Lima Puluh Dua

1385 Kata
"Mulai sekarang sepertinya kamu tidak bisa bersantai lagi." Kata Pak Hermanto kepada istri dari temannya itu. "Maksud kamu apa?" Tanya Elmi tidak mengerti. Pak Hermanto menarik kursi dan duduk di depan Elmi. Dia menatap orang yang ada didepannya itu dengan lekat. Wajahnya serius seakan-akan ada sesuatu yang akan dia sampaikan. "Katakan!" Kata Elmi dengan tegas. "Kemarin anak tirimu menemui aku." Kata Pak Hermanto memulai pembicaraan. Elmi terkejut namun dia bisa menyembunyikan keterkejutannya itu. "Untuk apa?" Tanyanya pelan. "Sepertinya dia ingin aku berada dipihaknya." Elmi tersenyum sinis. Dia melengos seakan-akan meremehkan ucapan Pak Hermanto. Namun, dalam hati dia kuatir dengan kelakuan Sakura yang bergerak lebih cepat dari dugaannya. Dia tidak menyangka jika anak tirinya mengibarkan bendera perang secepat ini. "Lalu?" Tanya Elmi dingin. "Tergantung mana yang lebih menguntungkan. Aku akan memihak dia yang menguntungkan buatku." Jawab Pak Hermanto dengan senyum liciknya. Elmi memperhatikan laki-laki itu dengan lekat. Dia sudah hafal bagaimana laki-laki itu hidup. Dia hidup hanya demi uang dan kekuasaan. Andai saja dia tidak hati-hati pasti bisnis suaminya akan jatuh ke tangan laki-laki itu. "Tapi kamu tenang saja, aku akan berada dipihak kamu asalkan kamu memberiku jabatan yang lebih tinggi." Kata Pak Hermanto berusaha mengancam Elmi. "Bisnis kamu saja bangkrut bagaimana kamu akan memimpin bisnis orang lain?" Tanya Elmi dengan sinis. Pak Hermanto mengeratkan tangannya. Dia tersinggung dengan ucapan Elmi. Setiap kali ada seseorang yang mengungkit-ungkit tentang bisnisnya yang hancur dia merasa tersinggung. "Aku akan memberikan jabatan yang tinggi kepadamu sesuai dengan kinerja kamu." Kata Elmi tegas sambil bersedekap d**a. Pak Hermanto bangkit dari duduknya. "Ketika lajumu lambat mungkin aku sudah berpaling ke kubu yang lain." Ucap Pak Hermanto tegas. "Cepat atau lambatnya lajuku tergantung dengan bagaimana kinerjamu." Balas Bu Elmi sinis. Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Pak Hermanto yang masih berdiri ditempat semula. Dia masuk ke kamar dan memijat kepalanya. Dia benar-benar pusing mendengar kabar yang disampaikan oleh Pak Hermanto. Bagaimana mungkin anak tirinya bisa bergerak secepat ini. "Aku harus menggagalkan rencana dia." Kata Elmi menahan emosi. ^^^ Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Pula tidak ada yang menyangka apa yang sudah terjadi hari kemarin. Bahkan hari ini juga tidak bisa diprediksi. Semua terjadi begitu saja, semua terjadi secara tiba-tiba. "Aku gugup sekali." Kata Pandu pelan. Tangannya bergetar karena jantungnya yang berdetak kencang. Ini bukan karena sedang jatuh cinta, namun karena hari ini dia mulai aktif memimpin perusahaan. Sakura menggenggam tangan Pandu dengan erat. Dia sampai ikut merasakan tangannya bergetar. Terlihat lucu namun Sakura menahan tawanya, dia tidak ingin membuat Pandu semakin minder. "Semua akan baik-baik saja." Kata Sakura menyemangati. Pandu menatap Sakura. Dia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Lagi-lagi gadis itu memberinya semangat baru. "Aku pergi dulu ya." Kata Pandu pelan. Dia berpamitan dengan Sakura. "Semangat, Mas." Pandu melambaikan tangannya. Dia turun dari mobil dan mulai masuk ke kantor. Sakura memperhatikan Pandu yang sudah hilang masuk ke dalam kantor. Setelah itu dia mulai melajukan mobil Pandu. Ya, hari ini Pandu memintanya untuk mengantarnya ke kantor. Entah apa yang sedang terjadi dengan laki-laki itu namun hari ini Pandu manja dengannya. "Mudahkanlah segala urusannya, Ya Allah." Kata Sakura dalam hati. Dia berharap semoga hari-hari Pandu selalu baik-baik saja. Sakura melajukan mobilnya dengan santai. Jalanan terlihat senggang padahal hari masih pagi. Tidak terlalu macet seperti hari-hari biasanya. Sakura menganggap ini pertanda baik, semua urusan Pandu akan selancar jalanan pagi ini. *** "Mobil siapa?" Tanya Delon pelan. "Punya temen." Jawab Sakura singkat. Delon memperhatikan mobil itu dengan seksama. Delon tahu itu bukan mobil murahan. Dan Delon merasa sedang ada yang tidak beres. "Hanya temen?" Tanya Delon menyelidik. "Iya." Jawab Sakura singkat. Delon tersenyum kecil. Dia mensejajarkan langkahnya dengan Sakura. Sesekali dia memperhatikan Sakura yang memasang wajah datar. "Pulang nanti mau kemana?" Tanya Delon pelan. "Aku udah ada janji." Jawab Sakura sambil melihat ke arah Delon. "Sama yang punya mobil itu?" Tanya Delon penasaran. "Iya. Aku kan juga harus balikin mobilnya." Jawab Sakura sambil menganggukkan kepalanya. "Balikin aja nanti langsung sama aku." Kata Delon lagi. "Nggak usah, aku udah ada janji beneran soalnya." Jawab Sakura menolak. "Kabar Om Bambang bagaimana?" Tanya Delon. Dia mencoba mencari obrolan lain agar dia bisa terus bersama Sakura. "Alhamdulillah baik kok." Jawab Sakura singkat. "Aku duluan ya." Kata Sakura pelan ketika dia harus berpisah dengan Delon karena ruang kerjanya yang berbeda arah. Delon mencekal lengan Sakura. Sakura menoleh ke arah Delon. Dia mencoba untuk melepaskan genggaman itu karena dia tidak enak dilihat oleh karyawan yang lain. "Lepas." Kata Sakura memperingatkan. "Jangan pernah lupa sama aku, Ra. Sekarang memang aku tidak selalu ada untukmu tapi harus kamu ingat kalau perasaan aku tidak pernah berubah." Kata Delon mengingatkan. Dia kemudian melepaskan genggaman itu dan meninggalkan Sakura. Sakura memegang tangannya yang tadi digenggam oleh Delon. Dia memperhatikan laki-laki itu dengan pandangan heran. Entah mengapa laki-laki itu tiba-tiba mengatakan hal seperti tadi. Apa mungkin Delon sudah memiliki firasat jika Sakura ada sesuatu dengan laki-laki selain dirinya? ^^^ "Lo kenapa, Bro?" Tanya Gilang sambil menepuk pundak Pandu. Dia melihat sepupunya itu sedang meletakkan kepalanya diatas meja. Pandangannya kosong dan terlihat tidak semangat. "Gue capek." Jawab Pandu lemah. Gilang tertawa cukup keras. Ini pertama kalinya dia melihat wajah Pandu yang putus asa. Biasanya Pandu selalu memasang wajah yang dingin dan tegas. Namun kali ini dia benar-benar terlihat putus asa. Entah apa sebabnya, yang jelas itu membuat Gilang tertawa. "Kenapa Lo?" Tanya Gilang lagi. "Gue susah ngenalin semua karyawan." Jawab Pandu lemah. Dia tidak bergerak sama sekali. Masih diposisi yang sama. Meletakkan kepalanya diatas meja dan lemah. Sangat memprihatinkan jika dipandang mata. "Santai aja lagi, baru sehari juga." Kata Gilang bermaksud untuk menghibur Pandu. Namun sebenarnya dalam hatinya dia sedang menertawakan Pandu. Dia tahu kalau hal ini akan terjadi. Pandu seperti sedang flashback pada saat-saat awal dia baru sadar dari koma. Tidak tahu dia sedang bersama siapa. Karena yang dia lihat sama, semua wajah datar dan tidak bisa dibedakan. "Dulu Lo bisa menghadapi masalah ini dengan baik, harusnya kali ini Lo juga bisa berhasil dong." Kata Gilang seakan-akan dia sedang memberikan semangat untuk Pandu. Padahal itu semua hanyalah omong kosong saja. "Dulu orang yang harus gue kenalin nggak sebanyak ini." Bantah Pandu masih dengan nada lemah. "Sekarang tingkatannya beda, Ndu. Lo udah mutusin buat mimpin perusahaan jadi Lo harus tanggungjawab sama apa yang udah Lo putusin." Kata Gilang lagi. "Tapi ini berat banget, Lang. Lo nggak ngerasain apa yang gue rasain." Jawab Pandu dengan lelah. Gilang menatap sepupunya itu dengan pandangan kasihan. Sebenarnya dia juga tidak tega dengan Pandu. Namun dia juga tidak rela jika posisinya digantikan oleh Pandu. "Gue yakin Lo pasti bisa kok." Kata Gilang akhirnya. Setelah itu dia memilih untuk pergi. Karena dia tidak berniat membantu Pandu untuk mengenali wajah-wajah karyawan. *** Sakura membawa setumpuk kertas yang sudah dijilid. Dia terlihat keteteran ketika membawanya. Namun Sakura sama sekali tidak menyerah. Dia terus melangkahkan kakinya ke depan untuk bergabung pada seseorang. "Kenapa nggak bilang sih." Kata Pandu yang melihat Sakura keteteran. Dia mengambil alih tumpukan berkas itu dan dia bawa. Bruk. Pandu sengaja meletakkan berkas-berkas itu diatas meja dengan keras hingga menimbulkan suara. Setelah itu terdengar suara Pandu menghela nafas dengan cukup keras. Sakura hanya tertawa pelan melihat tingkah Pandu yang kelelahan hanya karena membawa tumpukan kertas. "Terima kasih." Kata Sakura tepat ditelinga Pandu. "Sama-sama." Jawab Pandu sambil menyunggingkan senyum. Dadanya yang semula naik turun karena nafasnya ngos-ngosan kini berubah normal. Dia tidak ingin memperlihatkan kepada Sakura jika dia kelelahan cuma gara-gara mengangkat berkas-berkas itu. "Ini semua adalah data diri dari semua karyawan kamu. Ada juga investor dan direksi." Kata Sakura sambil menepuk-nepuk dokumen-dokumen itu. "Kamu dapat dari mana?" Tanya Pandu heran. "Ada deh." Jawab Sakura sambil tertawa kecil. Dia mendapatkan itu semua berkat pertolongan dari temannya sewaktu SMA. Dulu mereka berteman sangat dekat sampai seperti saudara sendiri. Namun karena temannya ini kuliah di luar kota jadi mereka sudah jarang berkomunikasi. Ditambah kesibukan Sakura mencari uang dan kuliah membuat Sakura tidak punya banyak waktu untuk bermain atau sekadar menengok media sosial. Temannya ini adalah staf administrasi diperusahaan Pandu. Jadi, Sakura dengan mudah mendapatkan berkas-berkas itu. "Aku juga sudah melakukan banyak riset dan kebanyakan dari mereka adalah menghafal. Sama seperti kamu dulu, kamu mengenali orang dengan menghafal." Kata Sakura. Sakura duduk pada salah satu kursi. Pandu juga melakukan hal yang sama. Dia duduk disebelah Sakura. Memperhatikan dokumen yang dibuka oleh Sakura. Lembar demi lembar dia perhatikan. Dia juga membaca deskripsi pada foto yang tertempel disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN