Empat Puluh Lima

1371 Kata
Sakura terlihat sedang asik berselancar pada website-website yang ada di internet. Dia mencari informasi tentang penyakit yang sedang diderita oleh Pandu. Karena dia tidak mengetahui banyak tentang penyakit langka itu. Dia juga baru mendengar penyakit itu jadi semuanya masih terdengar asing bagi Sakura. "Waaww.. ternyata banyak juga yang menderita penyakit itu." Gumam Sakura pelan pada dirinya sendiri. Dia terus mencari dan membuka setiap artikel yang berhubungan dengan Prosopagnosia. Bahkan dia juga membaca artikel tentang seseorang yang mengidap penyakit itu. Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka, bagaimana cara mereka agar tetap terlihat seperti orang normal. Karena Sakura yakin jika Pandu juga bisa tampil di publik dan terlihat seperti orang normal. "Ternyata ada publik figur juga yang mengidap penyakit yang sama." Gumam Sakura lagi. Sakura menutup ponselnya. Dia berpikir sejenak. "Berarti penyakit ini bukanlah sebuah aib." Kata Sakura lagi. Sakura berfikir sejenak. Jika memang bukan Pandu saja yang mengidap penyakit langka itu, itu artinya penyakit itu bisa diatasi. Walaupun belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit itu, tetap saja pasien bisa beraktivitas seperti biasanya. "Aku akan katakan pada Mas Pandu." Gumam Sakura lagi. Sakura mematikan lampu tidur dan masuk ke dalam selimut. Ditengah kamar kecil yang jauh dari kemewahan, dia istirahat dengan nyenyak. Walaupun Delon memintanya untuk menempati kamarnya sebelumnya, dia tidak bergerak sedikit pun. Dia tetap berada di kamar kecil itu. Karena Sakura terlalu malas untuk membawa barang-barangnya lagi. *** "Sampai kapan Mama akan tinggal di sini?" Tanya Tasya dengan nada yang tidak suka. Elmi yang sedari tadi membaca majalah fashion hanya diam saja. Dia tidak berkutik ketika putrinya merengek. Hal itu sudah dilakukan oleh Tasya sejak minggu lalu. Putrinya tidak betah jika harus tinggal di rumah yang lebih kecil dari rumah suaminya. "Kita nggak bisa biarkan Sakura menguasai rumah itu." Kata Tasya lagi. Dia berusaha untuk menyadarkan Mamanya. "Diam!" Kata Elmi dengan keras. Semakin lama ucapan Tasya semakin membuatnya tidak tahan. Suara Putrinya yang nyaring itu mengganggu pendengarannya. Tasya langsung kicep setelah mendengar teriakan Mamanya. Dia duduk dengan tenang, menundukkan kepalanya dan memainkan kedua tangannya. Dia menyadari jika dia tidak bisa melakukan banyak hal selain menggantungkan hidupnya kepada Mamanya. Jadi, dia merasa jika dia harus menjaga sikapnya agar tidak membuat Mamanya marah. "Kamu kira Mama tidak menyusun rencana? Walaupun Mama terlihat santai, Mama juga sedang memikirkan sesuatu." Kata Elmi. "Maaf, Ma. Tasya nggak mau Mama lengah dan membuat Sakura berbuat hal yang bisa membahayakan kita." Kata Tasya dengan lemah. "Mama tidak akan melepaskan rumah dan perusahaan itu dengan mudah. Mama akan memiliki harta Mas Joko dengan cara yang sesuai hukum." Kata Elmi lagi. Dia menutup majalah itu dan menatap ke depan. Tasya hanya diam saja. Dia tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Mamanya setelah ini. Namun dia melihat Mamanya yang sepertinya tenang-tenang saja membuatnya menjadi kuatir. "Mama yang akan membuat Sakura menjadi lengah. Saat ini dia sedang menguasai rumah itu dan mungkin saja dia bisa terbius dengan kondisi saat ini. Dia bisa saja melupakan kehadiran kita. Dan membuatnya perlahan-lahan melupakan rencana yang sudah dia siapkan untuk mengalahkan Mama." Ucap Elmi dengan licik. "Memangnya Mama tau rencana apa yang sudah disusun sama Sakura?" Tanya Tasya dengan penasaran. Elmi menghentikan tawanya. Dia menatap Putrinya tersebut. Tentu saja dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh anak tirinya. Tapi Elmi yakin jika Sakura memang sudah merencanakan sesuatu. Karena itu dia ingin membuat Sakura lengah dan melupakan rencana itu karena Sakura sudah merasa jika dia sudah bisa menguasai rumah itu setelah kepergiannya. "Aku nggak ngerti. Terserah Mama saja deh." Ucap Tasya dengan tidak peduli. Dia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidak memikirkan kuliahnya yang sudah hampir selesai. Karena dia berfikir jika dia tidak perlu mendapatkan nilai yang bagus untuk mencari sebuah pekerjaan. Dia hanya butuh menggantungkan hidupnya pada Mamanya dengan harta Papa tirinya yang tidak akan habis hingga tujuh turunan itu. *** Delon menyunggingkan senyum sambil melambaikan tangannya. Dari seberang jalan dia melihat gadis yang sangat dia kenali. Setelan baju kantor berwarna navy dengan tas slempang berwarna putih di tangannya. Rambut sebahu berwarna hitam legam tertiup angin sepoi-sepoi, make up natural dengan bibir pink cerah. Pagi ini Sakura terlihat sangat cantik, bahkan jarak Delon dengan Sakura termasuk jauh namun Delon sudah bisa melihat wajah cantik gadisnya itu. "Selamat pagi, cantik." Sapa Delon dengan manis begitu Sakura sudah berdiri di depannya. "Selamat pagi." Jawab Sakura sedikit menyunggingkan senyumnya. "Hari ini kelihatan cantik banget. Lagi good mood ya?" Tanya Delon sambil tidak berhenti menatap wajah Sakura. Sakura tersenyum, setelah itu dia berjalan pelan masuk ke kantor. Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum ketika ada karyawan lain yang juga menyapanya. Begitu juga dengan Delon yang melakukan hal yang sama. Delon juga mengikuti langkah kaki Sakura, bahkan kini mereka sudah berjalan berjajar. "Udah dari dulu aku kelihatan cantik. Kamunya aja yang baru sadar." Jawab Sakura dengan nada bercanda. Delon tertawa ketika mendengar jawaban dari Sakura. Dia menilai jika Sakura terlalu percaya diri. Tapi dia juga tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh Sakura. Dia memang mengagumi kecantikan gadis itu. Kecantikan yang natural tanpa ada sesuatu yang dia ubah dari wajahnya. Bahkan ketika dia tampil tanpa make up dia sudah terlihat begitu cantik. "Iya deh. Semangat kerja ya, cantik." Ucap Delon pelan. "Terima kasih." Jawab Sakura sambil menyunggingkan senyumnya. Setelah itu mereka berpisah. Pandu yang naik ke lantai atas sedangkan Sakura yang berbelok ke kanan untuk menuju ruangan divisinya. Dia berjalan dengan begitu percaya diri. Walaupun dia termasuk karyawan baru, namun dia sudah mulai akrab dengan semua karyawan. Sikapnya yang mudah bergaul membuat dia tidak kesulitan saat berkenalan dan berinteraksi untuk pertama kalinya. Bahkan kini karyawan lama juga tidak canggung untuk menyapanya terlebih dahulu. Interaksi sederhana tadi selalu dia lakukan setiap pagi. Delon akan berangkat lebih awal, bertanya kepada pak satpam apakah Sakura sudah datang atau belum. Ketika Sakura belum datang, dia akan menunggunya di depan pintu. Tidak peduli butuh waktu berapa lama untuk menunggu Sakura. Tidak peduli dengan kakinya yang kesemutan karena terus berdiri untuk menunggu gadis pujaannya. Namun yang jelas, semua yang sudah dia lakukan itu terbayar ketika matanya menangkap sosok yang sudah dia tunggu. Apalagi sosok itu sedang menyunggingkan senyum ke arahnya. "Semakin hari dia semakin cantik saja." Gumam Delon pelan. Delon mengusap wajahnya yang terus kepikiran Sakura. Rasanya dia ingin kembali ke rumah itu saja. Namun dia juga belum berhasil membujuk tantenya agar segera pulang. Dia tidak mungkin kembali ke rumah itu seorang diri tanpa adanya Tante dan juga adik sepupunya. Walau begitu, Delon tetap merasa bahagia. Karena dia tetap bisa bertemu dengan gadis yang dia cintai. Menyapa dan bertegur sapa hingga saling bercanda. Dia beruntung karena dulu sudah membantu Sakura untuk masuk ke kantor ini. Ada hal positif juga yang bisa dia ambil. Lagi-lagi dia merasa dia yang diuntungkan. *** Langit cerah sudah berubah menjadi gelap. Langit luas namun tidak terlihat adanya satu bintang pun di sana. Hanya bulan sabit yang muncul malu-malu dibalik pepohonan. Dia seakan-akan sedang mengintip Sakura yang nampak sibuk dengan komputer yang ada didepannya. Mesin printer terus berbunyi nyaring. Setiap jalannya menimbulkan suara dan bekerja dengan sangat baik mencetak sesuatu yang semula ada dilayar komputer berpindah ke lembaran kertas kosong berwarna putih. Bibir Sakura seakan-akan sedang membaca artikel sebelum dia mencetaknya. "Kamu nggak balik?" Tanya seseorang pelan. Rupanya dia adalah salah satu rekan kerja Sakura. Mereka masuk bersama, jadi mereka sama-sama junior di kantor itu. "Oh, nanti dulu. Kamu duluan saja." Jawab Sakura sambil menyunggingkan senyumnya. "Okey, aku balik dulu ya." Kata orang itu lagi. "Iya, hati-hati dijalan." Jawab Sakura sambil melambaikan tangannya membalas lambaian tangan singkat dari orang tersebut. Sakura menatap setiap sudut ruangan. Di dalam ruangan itu tidak ada seorang pun selain dirinya. Bahkan lampu kantor juga sudah mulai meredup. Hanya komputernya saja yang masih hidup lengkap dengan mesin printer yang masih bekerja. Matanya melirik jam kecil yang dia taruh di atas meja. "Memang sudah malam ternyata." Gumam Sakura dengan lemah. Dia melanjutkan pekerjaannya dan ingin menyelesaikannya dengan cepat. Karena dia ingin segera sampai di rumah dan menemani Papanya yang sudah menunggunya. "Semua ini akan aku tunjukkan kepada Mas Pandu besok." Ucap Sakura dengan wajah yang puas. Dia sudah menyusun artikel dan cara untuk menghadapi penyakit itu. Dia akan meminta Pandu untuk mencobanya terlebih dahulu. Karena dia merasa tidak suka ketika melihat Pandu hidup di dalam ruangan kosong yang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN