Empat Puluh Sembilan

1147 Kata
Gilang menarik kursi yang ada di ruang makan. Dia tersenyum lebar ketika melihat banyak hidangan yang ada diatas meja. Gilang merasa ini bukan hanya sekadar makan malam biasa, mungkin ada sesuatu hal yang penting yang akan disampaikan oleh pamannya kepadanya. "Masak banyak banget, Tan?" Tanya Gilang pelan. Dia melihat Tantenya masih menata makanan di atas meja padahal sudah ada banyak makanan pula. "Iya, kan ada tamu spesial." Jawab Rani sambil tersenyum. "Siapa?" Tanya Gilang penasaran. "Kamu gitu kok." Jawab Rani singkat. Gilang hanya mencibir saja. Dia mengira akan ada tamu yang benar-benar spesial, tapi ternyata yang dimaksud tantenya adalah dirinya sendiri. Gilang mencomot bakwan goreng, dia melahap dengan cepat. Masakan tantenya memang tidak bisa ditolak. Bahkan dia mengakui masakan tantenya lebih enak daripada masakan Mamanya. "Apakah ada hal yang penting, Tan?" Tanya Gilang di sela-sela makannya. "Nanti kamu tau sendiri." Jawab Rani singkat. Dia terus melanjutkan masaknya. Gilang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia terus melahap bakwan goreng buatan Tantenya. Hingga akhirnya dia menyunggingkan senyumnya begitu melihat Om dan Pandu datang. "Wahhh tumben kalian kompak." Komentar Gilang sambil senyum-senyum. Bambang hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sudah menjadi kebiasaan kalau keponakannya itu selalu bertingkah seperti itu. Menganggap keluarga ini seperti keluarganya sendiri. Bambang bukannya keberatan, namun dia malah senang keponakannya seperti itu. "Bukannya seharusnya anak dan ayah seperti ini ya, Lang?" Balas Bambang bercanda. "Ya ya ya seharusnya memang seperti itu tapi kenyataannya?" Tanya Gilang lagi. Pandu masih sama, dia terus memasang wajah dingin. Semua keluarganya tidak kaget dengan wajah yang dipasang oleh Pandu. Sejak dia mengalami kecelakaan, dia hanya memasang 1 ekspresi saja. Yaitu, wajah dingin tanpa senyuman. "Nggak usah banyak bicara, ayo makan dulu." Kata Rani menyela. Dia sudah selesai menyiapkan semua masakan. Kini tinggal mereka menikmatinya bersama-sama. Ruang keluarga yang semula terasa dingin dan kaku kini terasa hangat dan lebih berwarna. Rumah ini seperti benar-benar ada sebuah keluarga. Bukan dua orang yang hanya tinggal bersama. Rani tersenyum dengan lebar, kehangatan yang sudah lama dia rindukan kini kembali dia rasakan. Dia berharap semoga Tuhan tidak mengambilnya dengan cepat. Dia ingin terus merasakan hal seperti ini. "Ada yang ingin saya sampaikan." Kata Bambang dengan serius. Gilang yang semula masih membuat lelucon kini menjadi diam. Wajah tegas Omnya menandakan jika akan ada sesuatu hal yang serius. Dia mengakhiri candaannya dan juga bersikap lebih serius. Rani yang semula akan membereskan meja memilih untuk mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk dengan tenang dan memperhatikan suaminya. Ya, walaupun dia sudah tahu hal penting apa yang akan disampaikan oleh suaminya namun untuk menghargai suaminya dia harus memperhatikan itu dengan seksama. "Pandu membuat keputusan yang sangat besar." Kata Bambang mengawali. Gilang dengan otomatis langsung menoleh ke arah Pandu. Sedangkan Pandu masih tenang dan tidak terlalu terkejut. Dia menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. "Keputusan apa itu, Om?" Tanya Gilang dengan penasaran. Dia tidak bisa menunggu hingga Omnya melanjutkan ucapannya. "Pandu akan memimpin perusahaan dengan sesungguhnya." Kata Bambang melanjutkan ucapannya. Gilang mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan kata-kata Bambang barusan. Ucapan Bambang itu memiliki arti yang luas. Selama ini Pandu selalu memimpin perusahaan dengan baik. "Maksudnya gimana, Om?" Tanya Gilang yang semakin penasaran. Bambang dan Rani saling berpandangan, sedangkan Pandu terlihat santai sambil makan jeruk. Dia tidak memedulikan sepupunya yang penasaran itu. "Pandu berani tampil di depan publik." Kata Bambang dengan lebih jelas. Gilang langsung terdiam. Entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman. Seketika kekuatiran menyusup ke hatinya. Dia takut posisinya tergeser walaupun dia sadar selama ini jabatannya kalah jauh jika dibandingkan dengan Pandu. "Baru kali ini Tante mendengar keputusan yang bijak dari Pandu." Kata Rani membanggakan putranya itu. Gilang masih saja bengong. Bahkan ucapan om dan tantenya sudah tidak masuk ke telinganya lagi. Yang terngiang-ngiang ditelinganya adalah ucapan Om Bambang yang mengatakan jika Pandu akan tampil di depan publik. Itu hal yang membuat Gilang ingin pergi menjauh dan mengatakan jika semua itu tidak benar. Namun, semakin Gilang menolak hal itu semakin terlihat nyata. "Kamu kenapa diam saja?" Tanya Bambang kepada keponakannya itu. "Gapapa kok, Om." Jawab Gilang pelan sambil menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Ingin memberikan selamat kepada Pandu namun sebenarnya dia ingin membuat Pandu membatalkan rencana itu. "Jadi, nanti pekerjaan kamu tidak akan serumit sekarang, Lang. Karena Pandu sendiri yang akan menghadiri rapat ataupun pembukaan cabang baru." Kata Rani sambil tersenyum. Dia bermaksud mengatakan kepada Gilang jika pekerjaannya akan semakin ringan tapi yang ada malah membuat Gilang semakin panas. Gilang merasa apa yang dikatakan oleh Tantenya sama seperti sebuah kenyataan yang di sombongkan. "Kapan itu akan dimulai?" Tanya Gilang dengan nada dingin. "Minggu depan aku akan mencobanya." Kini giliran Pandu yang menjawab. Dia merasa harus ikut masuk ke dalam obrolan itu. Karena bagaimanapun juga obrolan itu membahas tentang dirinya. Gilang mengepalkan tangannya. Dia merasa terbuang, tindakan Pandu dan orang tuanya semena-mena tanpa menunggu persetujuan darinya. Ya, dia sadar jika perusahaan itu adalah milik mereka namun mereka juga tidak bisa melupakan setiap perjuangan yang dilakukan olehnya. "Jadi, mulai minggu depan kamu dampingi dan ajari Pandu untuk berkenalan dengan semua karyawan bahkan investor juga." Kata Rani kepada Gilang. Dia sangat bahagia hingga bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum. "Ya, Tan." Jawab Gilang pelan. Pandu tersenyum kecil, sedangkan Bambang dan Rani tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Mereka berharap ini adalah awal baik untuk Pandu. Walaupun putranya itu mengidap penyakit langka namun mereka selalu berharap Pandu bisa hidup seperti orang normal lainnya. *** Prankkk... Vas bunga yang semula berdiri diatas meja kini sudah berpindah tempat di lantai. Pecahan beling itu berserakan di lantai bahkan ada terpental hingga jauh. Seorang laki-laki muda dengan wajah yang emosi dan tangan mengepal kuat ingin menghancurkan semua barang yang dia lihat. Namun, lagi-lagi dia bisa mengendalikan dirinya dan membanting satu barang saja. "Kenapa semuanya tidak ada yang berpihak kepadaku?" Tanya Gilang dengan marah. Dia merasa semua orang hanya peduli kepada Pandu. Gilang duduk perlahan dan setelah itu menyandarkan punggungnya pada meja. Dia menundukkan kepalanya dan mulai meneteskan air mata. Sejak dulu dia selalu kalah jika dibandingkan dengan Pandu. Mulai dari akademik hingga masalah asmara. Nilainya jauh dibawah Pandu meskipun Pandu saat itu tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Ditambah dulu dia juga mengalami patah hati karena Pandu, perempuan yang dia cintai bahkan cinta pertamanya lebih menyukai Pandu dibandingkan dia. Ketika Pandu mulai mengidap penyakit itu, perlahan dia bisa bangkit. Dia muncul dihadapan publik dan mendapatkan pengakuan. Dia menikmati hal itu hingga dia melupakan semua kebencian dan juga iri dengan Pandu. Namun, sekarang semua itu akan lenyap. Ketenaran dan pengakuan yang selama ini dia dapatkan akan menghilang begitu saja. Semua akan tergantikan oleh Pandu lagi. "Aku tidak akan diam saja." Ucap Gilang dengan mata yang menyala karena emosi. "Aku harus mempertahankan apa yang sudah aku genggam." Lanjutnya sambil mengepalkan tangannya seakan-akan dia sedang menggenggam sesuatu. Gilang bangkit dari duduknya. Dia membuka laci yang ada dimeja. Mencari sebuah buku yang didalamnya terdapat banyak informasi penting tentang perusahaan. Entah apa yang akan dia lakukan dengan buku itu, namun yang jelas dia akan menggunakan itu untuk mempertahankan posisinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN