Sakura membuka kamar Papanya perlahan. Baru semalam tidak menemani Papanya membuat dia merasa rindu dan ada sesuatu yang kurang. Sakura menyembunyikan tangannya kanannya dipunggung. Dia menengok ke dalam dan melihat mata Papanya yang terpejam. Cukup lama dia berdiri mematung disana, tanpa dia sadari Papanya hanya berpura-pura tidur saja.
"Pa, Maaf Sakura belum bisa mendekati Papa." Kata Sakura lirih. Suaranya terdengar serak seperti sedang menahan tangis. Tangannya yang masih terluka parah membuatnya menjauh dari Papanya untuk beberapa saat. Dia tidak ingin membuat Papanya menjadi kuatir dengannya.
Mungkin Sakura akan membutuhkan pertolongan Delon lagi. Dia akan meminta Delon mengatakan jika dia ditugaskan keluar kota untuk beberapa waktu. Setelah Delon mengatakan itu, dia akan gunakan waktunya untuk beristirahat agar lukanya cepat pulih. Semua itu dia lakukan bukan karena dia ingin menjadi anak durhaka namun karena dia tidak mau membuat Papanya kuatir.
Sakura kembali menutup pintu kamar. Dia mengusap air matanya dan berjalan menjauh dari kamar Papanya. Berjalan tertatih-tatih dan masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di ranjang dan mencoba untuk beristirahat. Dia mencoba untuk tidak memikirkan apapun. Fokusnya saat ini hanya kesembuhannya agar dia bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Bahkan sejenak dia juga melupakan tentang Pandu, sejak janji bertemu mereka yang dia ingkari, Sakura tidak pernah lagi menghubungi Pandu. Alasannya karena dia belum siap, dia mengingkari janjinya begitu saja.
Tanpa Sakura tahu, ditempat yang tidak jauh darinya, Pandu berdiri bersandar pada kap mobilnya. Matanya terus menatap ke rumah mewah yang ada didereten depan. Tangannya menggenggam ponsel dengan layar menampilkan kontak bernama Sakura. Namun tetap saja dia tidak berani untuk menekan panggilan.
"Nungguin Neng Sakura ya, Mas?" Tanya bapak-bapak dengan memakai seragam putih khas seorang satpam.
Pandu tersadar dari lamunannya, dia menoleh ke sumber suara dan dia seperti sedang berfikir siapa orang itu. Namun dia mengingat suara orang itu dan akhirnya dia tahu siapa orang yang sedang menyapanya.
"Eh iya, Pak." Jawab Pandu singkat.
"Hari ini Neng Sakura nggak ada keluar, kayaknya nggak kerja deh." Kata Pak satpam itu memberikan informasi.
Pandu diam saja. Dia seperti sedang berfikir. Apakah terjadi sesuatu kepada Sakura hingga gadis itu tidak berangkat bekerja. Karena Sakura yang dia kenal adalah gadis yang tidak pantang menyerah. Seberat apapun masalah yang sedang dia hadapi, dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Pandu juga sangat tahu jika Sakura sangat bahagia mendapatkan pekerjaan ini, sudah lama dia mencari pekerjaan kesana-kemari dan dia akhirnya mendapatkannya jadi Sakura tidak akan lalai dengan pekerjaan yang sudah dia dapatkan dengan susah payah.
"Aahhhh... Jangan-jangan Neng Sakura tidak berangkat kerja karena sudah ada janji sama Mas ya?" Tanya satpam itu lagi sambil menunjuk dan menggoda Pandu.
Pandu tersenyum menanggapi. Dia terlihat bahagia namun sebenarnya didalam hati sedang terluka. Dia merasa jika dia tidak tahu apa-apa tentang Sakura. Dia tidak mengenal gadis pujaannya itu dan dia juga merasa jika dia tidak bisa diandalkan oleh gadis pujaannya itu.
"Enggak kok, Pak. Saya memang kebetulan lagi lewat daerah sini jadi belok aja deh." Kata Pandu dengan pelan. Dia tetap menyunggingkan senyum walaupun didalam hatinya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang timbul.
"Masuk saja, Mas. Pengen ketemu kok cuma dilihatin dari jauh. Ya sama aja nggak bisa ngobatin rindu." Kata Pak satpam itu sambil tertawa. Dia terlihat sangat senang menggoda Pandu. Sedangkan Pandu hanya tersenyum saja, dia seperti sedang mengikuti candaan Pak satpam.
"Lebih enak kayak gini Pak. Jadi rindunya ditimbun dulu, kalo sudah ketemu enak tinggal lepasin gitu." Jawab Pandu menanggapi candaan Pak satpam.
Pandu terlihat begitu akrab dengan para satpam yang ada di komplek itu. Mereka saling bercanda beberapa kali bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Pandu lebih banyak mendengarkan karena dia merasa dia tidak punya banyak kenangan manis untuk diceritakan. Kehidupannya selalu dipenuhi kenangan-kenangan buruk yang ingin dia lupakan namun malah bersemayam dengan tenang dalam ingatan.
"Dulu itu saya lebih seneng merantau. Pertama kali merantau waktu saya usia 15 tahun." Kata Pak satpam yang belakangan Pandu ketahui namanya Bowo.
"Merantau kemana, Pak?" Tanya Pandu menanggapi.
"Ke Bandung dulu." Jawab Pak Bowo yang terlihat masih sangat ingat kemana dia pergi merantau pertama kali.
"Pindah sekolah atau gimana? Dulu saya juga pernah sekolah di Bandung walaupun cuma setahun saja, siapa tahu sekolah kita sama Pak." Jawab Pandu dengan santai. Dia sudah mulai antusias dan penasaran dengan cerita Pak Bowo selanjutnya.
"Hahahaha... Saya cuma sekolah sampek SD saja, Mas. Ke Bandung buat cari kerjaan." Jawab Pak Bowo sambil tertawa. Dia memang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dia hanya lulus sampai SD saja. Kesulitan ekonomi dan banyaknya anak yang harus dihidupi membuat orang tua Pak Bowo tidak sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang lebih tinggi.
Pandu memperhatikan pak Bowo. Lagi-lagi dia merasa jika hidupnya masih beruntung. Karena banyak orang diluar sana yang memiliki nasib lebih buruk dari dia. Walaupun dia mengidap penyakit langka, tapi dia masih dikelilingi oleh keluarga yang menyayanginya. Membantunya untuk menjalani terapi hingga dia tahu bagaimana caranya bertahan hidup dengan penyakit aneh yang dia derita.
"Tapi bapak hebat lho bisa nyekolahin anak-anak Bapak sampai ke jenjang yang lebih tinggi." Ujar Pandu dengan mengacungkan kedua jempolnya. Dia merasa takjub dengan kerja keras Pak satpam kompleks itu. Walaupun pekerjaannya bukan pekerjaan dengan jabatan yang tinggi, dia tetap bisa membiayai anak-anaknya dan tidak lupa dengan tanggungjawabnya sebagai seorang kepala keluarga.
"Ya namanya orang tua, Mas lagi ada apa nggak ada duit tetep diusahakan demi kebutuhan anak apalagi kalo itu udah kebutuhan wajib. Walaupun harus gali lubang tutup lubang ya tetep dijalanin Mas." Jawab Pak satpam sambil cengengesan. Pandu tahu dibalik senyum lebar Pak Bowo ada kesedihan dan kelelahan yang ingin dia lepaskan.
Pandu mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Dia setuju dengan ucapan Pak Bowo. Orang tua akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya. Walaupun mereka sendiri yang akan mengalami kesulitan, mereka tidak peduli asalkan bisa memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Hati orang tua akan merasa sakit ketika mereka tidak bisa memenuhi keinginan anak-anak mereka.
"Nanti Mas akan merasakan sendiri ketika sudah menjadi orang tua. Ya, mumpung sekarang masih muda, masih lajang, belum punya anak istri, jadi kerja keraslah agar kelak ketika sudah menjadi kepala keluarga tidak terlalu memusingkan tentang ekonomi." Kata Pak Bowo sambil menepuk punggung Pandu dengan pelan. Dia menasehati Pandu seperti sedang menasehati putranya sendiri karena dia juga punya anak yang seumuran dengan Pandu.
"Iya, Pak. Akan selalu saya ingat nasehat Bapak." Jawab Pandu sambil tersenyum.
Pak Bowo tersenyum. Pipinya yang mulai cekung, kulit kecoklatan, rambutnya yang sudah mulai terlihat ubannya, dan tubuhnya yang sudah tidak sekuat dulu namun semangatnya masih membara. Sorot matanya masih menyorotkan banyak impian yang harus dia wujudkan. Pandu menyukai hal itu, walaupun dia baru mengenal Pak Bowo namun dia merasa senang sudah bisa berbagi pengalaman dengan Pak Bowo.
Hingga akhirnya Pak Bowo kembali menepuk pundak Pandu. Tangannya menunjuk ke arah rumah mewah yaitu rumah Sakura. "Itu Neng Sakura keluar." Kata Pak Bowo sambil menunjuk seorang gadis yang mulai masuk ke dalam mobil.
Pandu mengepalkan tangannya. Dia menggertakkan rahangnya. Sorot matanya begitu tajam. Perasaannya mulai diselimuti emosi, lagi-lagi dia harus melihat Sakura bersama laki-laki yang sama. Dan hubungan mereka terlihat sangat dekat.
"Kenapa, Mas?" Tanya Pak Bowo sambil melirik tangan Pandu yang terkepal.
"Bapak tau siapa laki-laki yang bersama Sakura itu?" Tanya Pandu dengan geram. Dia masih menggertakkan rahangnya bahkan ketika bertanya membuat Pak Bowo bergidik ngeri mendengar pertanyaan dari Pandu.
"Oh, itu namanya Mas Delon." Jawab Pak Bowo mencoba untuk santai.
"Siapa dia?" Tanya Pandu lagi.
"Keponakan Mamanya Neng Sakura." Jawab Pak Bowo dengan enteng.
Perlahan Pandu mulai mengendurkan kepalan tangannya. Emosi yang semula meluap-luap kini berangsur hangat. Sorot matanya juga sudah kembali teduh. "Berarti mereka saudaraan, Pak?" Tanya Pandu lagi memastikan.
Pak Bowo nampak berpikir dulu sebelum menjawab pertanyaan Pandu. "Ya seharusnya seperti itu, Mas." Jawab Pak Bowo dengan tenang.
Pandu mengerutkan keningnya. Dia merasa rancu dengan jawaban Pak Bowo. Jawaban Pak Bowo sangat tidak meyakinkan. Terdengar ada beberapa fakta yang masih disembunyikan. "Maksudnya bagaimana, Pak?" Tanya Pandu lagi memastikan.
Tin tin. . . Mobil yang ditumpangi oleh Sakura dan Delon baru saja melewati Pandu dan pak satpam yang menjaga pos. Pak Bowo dan rekannya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan Pandu melengos seperti sedang bersembunyi. Dia tidak ingin Sakura melihatnya ada di sini. Akan muncul banyak pertanyaan dikepala Sakura jika gadis itu melihat dia ada di kompleks ini.
"Itu Neng Sakura lewat kenapa nggak disapa?" Tanya Pak Bowo heran dengan tingkah Pandu.
Pandu tersenyum getir. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Sebenarnya dia juga ingin menyapa dan meminta Sakura untuk berhenti hanya saja ada sesuatu didalam hatinya yang memintanya untuk tidak menghampiri gadis itu.
"Pertanyaan saya tadi belum Bapak jawab." Kata Pandu lagi mengingatkan.
"Oh iya." Balas Pak Bowo sambil menepuk dahinya. "Jadi gini, Mas. Mas Delon itu keponakannya Mama tirinya Neng Sakura." Kata Pak Bowo lagi menjelaskan.
Pandu terdiam. Dia nampak berpikir. Jika laki-laki itu keponakan Mama tirinya Sakura, otomatis Sakura dan laki-laki itu tidak punya hubungan darah apapun. Dan bisa jadi mereka menjadi sepasang kekasih atau bahkan bisa saja hubungan mereka lebih dari itu.
"Pak, laki-laki tadi rumahnya sebelah mana?" Tanya Pandu lagi. Entah apa yang membuat dia bertanya seperti itu. Tiba-tiba saja terlintas pertanyaan itu dipikirannya.
"Mas Delon juga tinggal di rumah itu. Dia kan aslinya orang Bandung tapi kuliah di Thailand dan sekarang bekerja di Jakarta." Jawab Pak Bowo menjelaskan. Kelihatannya Pak Bowo sangat mengenal Delon. Ya, mungkin dia pernah berkesempatan nongkrong bareng Delon.
Pandu hanya diam saja. Rasa takut menyelinap didalam hatinya. Entah mengapa dia merasa kuatir jika Sakura terjebak oleh laki-laki itu. Terlihat dari sikap manis Delon, Pandu tahu jika laki-laki itu menaruh perasaan suka kepada Sakura.
"Kalo menurut Bapak laki-laki itu tampan tidak?" Tanya Pandu lagi. Dia ingin membandingkan dirinya dengan laki-laki itu. Walaupun dia sendiri tidak tahu bagaimana rupanya sekarang, namun dia masih ingat ketampanannya dulu. Banyak gadis-gadis yang dia buat patah hati karena cintanya dia tolak.
"Mas Delon ganteng lah, Mas. Banyak anak-anak muda kompleks ini yang kepincut. Tiap minggu mereka pergi ke taman buat lihatin Mas Delon olahraga. Padahal sebelumnya taman kompleks sepi, palingan para orang tua yang lagi momong anak-anak mereka." Jawab Pak Bowo lagi.
Pandu diam saja raut wajahnya terlihat sangat datar. Tiba-tiba dia menjadi tidak semangat. Setelah itu dia berpamitan kepada Pak Bowo dan satpam lainnya. Dia ingin pulang dan mengistirahatkan tubuhnya serta mengistirahatkan pikirannya. Hari ini banyak sekali yang dia pikirkan membuat dia menjadi lelah.