Pandu menyunggingkan senyumnya ketika dia baru saja sampai rumah. Di ruang tamu sudah ada Bambang dan Rani. Mereka langsung menghampiri Pandu dan memeluk Pandu. Semua terlihat biasa-biasa saja namun Pandu yakin jika orang tuanya sedang kuatir. Terlebih mereka pasti sudah mendengar apa yang tadi terjadi di kantor.
"Pandu laper, Ma." Ucap Pandu pelan sambil mengelus perutnya. Itu hanyalah alasan agar dia terlepas dari pelukan Papa dan Mamanya.
"Iya iya ayok kita makan. Mama sudah masak makanan kesukaan kamu." Kata Rani melepaskan pelukannya. Dia tidak tega melihat anaknya yang kelaparan.
Pandu berjalan lebih dalam ke rumah. Lengan kanannya digandeng erat oleh Mamanya, sedangkan Bambang hanya memperhatikan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia memilih untuk berjalan di belakang anak dan istrinya seakan-akan sedang menjaga keluarga kecilnya itu.
Semua menikmati makanan masing-masing. Pandu makan dengan lahap, sedangkan Rani dan Bambang sesekali melirik ke arah Pandu. Mereka sangat menyayangkan nasib Pandu. Putranya sangat berbakat dan bisa andalkan untuk mengurus perusahaan, bahkan sejak masih sekolah dulu kemampuan akademik Pandu tidak perlu diragukan lagi. Semua menggadang-gadangkan Pandu akan menjadi sosok pemimpin yang hebat. Anak muda yang bisa mendongkrak perekonomian dan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak dan bisa mengancam para pengusaha lainnya karena kreativitas dan inovasinya yang tidak bisa berhenti. Namun nyatanya, karir Pandu harus terhenti karena sebuah insiden yang membuatnya memilih untuk rehat. Bukan hanya dari perkuliahan namun juga hiruk pikuk urusan dunia. Dia menyendiri dan menghabiskan waktunya dengan dirinya sendiri. menghindari banyak orang hingga banyak yang melupakannya. Dan sekarang entah dorongan dari mana dia memutuskan untuk tampil di publik lagi. Namun ternyata jalannya kembali menemui rintangan. Seseorang yang tidak menyukainya membocorkan tentang riwayat penyakit Pandu dan itu akan menghambat karirnya lagi. Semoga saja putranya itu bisa melewati rintangan itu seperti rintangan yang dulu.
Hingga akhirnya makan pun selesai. Pandu berpamitan lebih dulu untuk bersih-bersih karena seharian aktivitas di kantor membuat badannya tidak nyaman. Walaupun dia bekerja di dalam ruangan ber-AC namun tetap saja dia juga berkeringat. Rani dan Bambang mengiyakan Pandu, mata mereka masih saja terus menatap Pandu yang sudah mulai hilang dari pandangan.
"Mama masih penasaran siapa orang yang tega sama Pandu." Kata Rani lemah.
"Papa juga sedang mencari tau tapi belum ada informasi juga." Jawab Bambang dengan gelisah. Pasalnya dia juga tidak terima jika putranya diperlakukan seperti orang yang tidak pecus memimpin perusahaan.
"Papa juga sudah meminta orang kepercayaan Papa untuk mencari tau." Lanjutnya.
"Hanya ada beberapa orang yang tahu tentang penyakit Pandu." Kata Rani lagi.
"Menurut kamu siapa?" Tanya Bambang dengan putus asa.
Rani nampak berpikir namun akhirnya dia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Semakin dia curiga semakin dia tidak yakin. Hanya anggota keluarga inti dan juga Gilang yang tahu tentang penyakit Pandu. Namun rasanya sangat mustahil jika mencurigai Gilang karena Gilang dan Pandu juga sudah seperti saudara kandung. Jadi, tidak mungkin anak itu membocorkan rahasia Pandu.
"Mama tidak tau." Jawabnya lemah. Lebih baik dia diam saja daripada menyebut satu nama yang bisa saja membuat suaminya terpengaruh. Toh, itu juga belum pasti benar adanya.
Bambang terdiam. Dia terlihat seperti sedang berpikir. Hingga akhirnya terlintas seseorang dalam pikirannya. Ada hal kuat yang membuat Bambang mencurigai orang itu. Dan lagi-lagi apa yang ada dipikirannya sama seperti apa yang ada dipikiran istrinya. Hanya saja diam juga memilih diam.
"Papa kenapa?" Tanya Rani yang melihat suaminya terlihat sangat serius.
"Gak apa-apa kok." Jawab Bambang sambil menggelengkan kepalanya.
Ruangan menjadi hening. Setelah mereka menyelesaikan makannya, mereka berpindah tempat ke ruang keluarga. Menyalakan televisi dan menampilkan sebuah acara show yang dipandu oleh host terkenal. Mereka banyak membuat lelucon namun bagi Rani dan Bambang itu tidak lucu sama sekali. Pikiran mereka masih sama yaitu memikirkan tentang orang yang telah membocorkan rahasia Pandu di depan semua dewan direksi.
^^^
Bambang menurunkan kaca mobil. Dia mendekat ke jendela mobil dan berkata kepada seseorang. "Bagaimana dengan perempuan yang dekat dengan putraku?" Tanya Bambang dengan pelan.
"Mereka masih sering bersama. Tapi sekarang perempuan itu bekerja di perusahaan yang besar." Jawab laki-laki bertubuh tambun. Dia sudah menjalankan tugas yang diberikan oleh bosnya itu dengan sangat baik.
"Sebagai apa? Petugas kebersihan?" Tanya Bambang menebak.
"Sepertinya staff, Pak." Jawab orang itu dengan yakin. Walaupun dia juga ragu staff apa namun dari pakaian yang dipakai oleh Sakura menunjukkan jika dia bukan bagian kebersihan.
"Terus awasi mereka." Kata Bambang dengan tegas.
"Siap, Pak." Jawab laki-laki itu dengan sigap.
Bambang kembali menutup kaca mobil setelah itu dia memberikan kode kepada sopirnya untuk jalan lagi. Sejak malam tadi dia menerka-nerka jika orang yang membocorkan rahasia Pandu adalah perempuan itu. Walaupun dia tidak tahu apa alasan perempuan itu melakukan hal tersebut. Namun melihat kedekatan Pandu dengan perempuan itu membuat Bambang yakin jika perempuan itu tahu tentang penyakit yang diderita oleh Pandu. Dan mungkin karena sesuatu alasan membuat perempuan itu menyebarkan rumor tersebut.
"Kamu sudah cari tahu siapa yang menyebarkan rahasia itu?" Tanya Bambang kepada sopirnya. Orang itu bukan hanya sebagai sopir namun juga asisten Bambang. Dulu ketika Bambang masih aktif bekerja, dia juga merangkap menjadi sekretaris Bambang.
"Sudah pak tapi belum ada jawaban yang pasti." Jawabnya pelan.
"Terus cari tau ya." Kata Bambang lagi. Dia memerintah banyak orang untuk mencari tahu siapa orang yang sudah menyebar luka anaknya.
"Baik, Pak." Jawabnya patuh.
Mobil merah itu terus membelah jalanan. Tujuannya satu yaitu kembali ke rumah. Nyonya rumah akan marah besar ketika suaminya pergi dengan waktu yang lama. Dan Bambang tidak ingin membuat istrinya marah karena nanti dia sendiri yang akan susah.
***
"Jangan tidur, aku mau pulang." Kata Sakura sambil menggoyangkan tubuh Pandu.
Pandu yang sedari tadi meletakkan kepalanya dipangkuan Sakura hanya bisa tersenyum. Tubuh yang lelah dan pikirannya yang ingin istirahat seketika mencari tenang karena mencium aroma tubuh Sakura. Mungkin saja jika dia tidak mengidap penyakit Prosopagnosia, lelahnya akan hilang karena wajah cantik dan senyum manis Sakura. Namun, dia bersyukur karena dia masih bisa bersama dengan orang yang dia cintai.
"Aku tidak tidur, hanya memejamkan mata saja." Jawab Pandu pelan dengan bibir yang tersungging.
Sakura diam. Melihat bibir merah Pandu membuatnya ingin mengecupnya. Bibir merah yang menandakan jika pemiliknya bukan seorang perokok. Sakura menyukai itu, karena baginya rokok hanya mengurai nilai saja. Tangannya mulai terulur. Dia ingin mengusap bibir itu. Namun ketika hampir sampai dibibir Pandu, Pandu membuka matanya secara tiba-tiba. Refleks Sakura segera menjauhkan tangannya dari Pandu.
"Ada apa?" Tanya Pandu heran. Dia melihat bayangan tangan Sakura tadi.
"Tidak apa-apa. Tadi ada nyamuk di pipi kamu." Jawab Sakura sedikit gugup.
Pandu mengusap pipinya. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Sakura benar. Namun ternyata tidak ada apapun dipipinya.
"Sudah terbang nyamuknya." Kata Sakura sambil mendongakkan kepalanya. Tangannya mengarah ke atas seakan-akan memang ada nyamuk yang terbang.
Pandu mengikuti arah tangan Sakura. Dia memasang wajah penasaran. Sontak hal itu membuat Sakura tidak bisa menahan tawanya. Wajah Pandu terlihat polos dan lucu, membuat Sakura menjadi tambah gemas.
"Kamu tipu ya." Kata Pandu sambil bangun.
"Enggak." Jawab Sakura singkat. Namun dia tidak bisa menahan tawanya. Pandu hanya ikut tersenyum sedikit dan merapikan pakaiannya yang kusut.
"Kamu nggak mau tanya apa yang terjadi dirapat kemarin?" Tanya Pandu pelan ketika dia sudah memastikan jika Sakura sudah benar-benar berhenti tertawa.
"Apapun yang terjadi aku tau kamu bisa lewatin itu dengan mudah." Jawab Sakura sambil tersenyum.
Seketika ucapan Sakura tadi menyalurkan semangat baru untuk Pandu. Dia memang tidak tahu bagaimana ekspresi Sakura saat ini. Dia juga tidak bisa menilai seberapa besar ketulusan Sakura dengannya. Namun dia berharap Sakura benar-benar tulus dengannya.
"Ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan aku." Kata Pandu memulai cerita. Ini sudah menjadi kebiasaannya, dia akan menceritakan semuanya kepada Sakura walaupun Sakura tidak bertanya.
"Kamu tau siapa dia?" Tanya Sakura pelan.
Pandu menggelengkan kepalanya lemah. Sakura yang melihat itu langsung menutup mulutnya. Wajah Pandu seketika menjadi sedih. Dan Sakura menyesal sudah bertanya.
"Aku masih mencari tau tentang hal itu." Jawab Pandu akhirnya.
"Ketika rapat berlangsung, ada salah satu anggota dewan yang menunjukkan sesuatu. Sesuatu itu adalah rekam medis dokter yang menangani aku." Kata Pandu.
Sakura membelalakkan matanya. Dia tidak percaya dengan ucapan Pandu. Benar kata Pandu, jika memang ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan dia.
"Semua orang menyudutkanku. Bahkan mereka menganggap aku tidak pantas menjadi pimpinan. Menjaga diriku sendiri saja aku masih teledor apalagi menjaga sebuah perusahaan besar dengan banyak anak cabang." Lanjutnya.
"Mereka salah. Aku yakin kamu pasti bisa memimpin perusahaan. Selama ini kamu bisa membawa perusahaan itu menjadi lebih baik lagi, apalagi sekarang ketika kamu terjun langsung pasti semua akan lebih baik." Balas Sakura menyanjung Pandu. Itu bukan hanya sebuah sanjungan, namun benar-benar sebuah fakta.
"Orang lain tidak ada yang tau jika aku sudah bekerja keras."
"Tapi Allah tau, jadi dia membukakan jalan keluar untuk masalahmu ini." Kata Sakura pelan sambil mengelus pundak Pandu.
"Terima kasih." Jawab Pandu sambil tersenyum.
Dia menggenggam tangan Sakura dengan erat dan tersenyum ke arah Sakura. Dia beruntung kenal dengan gadis ini. Dan dia juga bersyukur karena sudah ditabrak oleh anjing. Karena berkat anjing itu, dia bisa kenal dengan Sakura. Sebuah kecelakaan yang menciptakan rasa cinta. Tidak semua orang bisa mengalami ini, hanya sebagian dan salah satunya adalah Pandu dan Sakura.