Kaki jenjang yang dilindungi oleh sepatu hak tinggi berjalan dengan percaya diri melewati lobi perusahaan. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Namun hanya tatapan mata bukan sapaan yang diterima. Pemilik kaki itu masih terus berjalan dengan santai, matanya menatap lurus ke depan tanpa memedulikan setiap pasang mata yang menatapnya dengan penasaran.
Sakura berhenti di depan ruangan pribadi. Ruangan dengan pintu yang tertutup rapat, di depan ruangan itu ada meja kerja kecil yang Sakura perkirakan adalah milik sekretaris.
"Maaf, Nona mencari siapa?" Tanya wanita cantik dengan pakaian mini seperti sekretaris pada umumnya.
"Saya mencari Pak Hermanto." Jawab Sakura dengan tegas.
"Maaf, Pak Hermanto saat ini sedang meeting. Apakah Nona sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya sekretaris itu lagi yang Sakura ketahui bernama Mila. Itu terlihat dari name tag yang ada didadanya.
"Belum." Jawab Sakura singkat. Dia memang belum membuat janji dengan Pak Hermanto, karena lelaki itu tidak bisa dia hubungi sama sekali.
"Hari ini jadwal Bapak sedang padat. Mungkin tidak bisa menemui Nona." Kata Mila lagi.
"Saya tunggu hingga selesai." Jawab Sakura dengan keras kepala. Dia berjalan pelan ke arah sofa merah yang tidak jauh dari meja kerja sekretaris itu.
Mila hanya menatap Sakura dengan pandangan jengah. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi tamu seperti ini. Dan rata-rata perempuan yang ingin menemui atasannya dan bersikap keras kepala seperti ini adalah salah satu jalang yang sudah tidak digunakan lagi oleh atasannya. Sudah bukan rahasia, seorang pejabat tinggi perusahaan bermain dengan banyak perempuan, dan Mila juga salah satu perempuan yang terjebak dalam pesona atasannya sendiri.
Sakura menyilangkan kakinya. Banyak karyawan yang terlihat asing dimata Sakura. Mungkin karyawan lama yang sudah menjadi kepercayaan Papanya dipecat oleh Mama tirinya. Wanita licik itu selalu melakukan hal diluar dugaan. Semua rencananya harus berjalan mulus tanpa ada cela. Dan itu yang membuat Sakura harus bekerja lebih keras, rencananya harus lebih sempurna dibandingkan rencana Mama tirinya.
"Maaf, Mas. Aku sedang ada urusan diluar." Kata Sakura pelan dengan ponsel yang menempel ditelinganya.
"Iya, nanti aku kabarin kalo udah selesai." Lanjutnya.
"Iya, Mas." Kata Sakura sebelum dia benar-benar mematikan sambungan telvonnya.
Ini sudah lebih dari satu jam dia menunggu namun belum ada tanda-tanda orang yang dia tunggu kembali. Sakura menjadi curiga, benarkah laki-laki itu pergi meeting atau sedang bermain-main diluar saat jam kantor seperti ini.
"Apakah Pak Hermanto masih lama?" Tanya Sakura kepada sekretaris laki-laki itu.
"Kan sudah saya katakan kalau Pak Hermanto hari ini jadwalnya padat." Jawab Mila dengan ketus.
"Kalau jadwalnya dia padat anda sebagai sekretarisnya harusnya ikut mendampingi bukannya malah duduk diam disini." Bantah Sakura dengan berani.
Mila membelalakkan matanya. Dia tidak menyukai sikap Sakura yang dia anggap terlalu berani itu. Dia langsung berdiri dan ingin mencaci maki Sakura namun dari belakang Sakura sudah terlihat Pak Hermanto yang berjalan dengan gagah.
"Ada apa ini?" Tanya Pak Hermanto begitu dia sampai di meja kerja sekretarisnya.
"Maaf, Pak nona ini ingin bertemu dengan Bapak. Sudah saya katakan jika Bapak sedang sibuk tapi dia ngotot ingin bertemu" Jawab Mila menjelaskan. Tutur katanya sangat lembut hingga membuat Sakura menjadi muak.
"Ya sudah biarkan saja." Kata Pak Hermanto memutuskan.
"Silakan masuk, kita bicarakan di dalam saja." Kata Pak Hermanto kepada Sakura.
Sakura menganggukkan kepalanya dan mengikuti Pak Hermanto masuk ke ruangan. Mila hanya menatap sinis kepada Sakura sedangkan Sakura memutar bola matanya dengan malas, dia tidak peduli dengan tatapan sinis dari sekretaris genit itu.
"Silakan duduk." Kata Pak Hermanto dingin sambil melepas jasnya dan dia gantungkan pada gantungan kayu yang ada disudut ruangan.
"Terima kasih." Jawab Sakura singkat. Dia meletakkan tasnya diatas meja dan mendaratkan bokongnya di kursi. Dia memperhatikan ruangan itu, tidak jauh berbeda hanya saja ada tambahan foto keluarga yang terpajang di dinding ruangan itu.
"Ruangan ini tidak banyak berubah." Ucap Sakura pelan.
Pak Hermanto memicingkan matanya, dia masih merasa asing dengan gadis muda yang ada didepannya ini, namun mengapa gadis itu bersikap familiar seakan-akan dia pernah menginjakkan kaki di ruangan ini. "Siapa kamu sebenarnya dan apa tujuan kamu kemari?" Tanya Pak Hermanto dengan tegas.
"Saya tidak pernah mengira jika orang yang mengkhianati pemilik perusahaan pada akhirnya akan menjadi pejabat di perusahaan tersebut." Kata Sakura menyindir. Dia sangat berani mengeluarkan kata-kata yang tajam seperti itu.
"Apa maksud kamu?" Tanya Pak Hermanto dengan suara yang lebih lantang.
"Saya hanya ingin mengingatkan anda, kalau semua yang anda dapatkan saat ini akan musnah dalam waktu yang singkat." Jawab Sakura.
Pak Hermanto menatap Sakura dengan tajam. Dia mencoba mengingat siapa gadis muda yang ada didepannya ini. Gadis muda yang dengan berani mengeluarkan kata-kata yang kasar. Hingga akhirnya dia ingat siapa Sakura.
"Kamu.." kata Pak Hermanto pelan. Dia menggantungkan kata-katanya sebelum akhirnya benar-benar melanjutkan ucapannya.
Sakura bersedekap d**a. Dia memasang wajah dingin dan tegas. Sama sekali tidak takut dengan laki-laki didepannya yang sudah terlihat sangat marah. Bahkan tangan laki-laki itu terkepal dengan kuat seakan-akan siap melayang dipipi Sakura.
"Kamu anaknya Joko?" Tanya Pak Hermanto memastikan.
Sakura tersenyum sinis. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah lemari kaca yang terdapat penghargaan didalamnya. Sakura memperhatikan itu dengan lekat. "Ini tidak pantas untuk anda." Kata Sakura mencibir.
"Apa mau kamu?" Tanya Pak Hermanto dengan tegas.
"Apa lagi kalau bukan meminta hak saya yang sudah direbut secara paksa." Jawab Sakura dengan cepat. Dia tidak ingin mengulur-ulur waktu, dia akan mengutarakan maksud dan tujuannya datang kemari.
"Itu bukan urusan saya. Saya hanya bekerja dan menjalankan tugas saya." Jawab Pak Hermanto membantah.
"Tapi anda ikut bersekongkol dengan Ibu tiri saya." Balas Sakura dengan tajam.
Pak Hermanto hanya diam saja. Dia bersikap seolah-olah tidak takut dengan ucapan Sakura yang keras. "Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya."
"Dulu memang saya masih terlalu kecil, tapi sekarang saya sudah mulai paham." Jawab Sakura.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Pak Hermanto kemudian. Dia terlalu malas berurusan dengan gadis muda yang keras kepala itu.
"Anda dulu bisa mengkhianati sahabat baik anda, jadi saya minta anda juga khianati atasan anda sekarang, setelah itu berada di pihak saya." Kata Sakura langsung pada intinya.
Pak Hermanto memasang wajah tak suka. Dia merasa sedang diperalat oleh anak dari sahabatnya ini. "Kamu tidak bisa memerintah saya seenaknya." Jawab Pak Hermanto lantang.
"Mudah saja anda menolak tapi setelah ini anda harus siap-siap kehilangan semuanya." Kata Sakura mengancam.
"Apa maksud kamu?" Tanya Pak Hermanto tidak terima.
"Pikirkan baik-baik. Semua yang anda miliki saat ini bisa saja saya musnahkan dengan mudah." Kata Sakura dengan sinis.
Dia mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu. Ketika dia membuka pintu ruangan, dia melihat Mila yang sedang menguping. Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak merendahkan.
Sakura sangat tahu bagaimana kedekatan Pak Hermanto dengan Papanya dulu. Mereka menjadi sahabat dekat bahkan mereka juga mendirikan usaha bersama-sama. Hanya saja Papanya ditipu oleh Pak Hermanto hingga usaha yang mereka bangun bersama menjadi milik Pak Hermanto seutuhnya. Namun, Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih indah, tanpa disangka Papanya bisa membangun usaha kembali yang lebih besar dari usaha sebelumnya. Justru usaha yang direbut oleh Pak Hermanto menjadi gulung tikar karena ketamakannya. Kini, Pak Hermanto menjadi salah satu karyawan di perusahaan Papanya. Tentunya, dia adalah orang yang direkrut oleh Elmi. Entah apa tujuannya, namun Sakura yakin jika Pak Hermanto hanya dimanfaatkan oleh Elmi.