Empat Puluh Tiga

1988 Kata
Awan terlihat kembali cerah setelah langit menumpahkan hujan ke bumi. Walau masih terlihat rintik hujan namun mendung sudah tak terlihat lagi. Sakura berjalan santai memasuki restoran cepat saji yang tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja. Dia sudah membuat janji makan bersama dengan laki-laki yang beberapa bulan ini selalu ada untuknya. Menemaninya melakukan ini dan itu dan banyak membantunya. Memberinya semangat baru ketika dia mulai jenuh dan ingin menyerah dengan takdirnya. Laki-laki itu selalu menguatkan bahunya dan menegakkan dagunya untuk menghadapi kerasnya hidup. Walaupun mereka sempat tidak bertegur sapa tapi sekarang mereka kembali dekat. Ketika Sakura sampai di Restoran tersebut dia tidak menemukan keberadaan Pandu. Sakura berpikir Pandu mungkin terjebak macet karena sore hari jalanan akan padat oleh kendaraan. Banyak orang yang baru pulang dari tempatnya bekerja. Banyak juga siswa yang baru pulang dari tempat bimbingan belajarnya. Tujuan mereka semua sama yaitu ingin segera sampai di rumah berkumpul dengan keluarga dan mengistirahatkan tubuhnya. Sakura memilih bangku yang berada di dekat jendela. Tujuannya selain untuk melihat luar restoran juga untuk melihat kehadiran Pandu. Sakura memotret bangku kosong di depannya, mengirimkan foto itu kepada Pandu untuk memberitahu Pandu jika dia sudah datang. Sakura memanggil salah satu pelayan yang tidak jauh dari tempat duduknya. Dia memesan dua cangkir cappucino. Dia berpikir akan lebih baik dia memesan terlebih dahulu sebelum Pandu datang. Beberapa kali Sakura melirik jam tangannya, melihat berapa menit lagi dia harus menunggu kedatangan Pandu. Dari seberang jalan terlihat laki-laki tampan dengan gaya pakaian kasual. Celana jeans dan kaos yang pas ditubuhnya ditambah kemeja yang sengaja tidak dia kancingkan serta lengannya dia gulung hingga ke siku. Penampilan laki-laki itu selalu terlihat segar dan santai namun tidak mengurangi ketampanannya. “Dia sudah datang.” Gumam Sakura pelan dengan menyunggingkan senyumnya. Pandu masuk ke dalam restoran. Dia membuka handphonenya dan melihat pesan gambar yang dikirimkan oleh Sakura. Itu adalah foto dimana Sakura duduk. Pandu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan foto tersebut. Dan ketika dia rasa dia sudah menemukan meja tersebut, dia melambaikan tangan kepada seorang gadis yang duduk tenang dimejanya. Sakura yang merasa jika lambaian tangan Pandu untuknya ikut melambaikan tangannya juga. Namun ternyata Pandu melewatinya begitu saja, dia malah duduk di meja yang ada dibelakang Sakura. Sakura terpaku dan melihat Pandu dengan pandangan bingung. “Maaf ya sudah membuatmu menunggu.” Kata Pandu kepada gadis yang ada di depannya itu. Gadis itu mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud ucapan Pandu. Dia memperhatikan Pandu dan mencoba mengingat-ingat Pandu, siapa tahu dia pernah bertemu dengan laki-laki itu, namun dia sama sekali belum pernah bertemu. Sakura yang bingung dengan keadaan ini langsung bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Pandu dan gadis itu. “Mas Pandu.” Panggil Sakura pelan sambil menepuk pundak Pandu. Pandu yang merasa tidak asing dengan suara itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan dia terkejut dengan orang yang ada di depannya. Dia memperhatikan penampilan dan gaya rambut orang itu, dia sangat mengenali orang itu karena hampir setiap hari mereka bertemu. Ditambah Pandu melirik pergelangan tangan gadis itu, ada gelang rantai dengan gandul bunga Sakura yang dia pesan khusus dan dia berikan kepada Sakura. Seketika Pandu sadar jika dia sudah salah mengenali seseorang. “Kamu ada janji bertemu orang lain lagi selain aku?” tanya Sakura pelan. Dia mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. Pandu semakin bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan jujur kepada Sakura. Dia takut membuat Sakura lari dari dia. “Kalau memang Mas ada janji dengan orang lain, kita batalkan saja makan kita.” Kata Sakura kemudian. Sakura ingin berlalu dari hadapan Pandu. Dia tidak tahan melihat Pandu yang terus saja diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Posisinya saat ini seperti gadis malang yang sedang memergoki kekasihnya berselingkuh. Banyak tamu yang memperhatikan mereka bertiga dan sedari tadi hanya dia saja yang berbicara. Sakura ingin pergi dari hadapan mereka berdua. Namun baru selangkah, Pandu sudah mencekal tangan Sakura menahannya agar tidak pergi. Pandu bangkit dari duduknya. Dia menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada gadis didepannya itu. “Maaf, Mbak saya salah orang.” Kata Pandu dengan menyesal. Dia menggandeng Sakura untuk duduk dimeja yang tadi sudah ditempati oleh Sakura. Sakura masih tidak berbicara, dia menunggu Pandu menjelaskan apa yang barusan terjadi dan siapa gadis tersebut. “Maaf, aku tadi kurang fokus jadi salah orang.” Kata Pandu meminta maaf. Dia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Sakura. Ketika orang berbohong akan terlihat dari sorot matanya, dan Pandu tidak ingin Sakura mengetahui jika dia sedang berbohong. “Aku juga sering tidak fokus tapi aku tidak pernah sampai salah mengenali seseorang.” Balas Sakura dengan tajam. Dia melihat tingkah gelisah Pandu yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. “Sekilas kalian nampak mirip, jadi aku pikir dia tadi adalah kamu.” Kata Pandu berusaha membela dirinya. Sakura menengok ke belakang. Dia memperhatikan wajah gadis itu, tidak mirip sama sekali. Wajah gadis itu lebih tirus dibandingkan wajahnya. “Wajahku dengan wajahnya berbeda sangat jauh.” Kata Sakura yang tidak terima dibilang mirip dengan gadis itu. Sakura merasa jika dia lebih cantik dari gadis itu. “Coba perhatikan lagi, pola rambut kalian sama, poni kalian juga sama begitu juga gaya berpakaian kalian hampir sama, kalian juga memilih tempat duduk dekat jendela. Aku mengira itu adalah kamu. Maaf ya aku salah.” Kata Pandu tidak mau kalah dari Sakura. “Warna rambut kami jelas berbeda. Rambutku hitam asli sedangkan rambutnya pirang kok bisa kamu salah orang.” “Ya aku mengira kamu mengubah warna rambutmu.” Jawab Pandu. “Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku mengaku aku salah karena tidak fokus dan tidak mengenali kamu.” Kata Pandu memohon agar dimaafkan oleh Sakura. “Aku masih merasa aneh,” kata Sakura sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak berhenti memperhatikan wajah Pandu. “Tidak ada yang aneh.” Kata Pandu cepat. Dia takut jika Sakura menyadari sesuatu. “Kamu jangan berbohong padaku, kamu tidak lupa kan aku sarjana psikologi. Aku bisa membaca gerak-gerik seseorang dan aku tau kalau sekarang kamu sedang menyembunyikan sesuatu.” Kata Sakura sedikit keras. Sakura menatap Pandu dengan tajam. Pandu yang sedang minum kopinya tersedak setelah mendengar pernyataan Sakura. Dia melupakan satu hal jika Sakura adalah lulusan psikologi. Akan susah membohonginya karena Sakura bisa sangat mudah mengetahui orang itu bohong atau tidak. Sakura hanya melihat dari tingkah orang tersebut atau ucapan orang itu. “Mas, kita memang baru beberapa bulan kenal tapi aku tidak menutupi apapun dari kamu karena aku percaya kamu orang yang bisa menghargai keburukanku, kamu tidak akan mengumbarnya ke orang lain. Kamu juga tau tentang kehidupanku, bagaimana karirku, bagaimana keluargaku, bagaimana penderitaanku aku bagi semuanya denganmu. Lalu, mengapa masih ada yang kamu tutupi dari aku? Apa kamu tidak percaya denganku?” tanya Sakura pelan. Bukannya dia ingin tahu atau ingin ikut campur dengan hidup orang lain, namun entah mengapa Pandu adalah laki-laki spesial setelah Ayahnya. Pandu diam saja. Dia merenungi setiap kata yang dikeluar dari bibir Sakura. Selama ini dia selalu menjadi orang yang tertutup. Hidupnya hanya sekitar perusahaan dan rumah. Bahkan di perusahaan pun dia hanya bertemu dengan Gilang. Dia tidak pernah berinteraksi selain dengan orang tuanya dan Gilang. Tapi setelah dia bertemu dengan Sakura dia merasa berbeda. Setiap kali melihat Sakura dia merasa memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Beban yang dipikul oleh Sakura tidak ringan, namun Sakura mampu tersenyum dan terlihat bahagia. “Kita makan dulu, Mas janji setelah makan Mas akan cerita denganmu.” Kata Pandu memutuskan. “Kalau Mas bohong?” tanya Sakura sambil memicingkan matanya. “Kamu boleh menghukum Mas.” Jawab Pandu cepat. “Oke, Mas nggak boleh mengeluh dengan hukuman yang aku beri.” Pandu menganggukkan kepalanya dengan patuh. Dia memanggil pelayan dan mulai memesan makanannya dan makanan Sakura. Setelah pelayan itu pergi, Pandu nampak berpikir apakah dia sudah benar-benar siap untuk berkata jujur kepada Sakura tentang penyakit yang dia derita. Pandu takut Sakura tidak bisa menerima itu dan Sakura akan pergi dari hidupnya yang sudah lebih berwarna dari sebelumnya. Mereka makan dalam diam. Masing-masing menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka. Tidak ada yang mengeluarkan suara selain dentingan sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring. Terdengar pula suara berisik dari tamu lainnya yang berbicara banyak hal. *** Pandu menghentikan mobilnya dipinggir danau. Hari semakin gelap namun banyak lampu taman disekitar danau membuat danau terlihat lebih indah. Pandu mengajak Sakura untuk turun dari mobil. Hembusan angin menggoyangkan rambut Sakura. Sakura mengeratkan cardigannya karena merasa dingin ketika kulitnya diterpa oleh angin. Pandu yang melihat itu mengambil jaketnya yang dia simpan di dalam mobil. Memakaikan jaket itu untuk Sakura. “Terima kasih.” Kata Sakura pelan. “Sama-sama.” Jawab Pandu sambil tersenyum. Pandu melepas kemejanya yang kemudian dia gunakan untuk alas untuk dia dan Sakura duduk. Mereka masih tidak berbicara apapun. Sakura memilih diam sembari menunggu cerita dari Pandu, sedangkan Pandu bingung harus bercerita dari mana. Hingga akhirnya Sakura yang sudah tidak tahan dengan suasana hening seperti ini. “Mas udah janji mau cerita.” Kata Sakura memulai pembicaraan. Pandu hanya berdehem kecil menjawab ucapan Sakura. Dia masih takut untuk bercerita. Ini adalah pertama kalinya dia menceritakan kondisinya kepada orang lain. Dulu dia berpikir lebih baik dia menyembunyikan ini selamanya dan hidup dengan bersembunyi. Bekerja dari balik layar dan tidak mau mengenal wanita. Namun setelah Sakura hadir, perlahan-lahan dia mulai mengubah tujuan hidupnya. Dia ingin setiap hari bertemu dengan wanita itu. Walaupun dia tidak bisa melihat wajah Sakura, namun asistennya mengatakan jika Sakura adalah gadis yang cantik. Ya, Pandu setuju dengan asistennya. Pandu juga merasakan kebaikan dan kecantikan dari hati Sakura. “Sebenarnya aku bukan manusia yang sempurna.” Kata Pandu mulai bercerita. Sakura menganggukkan kepalanya pelan. “Aku tau, aku juga bukan manusia yang sempurna bahkan di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.” Jawab Sakura pelan. “Bukan itu maksudku..” Kata Pandu lagi. “Lalu?” tanya Sakura sedikit bingung. “Aku bukan laki-laki yang normal.” Jawab Pandu. “Maksudnya bukan laki-laki yang normal?” tanya Sakura dengan bingung. Wajahnya seakan-akan sedang menebak jawaban Pandu. “Bukan ... bukan, bukan tidak normal dalam hal perasaan. Aku masih suka dengan perempuan jadi kamu jangan berpikir yang macam-macam.” Kata Pandu dengan cepat menjelaskan kepada Sakura. Dia melihat ekspresi Sakura yang sepertinya sedang berpikir jika dia adalah seorang gay. “Lalu tidak normal dalam hal apa?” tanya Sakura lagi. Pandu menarik napasnya dalam. Dia mengatur jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dia belum sepenuhnya siap untuk menceritakan tentang penyakitnya kepada Sakura. Namun dia sudah berjanji dengan Sakura akan mengatakan dengan jujur. “Aku mengidap penyakit Prosopagnosia.” Kata Pandu pelan. Suaranya hampir tidak terdengar oleh Sakura. “Mengidap penyakit apa? Pros.. pros.. pros apa?” tanya Sakura meminta Pandu untuk mengulanginya sekali lagi. “Pro-so-pag-no-si-a.” Jawab Pandu sambil mengeja, Sakura juga ikut mengeja bersama Pandu. “Aku baru mendengar penyakit itu? Aku baru mendengar ini.” Tanya Sakura bingung. “Prosopagnosia adalah penyakit yang membuat penderitanya kesulitan untuk mengenali wajah seseorang.” Kata Pandu menjelaskan. “Ada bahasa yang lebih mudah dipahami nggak? Aku bukan dari dunia medis jadi aku kurang mengerti.” Kata Sakura pelan. Pandu terkekeh mendengar ucapan Sakura. “Prosopagnosia lebih umum disebut kebutaan wajah.” Jawab Pandu. “Maksudnya kamu nggak bisa melihat?” tanya Sakura pelan. “Aku bisa melihat alam, tapi aku nggak bisa melihat wajah orang. Yang aku lihat setiap bertemu orang adalah mereka memiliki wajah yang sama, datar. Aku nggak bisa membedakan mereka bahkan aku juga tidak bisa membedakan wajahku sendiri.” Jawab Pandu pelan. Sakura membuka tasnya, dia mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya. Menaruhnya di depan wajah Pandu agar laki-laki itu bisa berkaca. “Kamu bisa menggunakan cermin untuk melihat wajah kamu.” Kata Sakura dengan tangan yang masih memegang kaca. Pandu menggelengkan kepalanya pelan. “Datar, Ra. Aku melihat di sana datar.” Jawab Pandu dengan lemah. Sakura menurunkan cermin itu dengan perlahan. Dia menyimpannya kembali ke dalam tasnya. Melihat Pandu yang diam saja dan menundukkan kepalanya, Sakura seakan-akan mengerti apa yang dirasakan oleh Pandu. Perlahan tangannya terulur untuk mengelus pundak Pandu, dia mencoba menenangkan laki-laki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN