Lima Puluh Empat

1618 Kata
Pandu kembali mengambil microfon yang sebelumnya dia letakkan diatas meja. Dengan tangan yang masih bergetar, dia mencoba untuk tetap tenang. Menghadapi situasi yang ricuh seperti ini tidak bisa dia dengan tiba-tiba berkata dengan suara yang kasar dan bersikap gegabah. Walaupun dia tidak yakin bagaimana hasilnya, namun dia akan mencoba untuk mengambil alih rapat pagi ini. "Sebelumnya saya mau minta maaf." Ucap Pandu pelan sambil menundukkan kepalanya. Dia mengatakan itu dengan tulus kepada semua orang yang ada di dalam ruangan. "Jangan banyak bicara, lebih baik kamu keluar saja." Kata Pak Teguh tanpa mau memberi kesempatan untuk Pandu menjelaskan. "Lebih baik Pak Gilang saja. Selama dia memimpin perusahaan ini, banyak perubahan positif yang terjadi, dia membawa perusahaan lebih baik lagi bahkan dalam satu tahun sudah 10 membuka cabang baru." Kata Bu Yeni memprovokasi. "Benar. Perusahaan ini mendapatkan penghargaan dari Dinas Kebudayaan juga berkat ide dan inovasi Pak Gilang." Tambah Pak Teguh. Dada Pandu terasa sesak. Kini tangannya menggenggam erat mikrofon. Ini yang disebut Sakura dengan tidak adil. Dan ternyata rasanya memang sangat sakit. Dia yang menemukan inovasi itu namun Gilang yang mendapatkan sanjungan. Dulu dia menganggap hal itu hal yang sepele. Dia merasa baik-baik saja ketika Gilang mendapatkan pengakuan atas kerja keras yang Pandu lakukan. Namun kini, ketika telinganya mendengar itu secara langsung, rasa tak suka dan tak rela muncul. Dia seperti manusia serakah yang ingin memberitahu semua orang jika dialah yang membuat perusahaan ini menjadi berkembang pesat seperti ini. "Kita dengarkan dulu penjelasan Pak Pandu. Kalian menganggap jika penyakit yang diderita Pak Pandu adalah penyakit mental, dan sekarang kalian memperlakukan ini kepadanya hanya akan membuat mentalnya semakin down." Kata Pak Andra yang sedari tadi menghargai kehadiran Pandu. Walaupun dia sendiri juga meragukan kemampuan Pandu, namun dia berpikir tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk Pandu. "Terima kasih, Pak Andra." Kata Pandu dengan percaya diri. Sedari tadi dia memperhatikan semua orang yang ada disini. Dia menganalisa mereka satu per satu. Dia mengingat kembali tentang rangkuman yang sudah dibuatkan oleh Sakura. Walaupun dia merasa tidak yakin tadi, namun dia mencoba untuk tetap percaya diri. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan diri. Semua langsung diam. Bahkan Pak Teguh dan Bu Yani tidak berkutik. Seketika ruangan yang ricuh dan panas berubah menjadi hening dan sedikit kikuk. Mata semua orang fokus kepada Pandu yang sedang berdiri di depan. Sedangkan Pandu kembali kehilangan kepercayaan dirinya. Melihat situasi yang semakin tidak stabil, dia merasa jika apa yang dia ucapkan tadi salah. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan semua orang yang ada diruangan ini. Dia juga tidak pernah mendengar suara mereka sebelumnya. Hanya mengandalkan identifikasi dari postur tubuh saja. Dan itu membuat Pandu tidak yakin. Dan sekarang dia merasa jika dia melakukan kesalahan yang fatal. "Maaf." Ucap Pandu lagi dengan suara pelan. Dia bahkan menjauhkan mikrofonnya dari bibirnya. "Bagaimana bisa anda mengenali saya?" Tanya Pak Andra dengan tiba-tiba. Dia merasa tersanjung karena dikenali oleh orang yang mengidap Prosopagnosia. Walaupun dia belum pernah bertemu dengan orang yang mengidap penyakit itu, namun memahami rekam medis yang tadi ditunjukkan membuat dia faham jika orang yang mengidap Prosopagnosia tidak bisa mengenali wajah orang lain bahkan wajahnya sendiri. Pandu mengangkat wajahnya. Dia mencoba melihat ke arah sumber suara. Seketika senyumnya mengembang. Dia merasa lega karena dia tidak melakukan kesalahan. Akan fatal akibatnya jika dia benar-benar melakukan kesalahan itu. Baginya ini adalah kesempatan terakhir yang bisa dia lakukan untuk mengambil hati para dewan direksi. Dan jika dia kehilangan kesempatan ini pula maka riwayatnya benar-benar sudah punah. "Karena mengenali seseorang bukan hanya bisa dilakukan dengan melihat wajahnya saja." Jawab Pandu dengan percaya diri. Semua orang menjadi kembali serius. Mereka memperhatikan dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Pandu. Tidak ada salahnya mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh laki-laki muda itu. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf. Maaf karena saya sudah menyembunyikan penyakit saya. Bukan karena saya ingin membohongi kalian semua, namun karena itu adalah hal yang menyakitkan juga buat saya." Kata Pandu membuka pembicaraan. Pandu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Hatinya sudah mulai tenang. Tangannya yang bergetar sudah mulai santai lagi. "Pastinya tidak ada orang yang ingin mengidap penyakit. Entah itu penyakit mematikan ataupun penyakit ringan. Penyakit saya memang tidak akan membuat saya mati dalam batas waktu yang bisa diperkirakan oleh dokter. Namun, benar kata Bu Yani kalau penyakit saya bersangkutan dengan mental saya." Lanjutnya. "Saya tidak akan mengelak dengan penyakit yang saya derita. Bahkan disini, hari ini juga saya akan jujur dengan apa yang menimpa saya." Semuanya memperhatikan Pandu dengan fokus. Bahkan sudah dua kali dia menyebutkan nama seseorang yang seakan-akan membuatnya seperti orang normal. Hal itu membuat jajaran direksi semakin penasaran bagaimana bisa Pandu mengenali orang-orang. "Penyakit saya memang membuat saya memiliki kekurangan. Penyakit ini membuat saya tidak bisa melihat wajah kalian semua. Bahkan yang saya lihat sekarang ini semuanya datar. Saya tidak bisa melihat bagaimana rupa cantik dan tampan bapak ibu sekalian." Kata Pandu yang semakin tenang. "Namun, saya menyadari berkat penyakit ini mental saya menjadi lebih kuat. Situasi seperti ini tidak lebih buruk jika dibandingkan pertama kali saya bangun dari koma dan berakhir saya tidak bisa melihat wajah seseorang. Penolakan yang kalian sampaikan tadi tidak lebih buruk dari ketakutan saya yang berpikir jika dunia ini akan menolak saya. Mental saya lebih kuat menjalani kehidupan. Saya yakin jika saya mampu memimpin perusahaan ini. Ketakutan dan rintangan ketika memimpin perusahaan memang tidak sama jika dibandingkan dengan rintangan kehidupan. Namun, saya yakin saya bisa melewati rintangan itu seperti saya berhasil melewati rintangan hidup saya." "Sebelum saya berdiri disini, saya mengalami konflik batin yang rumit. Saya yang tidak percaya diri dan takut tidak akan diterima oleh orang lain, pada akhirnya bisa berdamai dengan keadaan. Saya akhirnya memutuskan untuk memimpin perusahaan secara penuh, bukan dengan bayang-bayang lagi." Kata Pandu. Semua orang yang ada disana menjadi kebingungan. Apa maksud Pandu yang mengatakan jika dia akan memimpin perusahaan secara penuh tanpa ada bayang-bayang lagi? Kalimat rancu yang membuat semua orang berpikir banyak hal. "Seperti yang sudah anda dengar, saya bisa mengenali kalian satu per satu." Kata Pandu lagi. "Bisa saja ada seseorang yang memberitahumu dimana kami biasa duduk." Ucap Bu Yani masih berusaha memojokkan Pandu. Pandu tersenyum. Dia kembali melanjutkan ucapannya. "Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang. Saya ingin kalian berpindah tempat duduk dan setelah itu saya akan menyebutkan nama kalian masing-masing. Duduklah ditempat duduk yang tidak biasa anda tempati." Kata Pandu menyampaikan. Butuh beberapa menit untuk mereka menuruti ucapan Pandu. Namun pada akhirnya mereka tetap melakukan apa yang Pandu ucapkan. Hingga akhirnya mereka bergerak dan saling bertukar tempat. Pandu melihat itu dengan senyum yang mengembang. Walaupun dia tidak yakin apakah dia akan berhasil menebak mereka satu per satu. Namun dia akan mencobanya. "Sudah." Kata seseorang lainnya. Pandu masih tersenyum bahkan kali ini senyumnya semakin lebar. "Kenapa kalian tidak bertukar tempat duduk?" Tanya Pandu dengan santai. Semua orang berpandangan. Mereka tidak menyangka jika Pandu akan mengetahuinya. Semua itu ada ide dari Pak Teguh. Dia mengirimkan sebuah pesan pada WAG untuk berpura-pura berpindah tempat duduk namun mereka harus kembali duduk ditempat asli mereka. Prok prok prok... Pak Andra bangkit dari duduknya. Dia bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi kepada Pandu. Pagi hari ini dia mendapatkan banyak kejutan dari pimpinan perusahaan yang baru ini. "Dia sudah membuktikan jika kekurangannya ada kekurangannya lebih kecil jika dibandingkan kelebihannya. Penyakit yang dia derita tidak benar-benar membuatnya lemah. Malah membuatnya menjadi orang yang lebih istimewa." Kata Pak Andra dengan bangga. "Terima kasih, Pak." Jawab Pandu dengan sopan. Dia kembali bernafas lega karena setidaknya ada seseorang yang mau menerimanya. "Tapi tetap saja orang seperti ini tidak bisa memimpin perusahaan." Kata Pak Teguh masih tidak mau mengalah. "Kenapa tidak? Kita bisa memberikannya jangka waktu. Jika dalam jangka waktu yang diberikan dia tidak bisa melampaui target yang kita berikan, kita lengserkan saja dia." Jawab Pak Andra tanpa berpikir lagi. "Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pak Andra." Kata salah satu dari dewan direksi. "Bagaimana kalau kita voting saja." Kata Pak Andra memberikan solusi. Pandu masih bersikap dengan tenang. Walaupun sebenarnya rasa takut menyelinap didadanya. Melihat reaksi dewan direksi semula membuat Pandu tidak percaya diri. Banyak yang meragukan jika dia mampu memimpin perusahaan. Namun Pandu yakin ada seseorang yang percaya dia kompeten menjadi seorang pimpinan. "Oke saya setuju." Jawab Pak teguh dengan percaya diri. Pak Andra duduk kembali. Dia mulai menyobek kertas dan menuliskan kata "Setuju." Setelah itu dia melinting kertas dan dia berikan kepada asisten Pandu. "Saya sudah melakukan voting. Jika kalian setuju Pak Pandu memimpin perusahaan, silakan tulis kata Setuju namun jika tidak setuju tulis kata tidak setuju." Kata Pak Andra memberikan arahan. Dia seperti ketua yang memimpin sidang pagi ini. Semua orang mengikuti arahan Pandu. Mereka menuliskan sesuai pertimbangan mereka. Walaupun mereka merasa bimbang dan takut jika salah memilih, namun mereka berusaha mengikuti kata hati. "Sudah semua." Kata Pak Andra sambil menghitung jumlah voting. "Mas, bisa buka voting itu sekarang." Kata Pak Andra kepada asisten Pandu. "Baik, Pak." Jawabnya patuh. Asisten Pandu mulai menghitung voting yang sudah terkumpul. Pandu memperhatikan dengan seksama. Dia sendiri sebenarnya juga merasa gugup. Takut kalau dia kalau. Hingga akhirnya kini tinggal 2 suara yang belum dibuka sedangkan suara yang setuju dengan masih dibawah suara yang tidak setuju. "Alhamdulillah." Ucap Pandu bersyukur karena lebih banyak yang memilih dia. Walaupun selisih 1 suara saja. "Oke, sudah jelas Pak Pandu resmi menjadi pemimpin perusahaan ini." Kata Pak Andra dengan senang. "Jangan langsung memberikan dia kepercayaan seperti ini, Pak." Kata Pak Teguh tidak terima. "Kita kasih dia kesempatan dulu lah. Terserah kalian mau memberikan dia target sampai kapan." Kata Pak Andra kembali mengalah. "Baiklah. Itu akan kita rundingkan lagi." Kata Pak Teguh memutuskan. Dia ingin memikirkan target apa yang pas untuk Pandu. Dia tidak ingin membuat Pandu kemudahan untuk mencapai target tersebut. Karena niatnya adalah ingin menjatuhkan Pandu dan membuat Pandu tidak punya kesempatan lagi untuk bekerja di perusahaan ini lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN