Lima Puluh

1127 Kata
Sakura tersenyum begitu melihat Pandu yang gagah dengan setelan pakaian kantor. Tubuhnya yang atletis sangat pas memakai baju itu. Otot tangan yang kekar mampu disembunyikan didalam balutan jas walaupun masih sedikit terlihat. Sakura maju empat langkah. Dia menarik jas itu dan dia kancingkan. Seketika ketampanan dan kegagahan Pandu bertambah berkali-kali lipat. "Sempurna." Kata Sakura memberikan sanjungan. Dia mengacungkan jempolnya karena bingung harus mengucapkan apa lagi. "Beneran?" Tanya Pandu tidak percaya. Sakura menganggukkan kepalanya. Dia tidak berhenti menatap Pandu yang berdiri di depannya. "Beneran, kamu cocok banget pakek baju itu." Jawab Sakura. "Aku merasa asing dengan pakaian ini." Kata Pandu sambil menunduk. Dia melihat pakaian yang membalut tubuhnya itu. "Karena kamu belum terbiasa." Balas Sakura sambil tersenyum. "Mungkin iya." Ucap Pandu sambil memanyunkan bibirnya. Pandu kembali ke ruang ganti. Dia melepas pakaian itu dan menggantinya dengan pakaiannya sebelumnya. Sesuai saran Sakura dia akan membeli beberapa pasang pakaian kantor. Karena mulai besok dia akan terbiasa dengan pakaian itu. Dia sudah memutuskan untuk memimpin perusahaan dengan sesungguhnya. Tidak meminta sepupunya untuk mengendalikan perusahaan lagi. "Kita beli ini juga ya." Kata Pandu sambil mengambil beberapa setel pakaian untuk laki-laki setengah baya. Sakura yang melihat itu hanya bisa bengong saja. Dia tidak mengerti dengan rencana Pandu. "Untuk siapa?" Tanya Sakura bingung. "Untuk Papa kamu lah." Jawab Pandu dengan cepat. "Papa nggak perlu pakaian seperti ini." Kata Sakura pelan. Dia mengambil beberapa pakaian yang ada ditangan Pandu kemudian mengembalikan lagi ke tempatnya. Pandu tidak mau kalah, dia kembali mengambil pakaian itu. "Perlu, Ra." Jawab Pandu kekeh. Sakura menghela nafasnya panjang. "Papa tidak akan bisa memakainya." Kata Sakura akhirnya. Pandu tersenyum. Dia mengelus rambut Sakura pelan. "Minggu depan kita ajak Papa kamu jalan-jalan lagi dan pastinya dia perlu baju-baju ini." Ucap Pandu membujuk Sakura. Dia memang sudah berniat untuk mendekati Papanya Sakura karena dia yakin jika perasaannya kepada Sakura lebih dari teman. "Tidak perlu. Baju Papa masih banyak." Kata Sakura tidak mau mengalah. Pandu tidak memedulikan Sakura lagi. Dia langsung membawa belanjaannya ke kasir. Pandu berpikir jika dia terus menerus meladeni Sakura yang ada akan bertambah rumit dan mereka tidak selesai-selesai berada di butik itu. Bukan karena memilih pakaian namun karena berdebat. Setelah membayar semua pesanannya, Pandu menarik tangan Sakura untuk keluar dari butik. Mereka mulai berjalan pelan ke tujuan mereka selanjutnya. Dan pastinya tujuan itu adalah permintaan Sakura. Pandu dengan semangat dan tanpa menolak dia langsung menuruti permintaan Sakura. "Aku dulu pernah berpikir jika aku mungkin saja tidak akan pernah memakai pakaian seperti ini." Gumam Pandu bercerita. Dia sedang berjalan menyusuri trotoar karena Sakura menginginkan makan di restoran samping butik. "Kenapa begitu?" Tanya Sakura sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan alasan Pandu yang berpikir demikian. "Ya, karena penyakit aku ini. Aku berpikir jika aku tidak akan pernah keluar dari ruangan gelap dan engap itu. Aku tidak akan berinteraksi dengan orang selain orang tua dan sepupuku, aku tidak akan menghadiri rapat atau acara-acara perusahaan yang membutuhkan banyak orang, dan bahkan mungkin saja aku tidak akan menikah." Jawab Pandu menjelaskan. Ya, dia memang berpikir demikian namun sekarang dia akan mengubah pemikiran itu menjadi lebih positif lagi. "Lalu sekarang kamu masih berpikir seperti itu?" Tanya Sakura dengan memicingkan mata. Dia penasaran bagaimana pemikiran Pandu sekarang. Apakah laki-laki itu masih akan memilih terjebak dalam ruangan yang dingin dan sunyi? "Aku sudah merubahnya. Aku akan bekerja dengan banyak orang, aku akan berinteraksi dengan mereka, aku akan menghadiri rapat dan berkomunikasi dengan kolega, dan juga aku akan menikah." Jawab Pandu dengan tersenyum. Mendengar ucapan Pandu yang terakhir membuat pipi Sakura memerah. Entah mengapa dia merasa malu sendiri. Padahal Pandu tidak mengatakan jika Pandu akan menikahinya, hanya saja Sakura merasa ada kemungkinan mereka akan menikah dan hidup bersama. Karena yang namanya impian dan harapan tidak ada yang bisa mencegah, hanya saja kenyataan yang menjadi jawabannya. *** Mobil sedan berwarna putih berhenti di depan perusahaan besar yang bergerak di bidang travel. Bukan hanya menyediakan jasa transportasi saja namun juga melayani setiap customer yang ingin liburan. Pintu mobil yang dibuka oleh laki-laki berpakaian hitam dan rapi menampilkan laki-laki gagah dengan tubuh yang terbalut setelan kantor. Tubuhnya yang tinggi dan badannya yang atletis serta wajahnya yang tampan sudah berhasil memikat mata yang memandang. Apalagi mata kaum hawa yang tidak bisa berkedip. Seperti terhipnotis oleh pesona laki-laki itu. Pandu membuka kancing jasnya dan setelah itu dia memasukkan satu tangannya ke saku celana. Ya, laki-laki yang keluar dari mobil itu adalah Pandu. Ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu. Bekerja di perusahaan tanpa harus lewat jalan tikus. Bekerja bersama karyawannya tanpa harus sembunyi dibalik ruangan yang sunyi. Berinteraksi secara langsung tanpa harus memantau dari CCTV. Pandu akan bekerja secara nyata, bukan lagi transparan yang tidak seorang pun tahu keberadaannya. Pandu berjalan dengan tenang. Wajahnya yang cuek namun terlihat begitu hangat. Beberapa wanita sampai tidak bisa menutup mulutnya karena melihat pesona Pandu. Mereka tidak akan rela berkedip walau hanya sekali saja. Terlalu sayang jika disia-siakan begitu saja. "Eh itu yang katanya CEO baru kita?" Tanya salah satu karyawan kepada temannya. "Nggak tau, kayaknya emang itu deh." Jawab temannya. Desas-desus kedatangan CEO baru sudah beredar sejak minggu lalu. Kabar itu cepat menyebar di seluruh perusahaan. Bambang terlalu bersemangat sehingga dia tidak bisa menahan untuk menunggu hingga minggu depan. "Udah dateng, Bro?" Sapa Gilang begitu dia melihat kedatangan Pandu. Pandu yang sudah sangat hafal dengan suara Gilang langsung tahu jika itu adalah sepupunya. Dia tersenyum dan bersikap seakan-akan dia adalah orang normal. "Iya, gue kesiangan ya kayaknya?" Tanya Pandu sambil nyengir. "Nggak kok, pimpinan mah bebas." Jawab Gilang sambil tertawa. "Justru karena gue pimpinan jadi gue harus ngasih contoh yang baik." Balas Pandu. Gilang melihat sekitar. Dia melihat ada banyak karyawan yang memperhatikan mereka. Gilang tahu jika para karyawan itu tidak sedang memperhatikannya namun mereka memperhatikan Pandu. Hanya saja dia juga merasa risih ketika dilihat seperti itu. "Ndu, ke ruangan gue dulu ya." Kata Gilang pelan. "Oke." Jawab Pandu menyetujui. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift. Gilang memilih untuk membawa Pandu ke ruangannya terlebih dahulu sebelum dia memperkenalkan Pandu kepada seluruh karyawan nanti. "Lo udah siap?" Tanya Gilang meyakinkan. Karena selama ini dia tahu Pandu tidak pernah memimpin perusahaan. "Insyallah udah." Jawab Pandu dengan yakin. Dia sudah memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi. Dia tidak ingin terus menerus terjebak dalam ruangan sunyi yang akan membuatnya semakin tidak percaya diri. Ditambah ada seseorang yang sedang dia perjuangkan. Ketika dia ingin memulai hubungan dengan orang lain, lebih baik dia berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Gilang tersenyum singkat, lagi-lagi dia merasa telah kalah dan terbuang. Merasa tidak dibutuhkan lagi dan ingin segera memulai rencana yang sudah dia susun. Gilang bertekad, jika dia tidak bisa memimpin perusahaan ini lagi maka Pandu juga tidak boleh mendapatkan kesempatan itu. "Puaskan dulu senyummu, setelah ini kamu akan merasakan bagaimana rasanya sebuah penolakan." Kata Gilang dalam hati sambil tersenyum sinis ke arah Pandu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN