“Aku merasa hidup aku nggak ada artinya, Ra. Setiap tahun ke tahun aku tidak bisa mengetahui perubahan wajah orang tuaku. Aku juga tidak bisa melihat wajahku sendiri.” Kata Pandu mulai bercerita.
“Apa itu bisa disembuhkan?” tanya Sakura pelan.
Pandu menggelengkan kepalanya. “Orang tuaku sudah membawaku keluar negeri, tetap saja mereka tidak bisa mengobati.” Jawab Pandu lemah.
“Apakah tidak ada cara sama sekali?” tanya Sakura.
Pandu menggelengkan kepalanya lemah. “Awalnya aku juga marah, Ra. Ada banyak jutaan orang di dunia ini tapi mengapa harus aku yang mengalami ini.”
“Mungkin di mata Allah kamu makhluk yang spesial jadi diberikan cobaan seberat ini.” Kata Sakura mencoba menenangkan.
Pandu diam. Suasana berubah menjadi hening. Pandu sibuk dengan pikirannya sendiri, dia mengingat bagaimana dia bisa menjadi seperti ini. Pandu juga memikirkan masa depannya, selamanya dia tidak akan bisa melihat wajah-wajah orang yang dia sayang.
“Sejak kapan kamu mengidap penyakit ini?” tanya Sakura pelan.
“Sejak kuliah semester 3.” Jawab Pandu pelan.
“Apakah itu karena keturunan?” tanya Sakura lagi.
“Bukan. Saat kuliah aku ikut kumpulan pecinta alam dan kami mendaki gunung. Saat itu musim penghujan, jalan sangat licin dan aku tidak hati-hati akhirnya terpeleset jatuh ke jurang. Kepalaku membentur batu hingga mengakibatkan kerusakan otak.” Jawab Pandu mengenang bagaimana dia kecelakaan dulu.
Sakura terkejut mendengar cerita dari Pandu. jatuh ke jurang bukanlah kecelakaan kecil.
“Semua orang mengira aku sudah meninggal, tapi Allah masih memberiku kesempatan hidup dengan penyakit seperti ini.” Kata Pandu lagi.
“Itu pasti menyakitkan.” Ucap Sakura pelan.
Pandu menganggukkan kepalanya. Sangat sakit memang hingga dia tidak sadarkan diri selama 1 bulan. Dan ketika dia sadar dia tidak bisa mengenali orang-orang yang ada disekitarnya. Dan itu lebih menyakitkan lagi.
“Dulu aku mengira jika aku lupa ingatan, tapi ternyata bukan. Aku mengingat semua hanya tidak mengingat wajah orang-orang disekitarku.” Kata Pandu lagi.
Sakura menatap Pandu dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika hidup laki-laki itu sangat sulit. Selama ini dia mengira jika hidupnya yang paling sengsara. Tapi ternyata ada orang lain yang lebih sulit hidupnya.
“Kenapa menangis? Jangan mengasihaniku.” Kata Pandu sambil mengusap air mata yang menetes dipipi Sakura .
“Aku sering tidak bersyukur dengan hidupku, tapi ternyata masih ada orang lain yang lebih sulit hidupnya.” Jawab Sakura.
Pandu tersenyum lebar. Hidupnya memang sulit namun Pandu selalu berusaha untuk baik-baik saja. Walaupun setiap hari dia ingin mengakhiri hidupnya, tapi ketika melihat Sakura dia mengurungkan niatnya. Dia juga melihat Sakura kesulitan menjalani hidupnya tapi gadis itu masih tetap bertahan dengan alasan Ayahnya masih membutuhkannya. Dan dia juga berpikir mungkin orang tuanya masih membutuhkannya juga. Mereka tidak pernah memperlakukan Pandu dengan buruk, walaupun mereka tahu penyakit apa yang diderita oleh Pandu.
“Bagaimana hidupmu sehari-hari?” tanya Sakura pelan.
“Seperti orang biasa. Pagi pergi bekerja, siang keluar untuk makan siang, dan sore hari pulang bekerja.” Jawab Pandu singkat.
“Kamu bekerja dimana?” tanya Sakura cepat. Dia baru tahu kalau Pandu bekerja. Selama ini yang dia tahu Pandu adalah orang yang selalu ada untuknya dan seperti orang yang tidak punya kesibukan lain.
“Aku bekerja di perusahaan keluargaku sendiri.” Jawab Pandu pelan.
“Kamu kerja di perusahaan tapi penampilan kamu selalu santai seperti ini?” tanya Sakura tidak percaya.
“Karena aku tidak perlu bertemu dengan banyak orang.” Jawab Pandu dengan cepat.
Sakura menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak mengerti dengan jawaban Pandu. Tidak mungkin bekerja di perusahaan namun tidak perlu bertemu banyak orang.
“Maksudnya?” tanya Sakura bingung.
“Aku selalu bekerja di salah satu ruangan yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Hanya sepupuku dan orang tuaku saja yang bisa masuk ke sana. Untuk pengambilan keputusan atau inovasi-inovasi baru selalu aku yang melakukan, tapi untuk pekerjaan yang berhubungan dengan orang secara langsung, aku serahkan kepada sepupuku.” Jawab Pandu menjelaskan.
“Memangnya ada pekerjaan semacam itu?” tanya Sakura semakin bingung.
“Kan itu perusahaanku, aku bebas bekerja seperti apa. Yang penting perusahaanku tidak bangkrut dan selalu mengalami kemajuan.” Jawab Pandu dengan menyombongkan dirinya.
“Jadi selama ini kamu tidak pernah tampil di depan umum?” tanya Sakura pelan.
“Tidak, dengan penyakitku ini mungkin saja akan banyak masalah yang aku ciptakan. Contohnya saja seperti menghadiri meeting dengan klien, aku tidak tahu yang mana klienku. Menurutmu apa itu tidak menjadi masalah? Seakan-akan aku tidak menghargai mereka.” Jawab Pandu. Ini memang bukan keputusan yang mudah diambil oleh Pandu. orang tuanya pun juga tidak setuju dengan cara kerjanya yang selalu sembunyi dibalik ruangan tertutup. Tapi bagaimana lagi, kondisinya membuatnya untuk terus bersembunyi daripada tampil namun akan ada banyak masalah yang dia sebabkan.
“Lalu ketika perusahaanmu mengalami keberhasilan, siapa yang akan mendapat pujian?” tanya Sakura dengan serius.
Pandu menatap Sakura. Dia tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan gadis itu. Seketika ingatannya kembali berputar ketika perusahaannya bisa bersaing dengan perusahaan asing. Dan ketika perusahaan berhasil membuka beberapa cabang baru dalam waktu kurang dari setahun. Ketika perusahaannya mendapatkan penghargaan dari Dinas Pariwisata karena pelayanannya yang baik terhadap tamu. Yang mendapat semua pujian itu adalah Gilang, sepupunya bukan dia. Sedangkan semua keputusan dan ide-ide baru yang membuat perusahaan mengalami kemajuan adalah idenya. Gilang hanya wayang yang dia gerakkan untuk menjalankan semua keputusan yang dia buat. Gilang juga yang mendapat pujian tersebut, sedangkan dia tak terlihat sedikit pun di mata orang lain.
“Kenapa diam saja? Apakah kolegamu, karyawanmu sadar jika perusahaanmu maju karena kerja kerasmu?” tanya Sakura lagi.
Pandu menggelengkan kepalanya. Sedikit demi sedikit dia paham dengan maksud pertanyaan Sakura. Perempuan itu ingin dia mengubah mindset yang selama ini dipegang olehnya.
“Aku yakin mereka tidak pernah menyadari keberadaanmu.” Kata Sakura lagi.
“Memang.” Jawab Pandu singkat.
“Lalu kenapa kamu terus bersembunyi? Apa kamu tidak ingin mereka tau kalau kamu berperan besar dalam kemajuan perusahaan?” tanya Sakura lagi.
“Aku sudah mengatakan padamu sejak awal, aku bisa saja membuat masalah yang besar dan menimbulkan kerugian yang besar jika aku tampil di depan umum.” Kata Pandu keras.
“Penyakit yang kamu derita ini memang penyakit langka. Tapi aku yakin bukan hanya kamu saja yang menderita penyakit ini, tapi ada orang lain yang juga mengidap penyakit ini. Kamu bisa menjadikan mereka sebagai contoh.” Kata Sakura tidak kalah keras.
“Bagaimana kalau mereka mengambil keputusan yang sama? Mereka juga bersembunyi dan menolak untuk tampil di depan orang banyak?” tanya Pandu membuat Sakura bingung untuk menjawab. Pertanyaan Pandu bisa jadi benar, penyakitnya membuat mentalnya menjadi down dan membuat kepercayaan dirinya hilang.
“Kamu tidak bisa menjawabnya, ‘kan?” tanya Pandu lagi dengan nada meremehkan.
Sakura melengos. Saat ini dia memang belum bisa menjawab pertanyaan Pandu. Dia juga tidak tahu berapa orang yang mengidap penyakit yang sama seperti Pandu.
“Kamu tidak ikut merasakan apa yang aku alami, Ra. Aku membenci diriku sendiri, aku benci mengapa aku tidak bisa hidup bebas seperti dulu lagi.” Kata Pandu dengan lemah.
Sakura merasa bersalah dengan kata-katanya yang keras tadi. “Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya agar kamu bisa hidup seperti orang normal.” Kata Sakura mencoba memberikan semangat untuk Pandu.
“Apa yang bisa kamu lakukan? Aku sendiri tidak tau harus bagaimana.” Jawab Pandu.
“Kalau aku bisa mencari jalan keluarnya, kamu harus janji sama aku kalau kamu bersedia untuk tidak menyembunyikan identitasmu lagi, bagaimana?” kata Sakura mengajak Pandu taruhan.
“Terserah kamu saja.” Jawab Pandu lemah.
Sakura menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa hati kecilnya ingin membantu Pandu. mungkin karena laki-laki itu juga sudah sering membantunya, menemaninya ketika dia kebingungan. Dan Sakura berpikir ini saatnya dia membantu Pandu.
“Aku boleh tanya lagi?” tanya Sakura pelan.
Pandu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia masih saja menundukkan kepalanya dan tidak mau memandang Sakura yang ada di sampingnya.
“Bagaimana cara kamu mengenali orang-orang disekitar kamu?” tanya Sakura pelan. Dia takut membuat Pandu tersinggung.
“Saat pertama kali bertemu, aku selalu mengamati mereka. Mulai dari gaya rambut, gaya berpakaian, gaya berjalan, bahkan suara mereka. Karena setiap manusia memiliki struktur tubuh yang tidak sama.” Jawab Pandu datar.
“Cara kamu mengenaliku juga seperti yang kamu katakan tadi?” tanya Sakura pelan.
“Caraku mengenali semua orang yang ada disekitarku seperti itu.” Jawab Pandu. “Tapi ada yang spesial dari kamu.” Kata Pandu lagi.
“Apa?” tanya Sakura cepat.
Pandu memegang tangan Sakura dan menunjukkan gelang yang sengaja dia pesan khusus untuk Sakura. “Ini. Postur tubuh kamu mirip dengan beberapa orang, tapi gelang ini hanya kamu yang miliki.” Jawab Pandu sambil tersenyum.
Sakura ikut tersenyum mendengar ucapan Pandu. Dia memperhatikan gelang itu. Gelang rantai dengan gandul bunga sakura berwarna merah muda sangat cocok dia pakai ditangannya. Itu memang gelang yang diberikan Pandu untuknya.