Empat Puluh Dua

1954 Kata
Sakura melangkahkan kakinya lemah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya lemah seperti tidak sanggup lagi berdiri. Matanya sayu dan dia terlihat tidak semangat. Tangan Delon bertengger dipundak Sakura. Dia melakukan sedikit dorongan agar gadis itu bisa berjalan lebih cepat. "Ayo semangat ." Ucap Delon pelan sambil dengan nada keras. Dia ingin memberikan semangat untuk gadis itu. "Ya." Jawab Sakura pelan. Delon menutup pintu rumah ketika mereka sudah benar-benar masuk ke rumah. Sakura membanting tubuhnya di sofa seraya menyandarkan punggungnya di sana. Matanya terpejam dan dia memikat kepalanya dengan tangan kirinya. Sedangkan Delon hanya memperhatikan Sakura tanpa mengatakan apapun. "Aku bikinin teh hangat dulu ya." Ucap Delon lembut. Sakura tidak menjawab namun Delon langsung pergi menuju dapur. Dia tahu jika Sakura sedang merasakan syok. Cobaan dan perseteruannya dengan Mama tirinya terus datang bertubi-tubi. Sakura seakan-akan ingin menutup mata dan telinga namun pada akhirnya dia juga tidak bisa membiarkan tingkah Mama tirinya yang terus menerus menyerangnya secara fisik maupun batin. "Aku harus bergerak cepat." Gumam Sakura pada dirinya sendiri. Dia memandang foto keluarga yang terpajang didinding ruang tamu. Foto keluarga yang terlihat bahagia namun sebenarnya sedang bersaing secara diam-diam. Mereka seperti sedang menyembunyikan taring mereka masing-masing. Mengatur strategi untuk saling menjatuhkan. Dan ketika semua sudah siap mereka akan menembakkan rencana yang sudah mereka susun untuk meraih kemenangan. Namun Sakura percaya, pada akhirnya apapun yang sudah ditakdirkan untuk dia miliki akan kembali kepada dia. "Minum dulu tehnya." Kata Delon pelan sambil meletakkan teh hangat itu di atas meja "Terima kasih." Jawab Sakura pelan namun dia masih tidak beranjak dari duduknya. Delon duduk di samping Sakura. Dia masih menatap gadis itu dengan lekat. "Nggak usah terlalu dipikirkan." Kata Delon mencoba menghibur. "Aku nggak mau mikirin kejadian tadi dan tolong jangan dibahas lagi." Ucap Sakura tegas. Delon tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengambil remot televisi dan mulai menyalakan televisi. Sebuah tayangan komedi yang ditampilkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Membuat Delon tertawa ketika para aktor membuat candaan. Namun tidak bagi Sakura, gadis itu masih saja diam dan tidak berekspresi apapun. Dia juga masih betah memejamkan matanya. "Bagaimana kabar Papa aku? Tanya Sakura pelan karena sudah hampir seminggu ini dia tidak melihat Papanya. "Baik kok." Jawab Delon singkat. "Apa dia tidak menanyakan aku?" Tanya Sakura pelan. Dia penasaran apakah Papanya juga mengkuatirkan dia. "Dia selalu menanyakan kabar kamu dan aku selalu bilang kalau kamu baik-baik saja." Jawab Delon lagi. Dia tahu bagaimana perasaan Sakura saat ini. Gadis itu pasti sedang kuatir dengan keadaan Papanya. "Apa yang kamu katakan kepada Papa aku hingga dia percaya sama kamu seperti itu?" Tanya Sakura lagi. Delon tersenyum. Dia memang belum pernah cerita kepada Sakura tentang bagaimana dia bisa menjaga rahasia Sakura dari Papanya. "Aku mengatakan kepada Papa kamu kalau kamu ditugaskan oleh kantor untuk tugas dinas ke cabang yang ada di kota lain." Jawab Delon. "Papa percaya?" Tanya Sakura lagi. Delon menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Dia percaya tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Papa kamu. Yang namanya orang tua pasti ngerasa kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja." Balas Delon. Sakura mengangguk setuju. Dia juga menjadi merasa bersalah dengan Papanya karena dengan sengaja dia membohongi Papanya dalam waktu yang lumayan lama. Namun dia melakukan itu semua karena terpaksa. Dia tidak ingin membuat Papanya kuatir dan berakhir dengan kesedihan juga dengan perasaan bersalah karena dia merasa tidak bisa melindungi putrinya. "Sabar ya, Pa. Sakura akan segera sembuh dan setelah itu kita akan ngobrol lagi." Kata Sakur dalam hati. *** Delon memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Ini sudah satu minggu sejak kepergian Tantenya dari rumah. Dan dia juga sudah melihat perubahan tangan Sakura. Luka yang ada ditangan Sakura sudah mulai mengering bahkan perban yang semula mengelilingi tangan kanan Sakura kini sudah tidak terlihat lagi. Sakura juga sudah mulai melakukan aktivitas lagi menggunakan tangannya walaupun masih sangat hati-hati. "Mending aku cari kontrakan aja." Gumam Delon pelan. Dia memandang setiap sudut kamar itu sekilas. Dia menyunggingkan senyumnya karena dia tidak percaya pada akhirnya dia keluar dari kamar yang sudah memberikan kenyamanan tersebut. Delon menarik kopernya perlahan. Dia memegang gagang pintu dan menurunkannya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan mencari Sakura yang sudah ribut di dapur. Dia meninggalkan kopernya di ruang tamu setelah itu menghampiri Sakura yang masak. "Ra." Panggil Aldo pelan. Sakura yang sedang memasukkan sayuran menoleh ke sumber suara. Dia sedikit menyunggingkan senyumnya namun setelah itu dia kembali fokus pada aktivitas sebelumnya. "Duduk dulu bentar lagi mateng." Kata Sakura pelan. Delon menuruti ucapan Sakura. Sebelum pergi dia akan makan hidangan yang telah disiapkan oleh Sakura. Delon berpikir mungkin ini terakhir kalinya dia bisa menikmati masakan Sakura. Karena setelah ini dia akan pergi dari rumah ini dan itu artinya dia tidak akan makan masakan Sakura lagi. "Kamu masak apa?" Tanya Delon pelan sambil menuangkan air ke gelas. "Soto daging." Jawab Sakura pelan tanpa menoleh ke arah Delon. "Hmm pas banget itu makanan kesukaan aku." Jawab Delon dengan wajah sumringah. "Masak? Aku nggak tau loh." Balas Sakura dengan bodoamat. "Kamu nggak pernah tanya sih." Gumam Delon dengan nada kecewa. Sakura hanya terkekeh pelan. Dia tidak terlalu menghiraukan ucapan Delon. Gadis itu masih terus fokus pada masakannya yang sebentar lagi sudah matang. Dan benar tidak butuh waktu lama Sakura sudah menuangkan sayur soto itu ke dalam mangkok. Mangkok yang berisi sup itu terhidang di depan Delon. "Wahhh kelihatannya enak nih. Baunya aja udah enak." Ucap Delon dengan wajah yang tidak sabar ingin mencicipi masakan Sakura. "Makan aja." Kata Sakura pelan setelah melepas apronnya. Delon langsung mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi juga sayur yang masih mengepulkan asap itu. Dia terlihat sangat terburu-buru ketika menyendokkan nasi itu dan menyuapkannya ke mulutnya. Sakura hanya menatap itu dengan kekehan pelan. Senang karena masakan buatannya diterima baik oleh seseorang. "Kamu nggak makan?" Tanya Delon pelan. "Masih kenyang tadi habis ngabisin sisa buburnya Papa." Jawab Sakura pelan. Ya, Sakura sudah berani muncul dihadapan Papanya. Karena dia sudah tidak perlu memakai perban untuk tangan kanannya. Dan itu sudah 2 hari yang lalu jadi sudah 2 hari ini dia kembali berbincang dengan Papanya. "Seneng nggak bisa kembali ngobrol sama Papa kamu?" Tanya Delon pelan. Sakura tersenyum dengan lebar. Bagi Sakura tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain kembali bersama Papanya. "Seneng banget. Baru 2 minggu tapi rasanya seperti 2 tahun." Jawab Sakura. "Sepertinya aku juga sedang merindukan orang tuaku." Kata Delon setelah dia menghabiskan makanannya. "Dimana mereka?" Tanya Sakura dengan penasaran. "Ada di Bandung." Jawabnya pelan. "Jakarta ke Bandung nggak butuh waktu lama. Temui mereka selagi kamu bisa melihat mereka apalagi dalam keadaan sehat." Kata Sakura. Karena dia merasakan ditinggalkan oleh orang tua. Mamanya sudah meninggal dan sekarang walaupun Papanya masih hidup tapi Papanya hanya bisa terbaring lemah diatas ranjang. Tidak bisa dia ajak pergi menikmati indahnya dunia. Dan Sakura merasa dia hanya seorang diri. "Iya. Rencananya minggu ini aku mau ngunjungin mereka." Jawab Delon. Sakura menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan niat baik Delon. "Ra, ada yang mau aku omongin." Kata Delon pelan. "Mau ngomong apa? Ngomong aja." Balas Sakura santai. "Aku akan pindah dari rumah ini." Kata Delon lagi. Sakura terdiam. Wajahnya datar dan Delon tidak bisa membawa ekspresi Sakura. Antara senang atau sedih. "Kenapa?" Tanya Sakura pelan. Dia juga bingung harus bersikap seperti apa. Dulu dia sangat membenci Delon yang tinggal di sini namun setelah dia merasakan kebaikan Delon, dia mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki itu. "Alasanku tinggal di sini karena ada Tante Elmi. Sekarang Tante Elmi tidak ada di rumah begitu juga dengan Tasya. Aku nggak mau mengundang pikiran negatif dari orang luar kalau aku tinggal disini sama kamu." Kata Delon menjelaskan. "Lagi pula kamu juga sudah bisa ngurusin Papa kamu lagi kan. Aku jadi lebih tenang pergi dari rumah ini." Lanjutnya. "Tapi kan masih ada Papa. Kita nggak hanya benar-benar tinggal berdua saja." Bantah Sakura. "Orang tidak akan berpikir positif mengingat Papa kamu yang tidak bisa bangun." Kata Delon lagi. Sakura kembali diam. Dia nampak sedang berpikir. Apa yang dikatakan oleh Delon memang benar. Orang akan berfikir macam-macam ketika mereka tahu Mama tirinya pergi dari rumah. "Terus kamu mau tinggal dimana?" Tanya Sakura pelan. "Aku udah nyewa rumah, nggak jauh kok sama sini. Nanti kalo kamu kangen main aja." Jawab Delon sambil tersenyum. Sakura hanya mencibir saja. "Yang ada malah kamu yang kangen." Jawab Sakura. Delon tertawa. Dia tidak bisa tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sakura. Memang nanti pada akhirnya dia yang akan sering merindukan gadis itu. Sekarang saja dia merasa sedih karena akan pergi dari rumah ini. Itu artinya dia tidak bisa sering-sering bertemu dengan Sakura. Ya walaupun mereka masih bisa bertemu di kantor. "Hati-hati ya." Pesan Sakura dengan lembut. "Iya." Jawab Delon pelan. Delon bangkit dari duduknya. Dia berjalan pelan ke depan. Mengambil koper yang sudah siap di ruang tamu. Menariknya pelan dan mulai keluar dari rumah itu. Sakura hanya bisa melihatnya tanpa bisa mencegah. Dia ikut mengantar Delon hingga laki-laki itu masuk ke dalam mobil. "Kamu bisa pakai kamar kamu lagi." Kata Delon pelan setelah dia menutup pintu bagasinya. "Kamu tau dari mana kalau itu sebelumnya kamar aku?" Tanya Sakura sambil mengerutkan keningnya. "Nggak sengaja aku nemuin foto kamu saat masih bersegaram putih abu-abu." Jawab Delon singkat sambil menyunggingkan senyumnya. "Aku pergi dulu." Kata Delon sekali lagi berpamitan. "Jaga diri baik-baik." Pesan Sakura. Sakura melambaikan tangannya pelan begitu melihat mobil itu yang dikendarai oleh Delon mulai melaju. Sakura masih memperhatikan mobil itu hingga mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya. *** Rintik air mulai berjatuhan. Jalan aspal yang semula kering mulai basah karena air, bahkan sebagian sudah mulai tergenang. Sakura mengulurkan tangannya untuk mengetes sederas apa air itu. Ternyata memang cukup rapat airnya. "Untung aku bawa payung." Ucap Sakura pelan. Gadis berambut sebahu itu membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. Setelah itu dia melebarkan payung yang baru saja dia ambil tadi. Payung bermotif bunga sakura sama seperti namanya. Berwarna dasar putih dengan bunga yang berwarna merah muda, terlihat cantik dan indah bahkan secantik orang yang memakainya. "Bismillah." Ucap Sakura pelan sebelum dia menerobos hujan. Sakura mulai melangkahkan kakinya ditengah-tengah hujan. Dia tidak berniat untuk menambah laju jalannya mungkin karena dia juga ingin menikmati air hujan hanya saja dia masih harus kembali ke kantor jadi dia tidak mungkin membiarkan tubuhnya basah. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Sosok yang sudah beberapa minggu ini tidak dia temui. Sosok itu sedang berdiri di depan toko kue. Dia terlihat kebingungan. Mungkin dia sedang terburu-buru namun dia tidak membawa payung. Sakura melangkahkan kakinya mendekati toko roti tersebut. "Kamu mau ke mobil?" Tanya Sakura pelan begitu dia berada di samping laki-laki itu. Pandu yang mengenal suara itu terlihat sedang memperhatikan gadis yang ada didepannya. Ketika dia sadar dia menjatuhkan pandangannya ditangan kiri gadis itu. Seketika matanya menangkap gelang yang dia beli khusus untuk seseorang. "Sakura." Panggil Pandu pelan. "Iya. Kamu mau ke mobil?" Tanya Sakura lagi. "Iya, tapi aku nggak bawa payung." Jawabnya. "Ayo aku akan antar kamu." Kata Sakura lagi. Pandu meyunggingkan senyumnya. Akhirnya dia bisa segera masuk ke dalam mobilnya. Terjebak di tengah-tengah hujan hanya akan membuatnya kembali teringat masa lalu. Kecelakaan yang membuatnya seperti ini. "Terima kasih." Ucap Pandu pelan. "Sama-sama." Jawab Sakura dengan senyummya. "Kamu mau kemana?" Tanya Pandu lagi. "Baru selesai makan siang sekarang mau balik ke kantor." Jawab Sakura jujur. "Biar lebih cepet dan kamu nggak kena air hujan, ayo aku antar kamu." Ucap Pandu. Sakura hanya diam saja. Dia tidak menjawab ucapan Pandu. "Itung-itung gantian karna kamu tadi juga udah nganterin aku kan." Kata Pandu menambahi. "Ya udah deh." Jawab Sakura. Mobil hitam Pandu sudah membelah jalanan. Rintik air masih terlihat. Bahkan Sakura harus mengeratkan blazernya karena merasa kedinginan. "Besok aku nerima gaji pertama, aku traktir ya." Kata Sakura dengan semangat. Pandu tersenyum dengan lebar. "Aku tunggu ya." Balas Pandu dengan tersenyum. Sakura menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum. Sakura bersyukur karena dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Pandu yang mulai renggang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN