Tiga Puluh Delapan

1691 Kata
"Sreeekkk..." Terdengar goresan yang cukup keras. Elmi terkulai lemas tidak berdaya. Matanya melihat cucuran darah yang menetes diatas lantai membuat Elmi semakin lemas. Sedangkan Sakura hanya berdiri dalam diam. Matanya menatap ke arah depan dengan tajam, garisan tembok yang terkuak catnya karena goresan pecahan kaca yang kuat. Ya, Sakura memilih menggores tembok yang berada tepat disamping Elmi. Dia masih memiliki hati nurani untuk benar-benar melukai Ibu tirinya yang kejam itu. Hingga tangannya bergetar hingga menjatuhkan pecahan kaca yang sedari tadi dia genggam dengan erat. "Mama...." Teriak Tasya dengan keras. Dia berlari ke arah Mamanya begitu dia melihat Mamanya terkulai lemas dilantai. Matanya sudah mengeluarkan air mata begitu melihat Mamanya tidak berdaya. Apalagi ketika matanya melihat tetesan darah di dekat Mamanya bersimpuh, membuat jantungnya semakin berdetak dengan kencang. "Mama baik-baik saja?" Tanya Tasya dengan suara bergetar. Elmi menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia memegang dadanya yang hampir berhenti berdetak. Membayangkan bagaimana tajamnya pecahan kaca itu menggores bibirnya, lebih baik dia diracuni daripada harus dilukai dengan benda tajam seperti itu. "Ra, kamu baik-baik saja?" Tanya Delon dengan lembut. Dia memegang kedua pundak Sakura dengan perlahan. Delon yakin jika saat ini perasaan Sakura sedang terguncang. Untung saja Sakura tidak benar-benar melukai Ibu tirinya. Sakura terduduk dengan menggunakan sebelah lututnya sebagai tumpuan, sedangkan kaki satunya dia tekuk. Matanya menyorot tajam tepat di depan Elmi. "Saya berubah pikiran untuk melukai anda. Selama ini anda memang tidak pernah melukai secara fisik tapi anda selalu melukai perasaan saya dan Papa saya. Tidak adil rasanya jika saya membalaskan dendam saya dengan melukai secara fisik." Kata Sakura pelan dengan penuh penekanan. "Ra, kita harus mengobati luka kamu." Kata Delon lembut. Dia ingin menyadarkan Sakura dan membawa Sakura pergi dari hadapan Elmi. Dia takut jika emosi Sakura meluap lagi akan membuat gadis itu semakin kalap dan kembali menyerang Elmi. "Diam, aku belum selesai bicara dengan perempuan jahat ini." Bentak Sakura kepada Delon. "Apa? Kamu mau menyerangku lagi? Dasar perempuan jalang." Kata Elmi mencoba melabrak Sakura. Sakura tersenyum sinis namun tangannya yang terluka itu terkepal dengan sangat erat. Hingga akhirnya tetesan darah semakin banyak. Namun itu semua tidak dirasakan oleh Sakura. "Sepertinya butuh kaca yang besar agar anda bisa gunakan itu. Perempuan jalang adalah sebutan yang cocok untuk anda." Kata Sakura dengan tegas. "Setelah menguasai harta Papa, anda menelantarkan kami begitu saja. Anda tidak sadar uang yang anda makan adalah uang kami. Uang itu bukan hak anda." Teriak Sakura tepat dihadapan Elmi. "Aku berhak memakai uang itu karena aku istri sahnya dan aku yang mengelola perusahaan." Bantah Elmi tidak mau mengalah. "Saya juga anaknya, saya yang lebih berhak atas harta Papa. Kamu tidak mengelola perusahaan itu tapi kamu ingin menguasai semua harta Papa. Kamu menghalangi saya untuk mengambil alih perusahaan itu dengan alasan saya masih terlalu muda dan belum berpengalaman." Ujar Sakura lagi. Semua makian yang selama ini dia pendam dia utarakan malam ini. Dia sudah tidak kuat lagi menahan semuanya seorang diri. Ini adalah kesempatan untuk dia memaki-maki Ibu tirinya yang kejam itu. "Bahkan anda lebih menjijikkan dibandingkan seekor binatang. Mereka akan melakukan segala cara untuk melindungi pasangan dan anaknya. Tapi anda dengan sengaja menelantarkan kami." Kata Sakura lagi. "Kamu bukan anakku, untuk apa aku mengurusmu?" Balas Elmi dengan mata yang menyala karena emosi. "Dia juga bukan anak Papaku, tapi Papa memberikan kasih sayang yang tulus, dia menyayangi anak kamu seperti menyayangi anaknya sendiri. Papa tidak pernah membedakan antara aku dan anakmu. Tapi kamu, kamu adalah iblis yang dengan tega ingin membunuh kami." Kata Sakura dengan menangis. Delon mengelus pundak Sakura dengan lembut. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Selama ini dia selalu melihat Sakura diam dan tidak memberontak. Tapi malam ini pertama kalinya dia melihat Sakura memperjuangkan haknya yang sudah dirampas paksa oleh Ibu tirinya. Jika dia menjadi Sakura, dia tidak akan sanggup menjalani hidup. "Kamu seperti racun yang perlahan-lahan membunuh saya dan Papa saya. Saya tidak pernah bepikir sebelumnya, bagaimana mungkin Papa terpikat oleh perempuan iblis seperti anda." Kata Sakura. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan pelan meninggalkan Elmi. Namun sebelum benar-benar dia jauh dari Elmi, dia memperingatkan wanita itu. "Saya akan terus membuatmu hidup agar kamu bisa melihat bagaimana saya mendapatkan hak saya. Dan saat itu telah tiba, saya pastikan kamu akan mengalami kehancuran yang lebih menyakitkan daripada yang saya dan Papa saya alami." Kata Sakura lagi. Setelah itu dia berjalan menjauhi Elmi dan Tasya. Dia benar-benar pergi dari ruang makan dan menuju kamarnya. Denyutan dan nyeri pada telapak tangannya baru terasa sangat menyakitkan. Dia akan mengobati itu dulu sebelum menemani Papanya tidur. Delon mengikuti Sakura dari belakang. Laki-laki itu berjalan pelan dan berjaga-jaga jika Sakura tumbang dengan tiba-tiba. Sepanjang perjalanan ke kamarnya, telapak tangannya masih terus meneteskan darah segar. Namun sepertinya Sakura tidak memedulikan itu. "Kamu masuk dulu, aku akan ambil obat dulu." Kata Delon lembut sembari membuka pintunya agar Sakura segera masuk ke kamar. Tanpa bicara apapun, Sakura masuk ke dalam kamar. Dia duduk di pinggiran ranjang. Terduduk lemas dengan mata kosong. Jika dia mengingat setiap kejadian yang baru saja dia alami, dia masih tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa sekeras itu dengan Ibu tirinya. Baru kali ini dia berani berontak dan memperjuangkan haknya. Pintu kamar kembali terbuka. Sakura melirik ke arah pintu, disana dia melihat Delon yang sudah kembali dengan membawa kotak P3K. Wajah Delon terlihat sangat kuatir. Sedangkan Sakura sedang menahan perih ditelapak tangannya. "Kau mau menghinaku juga?" Tanya Sakura lirih. Delon menghentikan tangannya ketika dia mencoba membuka kotak P3K itu. Dia tahu bagaimana perasaan Sakura. Gadis itu pasti akan merasa jika semua orang yang ada dirumah ini sama, sama-sama menganggapnya benalu. "Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, aku akan terus mendukungmu." Kata Delok pelan. Dia mulai memegang tangan Sakura dan membersihkan darah itu. Darah yang sudah mulai mengering membuat Delon harus sedikit lebih keras mengusapnya. Namun dia tetap mencoba untuk hati-hati. "Jika terlalu sakit bilang saja." Ucap Delon lagi. Sakura mulai berkaca-kaca. Setidaknya masih ada seseorang yang peduli dengannya. Mengobati lukanya yang terasa sangat menyakitkan. Menemaninya ketika dia merasakan kegelisahan. Mendukungnya ketika dia merasa terpojokkan. Namun, Sakura tetap merasa jika laki-laki itu bukan laki-laki yang tepat untuk menemaninya. "Adduuhhh..." Keluh Sakura sambil memejamkan matanya. Luka sayatan ternyata sangat menyakitkan. Sedari tadi dia emosi hingga tidak merasakan sakit itu, namun ternyata ketika dia sudah mulai tenang baru luka terasa menyakitkan. "Aku perban dulu. Kamu bisa renggangin telapak tanganmu?" Tanya Delon pelan. Sakura mencoba merenggangkan telapak tangannya yang sudah mulai kaku. Terasa menyakitkan dan nyeri. Namun dia berusaha agar luka itu bisa tertutup dengan perban. "Sakit." Keluh Sakura lagi. Dia bukan wonder women yang bisa menahan sakit dengan begitu mudahnya. Dia juga gadis lemah yang tidak bisa menahan luka separah itu. "Kamu merem saja. Aku akan perban pelan-pelan." Kata Delon dengan lembut. Sakura menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mencoba memejamkan matanya perlahan menuruti ucapan Delon. Walaupun dia masih belum bisa menerima laki-laki itu, dia tetap berusaha untuk menurut. Karena hanya laki-laki itu yang menolongnya saat ini. "Aku pernah jadi tergabung dalam PMI dan ikut relawan juga waktu ada bencana gempa, jadi aku sudah biasa melakukan pertolongan pertama seperti ini." Cerita Delon dengan pelan. Tujuannya untuk mengalihkan fokus Sakura pada luka yang dia rasakan. Sakura membuka matanya. Dia menatap Delon dengan lekat. Laki-laki itu sepertinya punya banyak waktu luang untuk ikut organisasi-organisasi seperti itu. Tidak seperti dia yang hanya fokus pada bekerja dan belajar. "Tapi setelah aku pindah ke Thailand aku keluar dari organisasi." Kata Delon lagi sambil tersenyum. Dia sangat hati-hati saat memasang perban itu. Tidak ingin terlalu melukai gadis yang dia cintai ini. "Ngapain ke Thailand?" Tanya Sakura penasaran. Dia sudah mulai tertarik dengan pembicaraan Delon. "Aku dapat beasiswa disana." Jawab Delon pelan. "Tapi walaupun begitu aku masih sering jadi relawan kok." Lanjutnya. "Kamu punya banyak waktu luang untuk bermain-main dan melakukan apa yang ingin kamu lakukan." Kata Sakura dengan iri. Dia melihat banyak orang yang bisa dengan bebas melakukan segala hal sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Sedangkan dia selalu melakukan hal yang menuntut dirinya untuk terus melanjutkan hidupnya. Delon tersenyum. Dia memasukkan obat dan alat kesehatan itu ke dalam kotak P3K lagi. "Sekarang kamu bisa melakukan semua hal yang ingin kamu lakukan. Jangan takut untuk melangkah, dan jangan terlalu sering menengok ke belakang melihat Papa kamu yang terbaring lemah. Karena aku akan membantu Kamu merawat Papa kamu. Silakan kamu pergi mencari kebebasan kamu sendiri, jangan pernah berpikir jika waktunya sudah terlambat." Kata Delon lagi-lagi membuat Sakura melongo. Sakura menganggap jika selama ini hidup Delon baik-baik saja. Tidak pernah merasakan kesulitan atau rintangan yang menghalangi setiap langkahnya. Perjalanan yang lancar dan mulus tanpa menemui bebatuan. Mungkin saja laki-laki itu tidak pernah menginjak kerikil yang tajam sehingga dia tidak pernah terjatuh atau terkilir. "Hidupmu terlalu mudah." Gumam Sakura pelan sambil tersenyum sinis. Dia membandingkan hidupnya dengan hidup laki-laki itu. "Aku hanya menunjukkan hidupku yang mudah, kesulitan yang aku rasakan cukup aku dan Tuhan saja yang tau." Jawab Delon dengan santai. Ya, karna setiap manusia yang ada di dunia ini tidak selalu menjalani hidup dengan mulus. Ada kalanya mereka merasa terhimpit pada pilihan yang sulit, kadang pula mereka merasa terpuruk dan terjebak pada ruangan yang tidak ada jalan keluarnya. Namun, ketika Tuhan memberikan cobaan pasti ada penyelesaian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan sabar menjalani penyelesaian itu. Sakura melongo mendengar ucapan Delon. Sakura semakin dibuat kagum dengan sosok yang ada didepannya saat ini. Pemikiran yang dewasa dan pembawaannya yang tenang membuat Sakura melayang. Delon bukan tipe laki-laki yang langsung membludak ketika menyelesaikan masalah, melainkan dia akan menguasai situasinya terlebih dahulu. "Kamu istirahat saja, biar aku yang menemani Papa kamu tidur." Ucap Delon sambil tersenyum. Dia menaikkan selimut sampai sebatas d**a Sakura, setelah dia membantu gadis itu berbaring di ranjang. "Terima kasih, lagi-lagi aku merepotkanmu." Jawab Sakura dengan pelan. "Kita kan 1 team." Jawab Delon sambil tersenyum. Sakura membalas senyum Delon. Dia menganggukkan kepalanya seakan-akan setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Delon. Mungkin dalam waktu dekat ini dia akan mengikuti tingkah Delon. Dan suatu saat nanti dia akan menegaskan dan membuat keputusan tentang hubungan mereka yang pasti. "Selamat malam." Ujar Delon lembut. Dia mengelus pucuk kepala Sakura dengan penuh kasih sayang. Setelah itu dia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur, meninggalkan Sakura sendiri agar bisa beristirahat. Menutup pintu dan dia benar-benar keluar dari kamar ganti cantik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN