Pandu membolak-balikkan dokumen yang ada diatas meja. Dia membacanya dengan cermat. Berusaha fokus dengan pekerjaan walaupun sebenarnya pikirannya memikirkan masalah lain.
Keadaan kantor sedang tidak baik-baik saja. Walaupun dari luar terlihat normal, namun sebenarnya semua karyawan sedang membicarakan Pandu. Apalagi kalau bukan tentang penyakit Pandu. Mereka menyayangkan Pandu, orang yang hampir mendekati sempurna namun malah mengidap penyakit langka.
Pandu berusaha untuk menutup telinga. Mendengar gosip para karyawan hanya membuat mentalnya down. Kabar tentang penyakitnya tersebar dengan cepat. Hari yang sama setelah rapat selesai, kabar itu sudah menggema di seluruh kantor, semua karyawan mengetahuinya. Bahkan kantor cabang juga tahu tentang penyakit Pandu.
"Ada yang lebih penting dari penyakit ini, Ndu." Kata Pandu berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Dia kembali fokus pada pekerjaan. Target yang diberikan oleh dewan direksi kepadanya tidak main-main. Itu seperti target yang seharusnya dicapai selama satu tahun namun diberikan kepada Pandu dan harus tercapai dalam waktu 5 bulan. Hingga akhir tahun nanti, dia harus memenuhi semua target yang ada.
Seseorang dengan sorot mata yang tajam memperhatikan Pandu dari luar ruangan. Orang itu berdiri mematung didepan pintu. Tangannya memegang gagang pintu namun tak kunjung dia putar. Dia seperti sedang menahan sesuatu. Entah sesuatu apa itu. Seperti emosi namun tidak bisa terluap. Hanya dia pendam sendiri menunggu waktu kapan akan meledak. Satu rencana yang sudah dia siapkan berjalan tidak seperti keinginannya. Namun itu sudah cukup bisa membuat orang-orang kelabakan. Termasuk Pandu, laki-laki itu menjadi tidak fokus dengan pekerjaannya. Mungkin dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Pandu tidak fokus yang berujung dengan ketidakberhasilan Pandu dalam mencapai target yang diberikan.
"Kenapa nggak masuk?" Tanya asisten Pandu.
"Ini baru mau masuk." Jawab Gilang sedikit terkejut.
Andi, asisten Pandu hanya memperhatikan tingkah Gilang. Dia melihat ada yang tidak beres dengan tingkah Gilang. Sedari tadi dia melihat dari kejauhan, Gilang berdiri didepan pintu dengan mata yang tertuju ke dalam ruangan. Walaupun dia masih karyawan baru namun dia akan setia dengan Pandu. Itu artinya dia akan melakukan segala cara untuk melindungi atasannya.
"Serius amat, Bro." Kata Gilang dengan bahasa santai. Dia sudah terbiasa seperti itu dengan Pandu dan sekarang terasa sulit untuk merubahnya. Padahal posisi Pandu sekarang adalah seorang pimpinan.
"Banyak banget yang harus gue kerjain." Jawab Pandu sambil menepuk tumpukan dokumen.
"Lo udah tau siapa yang bocorin tentang penyakit Lo?" Tanya Gilang pelan. Dia menarik kursi dan duduk di depan Pandu.
"Gue sedang menyelidiki." Jawab Pandu singkat. Dia kembali fokus ke kerjaannya.
Andi berjalan pelan mendekati Pandu. Dia menyerahkan sebuah dokumen kepada Pandu. "Apa ini?" Tanya Pandu pelan.
"Orang yang menyebarkan tentang penyakit anda." Jawab Andi dengan tegas dan percaya diri.
Gilang membelalakkan matanya. Dia melirik ke arah Andi. Entah mengapa dia menjadi kuatir. Dia belum tahu orang seperti Andi, dia juga tidak tahu bagaimana kinerjanya namun Gilang akui jika Andi bekerja dengan cekatan. Hanya butuh waktu 3 hari dia bisa menemukan orang tersebut.
"Kamu yakin kalau itu orangnya?" Tanya Gilang berpura-pura tertarik dengan dokumen yang dibawa oleh Andi. Walaupun sebenarnya dalam hati dia kuatir.
"Yakin. Saya sudah menyelidiki semuanya." Jawab Andi.
"Makasih ya. Saya simpan ini dulu, saya buka ketika saya sudah di rumah." Kata Pandu akhirnya.
"Ya, Pak."
Pandu menyimpan dokumen itu dalam lacinya. Kemudian Andi pamit keluar ruangan. Namun sebelum dia benar-benar keluar, dia melirik ke arah Gilang. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi laki-laki itu. Karena dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gilang.
"Ya udah Lo lanjut aja, gue juga mau lanjut." Kata Gilang mencoba untuk santai.
Pandu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Dia tidak curiga dengan Gilang karena yang dia rasakan selama ini Gilang sudah seperti saudara kandungnya. Bahkan orang tuanya juga tidak pernah membeda-bedakan dia dengan Gilang. Mereka memperlakukannya dengan sama. Apalagi selama ini Gilang banyak membantunya. Gilang juga dulu sering menemaninya terapi ketika orang tuanya sibuk dengan kerjaan. Segitu sayangnya dia dengan Gilang hingga dia tidak punya pikiran jika Gilanglah yang menyebarkan rahasianya.
***
"Bapak sudah melihat dokumen yang saya berikan?" Tanya Andi pelan. Matanya sesekali melirik ke spion untuk melihat Pandu. Dia melihat Pandu yang kelelahan, mungkin karena Pandu terlalu memaksa kerjaannya agar dia bisa membuktikan kepada semua orang jika dia layak menjadi seorang pimpinan.
"Belum. Nanti saja kalau sudah sampai di rumah." Jawab Pandu lemah sambil tangannya memijat keningnya yang terasa pusing.
Andi diam saja. Sebenarnya isi dokumen itu adalah sebuah foto dari rekaman CCTV. Andi tahu jika itu tidak banyak membantu, namun hanya bukti itu yang bisa dia dapatkan.
"Pak, sebelumnya saya minta maaf bukan saya bermaksud menyinggung Bapak." Kata Andi.
Pandu membuka matanya. Dia tadi mulai terpejam dan mulai menapaki alam mimpinya. Namun mendengar asistennya mengatakan hal itu membuat Pandu mengurungkan niatnya untuk terlelap.
"Ada apa?" Tanya Pandu dengan suara rendah. Dia sudah benar-benar lelah namun harus mengurungkan niatnya untuk beristirahat.
"Dokumen yang saya berikan tadi berisi foto yang saya dapatkan dari rekaman CCTV." Jawab Pandu dengan pelan.
Pandu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Siapa orang itu?" Tanya Pandu dengan serius.
Andi hanya diam saja. Dia tidak bisa menjawab karena dia yakin jika Pandu tidak akan percaya dengan ucapannya.
"Ya sudah nanti biar saya lihat sendiri." Kata Pandu dengan santai. Dia menganggap masalah ini tidak rumit. Kalaupun dia tidak bisa mengenali orang itu, dia akan meminta bantuan orang lain.
^^^
Pandu merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Belum genap seminggu dia memimpin perusahaan namun otak dan tubuhnya terasa lelah. Selama ini dia memang memimpin perusahaan namun tidak muncul dihadapan publik. Jam kerjanya juga fleksibel. Sesuai dengan suasana hatinya.
Clek. Pintu terbuka, disana sudah ada Mamanya yang diambang pintu. Pandu tahu itu dari aroma tubuh Mamanya dan juga baju Mamanya. Dia bangun dan duduk ditepi ranjang. Mengulum senyum seakan-akan dia baik-baik saja.
"Sudah makan?" Tanya Rani pelan.
"Sudah." Jawab Pandu pelan. Dia berbohong dengan Mamanya. Terakhir dia makan saat makan siang tadi. Itupun hanya roti panggang saja.
"Mama masuk ya." Kata Rani meminta izin. Walaupun dengan anaknya sendiri namun Rani selalu meminta izin dahulu. Bagi Rani itu menyangkut tentang privasi putranya.
"Silakan, Ma." Ucap Pandu mengijinkan.
Rani menutup pintu kamar namun tidak benar-benar tertutup. Dia melangkah pelan mendekati putranya. Duduk disebelah putranya dan menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dia tahu jika putranya sedang kelelahan, semua itu terlihat dari raut wajah putranya. Walaupun putranya berusaha menyembunyikan, tetap saja dia seorang ibu yang tidak bisa dibohongi.
"Ada yang ingin kamu ceritakan pada Mama?" Tanya Rani pelan.
Pandu mengerutkan keningnya. Dia berpikir sejenak. "Nggak ada kok, Ma." Jawabnya dengan santai. Berusaha tidak terjadi apa-apa.
"Ya sudah kalau kamu tidak ada yang mau diceritain biar Mama yang cerita." Kata Rani lembut.
Pandu mengubah pandangannya. Dia memperhatikan Mamanya dengan lekat. Mencoba merasakan apa yang sedang terjadi dengan Mamanya. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan, ingin melihat ekspresi Mamanya juga tidak mampu.
"Tadi Mama lagi bersihin ruang kerja Papa." Kata Rani memulai cerita.
Pandu menganggukkan kepalanya pelan. Dia diam saja karena ingin mendengarkan lanjutan cerita Mamanya. Entah kemana arah cerita Mamanya namun dia yakin ini bukan cerita biasa.
"Lalu Mama menemukan amplop yang ternyata didalamnya ada beberapa lembar foto." Lanjut Rani bercerita.
"Foto apa, Ma?" Tanya Pandu dengan cepat. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Berpikir jika foto itu adalah foto Papanya bersama perempuan lain.
"Foto anak Mama sama seorang gadis." Jawab Rani tanpa basa-basi. Ketika dia mengatakan hal itu, wajahnya tidak bisa berpaling dari Pandu. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi anaknya. Apakah anaknya itu sudah tahu jika selama ini dia diikuti oleh orang suruhan Bambang atau malah Pandu tidak tahu apa-apa.
"Maksud Mama?" Tanya Pandu terkejut. Putra Mamanya hanya dia saja. Dan ketika Mamanya mengatakan hal itu, itu artinya yang dimaksud adalah dia.
"Siapa gadis itu, Ndu? Kamu nggak pengen ngenalin dia ke Mama dan Papa?" Tanya Rani lembut. Dia mencoba bicara selembut mungkin agar anaknya tidak tersinggung.
"Gadis siapa sih, Ma?" Tanya Pandu pura-pura tidak mengerti. Padahal dalam hatinya sudah kuatir jika identitas Sakura diketahui oleh orang tuanya.
Pandu terus bersikap bodoh. Dia mencoba untuk bersikap santai seakan-akan dia sedang tidak dekat dengan gadis manapun. Namun tetap saja dadanya merasa gugup dan kuatir. Dia ingin terus menyambungkan Sakura hingga waktunya benar-benar pas untuk dia umumkan dihadapan publik. Namun sepertinya, orang tuanya sudah mengetahuinya lebih dulu.