Taman kota dengan warna-warni bunga yang tumbuh subur dan indah. Kupu-kupu yang lucu mendarat cantik pada bunga-bunga yang menurutnya lebih menarik. Sekadar mencium atau menghisap madu, mereka terlihat bahagia dan lincah.
Sakura mendorong kursi roda dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Papanya duduk dengan tenang dan pasrah diatas kursi roda itu. Selimut biru menghangatkan kaki Papanya karena sebentar lagi hari mulai gelap. Sakura memang tidak berniat mengajak Papanya hingga malam namun dia juga butuh banyak waktu untuk perjalanan pulang ke rumah.
"Cantik ya, Pa." Ucap Sakura pelan. Dia memutuskan untuk berhenti pada salah satu sudut taman. Sudut yang bisa melihat bunga-bunga dengan jelas.
Joko hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sebenarnya dia juga ingin mengatakan sesuatu, hanya saja penyakit yang dia derita membuat dia tidak bisa banyak berbicara.
"Sakura janji, sakura akan sering-sering mengajak Papa jalan-jalan seperti ini." Kata Sakura lagi. Kali ini dia sudah duduk di samping Papanya. Tangannya menggenggam tangan Joko dengan sangat erat seakan-akan ingin membuat Papanya itu tenang.
"Tteerii ma kk as sih." Jawab Joko sambil tersenyum tipis.
Sakura tersenyum. Ini pertama kalinya dia mengajak Papanya jalan-jalan keluar rumah. Dan dengan mengumpulkan uang hasil kerjanya, akhirnya dia bisa membeli kursi roda ini. Ini membantunya saat mengajaknya Papanya keluar rumah. Ditambah tidak ada Mama tirinya jadi dia bisa lebih leluasa, tidak perlu melawan Mama tirinya yang terus saja melarangnya membawa Papanya menghirup udara segar.
"Ra." Panggil seseorang dari belakang Sakura.
Sakura menoleh ke belakang, sedangkan Joko hanya diam saja. Dia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Walaupun dihatinya sangat penasaran dengan seseorang yang memanggil putrinya. Terlebih orang itu ada seorang laki-laki.
"Mas, ngapain disini?" Tanya Sakura dengan tersenyum. Suaranya terdengar bahagia ketika dia melihat orang yang sangat dia kenal itu.
"Nggak sengaja lewat sini terus lihat kamu." Jawab Pandu dengan jujur.
Ya, Sakura memang memilih tempat yang tidak jauh dari jalan raya agar terlalu mudah saat dia akan pulang nanti. Dia tidak percaya jika akan bertemu dengan Pandu di sini. Padahal mereka tidak membuat janji sebelumnya. Memang sebuah kebetulan yang sebenarnya diharapkan oleh Sakura.
"Ini?" Tanya Pandu pelan sambil melirik orang yang duduk lemah di kursi roda.
"Ini Papa aku." Kata Sakura memperkenalkan Papanya kepada Pandu. Dia sama sekali tidak malu dengan kondisi Papanya.
Pandu melongo tidak percaya. Ya, dia tidak percaya bahwa dia akan bertemu dengan Papanya Sakura secepat ini. Apalagi pada pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya. Namun, Pandu bahagia karena dia akhirnya bertemu dengan orang yang sangat berharga bagi Sakura. Orang yang memberikan semangat untuk Sakura untuk terus melanjutkan hidupnya yang keras ini. Orang yang menjadi alasan untuk Sakura agar tidak mengakhiri hidupnya.
Pandu berjalan pelan ke depan Joko. Dia berjongkok hingga kini mereka sejajar, bahkan lebih tinggi Joko sedikit. Pandu tersenyum didepan Papanya Sakura seakan-akan dia bisa melihat wajah itu. Padahal yang dia lihat sama seperti apa yang dia lihat pada orang lain.
"Selamat sore, Om. Saya Pandu, teman Sakura." Kata Pandu memperkenalkan dirinya.
Joko menganggukkan kepalanya pelan. Dia tersenyum singkat dan menggerakkan bibirnya namun tidak ada sedikit pun suara yang keluar.
"Dia teman Sakura, Pa." Kata Sakura lembut.
Pandu tersenyum lebar melihat interaksi antara Sakura dan Joko. Sakura terlihat sangat menyayangi Papanya begitu juga dengan Joko. Dari suara dan gerakan tubuh Sakura, Pandu bisa mengetahui bagaimana perasaan Sakura kepada orang tuanya.
"Nanti aku antar kalian pulang ya." Kata Pandu pelan.
Sakura menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Dia berpikir kehadiran Pandu sangat membantunya. "Terima kasih." Jawab Sakura lembut.
Pandu mengeluarkan ponselnya dari saku. Melihat kedekatan Sakura dan Papanya membuat dia ingin mengabadikan moment itu pada sebuah jepretan. Di tempat yang indah ini, dia yakin jika Sakura sebenarnya juga ingin mengabadikan moment itu. Hanya saja dia bingung mengatakannya.
Pandu mengambil langkah ke belakang dan mengangkat ponselnya. Dia meminta Sakura untuk berpose dengan Joko. "Ra, berpose lah, aku akan memotret kalian." Kata Pandu lumayan keras karena jarak mereka sudah lumayan jauh.
Sakura tersenyum. Dengan semangat dia mendekat kepada Papanya dan mengulurkan tangannya memeluk Papanya dari samping. Tidak lupa senyum merekah terlihat pada bibirnya. "Senyum, Pa." Bisik Sakura pada Papanya.
Joko mencoba menarik setiap ujung bibirnya. Hanya sedikit senyum yang bisa dia ciptakan namun dia yakin jika putrinya mengerti bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
"Oke, satu dua ti ga." Teriak Pandu memberikan aba-aba. Walaupun dia tidak bisa melihat ekspresi Sakura dan Papanya, dia menggunakan firasatnya jika Sakura dan Joko telah siap difoto.
Crek. Pandu berhasil memotret Sakura dan Joko. Tanpa melihatnya lebih dulu, dia langsung berlari ke arah Sakura untuk menunjukkan hasil potretannya.
"Coba lihat. Maaf kalau kurang bagus, nanti aku ulang lagi." Kata Pandu pelan.
Sakura melihat hasil foto Pandu. Dia tersenyum. Foto itu terlihat bagus. Pencahayaan dan sekitar juga sangat mendukung. "Sudah bagus kok." Kata Sakura pelan.
"Mau foto lagi?" Tanya Pandu lagi.
"Kita foto bertiga saja." Kata Sakura mengusulkan.
Belum sempat Pandu menjawab, Sakura sudah melihat sekelilingnya dan memanggil salah satu pengunjung taman juga. Dia meminta orang itu untuk memotretkan dia dan juga Pandu serta Papanya.
"Minta tolong fotokan kami bertiga." Kata Sakura pelan. Dia menyerahkan ponsel Pandu kepada orang itu. Setelah itu dia menggandeng tangan Pandu untuk mendekat pada Joko.
Mereka berpose dengan lihai. Sudah seperti model yang terkenal. Bahkan Pandu tidak merasa canggung walaupun ini adalah pertemuan pertamanya dengan Papanya Sakura. Orang yang melihat, pasti mengira jika mereka adalah keluarga. Nyatanya, Pandu memang berharap mereka menjadi keluarga sesungguhnya. Saling menjaga dan melengkapi kekurangan mereka masing-masing.
***
Sakura meletakkan secangkir teh hangat diatas meja. Dia juga meletakkan sepiring brownies yang sudah dia iris. Semua kudapan itu ada didepan Pandu sekarang. Hari belum terlalu malam, namun mereka memilih untuk pulang. Tidak tega jika harus membuat Joko berlama-lama di luar rumah. Angin malam akan membuat kesehatannya semakin menurun.
"Papa kamu sudah tidur?" Tanya Pandu pelan.
Sakura meletakkan nampan di bawah meja. Setelah itu dia duduk di samping Pandu. Tangannya dia lipat dipahanya. Duduknya terlihat sangat anggun. Sangat cocok dengan Sakura yang lemah dan lembut.
"Sudah, mungkin Papa kelelahan." Jawab Sakura pelan. Dia menundukkan kepalanya. Entah mengapa dia merasa malu. Mungkin karena ini pertama kalinya seorang laki-laki main ke rumahnya.
Sejak dia masih duduk di bangku SMA, dia selalu membayangkan seorang laki-laki yang dia cintai datang bertamu ke rumahnya. Tidak muluk-muluk, hanya sekadar main saja. Dia juga sering melihat kawannya merasakan hal itu, bahkan dia juga sering melihat saudara tirinya mendapatkan tamu laki-laki. Mama tirinya selalu membiarkan hal itu terjadi, namun Mama tirinya tidak pernah memberinya kesempatan itu.
"Ini pertama kalinya aku ke rumahmu." Ucap Pandu pelan.
Sakura menganggukkan kepalanya pelan. Memang ini pertama kalinya Pandu datang ke rumah, karena selama ini dia hanya mengijinkan laki-laki itu untuk mengantarnya sampai di depan kompleks saja. Mungkin karena sekarang tidak ada Mama tirinya, jadi dia berani mengijinkan Pandu untuk bertamu.
"Biasanya kamu hanya memperbolehkan aku sampai di depan kompleks saja." Kata Pandu lagi.
"Karena ada seseorang yang tidak boleh melihat kamu." Jawab Sakura tiba-tiba. Dia tidak berniat memberitahu Pandu siapa orang itu. Tapi dia juga harus mengatakan alasannya tidak mengijinkan Pandu untuk bertamu.
"Siapa?" Tanya Pandu penasaran. Dia sudah berfikir macam-macam. Apa mungkin dia tidak boleh bertamu karena laki-laki itu.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Sakura menutupi.
"Lalu dimana orang itu?" Tanya Pandu lagi. Dia seakan-akan sedang menginterogasi Sakura. Penasarannya semakin lama semakin besar membuat dia tidak bisa menahannya.
"Dia sedang tidak tinggal di sini." Jawab Sakura singkat.
Pandu memperhatikan sekitar rumah. Dia seperti mencari sosok yang sudah membuatnya cemburu. "Selamanya?" Tanya Pandu singkat.
"Sementara." Jawab Sakura lagi.
Seketika raut wajah Pandu berubah. Padahal dia sudah berharap laki-laki itu tidak lagi tinggal di sini. "Kamu hanya tinggal berdua saja dengan Papa kamu?" Tanya Pandu lagi. Dia ingin benar-benar memastikan jika saat ini laki-laki itu sedang tidak tinggal di rumah ini.
Sakura menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Hanya Papa yang aku punya." Jawab Sakura pelan.
"Maaf, sepertinya aku membuatmu sedih." Kata Pandu menyesal. Dari suara Sakura yang dia dengar, dia berfikir jika Sakura bersedih.
"Tidak apa-apa." Jawab Sakura sambil tersenyum walaupun dia tahu Pandu tidak akan bisa melihat senyumnya.
"Ra, aku sudah memutuskan." Kata Pandu pelan.
"Apa?" Tanya Sakura tidak mengerti.
Pandu menarik nafasnya dalam. Sebelum dia berbicara dia ingin membuat hatinya tenang. Dia akan mengatakan kepada Sakura jika dia mau mencoba untuk berubah. Bukan berubah tapi lebih tepatnya dia ingin kembali pada kehidupannya yang dulu.
"Aku bersedia menerima saran kamu." Kata Pandu pelan. "Aku sudah berpikir dan juga sudah memikirkannya baik-baik." Lanjutnya.
Sakura hanya melongo. Dia tidak percaya jika Pandu setuju dengan apa yang dia ucapkan beberapa hari yang lalu. Namun dia juga bersyukur karena pada akhirnya Pandu memilih keputusan yang tepat.
"Lagi pula dulu aku juga pernah menjalani beberapa terapi, jadi mungkin ketika aku keluar dari ruangan yang hampa aku tidak terlalu kesulitan." Lanjutnya. Ya, dulu begitu dia didiagnosis sakit Prosopagnosia, orang tuanya langsung mengusahakan semua pengobatan yang bisa dilakukan. Karena obat dari medis untuk menyembuhkan penyakit itu belum ditemukan, akhirnya jalan satu-satunya yang mereka tempuh adalah melalui terapi.
Sakura tersenyum. Dia semakin mendekat ke arah Pandu. Entah keberanian dari mana, Sakura memeluk Pandu. "Kamu memilih sesuatu yang tepat. Aku yakin kamu pasti bisa." Kata Sakura dengan lembut.
Pandu yang menerima itu hanya bisa diam. Dia tidak percaya mendapatkan pelukan hangat dari gadis yang dia cintai. Ini pertama kalinya dia kontak fisik dengan lawan jenis setelah dia mengalami penyakit Prosopagnosia.
Kontak fisik itu terjadi sampai beberapa menit. Hingga akhirnya Sakura sadar dan melepaskan pelukannya kepada Pandu. Dia menjadi salah tingkah sendiri. Seakan-akan dia yang terlalu genit.
Pandu berdehem kecil. Dia menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal untuk mengatasi salah tingkahnya.
"Silakan di minum." Kata Sakura dengan suara bergetar. Dia menarik nafasnya agar tidak terlihat terlalu gugup.
"I.. iya." Jawab Pandu tidak kalah gugup. Pandu mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir berisi teh itu. Tangannya juga terlihat bergetar dan itu sukses membuat Sakura tersenyum.
Hingga suasana menjadi canggung dan Sakura bingung harus mengatasi kecanggungan itu. "Aku balik dulu ya, Ra." Ucap Pandu pelan. Lebih baik berpamitan daripada harus terjebak pada suasana yang canggung seperti ini. Sebenarnya dia masih belum rela berpisah dari Sakura, hanya saja saat ini mereka merasa tidak nyaman satu sama lain.
"Eh.. iya hati-hati ya." Jawab Sakura sambil berdiri.
Pandu mulai berjalan pelan keluar dari rumah Sakura. Sesekali dia menoleh ke belakang seakan-akan sedang berpamitan dengan gadis itu. "Hati-hati, Mas." Ucap Sakura lembut.
"Iya. Makasih kudapannya." Jawab Pandu sambil tersenyum.
Sakura menganggukkan kepalanya. Dia melambaikan tangannya ketika Pandu sudah masuk ke dalam mobilnya. Seketika mobil Pandu mulai berjalan dan meninggalkan pelataran. Sakura masih berdiri di sana dan memperhatikan mobil Pandu yang sudah mulai hilang dari pandangan.
"Hihhh bodoh banget sih kamu, Ra." Kata Sakura sambil menepuk-nepuk kepalanya. Kalau dia mengingat kembali kejadian tadi, dia merasa malu sendiri.
Sakura buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Dia juga mematikan lampu ruang tamu dan berjalan pelan ke arah kamar Papanya. Hanya orang itu yang bisa dia jadikan teman. Hanya tinggal berdua dengan Papanya membuat Sakura sedikit kesepian.
"Te..man kkaa kam u ssudah ppp... ulang?" Tanya Joko pelan. Dia tahu jika anaknya ada didekatnya.
Sakura berjinggat kaget. Dia tidak menyangka jika Papanya akan terbangun atau mungkin Papanya belum benar-benar tidur.
"Sudah, Pa." Jawab Sakura singkat.
"Ddii..a baik." Kata Joko lagi.
Sakura tersenyum. Bukan hanya baik tapi Pandu juga perhatian. "Iya, Pa." Jawab Sakura sambil tersipu.
"Ddia pac ar kaa mu?" Tanya Joko lagi.
"Dia teman Sakura." Jawab Sakura singkat namun dalam hati dia berdoa semoga Pandu bisa menjadi kekasihnya.
Joko hanya diam, dia tidak melanjutkan obrolannya dengan Sakura. Namun dia tahu jika Sakura sebenarnya juga ada rasa dengan laki-laki itu. Hanya saja mungkin hubungan mereka belum sampai pada tahap yang lebih dari sekadar teman.
"Papa tidur lagi ya. Sakura temani di sini." Kata Sakura pelan. Dia merebahkan tubuhnya di samping Papanya.
Joko tanpa mengucapkan apapun lagi langsung menutup matanya. Dia menuruti ucapan putrinya dan dia juga merasa lebih bahagia. Mungkin karena tadi dia diajak oleh putrinya jalan-jalan, ditambah dia bertemu dengan laki-laki yang sepertinya sangat menjaga putrinya. Hatinya merasa lebih tenang dari sebelumnya.