Lima Puluh Tiga

1610 Kata
"Kamu bisa perhatikan ini satu-satu. Mungkin yang sulit adalah mereka yang memakai hijab, kamu tidak bisa melihat rambut mereka tapi kamu masih bisa membedakan dari cara berjalan juga postur tubuh mereka." Kata Sakura kepada Pandu. Dia terlihat begitu sungguh-sungguh ketika menjelaskan kepada Pandu. Pandu menganggukkan kepalanya mengerti. "Kalo karyawan aku nggak terlalu pusing, mungkin aku akan menghafal mereka yang berinteraksi langsung denganku. Mungkin kepala bagian disetiap divisi." Kata Pandu pelan. "Betul." Balas Sakura dengan semangat. "Tapi perlahan kamu juga tetap harus menghafal mereka biar kamu kelihatan seorang pimpinan yang sempurna." Lanjutnya. "Apakah pimpinan yang sempurna dilihat dari berapa banyak mereka menghafal karyawannya?" Tanya Pandu yang sebenarnya dia sedang menyindir. Sakura kelihatan gelagapan. Dia takut jika ucapannya barusan membuat Pandu menjadi tidak nyaman. "Bukan begitu. Itu untuk antisipasi saja siapa tahu dijalan kalian tidak sengaja bertemu atau berpapasan, akan menjadi masalah jika bosnya tidak mengenali. Walaupun kamu tidak ingat siapa namanya, dia bekerja di bagian apa tapi yang penting kamu harus mengenali dia." Jawab Sakura menjelaskan. "Iya aku tahu maksud kamu, aku juga sedang berusaha, namun akan butuh banyak waktu untuk kenal dengan mereka semua." Balas Pandu dengan raut wajah yang kuatir. Mungkin saat ini dia sedang kuatir jika dia tidak bisa menyelesaikan permasalahannya. "Gapapa yang penting kamu sudah berusaha. Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu berhasil membuat perusahaan ini menjadi lebih maiu jadi aku rasa kamu juga akan mampu memberikan rasa kekeluargaan kepada orang yang terlibat diperusahaan ini." Kata Sakura menyemangati. Pandu tersenyum, dia juga berharap bisa menyelesaikan masalahnya. Karena setelah ini dia akan mulai langsung bekerja dengan sungguh-sungguh. Memberikan semua ide dan inovasinya agar diterapkan secara nyata. Sakura membuka buku kosong. Dia menuliskan sesuatu diatas buku itu. Ternyata dia sedang mengelompokkan orang-orang pada satu kelompok yang memiliki tubuh hampir sama. Yang pertama Sakura mengelompokkan seseorang berdasarkan tinggi badan mereka. Setelah itu dimulai mengumpulkan seseorang dari penampilan mereka. Termasuk orang yang berhijab akan dia kelompokkan dengan orang berhijab pula. Begitu juga dengan mereka yang tidak memakai hijab, siapa saja yang selalu memakai rok dan siapa saja yang suka pakai celana. Sakura terlihat sangat serius. Karena dia sudah membuat keputusan untuk membantu Pandu. Dia melakukan itu bukan ingin membuat Pandu terkesan dengannya, namun karena dia tulus ingin membantu Pandu. Selama ini banyak hal yang sudah Pandu lakukan untuknya. Bahkan ketika dia sedang pontang-panting mencari pekerjaan, Pandu juga dengan setia menemaninya. "Coba kamu lihat. Aku udah rangkum semuanya." Kata Sakura sambil menyerahkan rangkuman itu kepada Pandu. Pandu menerimanya. Dia membacanya sekilas dan kemudian bibirnya tertarik ke atas. Entah mengapa dia merasa jika apa yang sudah dikerjakan oleh Sakura ini bisa membantunya. "Terima kasih. Kalau begini caranya aku pasti bisa dengan mudah mengenali orang-orang yang akan bekerja denganku." Kata Pandu sambil tersenyum. "Harus dong." Balas Sakura menyemangati. Pandu melirik keluar jendela. Tidak terasa langit sudah berwarna oranye. Matahari juga sudah berada disebelah barat. Kemudian ujung matanya melirik ke jam dinding yang tergantung, jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.00 Wib. Perutnya juga sudah terasa lapar. Dia juga belum makan siang, bahkan sedari tadi dia hanya menyuguhi air putih untuk Sakura. Dia tidak tega membiarkan Sakura tidak mengunyah apapun, ya walaupun dia tidak tahu apakah Sakura sedang lapar atau tidak namun akan terlihat aneh jika dia membiarkan tamunya tidak makan apapun. "Aku lapar." Keluh Pandu sambil mengusap perutnya yang rata. "Kamu ada bahan makanan apa?" Tanya Sakura pelan. "Nggak tau tapi kemarin Mama habis belanjain sayuran." Jawab Pandu dengan jujur. Ya, dia memang jarang belanja karena setiap kali dia makan dia memilih untuk makan diluar dan tidak mau repot masak. "Tunggu sebentar." Kata Sakura. Dia bangkit dari duduknya. Berjalan cepat menuju dapur Pandu. Pandu hanya melihat itu dari ruang tamu. Apartemen Pandu memang memiliki desain yang tidak punya banyak sekat. Jadi dia bisa melihat apa yang dilakukan oleh Sakura walaupun dia tidak berada di dapur bersama Sakura. Sakura melihat beberapa sayuran yang tertata rapi dikulkas. Melihat jumlah sayuran itu membuat Sakura yakin jika Pandu jarang memasak. Pasalnya sayuran itu masih banyak dan sudah mulai sedikit layu. Sakura menebak sayuran-sayuran itu sudah beberapa hari didalam kulkas dan tidak berniat dikurangi sama sekali oleh Pandu. "Kamu tiap hari makan diluar ya?" Tanya Sakura dengan sedikit berteriak. "Iya." Jawab Pandu singkat. Matanya kini fokus pada rangkuman yang tadi dibuat oleh Sakura. "Sekali-kali masak sendiri, ini juga sayurannya banyak. Jangan buang-buang duit diluar sana masih banyak yang membutuhkan." Kata Sakura mengomel. Pandu tersenyum kecil. "Iya, Ra. Lagian yang belanja bukan aku tapi Mama." Jawab Pandu membela dirinya sendiri. "Kan tetep aja kamu harus gunain apa yang sudah dibeli sama Mama kamu." "Iya, besok aku mulai masak." Kata Pandu mengalah. Karena dia tahu jika berdebat dengan Sakura hanya akan sia-sia saja. "Kalau tidak malas." Lanjutnya dengan suara pelan. Sakura hanya mendesah saja. Bukan menjadi rahasia lagi jika lelaki bujang lebih memilih makan diluar. Ya walaupun ada berapa yang memilih masak sendiri namun lebih banyak yang beli makan. Jangankan laki-laki, perempuan yang hidup sendiri juga seperti itu. Alasannya hanya untuk makan satu orang saja tidak perlu repot-repot masak. ^^^ Tap tap tap Suara kaki memijak lantai yang bersih dan berkilau. Bahkan bayangan orang itu tercetak jelas dilantai. Pandangannya lurus ke depan dan auranya terasa sangat tegas. Beberapa orang yang berpapasan dengannya tersenyum dan menundukkan kepalanya seraya mengatakan "Selamat pagi, Pak." Ucapnya. Pandu hanya melirik sekilas dan menyunggingkan senyumnya sebagai jawaban. Karena baginya walaupun dia melihat dan memperhatikan orang itu, juga tidak berguna karena dia tidak akan bisa melihat wajah orang tersebut. Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Pandu. Seperti sedang akan sidang skripsi yang sangat mendebarkan. Menyiapkan materi yang sudah dia tulis dan dia pelajari. Pandu sudah menyiapkan semuanya dan dia merasa siap. Namun, kelulusan dan keberhasilan itu masih diambang-ambang. Tidak jelas dan tidak pasti. Semua bergantung pada dewan direksi. "Lo gugup?" Tanya Gilang yang tiba-tiba berjalan disampingnya. Dia memberikan sebotol minuman ion kepada Pandu. "Lumayan." Jawab Pandu pelan. Dia menerima minuman itu dan langsung meneguknya. "Santai aja, Bro. Lo udah siapin semuanya." Kata Gilang bermaksud menenangkan Pandu. Pandu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia mencoba menarik bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman namun itu terasa begitu kaku. Ting. Pintu lift terbuka. Pandu dan Gilang masuk ke dalamnya. Hanya mereka berdua, tidak ada karyawan lain yang berani satu ruang lift bersama mereka. Pandu sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan dia juga sedang menenangkan pikirannya, dia berpikir jika gugup hanya akan membuat semuanya berantakan. Dia percaya jika apa yang sudah dia siapkan akan berhasil. Hari ini akan ada 10 orang yang akan dia temui. Dan dia berharap dia tidak membuat masalah yang bisa menghancurkan semua persiapannya. "Tenang aja. Masih ada waktu 1 jam." Kata Gilang menenangkan. Padahal dia sudah tidak sabar ingin menonton pertunjukan yang nantinya pasti akan seru. Pandu berjalan pelan. Dia berusaha bersikap tegas padahal dalam hati dia sudah was-was. "Aku tidak boleh menghancurkan rapat hari ini. Ini hari pertamaku memimpin rapat." Kata Pandu pada dirinya sendiri. "Aku juga tidak boleh mengecewakan orang-orang yang sudah mendukungku." Lanjutnya. Dia berjalan lebih cepat karena dia sudah ingin cepat sampai diruangannya. Ya, ada beberapa orang yang sangat menginginkan keberhasilannya pagi ini. Ketika dia baru memutuskan untuk memimpin perusahaan secara penuh, orang tuanya sudah sangat bahagia. Ditambah ada seseorang lagi yang dengan samar-samar mendukungnya. Membantunya menyiapkan segala persiapan. Memberikan semangat untuknya. Dia tidak boleh membuat mengecewakan orang-orang yang sudah berharap dengannya. *** Suasana terasa begitu tegang. Beberapa orang terlihat begitu emosi. Mereka tidak bisa menahan emosi. Sedangkan Pandu hanya bisa diam saja. Berdiri tegak dengan tangan bergetar. Peluh sudah mulai mengalir di pelipisnya. Membayangkan hal mengerikan ini benar-benar terjadi ternyata sangat menakutkan. Rasanya dia ingin segera berlari dari ruangan itu. Meninggal semua orang yang sepertinya sedang menatapnya dengan tajam. Mendengarkan setiap ucapan pedas yang keluar dari bibir mereka. "Kita tidak bisa mempercayakan perusahaan ini kepada orang penyakitan seperti dia." Kata pria berkaca mata. "Ya, saya setuju dengan Pak Teguh. Dia saja tidak bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi menjaga dan mengurus perusahaan ini." Lanjut Bu Yani yang duduk di depan Pak Teguh. "Menurut saya apa yang dialami oleh Pak Pandu buka penyakit yang serius. Buktinya dia bisa bertahan hidup hingga saat ini padahal dia sudah mengidap penyakit itu 5 tahun." Kata seseorang lain lagi. Dia tidak ingin termakan oleh gosip itu. Namun dia juga berpikir luas, dia mencoba memahami putra pemilik perusahaan ini. "Kita tidak bisa hanya melihat bagaimana dia masih bisa bertahan. Itu hanya untuk dirinya sendiri namun ketika sudah memimpin perusahaan, ada ribuan jiwa yang bergantung pada perusahaan ini. Mereka menggantungkan dan mempercayakan hidup mereka pada perusahaan ini. Karena mereka hanya berpenghasilan dari gaji diperusahaan ini." Bantah Pak Teguh lagi. Dia tidak bisa memaklumi apa yang terjadi kepada Pandu. Dia terus saja menentang jika Pandu ingin mengelola perusahaan. Ditambah dia sudah termakan omongan Gilang. Bahkan dia juga yang sudah membongkar rahasia Pandu. Rahasia yang sebenarnya hanya mendatangkan luka untuk Pandu. "Penyakit yang dia derita ini bukan hanya penyakit biasa namun juga bersangkutan dengan mental. Bagaimana bisa orang yang gangguan mental memimpin perusahaan?" Tambah Bu Yani mendukung opini Pak Teguh. Mereka berdua berusaha membuat semua orang yang ada diruang rapat ini sependapat dengan mereka. "Benar juga." Kata salah satu dari yang lainnya. "Aku setuju dengan ucapan Bu Yani." "Aku juga memikirkan hal itu." Semua ucapan yang menjatuhkan mental Pandu semakin banyak. Bahkan kini Pandu terlihat kebingungan. Dia semakin tidak percaya diri. Semua hujatan dan pikiran negatif tertuju kepadanya. Tidak ada yang menolongnya, minimal mengerti sulitnya hidup yang telah dia jalani selama ini. Namun dia tidak bisa menyerah begitu saja. Ini bukan akhir dari perjuangannya melainkan awal dari cerita yang akan dia kenang. Dia akan mengubah sad ending menjadi happy ending. Dia pemegang kendali kehidupannya, dia yang akan menjalankan semuanya. Dia yang akan menentukan bagaimana akhir dari ceritanya. Dan dia tidak akan membuat akhir dari ceritanya menjadi kesedihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN