"Tidak ada luka yang serius. Hanya saja jangan dibuat untuk bekerja dulu, karena itu bisa membuat luka menjadi infeksi dan bertambah parah." Kata Dokter muda dengan jilbab merah yang menutupi kepalanya.
"Baik, Dok. Terima kasih." Jawab Delon dengan tersenyum. Dia bisa lega setelah memastikan jika Sakura baik-baik saja.
"Ini resepnya, bisa ditebus diapotek rumah sakit." Kata Dokter itu dengan ramah. Dia menyerahkan secarik kertas dengan tulisan yang tidak bisa dibaca oleh Pandu maupun Sakura.
"Iya, Dok. Terima kasih kami permisi dulu." Jawab Delon dan Sakura hampir bersamaan.
"Iya, semoga lekas membaik." Jawab Dokter muda itu dengan ramah. Tutur katanya sangat halus menandakan dia perempuan yang lembut.
Delon membukakan pintu untuk Sakura. Mereka keluar dari ruangan itu dan menuju apotek. Sakura diminta untuk duduk di kursi tunggu dan Delon yang mengantri obat. Sesekali Delon menoleh ke belakang untuk memastikan jika Sakura masih menunggunya. Ada ketakutan sendiri di dalam hati Delon bila Sakura memilih untuk kabur. Padahal tidak ada hal yang mendukung itu, hanya pikiran Delon yang terlalu takut.
"Terima kasih." Kata Delon ketika dia menerima obat yang dia inginkan. Setelah itu dia mendekati Sakura dan mengajak gadis itu untuk keluar dari rumah sakit.
Seperti biasa, dia membukakan pintu untuk Sakura. Setelah itu dia juga masuk ke mobil dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit. "Kamu sudah makan?" Tanya Delon penuh perhatian.
"Sudah." Jawab Sakura sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku nggak percaya." Jawab Delon lagi. Kemudian dia mulai menyalakan lampu sen dan belok ke sebuah restoran yang cukup terkenal dikota itu.
"Mau ngapain?" Tanya Sakura pelan dengan kening berkerut.
"Beli makan lah, masak bantuin nyuci piring." Jawab Delon dengan enteng. Dia tidak menggubris Sakura lagi, setelah itu dia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Mau tidak mau Sakura juga ikut keluar dari mobil. Mereka mulai memasuki restoran.
Sakura langsung berjalan masuk dan duduk begitu saja. Dia membiarkan Delon yang memesan karena memang dia sedang tidak ingin makan apapun.
"Sup buntut 3 porsi ya." Kata Delon pelan mengatakan pesanannya kepada pelayan restoran.
"Dibungkus atau makan disini?" Tanya pelayan itu ramah.
"Bungkus saja." Jawab Delon pelan.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Setelah itu dia menyerahkan struck yang harus dibayar oleh Delon dan Delon menerimanya juga langsung membayarnya dengan uang cash.
Delon menarik kursi yang ada dihadapan Sakura. Dia mendaratkan bokongnya di sana. Matanya menatap tangan Sakura yang diperban. Dia menutup matanya seakan-akan ikut merasakan nyeri dari luka itu.
"Masih sakit ya?" Tanya Delon pelan. Tangannya terulur ingin memegang tangan Sakura namun secepat kilat Sakura memukul tangan Delon.
"Jangan pegang-pegang." Semprot Sakura dengan ketus.
Delon mengerlingkan matanya. "Kemarin juga aku yang ngobatin." Cibir Delon dengan pelan.
"Ya tapi Lo nggak bisa seenaknya pegang tangan gue lagi. Masih sakit ini." Kata Sakura lagi masih dengan nada ketus.
"Kalo tangan yang kiri boleh dipegang dong berarti?" Tanya Delon menggoda. Dia tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih rapi.
Sakura manyun saja. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Semakin lama Delon semakin berani. Bahkan dia juga sudah terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Namun Sakura juga tidak mengerti mengapa dia masih saja tidak bisa membuka hati untuk Delon. Hatinya masih untuk Pandu, pikirannya juga masih terfokus pada Pandu. Padahal sudah seminggu mereka tidak bertemu bahkan tidak bertukar pesan. Malah dia sering menghabiskan waktu dengan Delon tapi tetap saja hatinya tidak tersentuh.
***
Langit gelap dengan taburan bintang dan satu rembulan menghias langit malam. Keindahan cahaya mereka seperti perhiasan malam. Saling memantulkan cahaya hingga membuat bumi menjadi terang. Walaupun masih dibantu dengan cahaya lampu, namun keindahan mereka tidak bisa ditolak oleh mata.
Sakura memandang langit. Tangannya menempel pada kaca dan bergerak seperti menggambar sebuah bintang. Bibirnya tersenyum kecil. Pikirannya mencoba untuk tenang dan tidak memikirkan apapun. Hanya moment-moment bahagia yang sedang dia pikirkan.
Hingga akhirnya matanya melihat ke bawah. Dia melihat Delon yang seperti sedang mencegah seseorang untuk pergi. Sakura memicingkan matanya karena dia tidak tahu siapa orang yang sedang dicegah oleh Delon. Sakura beranjak dari tempatnya semula. Dia menyambar cardigan rajut yang ada di ranjang dan setelah itu keluar dari kamar. Langkahnya sedikit tergesa karena dia penasaran dengan orang yang ingin pergi itu.
"Tante nggak usah kemana-mana." Kata Delon dengan keras namun masih lembut. Dia seperti membujuk seseorang yang dia panggil dengan sebutan Tante.
"Tante harus pergi dari sini, Tante nggak bisa terus tinggal di sini." Jawab Elmi dengan kekeh. Dia sama sekali tidak termakan oleh ucapan Delon.
"Benar kata Mama, Mama harus menenangkan dirinya dulu. Mama mengalami gangguan bipolar, dia harus istirahat dan menenangkan dirinya dulu." Kata Tasya membela Mamanya.
"Kamu pikir mengalami hal seperti kemarin membuat Tante baik-baik saja? Nyawa Tante hampir melayang." Kata Elmi sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Lalu anda pikir saya baik-baik saja setelah anda mengatakan hal buruk kepada saya?" Tanya Sakura tiba-tiba. Dia sudah tidak sabar untuk terus diam. Sakura keluar dari rumah dan berjalan pelan.
"Kamu lagi." Ucap Elmi dengan geram. Dia mengeratkan kepalan tangannya seakan-akan ingin memberi pelajaran kepada Sakura.
"Kenapa? Anda ingin pergi?" Tanya Sakura pelan. "Silakan pergi!" Lanjut Sakura. Dia menyuruh Ibu tirinya itu pergi dari rumah Papanya.
Elmi hanya dia saja namun terlihat sekali jika dia sedang memendam amarah.
"Silakan pergi dan jangan pernah kembali lagi." Kata Sakura tepat dihadapan Elmi.
Plakk.. sebuah tamparan mendarat tepat dipipi kanan Sakura hingga membuat Sakura melengos ke kiri. Terasa panas dan terlihat merah seketika. Delon yang melihat itu segera bertindak. Dia tidak ingin Tantenya lepas kendali dan melakukan hal yang lebih buruk.
"Tante nggak perlu pakai kekerasan." Cegah Delon. Dia menegur Tantenya itu sambil berdiri ditengah-tengah Sakura dan Elmi.
"Anak kurang ajar seperti ini harus diberi hukuman." Jawab Elmi dengan keras. Dia sama sekali tidak takut dengan Delon, dia juga tidak menyesal dengan apa yang barusan dia lakukan.
"Tetap saja Tante tidak bisa melakukan ini." Kata Delon lagi.
"Lalu harus bagaimana?" Tanya Elmi dengan tegas. Dia tidak bisa memikirkan apa yang ada dipikiran keponakannya itu. Keponakannya terlihat sangat membela Sakura.
"Jika anda bisa bersikap wajar saya juga akan menghormati anda. Tapi masalahnya semua ada pada diri anda. Anda membuat saya dan Papa saya sengsara. Anda membuat saya harus bekerja keras demi membiayai kuliah dan pengobatan Papa." Teriak Sakura meluapkan semua amarahnya. Dendam dihatinya hanya satu sebabnya. Yaitu, tingkah Mama tirinya yang semena-mena dengannya dan Papanya.
Elmi menepis tubuh Delon membuat Delon yang tidak siap harus menyingkir ke samping. Elmi maju hingga jaraknya dengan jarak Sakura sangat dekat, bahkan ujung kakinya dengan ujung kaki Sakura sudah saling menyentuh. Matanya menatap tajam ke manik mata Sakura begitu juga dengan Sakura yang tidak takut dengan tatapan Mama kirinya dia juga membalas tatapan itu bahkan lebih tajam dari Mama tirinya.
"Sekarang kamu sudah lulus kuliah kamu juga menyombongkan diri kamu kalau kamu kompeten, coba saja rebut kembali apa yang sudah ada dalam genggamanku." Tantang Elmi dengan nada meremehkan.
Sakura tersenyum sinis. Dia sama sekali tidak takut dengan tantangan Elmi. Sakura menanggapinya dengan sangat santai seakan-akan dia tidak tertarik namun sebenarnya dia sudah mulai memikirkan cara untuk merebut perusahaan dari kekuasaan Mama tirinya.
"Aku tidak perlu terburu-buru untuk melakukan hal yang ceroboh. Cukup diam dan lihat tingkah laku anda. Pada akhirnya semua sesuatu akan kembali kepada pemiliknya." Jawab Sakura dengan tenang.
"Bilang saja kalau kau tidak mampu." Balas Elmi sengit.
"Sudah, Ma biarkan saja jangan hiraukan orang nggak waras seperti dia. Ayo kita pergi sekarang." Kata Tasya memisahkan perseteruan antara Sakura dan Elmi.
Elmi hanya diam saja, dia menurut ketika tangannya ditarik oleh Putrinya menjauh dari Sakura dan juga Delon. Delon juga sudah tidak terlihat ingin mencegah Elmi lagi. Dia memberikan kesempatan untuk Elmi agar wanita itu bisa menenangkan dirinya.
"Setelah Tante sampai ke tempat tujuan Tante, jangan lupa hubungi Delon." Ucap Delon berpesan kepada Tantenya.
"Iya." Jawab Elmi singkat sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan. Kemudian dia kembali melanjutkan jalannya.
Delon menyentuh tangan Sakura. Dia menggenggam tangan itu seakan-akan ingin memberikan kekuatan untuk Sakura. Hanya saja wajah dingin Sakura membuat dia terlihat baik-baik saja padahal dia sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.