Delon memasang dasinya. Sudah menjadi rutinitas bagi Delon, menyiapkan keperluannya seorang diri tanpa ada yang membantunya. Terkadang dia membayangkan ada seseorang wanita yang akan membantunya menyiapkan baju kerja setiap pagi, membantunya memangkan dasi dan dia akan memegang pinggang wanita itu dan juga ketika dasi sudah terpasang dia akan mendaratkan kecupan singkat dikening atau dipipi sebagai balasan terima kasihnya, membuatkan kopi s**u untuknya, dan juga menyiapkan sarapan untuknya. Eh, untuk yang terakhir sudah ada yang menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi hanya saja saat ini orang itu sedang terluka dan dia melarangnya untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Ya, orang itu adalah Sakura. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan yang spesial, tetap saja Sakura menyiapkan sarapan untuk semua orang yang ada di rumah. Walaupun itu tidak istimewa, tetap saja Delon bahagia karena makan masakan buatan gadis pujaannya.
"Bang, Lo bener-bener kayak orang lain ya." Kata Tasya dengan emosi. Dia tiba-tiba membuka pintu dengan keras dan meluapkan kemarahannya.
Delon melirik Tasya dari pantulan cermin. Dengan tenang, Delon tetap melanjutkan memasang dasi. Hal itu semakin membuat Tasya murka.
"Gue nggak nyangka kalo Lo lebih nolong cewek murahan itu daripada bantuin Mama." Kata Tasya lagi. Kini gadis itu sudah ada disamping Delon dengan wajah yang menghadap ke arah Delon.
"Sudah ada Lo kenapa gue juga harus nolongin Tante?" Tanya Delon dengan santai. Lagi pula tidak ada orang lain yang akan membantu Sakura bangkit kalau bukan dirinya.
Tasnya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Hatinya terluka ketika mendengar jawaban dari sepupunya itu. "Lo nggak tau terima kasih ya, sejak kecil Lo udah dirawat sama Mama tapi sekarang Lo lebih mentingin cewek murahan itu." Kata Tasya dengan d**a yang naik turun karena emosi. Ya, sewaktu Delon masih kecil, Elmi lah yang mengurus Delon karena orang tua Delon sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka jarang tinggal di satu kota dalam waktu yang lama. Bahkan sebulan sekali mereka akan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka di sana. Jangankan mengurus Delon bersama-sama, papa dan mama Delon saja susah membuat waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Itu alasan Elmi memilih mengasuh Delon, dia tidak tega jika harus melihat Delon ditinggal orang tuanya dan diasuh oleh baby sitter bayaran. Bagi Elmi tidak lebih baik tinggal bersama orang yang memiliki darah yang sama daripada orang lain.
"Kalo gue nggak tau terima kasih lalu bagaimana dengan Lo? Lo bisa pindah sekolah ke SMA favorit dan elit juga bisa kuliah di kampus yang mahal karena siapa? Karena Papanya Sakura. Dan sekarang beliau lagi sakit, Lo nggak peduli sama sekali. Jangankan merawat, menengoknya saja tidak pernah kan." Bantah Delon yang sudah mulai emosi. Hari masih sangat pagi namun dia sudah tersulut emosinya.
Tasya hanya diam saja. Dia merasa terpojok dengan apa yang diucapkan oleh Delon barusan. Kata-kata bagaikan s*****a makan tuan. Delon dengan mudah membalikkan fakta. Tiba-tiba dia teringat beberapa tahun yang lalu. Saat itu Papanya meninggal dan usaha Papanya bangkrut, dia dan Mamanya harus tinggal di kontrakan kecil dengan mengandalkan tabungan yang tersisa. Hidupnya benar-benar berubah, yang awalnya hidup di rumah gedongan harus tinggal di rumah sepetak, yang semula selalu naik mobil mewah harus mengandalkan kedua kaki untuk berjalan. Dia harus sekolah disekolah biasa, dengan rata-rata keluarga temannya adalah orang miskin. Dia menjadi dijauhi oleh teman-temannya sewaktu dia masih kaya dulu. Hingga akhirnya Mamanya menikah dengan Papanya Sakura. Seketika hidup mereka kembali seperti semula, bahkan bisa dibilang jika hidup mereka lebih enak daripada saat Papa kandungannya masih hidup. Dia bisa bersekolah di sekolah elit, menaiki mobil yang mahal dan mewah, memakai baju dengan brand terkenal hingga dia lupa bagaimana menjadi orang miskin dan terbuang.
"Kamu dan Mama kamu bersikap seakan-akan semua harta ini adalah milik kalian. Perusahaan, rumah, pabrik, kendaraan, dan aset lainnya adalah milik kalian tanpa kalian ingat jika kalian merampas semua itu dari orang yang sudah mengembalikan derajat kalian yang hancur." Ucap Delon lagi.
"Itu bukan salahku dan salah Mama. Itu karena Sakura masih terlalu muda untuk mengelola perusahaan." Kata Tasya dengan bergetar. Dia ketakutan ketika melihat Delon yang sudah sangat emosi. Tumbuh dewasa bersama namun baru kali ini dia melihat saudara sepupunya semarah ini.
"Sekarang Sakura sudah dewasa, dia juga sudah lulus kuliah. Serahkan apa yang seharusnya dia punya sekarang." Kata Delon sambil berdesis.
"Itu... It.. itu bukan urusanku, itu urusan Mama." Jawab Tasya dengan menundukkan kepalanya. Tangannya saling bertaut dan terlihat bergetar karena ketakutan.
"Itu semua memang bukan urusan kamu, tapi Tante Elmi bisa luluh dengan ucapan kamu." Ujar Delon lagi.
Prankkk.... Terdengar suara piring yang terjatuh. Tasya dan Delon menoleh keluar kamar. Tanpa berpikir lama, Delon berlari keluar kamar dan meninggalkan Tasya yang masih mematung ditempat semula. Pikirannya langsung menuju kepada Sakura. Dia takut jika Tantenya akan emosi lagi dan melakukan hal diluar kendali. Terlebih tangan Sakura masih terluka, dia tidak akan punya lebih banyak tenaga untuk membela diri. Suasana dirumah masih sangat memanas membuat Delon tidak ingin pergi bekerja, melainkan menemani Sakura dan Papa Sakura saja.
Mata Delon menatap pecahan piring yang berceceran diatas lantai. Setelah itu dia menatap Tante Elmi yang duduk dengan angkuh di kursi makan. Raut wajahnya sangat tegas dan marah. Delon mencoba untuk menarik nafas dalam dan menenangkan dirinya. Berhadapan dengan Tantenya yang sudah diselimuti dengan emosi membuat dia tidak harus bersikap dengan tenang.
"Kenapa, Tan?" Tanya Delon pelan. Dia duduk di bawah Tantenya sambil memegang tangan tantenya dengan lembut.
"Dimana perempuan jalang itu? Sudah siang tapi belum ada sarapan." Teriak Elmi dengan cukup keras.
Delon memejamkan matanya. Dia menahan emosinya agar tidak membludak. Dia tidak terima ketika gadis pujaannya dikatakan sebagai perempuan jalang namun dia juga harus tetap bersikap tenang agar situasi tidak bertambah panas.
"Tante mau makan apa? Biar Delon yang siapkan sarapan." Kata Delon lembut.
"Tante sudah nggak nafsu makan." Jawab Elmi dengan sinis. Setelah itu dia pergi dari hadapan Delon. Berjalan tertatih-tatih menuju keluar rumah. Pakaiannya tergolong santai seorang pimpinan perusahaan. Delon melihat mungkin saja Tantenya tidak mau pergi ke kantor tapi pergi ke suatu tempat.
Delon menatap Tantenya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada tatapan kebencian namun dia juga harus bersikap baik kepada orang yang sudah seperti Ibu keduanya itu. Delon mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mencoba untuk memahami situasi ini. Berpikir harus bersikap seperti apa dan bagaimana.
"Mama kenapa?" Tanya Tasya pelan.
"Kamu sudah dewasa harusnya bisa mengurus Mama kamu." Jawab Delon dengan singkat. Setelah itu dia berlalu dari hadapan Tasya.
Langkah mantap Delon harus terhenti begitu dia melihat Sakura yang berdiri dianak tangga terakhir. Pakaian kerja yang pas sudah membalut tubuhnya. Tas cangklong yang berwarna senada dengan bajunya sudah nangkring dipundaknya. Riasan yang natural dengan rambut yang di kuncir kuda membuat dia terlihat lebih muda daripada usianya. Tangannya masih terlihat kaku karena diperban. Perban itu terlihat sudah baru lagi, karena dia memang sudah membantu Sakura mengganti perban pagi tadi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Delon lirih. Dia mengerutkan keningnya sambil berharap jika Sakura tidak menjawab jika dia akan pergi bekerja.
"Kantor." Jawab Sakura singkat sambil membenarkan tasnya yang akan terjatuh dari pundaknya.
"Kamu tidak paham dengan ucapanku pagi tadi?" Tanya Delon lagi.
"Aku tidak ingin bolos kerja dan membuat orang kantor menganggap aku karyawan yang pemalas." Jawab Sakura lagi.
"Kamu nggak sedang bolos kerja, Ra tapi kamu izin karena lagi sakit." Kata Delon yang seperti sedang merevisi ucapan Sakura barusan.
"Tidak ada bukti seperti surat dari dokter. Sama saja itu dianggap kebohongan." Bantah Sakura lagi. Walaupun kondisinya terlihat lemah dan berantakan dia tetap bertingkah angkuh dan tidak mau dikalahkan.
Delon mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya. Setelah itu dia mengarahkan ponsel itu pada Sakura. Dengan reflek Sakura mengangkat tangannya karena dia berpikir Delon sedang memotretnya. Tangannya yang terluka dia angkat untuk menutupi wajahnya dari kamera. Hal itu seperti kartu keberuntungan bagi Delon. Karena dengan jelas Sakura menunjukkan luka pada tangan kanannya.
Crekkk... Delon tersenyum sambil melihat gambar yang baru saja dia foto tadi. "Ini sudah cukup sebagai bukti." Kata Delon sambil menunjukkan foto itu kepada Sakura.
"Kamu pikir ini dunia sekolah, ini dunia kerja yang tidak cukup dengan foto saja. Semua harus didukung dengan pernyataan Dokter." Bantah Sakura lagi.
Delon menghela nafasnya. Dia baru sadar jika dia sedang berhadapan dengan gadis dingin dan angkuh. Gadis yang tidak mau dikendalikan begitu saja.
"Perusahan buka ajang untuk membuat karyawan terluka atau sakit. Kami para pimpinan juga memiliki rasa kemanusiaan. Logika kami berpikir telapak tangan kanan yang terluka tidak akan bisa dipaksa untuk melakukan pekerjaan. Jika itu terjadi maka kesembuhan akan semakin lama dan itu juga berpengaruh pada perusahaan karena kinerja karyawan tidak akan maksimal." Kata Delon dengan panjang lebar. Dia menjelaskan alasan itu secara terperinci.
"Ini sebagai bukti pendukung, bukti utama kita pikirkan nanti saja. Makan siang nanti aku akan jemput kamu dan temenin kamu ke rumah sakit. Sekarang kamu istirahat saja, urusan cuti kamu biar aku yang urus." Kata Delon lagi.
Sebelum Sakura menjawab ucapannya lagi, dia sudah memilih untuk pergi. Karena jika dia terus meladeni Sakura, masalah tidak akan selesai dan dia yang akan terlambat pergi ke kantor. Sakura menatap kepergian Delon dengan pasrah. Dengan perlahan dia melangkahkan kakinya kembali ke atas untuk beristirahat. Lagi pula tubuhnya merasa lemas dan juga nyeri ditangannya tidak bisa dia tahan. Mungkin benar kata Delon, dia butuh cuti untuk istirahat beberapa hari. Untung saja dia punya kenalan orang yang cukup berpengaruh di perusahaan. Jadi, dia tidak perlu kesulitan mengurus cutinya.