasakan. Sakura lebih memilih sakit yang mengeluarkan darah daripada sakit tanpa darah.
Sakura menekan gigi-giginya hingga bergetar. Matanya yang semula berkaca-kaca kini sudah mengeluarkan air mata. Ucapan-ucapan menyakitkan yang keluar dari bibir Elmi masih terngiang-ngiang ditelinganya. Semuanya masih terdengar jelas dan itu membuat Sakura marah. Emosinya sudah berada dipuncak kepala hingga dia takut tidak bisa menahan kendalinya. Menatap Elmi dengan tatapan kebencian sedangkan Elmi masih bertahan dengan keangkuhan. Walaupun dia tahu Elmi sudah tersudut dan ketakutan namun wanita paruh baya itu tidak mau mengalah. Dia masih bertahan dengan egonya yang besar dan juga sifat angkuhnya.
"Aku tidak peduli jika setelah ini harus mendekam dipenjara, yang penting aku sudah berhasil membuat kamu terluka." Teriak Sakura dengan menarik tangannya setelah itu bersiap menancapkan pecahan pisau itu ke arah Elmi.
Semua orang yang ada disana berteriak. Tasya sudah menutup matanya karena takut, sedangkan Delon berlari mendekati Elmi dan Sakura. Namun sayang, sebelum dia bisa mencegah sudah ada tetesan darah di lantai. Elmi langsung lemas tidak berdaya, sedangkan Sakura masih berdiri dengan tegak dengan wajah tegas.