Lima Puluh Satu

1501 Kata
Gedung kantor yang luas malam ini telah berubah. Ruangan kantor yang semula menjadi tempat bekerja kini berubah menjadi tempat pesta. Meja yang awalnya penuh dengan dokumen kini tersingkir dan terganti oleh meja yang penuh hidangan. Bambang sengaja memilih kantor sebagai tempat pesta karena dia ingin membuat Pandu semakin dekat dengan tempat kerjanya. Ini adalah malam yang dinantikan oleh Bambang dan Rani. Sejak dulu mereka sudah menunggu moment seperti ini. Bisa mengenalkan putra semata wayang mereka kepada semua orang. Memperkenalkan Pandu sebagai seorang pimpinan perusahaan. Ini adalah pesta penyambutan Pandu sebagai CEO. "Silakan, silakan dinikmati hidangannya." Kata Bambang kepada koleganya. Dia mengundang semua karyawan, investor, bahkan kolega-koleganya. Moment ini adalah moment yang patut dia banggakan. "Ya ya ya. Anda terlihat lebih segar dari sebelumnya." Jawab orang itu memuji Bambang. Bambang tertawa dengan keras. Bagaimana dia tidak terlihat lebih baik ketika sesuatu yang sudah lama dia nantikan akhirnya menjadi kenyataan. "Saya juga merasa 10 tahun lebih muda." Balas Bambang yang tidak berhenti tertawa. Rani memukul lengan suaminya pelan. Dia merasa suaminya terlalu berlebihan. Walaupun dia juga merasakan hal yang sama seperti Bambang, namun dia bisa bersikap natural. "Papa terlalu berlebihan." Kata Rani mengingatkan. "Saya sudah tidak sabar bertemu dengan putra anda." Kata salah satu koleganya yang memakai kacamata. "Sabar, sebentar lagi dia datang." Jawab Bambang dengan tenang. Dia yakin jika putranya tidak akan membuat masalah baru karena keputusan untuk memimpin perusahaan adalah keinginannya sendiri. "Kami pasti akan menunggunya." Jawab mereka akhirnya. Acara semakin meriah. Tamu undangan sudah banyak yang berdatangan. Ruangan yang penuh dengan warna hitam dan putih membuat pesta semakin meriah. Memang sudah direncanakan seperti itu, dress code dengan warna netral sesuai pilihan Pandu. Hingga akhirnya, pintu terbuka dan menampilkan sosok laki-laki gagah yang mulai memasuki ruangan. Di belakang laki-laki itu terdapat dua pengawal dengan tubuh kekar. Wajahnya yang dingin dan tegas menambah karisma dan memberikan kesan yang mempesona. Tidak heran jika setiap pasang mata yang memandang tidak rela untuk mengedipkan mata. Pandu berjalan ke depan. Dia mendekati kedua orang tuanya. Sebelumnya dia sudah menerima foto orang tuanya, jadi dia sudah hafal yang mana Papa dan Mamanya. Pandu tersenyum dan setelah itu memeluk kedua orang yang sangat berharga itu secara bergantian. Mendaratkan kecupan singkat pada pipi kanan dan kiri mereka. "Kau sudah datang rupanya." Kata Rani dengan tersenyum. "Sedikit macet tadi, Ma." Jawab Pandu singkat. Bambang memberikan kode kepada salah satu orangnya. Tidak lama setelah itu musik yang semula bergema kini berhenti menyala. Semua tamu undangan memusatkan pandangan mereka kepada keluarga kecil yang ada di atas podium. Mereka menebak jika sebentar lagi pesta yang sesungguhnya akan dimulai. "Baik, sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan hadir pada acara malam ini." Kata Bambang yang sudah mulai bicara. Dia tidak bisa menunda waktu lagi. Dia sudah tidak sabar ingin mengenalkan Pandu kepada semua orang. "Ini adalah malam yang sudah lama saya nantikan. Dan akhirnya malam ini saya bisa mewujudkan keinginan saya yang pastinya atas persetujuan dari putra saya." Lanjut Bambang sambil menatap putranya. Pandu juga menatap Papanya. Walaupun dia tidak tahu bagaimana ekspresi Papanya sekarang, namun dia yakin jika Papanya saat ini sedang tersenyum kepadanya. "Ini adalah putra saya satu-satunya. Selama ini dia banyak belajar tentang bagaimana mengurus perusahaan dan sekarang dia sudah siap untuk memimpin perusahaan ini." Kata Bambang lagi. Seketika suara riuh tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Pandu menyunggingkan senyumnya sambil membungkuk memberikan salam kepada semua orang. Hingga akhirnya tiba saatnya dia juga memperkenalkan dirinya secara resmi. "Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Perkenalkan saya Pandu, saya akan membawa perusahaan ini ke tingkat yang lebih tinggi. Mengembangkan bisnis ini menjadi lebih besar lagi. Mohon bantuan dari kalian semua." Kata Pandu dengan ramah. Ruangan menjadi semakin ramai. Semua orang meneriakkan selamat kepada Pandu. Hanya satu orang saja yang berdiri didekat pintu dengan mengepalkan tangannya. Dia tidak suka dengan pesta ini. Mungkin semua orang menganggap pesta ini adalah pesta yang menyenangkan, namun bagi Gilang ini adalah pesta perpisahan baginya. ^^^ Langit gelap awan hitam menggumpal, berkumpul menjadi satu membentuk kelompok yang siap menumpahkan air ke bumi. Alunan musik klasik menggema di seluruh ruangan. Udara yang dingin ditambah AC yang menyala membuat dua orang yang ada di ruangan itu mengeratkan jaketnya. Hidangan sederhana tertata rapi diatas meja. Itu seakan-akan menemani malam mereka dengan mengobrol bersama. "Maaf ya semalam aku tidak bisa datang." Kata Sakura sambil membalas genggaman tangan Pandu. "Aku sedikit kecewa namun sudah ku maafkan." Jawab Pandu singkat. "Aku harus menjaga Papa dan nggak tega kalau harus aku tinggalkan sendirian." Kata Sakura lagi. "Nggak papa, aku faham kok." Jawab Pandu lagi. Tangan mereka masih tertaut satu sama lain. Bahkan kini terlihat semakin erat. Entah keberanian darimana, Pandu berani menggenggam tangan gadis pujaannya itu. Seperti ada dorongan yang kuat yang meminta Pandu untuk berinteraksi lebih dekat. Mungkin nalurinya sebagai laki-laki membuatnya melakukan itu. Dia ingin memberikan kenyaman dan perlindungan kepada gadisnya. "Papa kamu tau kalau sekarang kamu bersamaku?" Tanya Pandu lirih. Sakura menganggukkan kepalanya pelan. "Aku sudah mencari asisten rumah tangga, jadi ada yang bantuin aku ngurus Papa." Jawab Sakura. Ya, dia memang sudah memperkerjakan pembantu. Bukan karena dia sudah tidak mau mengurus Papanya, namun dia merasa kuwalahan jika mengerjakan semuanya seorang diri. Ditambah dia sudah mulai mengibarkan bendera perang dengan Ibu tirinya. Ya, walaupun dia tidak berbicara langsung dengan Ibu tirinya namun Sakura yakin jika Pak Hermanto pasti sudah mengadu kepada wanita jahat itu. "Tidak apa-apa meninggalkan Papa kamu sendiri dengan pembantu?" Tanya Pandu dengan kuatir. Dia tidak mau membuat Sakura meninggalkan Papanya demi bisa bersamanya. Ya, walaupun dia juga masih ingin berlama-lama dengan Sakura, namun dia bisa memaklumi posisi Sakura sebagai seorang anak. Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Semuanya akan baik-baik saja. Dia pembantu yang dulu juga bekerja di rumah sewaktu Mamaku masih hidup. Jadi, Papa juga sudah mengenalnya dengan baik." Jawab Sakura menjelaskan. Pandu menghela nafasnya lega. Setidaknya dia tidak perlu terlalu kuatir dengan kondisi calon mertuanya. Ada seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga Papanya Sakura. "Bagaimana acara semalam?" Tanya Sakura pelan. "Alhamdulillah berjalan lancar tapi aku merasa ada yang kurang." Jawab Pandu sambil memanyunkan bibirnya. "Apa?" Tanya Sakura dengan cepat. Dia mengganti posisi duduknya dan memandang Pandu dengan lekat. Tiba-tiba saja dia merasa penasaran. "Karena kamu tidak datang." Jawab Pandu sambil mencubit hidung Sakura. Sakura diam. Dia kembali duduk seperti semula. Pandu melepas genggaman tangannya dan menaruhnya dibelakang kepala Sakura. Sakura mengernyitkan keningnya dan Pandu melirik tangannya yang ada dibelakang. Setelah itu Sakura meletakkan kepalanya diatas tangan Pandu. "Nikmatnya." Kata Sakura pelan sambil memejamkan mata. "Kamu pasti lelah." Kata Pandu berbisik. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi Sakura namun dari postur tubuh Sakura dia tahu jika gadisnya kecapekan. "Banget. Rasanya badanku seperti dipukuli oleh belasan orang." Jawab Sakura sambil terkekeh. "Memangnya sudah pernah dipukuli belasan orang?" Tanya Pandu sengaja mengajak bercanda. "Ihhh itu hanya perumpamaan saja." Jawab Sakura sambil memukul paha Pandu. Pandu tertawa mendengar reaksi Sakura. "Coba kamu hadap kesana." Kata Pandu memerintah. "Kenapa?" Tanya Sakura bingung. "Sudah turutin saja." Jawab Pandu. Sakura menghela nafasnya panjang. Setelah itu dia menghadap ke arah yang ditunjukkan oleh Pandu. "Sudah." Jawab Sakura. Pandu mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Dia membuka kotak itu pelan dan mengeluarkan isinya dengan sangat pelan. Membuka pengaitnya dan memakaikannya dileher Sakura. Deg. Sebuah benda mungil dan cantik bergelantung dilehernya. Sakura memegang benda itu dan menggenggamnya dengan erat. Hatinya menjadi tidak karuan. Antara terkejut dan bingung namun dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Lihat aku." Kata Pandu memerintah kembali. Sakura tanpa menjawab ucapan Pandu, dia langsung menghadap ke arah Pandu. "Cantik." Kata Pandu memuji. "Benarkah?" Tanya Sakura tidak percaya. Pandu menganggukkan kepalanya. "Sangat cocok untuk kamu." Jawabnya dengan yakin. "Kamu kenapa selalu memberiku hadiah mahal?" Tanya Sakura pelan. Tangannya masih memegang gandul kalung yang berbentuk kunci itu. "Aku ingin saja." Jawab Pandu pelan. Sakura mengernyitkan kepalanya. Jawaban Pandu barusan masih abu-abu. Seperti ada jawaban lain yang disembunyikan. Ditambah jawaban Pandu barusan sangat tidak meyakinkan. Bisa saja dia juga memberikan hal yang sama kepada gadis-gadis lain yang membuatnya tertarik. "Kamu juga melakukan hal yang sama kepada orang selain aku?" Tanya Sakura menyelidik. Dia memperhatikan Pandu dengan seksama. "Maksudnya?" Tanya Pandu tidak mengerti. "Kamu memberikan barang-barang ini kepada gadis-gadis lain juga?" Tanya Sakura memperjelas. Pandu tertawa. Entah mengapa dia merasa lucu mendengar pertanyaan Sakura. Seperti ada kembang api yang meledak didadanya. Dia tidak bisa menyembunyikan bahagianya. "Apa menurutmu lucu?" Tanya Sakura lagi dengan wajah jengkel. "Iya, sedikit lucu." Jawab Pandu disela-sela tawanya. Sakura cemberut. Dia bersedekap d**a dan melengos. "Perempuan yang dekat denganku hanya kamu dan Mamaku." Kata Pandu dengan serius. Dia memegang pundak Sakura berusaha membuat Sakura melihat kearahnya. "Aku ingin fokus pada perusahaan dulu. Karena cepat atau lambat perusahaan itu tetap aku yang meneruskan." Kata Pandu memberikan pengertian. Sakura menatap Pandu. Dia merelakan tangannya untuk digenggam oleh Pandu. "Lebih cepat aku mengatur perusahaan lebih cepat pula aku mengatur hatiku." Kata Pandu lagi. "Jangan ragu ya." Lanjutnya. Dia membawa tangan Sakura mendekat ke bibirnya. Mengecup tangan itu dengan tulus. Sedangkan Sakura hanya diam terpaku seakan-akan terpikat dengan pesona Pandu. Entah hubungan apa yang sedang mereka jalani saat ini. Mereka mengikuti takdir yang sudah tersurat untuk mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN