Pandu menuruni tangga dengan langkah cepat. Setelah semalam dia main di rumah Sakura, dia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Pandu sudah merencanakan jika hari ini dia akan membicarakan keinginannya kepada orang tuanya. Firasatnya mengatakan jika semuanya akan berjalan sesuai rencana, orang tuanya tidak akan menolak keinginannya yang ingin memperbaiki kebiasaan buruknya. Sejak dulu mereka juga menginginkan Pandu tetap menjalani hidup normal.
"Kapan datang?" Tanya Bambang dingin.
"Tadi malam." Jawab Pandu singkat.
Rani yang melihat interaksi dingin antara suami dan putranya segera melakukan sesuatu. Dia tidak ingin paginya menjadi berantakan karena interaksi kedua laki-laki beda generasi itu. "Semalam Pandu sampai rumah, karna Papa udah lelap banget tidurnya jadi nggak Mama bangunin." Kata Rani menjelaskan.
Pandu hanya menganggukkan kepalanya pelan mendukung ucapan Mamanya. Suasana hatinya masih baik walaupun sempat terjadi perdebatan dingin dengan Papanya tadi. Dia mengambil gelas yang berisi s**u, dia teguk hingga tinggal setengah. Pandu terlihat happy pagi ini membuat Papa dan Mamanya heran. Pasalnya tidak seperti biasanya Pandu bahagia seperti itu.
"Kamu mau sarapan sama apa, Ndu?" Tanya Rani pelan. Tangannya mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.
"Sama telur saja, Ma." Jawab Pandu singkat.
Setelah Rani selesai mengambilkan makanan untuk suaminya, beralih dia mengambil piring kosong milik anaknya. Dia isi dengan nasi goreng dan juga telur mata sapi yang sudah dia siapkan. Setelah kedua laki-laki yang dia cintai itu siap dengan makanannya, lanjut dia yang mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka makan dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang bertabrakan yang menimbulkan suara. Masing-masing menikmati makanan mereka. Hingga beberapa menit kemudian mereka telah menyelesaikan sarapan mereka.
"Ma, Pa ada yang pengen Pandu bicarain." Kata Pandu pelan.
"Bicara saja, Ndu." Balas Rani.
Pandu berdehem, dia membenarkan duduknya. Menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Pandu membuat keputusan." Kata Pandu pelan.
Bambang dan Rani menatap putranya dengan lekat. Mereka menjadi penasaran keputusan apa yang sudah dibuat oleh Pandu. Mereka menjadi was-was takut jika keputusan yang dibuat oleh Pandu adalah keputusan gila. Karena setelah putranya mengalami kecelakaan dan mengidap penyakit Prosopagnosia, semua hal yang dilakukan oleh Pandu adalah hal bodoh.
"Keputusan apa?" Tanya Bambang dingin. Matanya masih menyorot tajam ke arah Pandu.
"Pandu akan menjalani hidup Pandu seperti dulu lagi." Kata Pandu pelan.
Bambang dan Rani bengong, mereka tidak mengerti dengan maksud Pandu. Hidup seperti dulu lagi seperti apa yang diinginkan oleh Pandu. Kata-kata Pandu barusan penuh teka-teki yang belum memiliki jawaban yang pasti.
"Katakan yang jelas." Kata Bambang dengan lebih keras.
"Pandu akan hidup seperti orang normal, menjalani aktivitas seperti dulu, sebelum Pandu sakit." Kata Pandu menjelaskan.
Rani membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pandu. Seperti ada angin segar yang bertiup masuk ke tubuhnya, perasaan sesak yang sudah dia rasakan 5 tahun ini tiba-tiba mendapatkan obat tanpa ia sangka-sangka.
"Mama tidak sedang bermimpi kan, Ndu?" Tanya Rani dengan mata berkaca-kaca.
Dari suara Mamanya yang bergetar, Pandu yakin jika Mamanya sedang menahan tangis. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Mamanya. Perlahan namun pasti dia membawa Mamanya ke dalam pelukannya. Menepuk punggung Mamanya pelan dan membiarkan Mamanya bersandar didadanya. "Maaf karna selama ini Pandu sudah membuat Papa dan Mama bersedih." Kata Pandu pelan.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Tanya Bambang tegas.
Pandu melepaskan pelukannya pada Mamanya. Kemudian dia menghadap ke arah Papanya. "Iya, Pandu sadar dan Pandu sudah memikirkan ini berulang-ulang." Jawab Pandu dengan mantap.
"Pandu, tidak ada yang lebih membahagiakan buat Mama selain mendengar kabar baik dari kamu." Kata Rani sambil memegang kedua pipi putranya. Dia berkali-kali menghujamkan ciuman penuh kasih sayang di pipi putranya.
"Ma, sudah, Ma. Pandu sudah besar jangan dicium ih." Protes Pandu sambil menjauhkan pipinya dari jangkauan Mamanya.
Rani hanya tertawa, begitu juga dengan Bambang. Dia menitikkan air mata ketika melihat senyum tulus dari putranya dan juga tawa bahagia dari istrinya. Sudah lama keluarganya hidup dalam kubangan hitam tanpa senyuman, jikalau mereka tertawa itu semua hanya tipuan, hanya pemanis belaka agar orang lain tidak menyadari rahasia besar yang sedang mereka sembunyikan.
"Papa akan menghubungi dokter yang dulu merawat kamu." Kata Bambang membuat keputusan.
Pandu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun Sakura berjanji akan membantunya, tetap saja dia membutuhkan tangan dokter untuk membuat dia lebih nyaman. "Makasih, Pa." Jawab Pandu sambil tersenyum.
"Mama akan terus dampingi kamu. Kamu harus bisa mengahadapi semua cobaan yang menghampiri kamu. Ini proses menuju kesuksesan besar bagi kamu, Ndu." Kata Rani memberikan semangat untuk putranya. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain mendampingi putranya selama pengobatan. Seperti halnya beberapa tahun yang lalu, dia rela meninggalkan Indonesia demi menemani Putranya yang berobat di luar negeri. Namun itu semua tidak membuahkan banyak hasil karena Pandu memilih untuk berhenti berobat dan putus asa.
***
"Bro, kenapa bokap Lo ngundang gue buat makan malam besok?" Tanya Gilang tiba-tiba. Dia membuka pintu ruangan sepupunya tanpa salam.
"Dateng aja, ntar Lo juga tau alasannya apa." Jawab Pandu singkat. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah sepupunya itu. Matanya masih terus fokus ke layar komputer.
"Gue penasaran aja." Balas Gilang sambil memainkan bolpoin Pandu yang ada diatas meja.
"Bagaimana hasil meeting tadi pagi?" Tanya Pandu serius.
"Ada beberapa investor tambahan dan mereka menyetor modal dalam jumlah yang cukup besar. Ini menjadi nilai plus untuk kita mengembangkan usaha kita." Jawab Gilang sambil menyerahkan notula kepada Pandu.
Pandu menerima notula itu dengan santai. Dia menyalakan lampu kecil yang ada di mejanya dan mulai membaca notula itu. Pandu membaca dengan seksama, dia tidak ingin salah mengambil kesimpulan yang akhirnya akan berujung gagal ketika mengambil sebuah keputusan.
"Harga saham kita semakin hari juga stabil, bahkan minggu ini saham kita naik." Kata Gilang lagi melaporkan semua yang harus dia laporkan. Semua karyawan menganggap jika dia adalah orang yang berkuasa di perusahaan, orang yang selalu menemukan inovasi-invoasi baru. Namun nyatanya, dia hanyalah boneka yang dijalankan oleh Pandu. Awalanya dia merasa tidak terima dan sakit hati, namun seiring berjalannya waktu dia menikmati perannya. Karena semua orang menjadi tunduk dan hormat kepadanya. Dia seolah-olah seorang pimpinan perusahaan sejati, membawa perusahaan hingga pada tahap tertinggi, membuat perusahaan semakin lama semakin banyak diminati, baik dari investor, customer, bahkan calon karyawan.
"Makasih udah kerja keras." Kata Pandu sambil mengulurkan tangannya. Dia menyunggingkan senyumnya dengan manis.
Gilang ikut tertawa, ini pertama kalinya Pandu mengucapkan hal sehangat itu. Biasanya Pandu selalu bersikap dingin, bahkan setiap kata yang keluar dari bibirnya juga dingin dan sering menyakitkan hati. "Sama-sama, Bro." Jawab Gilang sambil menerima uluran tangan Pandu.
"Gue mau balik dulu." Kata Pandu bangkit dari duduknya. Dia membiarkan komputernya menyala namun mematikan lampu kecil yang ada diatas meja.
"Oke, hati-hati ya." Balas Gilang perhatian. Mereka sudah menghabiskan waktu bersama-sama sejak kecil. Jadi tak heran jika hubungan mereka sangat dekat seperti itu.
Pandu menutup pintunya dan berlari ke arah parkiran. Dia akan menjemput Sakura dari kantornya sesuai janjinya kemarin.